
Di depan kaca cermin, tampak Yanto berdiri, dia menyisir rambutnya yang panjang, setelah itu, dia pun merapikan kumis dan jenggotnya, lalu, Yanto memakai kaca matanya.
Yanto tersenyum kecil memandangi wajahnya di depan cermin, dia lantas berbalik badan, sambil memakai topinya, dia pun berjalan keluar dari dalam kamarnya.
Yanto keluar dari dalam rumahnya, dia membuka sebuah pintu rahasia, yang tersembunyi di rerumputan. Di atas rerumputan hijau, dia menginjak tombol yang tersembunyi di sudut rerumputan hijau taman halaman samping rumah.
Tanah rerumputan itu pun terbelah dua, dengan cepat, Yanto masuk ke dalamnya, tanah rerumputan kembali menyatu setelah Yanto masuk ke dalamnya.
Yanto menuruni anak tangganya, di bawah tanah rumah baru Gavlin tersebut, tersembunyi mobil sedan sport mewah milik Yanto.
Yanto pun lantas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobilnya. Lalu, dia segera menjalankan mobilnya, secara otomatis, pintu garasi bawah tanah terbuka.
Mobil Yanto keluar dari dalam garasi bawah tanah, pintu garasi tertutup otomatis kembali. Mobil Yanto melesat keluar di jalanan, yang ada di samping rumahnya.
Ternyata, garasi bawah ganah itu tembus langsung kejalanan, samping rumahnya, Gavlin mendesain rapi rumah barunya.
Dirumah barunya, Gavlin menyembunyikan semua barang barang milik Yanto, agar tidak ada yang tahu, jika dia dan Yanto orang yang sama.
Mobil meluncur cepat dijalanan, Tampak Yanto dengan wajah serius, menyetir mobilnya, dengan berpakaian rapi ala senimannya, dia hendak pergi kesuatu tempat, untuk menemui seseorang.
---
Di jalanan sepi, tempat lokasi kejadian pembunuhan yang dilakukan Ronald kepada empat perampok saat malam waktu itu, tampak Para petugas Forensik dan tim paramedis ada di lokasi, bersama tim penyidik dari kepolisian.
Diantara mereka, ada juga Teguh, Dia tengah memeriksa kondisi ke empat perampok yang sudah menjadi mayat.
Tim Forensik bekerjasama dengan tim medis dengan serius mencari bukti bukti dari pembunuhan. Sementara, tim penyidik kepolisian sedang mengambil jejak ban mobil dan ceceran darah di aspal jalanan, tim penyidik menjadikan temuan mereka itu sebagai barang bukti atas kasus pembunuhan tersebut.
Para petugas Forensik selesai memeriksa kondisi mayat ke empat perampok, saat Petugas medis akan mengangkat mayat mayat itu, Teguh mencegahnya.
"Tunggu dulu." ujar Teguh, dengan wajah seriusnya.
Petugas medis mengurungkan niatnya mengangkat mayat korban pembunuhan, karena di cegah Teguh.
Teguh lalu berjongkok di samping ke empat mayat perampok. Dia melihat, di bagian perut para perampok tersebut ada inisial "R" tertera.
Dahi Teguh berkerut, dia tampak tengah berfikir keras, sementara, petugas forensik mengambil gambar lambang inisial 'R' di masing masing perut para perampok yang telah menjadi mayat.
Seorang tim penyidik prmbunuhan kepolisian menghampiri Teguh yang masih berjongkok.
"Saya menemukan potongan potongan bagian tubuh para korban, Pak." ujar Seorang tim penyidik.
Teguh pun lantas berdiri di hadapan petugas penyidik kepolisian. Petugas Penyidik memberikan barang bukti yang di temukannya pada Teguh.
Teguh mengambil barang bukti tersebut dari tangan petugas penyidik, dia kaget, saat melihat, di dalam plastik khusus barang bukti, ada potongan telinga, hidung dan mulut.
Teguh pun terlihat geram dan marah, dia lantas memberikan kembali barang bukti tersebut pada petugas penyidik.
Petugas Penyidik mengambil barang bukti dari tangan Teguh, lalu, dia segera pergi dan menghampiri petugas forensik.
Petugas Penyidik memberikan barang bukti pada petugas forensik, agar menyelidiki potongan potongan telinga, hidung dan mulut tersebut.
Teguh tampak berdiri diam, dia masih berfikir, tentang apa yang dia lihat tadi.
