VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pengawalan Ketat di Rumah Sakit


__ADS_3

Maya terlihat sangat panik melihat Ayahnya kembali pingsan di atas kasurnya. Wajahnya tampak sangat panik dan cemas.


"Vlin, gimana ini, Ayah harus di bawa kerumah sakit, kalo dibiarkan, aku khawatir, Ayah gak tertolong!!" ujar Maya, dengan wajah panik dan khawatirnya.


"I...iya...May, Aku akan bawa Ayahmu ke rumah sakit." ujar Gavlin, dengan gugup dan panik.


Gavlin pun lantas hendak mengangkat tubuh Gatot yang pingsan diatas kasur, Maya memegang tangan Gavlin.


"Tunggu, Vlin. Jangan kamu yang bawa Ayah kerumah sakit, berbahaya!" tegas Maya, dengan wajahnya yang serius.


"Lantas siapa, May? Aku gak perduli orang orang dirumah sakit mengenaliku! Yang penting, Ayahmu harus di selamatkan!!" tegas Gavlin.


"Jangan, Vlin, Jangan kamu yang pergi, aku mohon!" ujar Maya, memelas.


"Tapi, May..."


"Aku yang akan membawa Ayah kerumah sakit." ujar Maya, memotong ucapan Gavlin.


"Kamu yakin, May?" tanya Gavlin, serius, dan bersungguh sungguh.


Gavlin menatap lekat wajah Maya yang tampak cemas itu.


"Iya, Vlin. Aku bisa bawa Ayahku ke rumah sakit, Aku yakin, orang orang di rumah sakit akan membantuku nanti!" tegas Maya, menjelaskan.


"Baiklah, May. Jika itu mau kamu." ujar Gavlin.


"Tolong gotong Ayah, Vlin. Dan bawa ke mobilku. Aku ambil tas dompet dan kunci mobilku dulu." ujar Maya.


Gavlin mengangguk, lalu, Maya bergegas keluar dari dalam kamar Ayahnya, Gavlin lantas membopong tubuh Gatot, dan membawanya keluar dari dalam kamar.


Gavlin berjalan keluar rumah sambil menggotong tubuh Gatot yang pingsan, Maya dibelakang berlari lari kecil menyusulnya.


Maya lantas membuka pintu belakang mobilnya yang terparkir di halaman rumah. lalu, Gavlin segera membawa masuk tubuh Gatot dan merebahkannya di jok belakang mobil dengan posisi tengkurap, karena punggung Gatot terluka parah.


Lalu, Gavlin menutup pintu mobil, Maya masuk ke dalam mobilnya, Gavlin mendekati Maya, dia berdiri di depan pintu mobil. Maya membuka kaca jendela pintu mobilnya.


"Hati hati, May." ujar Gavlin, penuh rasa khawatir.


"Iya, Vlin. Aku pergi dulu, kamu tunggu di sini, ya." ujar Maya serius.


"Iya." Angguk Gavlin.


Lalu, Maya menutup kaca jendela pintu depan mobilnya, sesaat kemudian, mobil Maya pun meluncur keluar dari halaman rumahnya menuju jalanan.


Gavlin menghela nafas dengan berat melihat kepergian Maya membawa Gatot kerumah sakit. Wajah Gavlin tampak cemas dan sedih.


Dia iba dan juga prihatin atas kondisi kritis Gatot, yang mengalami luka cambuk yang sangat parah.


Gavlin lantas berjalan dan masuk ke dalam rumah Gatot, dia menutup pintu rumah, lalu, Gavlin pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa, yang ada di ruang tamu rumah Gatot.


---


Di jalan raya, terlihat Maya menyetir dengan wajah tegangnya, dia mempercepat laju kendaraannya, agar dia tiba di rumah sakit dengan lebih cepat.


Wajahnya tampak sangat cemas, dia begitu khawatir dengan kondisi Ayahnya tersebut.


"Bertahanlah, Yah. Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit, dan Ayah akan segera di obati!" Bathin Maya bicara lirih.


Maya terus menyetir mobilnya, mobil pun meluncur dengan kecepatan tinggi, melaju di jalan raya.


---


Setengah jam kemudian, Maya pun tiba di depan halaman rumah sakit. Mobilnya berhenti tepat di depan halaman rumah sakit besar tersebut.