"Inisial 'R' , potongan potongan bagian tubuh korban...ya...hanya ada satu orang setauku selama ini yang berbuat sama seperti itu." Bathin Teguh bicara.
"Gak salah lagi, pelakunya pasti Ronald, dari dulu, sebelum memutilasi korbannya, Ronald pasti membuat inisial 'R' di bagian tubuh korban!!" Tegas Bathin Teguh.
"Ya, pasti ini perbuatan Ronald!" Gumamnya.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Ronald membantai perampok kambuhan ini?" Tukasnya berfikir keras.
Teguh lantas segera masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia pun segera pergi, meninggalkan lokasi kejadian tersebut.
Para tim medis mengangkat ke empat mayat perampok, dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance.
Lalu, petugas medis pun segera pergi meninggalkan lokasi tersebut, di ikuti mobil tim forensik bersama tim penyidik kepolisian.
Di jalan raya, sambil menyetir mobilnya, tampak Teguh geram pada Ronald.
"Ronald udah mulai beraksi lagi seperti dulu, dia terang terangan membantai korban korbannya, dan sengaja memberikan inisial, seolah menyatakan, dia sudah kembali!" Ujar Teguh.
Dengan geramnya, Teguh bicara sendiri di dalam mobilnya, dia sangat marah dengan perbuatan Ronald.
"Aku harus segera menangkap Ronald !! Jangan sampai, semakin banyak orang yang menjadi korban keganasannya!!" Ungkap Teguh dengan geram dan marah.
Mobil Teguh terus berjalan menyusuri jalanan, wajahnya tampak menahan amarah pada Ronald.
---
Yanto memarkirkan mobil sedan sport mahalnya di parkiran sebuah restoran yang cukup mewah di wilayah itu.
Setelah mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya, Yanto pun keluar dari dalam mobilnya. Dia lantas berjalan ke arah restoran.
Pelayan restoran yang berdiri di depan pintu masuk segera menyambut kedatangan Yanto. Pelayan memberi hormat pada Yanto. Yanto pun mengangguk dan tersenyum dingin pada Pelayan.
Yanto lalu masuk ke dalam restoran, Pelayan mengantarkannya ke sebuah meja yang ada di dalam restoran tersebut.
Yanto duduk di kursi meja makan restoran, dia memandangi sekitarnya, di perhatikannya restoran yang mewah tersebut.
Pelayan memberikan menu makanan pada Yanto, Yanto pun lalu memilih menu makanan, dan lantas, dia memberi tahu pada Pelayan.
Orang orang yang ada dalam restoran sibuk melihat dan memandangi wajah Yanto, mereka tampak kagum pada Yanto, dan mereka kenal dengan Yanto , sebagai seniman pembuat patung lilin yang sangat terkenal.
Sudah lama Yanto menghilang, dan orang orang tidak mengetahui kabar beritanya, dengan kemunculan Yanto di restoran tersebut, membuat dirinya menjadi pusat perhatian para pengunjung yang mengagumi dirinya sebagai seniman hebat dan terkenal.
Ada beberapa orang yang diam diam mengambil gambar Yanto, secara sembunyi sembunyi mereka memotret diri Yanto yang duduk di kursi meja makan restoran.
Yanto tahu, kalau dia jadi pusat perhatian, dia juga tahu, ada beberapa orang yang diam diam mengambil photo dirinya.
Yanto membiarkan perbuatan mereka, dia tak marah dan tidak juga melarang mereka mengambil photo dirinya. Karena Yanto sengaja, membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Beberapa menit kemudian, Pelayan pun datang membawakan pesanan Yanto, Pelayan meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Lalu, setelah mempersilahkan Yanto untuk makan, Pelayan pun pergi meninggalkan Yanto.
Yanto pun lantas makan, dia tampak sangat menikmati makanan restoran tersebut.
Tampak seseorang Pria tua berkaca mata dan rambut beruban berdiri menatap wajah Yanto yang tengah makan.
Pria tua itu mengenali Yanto sebagai seniman pembuat patung lilin, dia pun lantas segera mendekati Yanto.
Yanto baru saja selesai makan, Pria tua berdiri di samping Yanto, wajahnya tampak tersenyum senang.
"Senang sekali rasanya, Restoran milik saya ini, di datangi orang terkenal seperti anda, seniman hebat yang sangat terkenal." ujar Pria tua, memuji Yanto.
Mendengar perkataan Pria tua tersebut, Yanto pun tersenyum tipis, dia menatap tajam wajah Pria tua yang berdiri di sampingnya.