Dengan cepat, Maya keluar dari dalam mobilnya, dia lantas segera berlari dan masuk ke dalam rumah sakit.


Dengan wajah tegang, panik dan cemas, Maya berlari masuk ke rumah sakit. Dia lantas berdiri di tengah tengah lobby rumah sakit.


"Tolooooongggg...Tolooooonnnng!!" teriak Maya sekuat kuatnya.


Suara teriakan Maya yang sangat keras itu menggema di ruangan lobby rumah sakit, orang orang yang ada di dalam rumah sakit serentak menoleh pada Maya yang berteriak.


"Tolong, Ayahku, tooolllooong selamatkan Ayaaaahkuuu!!" teriak Maya, dengan wajah panik , cemas dan menangis.

__ADS_1


Petugas medis pun berlari lari sambil mendorong brankar dorong, dia bersama Suster berlari ke arah Maya.


"Dimana pasiennya?!" tanya Suster, saat mendekati Maya.


"Di luar, di dalam mobil, ikut saya!" ujar Maya dengan wajah panik.


Dengan cepat, Maya berbalik badan dan lari keluar dari dalam lobby rumah sakit, Suster dan dua petugas medis yang membawa brankar dorong mengikutinya di belakang.


Dengan cepat, Maya membuka pintu belakang mobilnya, Lalu, kedua petugas medis segera menggotong tubuh Gatot yang pingsan, dan membawanya keluar dari dalam mobilnya.


"Dia mengalami luka parah di punggungnya, makanya dia hanya bisa tengkurap begitu!" Jelas Maya, kepada Suster dan ke dua medis.


Suster dan kedua medis pun mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan Maya. Mereka pun tahu, apa yang di alami Gatot saat ini.


Tubuh Gatot dengan pelan dan hati hati di letakkan di atas ranjang brankar dorong, Maya menutup pintu belakang mobilnya, lalu, dia pun segera berlari mengejar Suster dan dua petugas medis yang membawa Ayahnya.


Maya kembali masuk ke dalam rumah sakit, dia terus mengikuti dua petugas medis dan suster yang membawa Ayahnya.


Wajah Maya tampak masih tegang dan panik, dia belum bisa tenang, sebelum Ayahnya mendapatkan penanganan dari Doker specialis.


Suster dan Dua Petugas Medis tiba di depan pintu kamar ruang ICU, Suster lantas membuka pintu dengan lebar, kedua petugas medis segera mendorong brankar yang diatasnya ada Gatot terbaring pingsan.


Mereka pun masuk ke dalam kamar ruang ICU, Suster berdiri di depan pintu, menahan langkah Maya yang hendak ikut masuk ke dalam kamar ruang ICU.


"Anda gak boleh masuk, hanya boleh sampai di sini saja." ujar Suster, menjelaskan.


"Baik, Sus." ujar Maya.


Maya tak membantah perkataan Suster, dia menurut, karena Maya mengerti prosedur rumah sakit. Suster lantas masuk ke dalam kamar ruang ICU.


Maya tampak berdiri di samping kamar ruang ICU, wajahnya masih sangat cemas dengan kondisi Ayahnya.


Seorang Dokter berjalan dengan tergesa gesa menuju ke arahnya, lalu, Sang dokter tersebut segera masuk ke dalam kamar ruang ICU, di mana Ayahnya saat ini berada.


Maya tampak berdiri dengan wajah yang harap harap cemas, dia menunggu di samping ruangan ICU tersebut.


Tiba tiba terdengar suara dari mikropon dengan keras dan jelasnya, memberi tahukan, bahwa ada sebuah mobil yang parkir di halaman rumah sakit, dan menghalangi mobil ambulance yang akan masuk mengantarkan pasien.


"Astagaa !! Mobilku!!" ujarnya , tersadar kaget.


Lalu, dengan cepat, Maya pun berlari sekencang kencangnya, dia lantas menerobos keluar dari dalam rumah sakit.


Maya lantas membuka pintu mobilnya, dia kemudian masuk ke dalam mobil, lalu, dinyalakannya mesin mobilnya.


Mobil Maya pun melaju, pergi meninggalkan halaman rumah sakit, wajah Maya terlihat merasa tak enak hati, karena dia sudah menghalangi mobil mobil ambulance yang mengantarkan pasien.


Maya pun memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit, lalu, dia segera keluar dari dalam mobilnya.


Maya lalu berjalan menuju halaman rumah sakit, dengan langkah gontai dan wajah sedih serta cemasnya, dia pun masuk ke dalam rumah sakit, sambil menenteng tas kecilnya.


Maya masuk ke dalam rumah sakit, dia berjalan di lobby rumah sakit, tiba tiba dia dikagetkan dengan kedatangan pasukan kepolisian.


Pasukan Kepolisian tampak sangat banyak sekali masuk ke dalam rumah sakit, ada beberapa Petugas Polisi yang berdiri dan berjaga jaga di lobby, dan sisanya, berlari menelusuri koridor rumah sakit.


Pasukan Kepolisian itu masing masing membawa senjata laras panjang ditangannya, mereka seakan tengah bersiap siap menghadapi musuh di dalam rumah sakit.


Wajah Maya semakin tegang dan panik, dia berdiri diam dan melihat para pasukan kepolisian yang berlari menyusuri koridor rumah sakit.


"Untung Gavlin gak ke sini, kalo dia yang bawa Ayahku, habislah Gavlin di tangkap Polisi Polisi itu." Bathin Maya bicara.


Belum hilang herannya, masuk empat orang pejabat dari Kepolisian pusat ke dalam rumah sakit.


Dengan di kawal para petugas kepolisian, ke empat pejabat kepolisian tersebut berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Wajah wajah ke empat Pejabat Kepolisian itu tampak tegang dan ada yang bersikap dingin. Maya semakin heran, apa yang sedang terjadi, mengapa banyak Petugas Polisi yang datang kerumah sakit, dan juga, mengapa para pejabat kepolisian tinggi datang ke rumah sakit.


Maya mengenali siapa ke empat Pejabat tersebut, dari atribut yang mereka kenakan di baju masing masing, karena Maya anak Gatot, dan sudah di ajarkan serta di beritahu Gatot, Maya mudah mengenali atribut dan pangkat masing masing Polisi.


Maya terlihat penasaran, dia pun ingin tahu, apa yang sedang terjadi saat ini.


Dengan rasa penasarannya yang mendalam, Maya pun berjalan ke arah para Pasukan Polisi dan Pejabat kepolisian tadi berjalan.


Dengan langkah kaki yang pelan, agar tidak di curigai, Maya pun berjalan santai, menyusuri koridor rumah sakit.

__ADS_1


Maya terus mengikuti para Pejabat kepolisian dan Pasukan Polisi yang berjalan menyusuri koridor dan lorong lorong rumah sakit.


Saat Pejabat kepolisian berbelok ke sebuah lorong rumah sakit, Maya pun mempercepat langkah kakinya, lalu, dia pun berbelok ke lorong rumah sakit, ke arah Para Pejabat berbelok tadi.


Lalu, Maya berjalan terus dengan sikap santainya, menyusuri lorong rumah sakit.


Dari kejauhan, Maya melihat, Para Pasukan Polisi berhenti di depan sebuah kamar ruang ICU. Para Pasien lainnya, yang ada di dalam ruangan ICU, di bawa keluar dan di pindahkan ke ruangan lain.


Pasukan Polisi memberikan pengamanan ketat, dan mereka tampak membersihkan seluruh area ruang ICU tersebut.


Ke empat Pejabat Kepolisian berjalan, lalu, masuk ke dalam kamar ruang ICU setelah ruangan itu, di bersihkan dan sudah tak ada pasien lainnya lagi.


Maya semakin penasaran, siapa yang ada di dalam kamar ruang ICU, sehingga harus di kawal begitu banyaknya pasukan polisi dan juga di datangi pejabat pejabat tinggi kepolisian.


Sementara, Ayahnya yang juga seorang Polisi, tidak di jaga, bahkan, tidak ada satu pun dari pihak kantornya, yang mengetahui, jika Ayahnya saat ini terluka parah, dan di rawat juga di rumah sakit yang sama.


Dengan rasa penasaran dan keingin tahuannya yang sangat besar, Maya pun berjalan ke arah kamar ruang ICU tersebut.


Setibanya Maya di dekat kamar ruang ICU, Beberapa Petugas Polisi dengan cepat menodongkan senjata laras panjang mereka pada Maya.


Maya pun terkejut, dengan spontan dia mengangkat kedua tangannya, dengan wajah yang takut.