"Bagaimana makanannya, Pak?" tanya Pria tua.
"Sangat nikmat dan lezat." ujar Yanto, tersenyum tipis.
__ADS_1
"Syukurlah, jika Bapak menyukai masakan di restoran saya ini." ujar Pria tua.
"Boleh saya duduk?" ujar Pria tua bertanya.
"Silahkan." Jawab Yanto dengan sikap dingin dan tenangnya.
Pria tua lantas segera duduk di kursi, di depan Yanto.
"Perkenalkan, saya pemilik restoran ini, nama saya Joko Sambodo." ujar nya, memperkenalkan diri pada Yanto.
Yanto hanya tersenyum tipis, dia tak mau menjabat tangan Joko Sambodo, Joko Sambodo tampak kikuk, karena Yanto tak mau menjabat tangannya.
"Lain kali, Pak Yanto datang ke sini, saya akan memberikan bonus makanan gratis pada Bapak, sebagai rasa terima kasih saya." tegas Joko Sambodo.
"Karena, seorang seniman besar seperti Pak Yanto, mau datang ke restoran saya ini, saya sangat senang. Ini akan menambah ramai kunjungan orang orang ke restoran saya." ujar Joko Sambodo, dengan senangnya.
Yanto hanya tersenyum kecil, dengan sikap dingin dan tenangnya, dia pun lantas menatap wajah Joko Sambodo.
"Anda kenal saya?" Tanya Yanto dengan sikap dinginnya.
"Tentu saja kenal, Bapak sangat terkenal, wajah Bapak banyak terpampang di majalah majalah, saya salah satu penggemar pak Yanto!" Tegas Joko Sambodo, dengan wajahnya yang senang.
Yanto pun kembali tersenyum kecil mendengar perkataan Joko Sambodo yang tengah memuji dirinya.
"Ah, maaf, Pak Yanto. Jika saya sudah mengganggu kenyamanan Bapak makan." ujar Joko Sambodo.
Yanto diam, tak menjawab.
Melihat Yanto yang lebih banyak diam, Joko pun semakin kikuk, dia jadi merasa tak enak hati pada Yanto, karena merasa, dirinya sudah mengganggu kenyamanan Yanto.
"Kalo begitu, saya tinggal dulu, ya Pak. Selamat menikmati makanannya." ujar Joko Sambodo, tersenyum senang.
Joko Sambodo lantas berdiri di hadapan Yanto yang masih diam dengan sikap dingin dan santainya.
"Saya senang sekali bertemu, Bapak di sini." ujar Joko Sambodo, sambil menunduk, memberi hormat pada Yanto.
Lalu, Joko Sambodo pun segera pergi, dia meninggalkan Yanto sendirian, setelah kepergian Joko Sambodo, Yanto pun lantas melepaskan topi dan kaca matanya.
Dia meletakkan topi dan kaca matanya di atas meja, lalu, Yanto pun tersenyum dan menyeringai jahat.
Yanto mengambil kaca matanya yang ada di atas meja, lalu, dengan tisu, dia mengelap kaca matanya.
"Aku juga senang bertemu kamu Joko Sambodo, aku datang, untuk mengambil nyawamu." Gumam Yanto geram.
Sambil melap kaca matanya dengan tisu , tampak Yanto menyeringai buas, dia tengah menahan gejolak amarahnya.
Yanto berhasil bertemu dengan Joko Sambodo tanpa susah payah. Karena, dengan sosoknya sebagai Yanto, Joko langsung mengenali dirinya sebagai seniman pembuat patung lilin terkenal.
Rencana Yanto berhasil, dia sengaja menjadi sosok diri Yanto, bukan Gavlin, agar dia mudah dikenali orang orang dan Joko Sambodo.
Dengan begitu, dia tidak perlu bersusah payah mencari Joko Sambodo, karena akhirnya, Joko sendiri yang datang kepadanya.
Yanto lantas memakai kaca matanya kembali, lalu, dia juga memakai topinya. Lalu, dia pun berdiri.
"Bersiaplah Joko! Kematianmu sebentar lagi tiba." Gumam Yanto, dengan geram dan marah.
Lalu, Yanto meletakkan 5 lembar uang ratusan ribu di atas meja, dia sengaja memberi lebih, untuk memberikan tip pada Pelayan restoran.
Yanto lantas berjalan keluar restoran, dengan sikap tenang dan santainya, Yanto segera keluar dari dalam restoran mewah milik Joko Sambodo.
__ADS_1