"Mau kemana?! Tidak ada satu pun orang yang boleh lewat di sini! Cepat balik !" Perintah salah satu petugas Polisi.


"Tapi, saya mau ke arah sana, melihat Ayah saya yang lagi di rawat juga." ujar Maya memelas.


Dia berpura pura memelas dan memasang wajah sedih, agar di izinkan lewat.


"Tidak ada alasan! Silahkan kembali!!" Perintah Petugas Polisi dengan tegas.


Melihat ketegasan Petugas Polisi dan sikap kakunya, Maya pun akhirnya menyerah, dia pun berbalik badan, dan berjalan menjauh dari tempat itu.


Dengan wajah yang masih di penuhi penasaran dan rasa ingin tahu yang sangat besar, dia berjalan menuju ke arah lainnya.


Maya terus berjalan menyusuri koridor dan lorong rumah sakit, lalu, dia pun tiba di lobby rumah sakit. Lalu, Maya berjalan ke arah Petugas Administrasi rumah sakit tersebut.


Dengan alasan mengurus biaya administrasi dan perawatan Ayahnya, Maya pun mendekati petugas administrasi.


Maya memberikan data data lengkap Ayahnya sebagai pasien yang di tangani dokter di kamar ruang ICU dengan kondisi luka cambuk yang parah di seluruh punggungnya dan dalam keadaan pingsan, tak sadarkan diri.


Petugas Administrasi rumah sakit, membuat data untuk Ayah Maya, dia juga merinci seluruh biaya administrasi yang harus di bayarkan Maya.


Maya lantas mengeluarkan kartu kreditnya, dengan menggunakan kartu kreditnya, dia pun membayar biaya administrasi dan perawatan Ayahnya.


"Maaf, Sus. Saya boleh nanya kah?" tanya Maya, pada Petugas Administrasi.


"Nanya apa, mbak?" tanya Petugas Administrasi ramah.


"Tadi kan saya mau ke ruangan Ayah saya, tapi, saya di larang sama polisi polisi yang berjaga jaga disana, saya di suruh balik ke sini." ujar Maya, dengan memasang wajah kecewa.


"Kira kira, kenapa ya, kok saya gak boleh lewat sana?" tanya Maya, dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar.


"Oh, mbak tadi liat gak, kalo pasien pasien di dalam ruangan di keluarkan dan dipindahkan keruang lain?" tanya petugas Administrasi.


"Iya, saya lihat tadi. Memang ada apa ya? Kok, kayaknya, pengawalannya sangat ketat." ujar Maya, dengan wajahnya yang serius dan penasaran.


"Di dalam ruangan itu, ada seorang pejabat yang paling tertinggi di kepolisian sedang dirawat ! Jadi, gak boleh ada pasien lainnya, ruangan itu khusus hanya untuk pejabat tersebut!" Jelas Petugas Administrasi.


"pejabat paling tertinggi kepolisian? Siapa mbak?!" tanya Maya, dengan wajah penasaran.


"Maaf, Mbak, saya gak boleh membocorkan rahasia, siapa pejabat tertinggi kepolisian yang di rawat dalam ruangan khusus tersebut." Jelas Petugas Administrasi, tersenyum ramah.


Maya pun tampak kecewa, karena dia belum mendapatkan informasi dengan lengkap, sebagai wartawati dan jurnalis, instingnya bermain, dia tidak puas, sebelum mendapatkan bahan berita.


"Baiklah, terima kasih ya, Mbak." ujar Maya tersenyum senang.


"Iya, sama sama, Mbak." ujar Petugas Administrasi.


Lalu, Maya pun pergi meninggalkan petugas administrasi rumah sakit, sambil berjalan, Maya memasukkan kertas kertas berisi catatan biaya administrasi pengobatan Ayahnya ke dalam tasnya.


Maya lantas duduk di sebuah bangku yang ada di lobby rumah sakit, dia duduk diam, wajahnya tercenung, dia tampak tengah berfikir keras, Maya memikirkan, siapa pejabat yang paling tertinggi di kepolisian yang sedang dirawat di ruang ICU, dan mendapatkan pengawalan ketat oleh pasukan kepolisian, juga di kunjungi empat pejabat tinggi kepolisian.


Maya benar benar penasaran, dia sangat ingin tahu, siapa sosok pejabat tertinggi di dalam kamar ruang ICU tersebut.

__ADS_1


__ADS_2