
Indri masih menangis dengan sedihnya di tepi ranjang, kertas surat Gavlin masih ada dalam genggaman tangannya.
Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar, Indri cepat tersadar dari tangis sedihnya dan menghapus air matanya. Dia lantas berdiri dari ranjangnya dan menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
Dengan langkah gontai Indri berjalan menghampiri pintu kamar, sebelum membuka pintu kamarnya, terlebih dulu dia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu kamar, dari celah lubang kecil di pintu Indri melihat, Rifai berdiri menunggu di depan pintu kamar hotelnya.
Indri lantas membuka pintu kamarnya, Rifai lalu segera masuk ke dalam kamar, ditangannya dia menenteng bungkusan plastik berisi dua kotak makanan cepat saji.
Indri menutup pintu kamarnya lagi, Rifai berjalan dan meletakkan bungkusan plastik berisi kotak makanan di atas meja makan yang ada di dalam kamar hotel tersebut.
Indri berjalan gontai, dia tak menghampiri Rifai, Indri berjalan dan kembali duduk di tepi ranjangnya. Rifai berbalik badan, dia melihat Indri yang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang bersedih. Rifai segera menghampirinya.
"Kamu habis nangis,In?" tanya Rifai, menatap tajam wajah sendu Indri yang habis menangis itu.
Indri diam saja, dia lantas menunjukkan lembar surat Gavlin kepada Rifai, dengan wajah heran Rifai mengambil kertas surat dari tangan Indri.
"Apa ini?" tanya Rifai, menatap heran wajah Indri.
"Itu surat dari Gavlin, dia benar benar salah paham dengan kamu, Fai." ujar Indri, lirih dan getir.
"Maksudmu?" tanya Rifai, semakin tak mengerti dengan perkataan Indri.
"Gavlin mengira, kamu pacarku atau suamiku, itu alasannya dia datang menemuiku dengan menyamar, karena gak mau terlihat olehmu keberadaannya." ujar Indri, menangis sedih.
"Masak sih? Harusnya Gavlin bertanya langsung padamu, bukan main ambil kesimpulan sendiri, yang membuatnya jadi salah paham." ujar Rifai, menatap lekat wajah Indri yang menangis.
Rifai penasaran, dia lantas membaca surat yang di tulis Gavlin untuk Indri, wajahnya terlihat serius membaca surat tersebut, sementara Indri, masih menangis terisak isak di tepi ranjang.
Rifai selesai membaca surat dari Gavlin, dia lalu meletakkan kertas surat itu di atas ranjang, Rifai lantas menatap wajah Indri yang masih menangis sedih itu.
"Sebagai Pria dewasa, gak sepantasnya Gavlin berfikir pendek seperti itu. Aku tau, bagaimana perasaan Gavlin, kalian lama gak ketemu, dan pas melihatmu di hotel ini, kamu bersamaku, dia langsung mengira aku pacar atau suamimu." ujar Rifai, heran dengan cara pikir dan sikap Gavlin tersebut.
"Kenapa dia gak berani tanya langsung ke kamu, siapa aku, kalo dia cemburu padaku. Bukan lantas menulis surat seperti itu." ujar Rifai, sedikit kesal pada sikap Gavlin.
"Entahlah, Fai. Aku gak tau, kenapa Gavlin jadi seperti itu. Aku berharap, dan selalu bermimpi, pertemuan kami kembali menuai suatu kebahagiaan dan keindahan.Tapi, yang terjadi malah sebaliknya." ujar Indri menangis lagi.
Rifai diam, dia tak menjawab perkataan Indri, Rifai memandangi wajah Indri yang menangis terisak isak itu.
"Andaikan aku ada waktu untuk menjelaskan pada Gavlin, bahwa kamu sepupu aku, mungkin kesalah pahaman Gavlin gak akan terjadi." ucap Indri, lirih dan getir.
Indri lantas menghapus air matanya, dia lalu berdiri dari duduknya di tepi ranjang , Indri lantas menatap tajam wajah Rifai yang berdiri di hadapannya.
"Tolong, Fai. Bantu aku mencari Gavlin." ujar Indri, menatap serius wajah Rifai yang berdiri dihadapannya.
"Nyari kemana malam malam begini, In?" Kamu kan gak tau ďimana dia?!" ujar Rifai, menatap lekat wajah Indri yang masih menyimpan kesedihannya, namun sudah tak menangis lagi.
"Gavlin melihatku pertama kali saat dia keluar dari dalam lift di lobby hotel ini, Fai. Aku yakin, Gavlin pasti menginap di salah satu kamar hotel ini." ungkap Indri, menatap serius wajah Rifai.
"Terus, kamu mau aku mencari Gavlin di tiap tiap kamar hotel ini?!" ujar Rifai, menatap heran wajah Indri.
"Kamu tolong tanyakan ke receptionis, Gavlin menginap di kamar berapa, lalu, kamu cepat kasih tau aku, biar aku datang ke kamar Gavlin." ucap Indri, penuh semangat pada Rifai.
__ADS_1
"Malam ini juga?" tanya Rifai, menatap tajam wajah Indri.
"Iya, Fai. Sekarang juga, Aku gak mau menunda nunda, kalo besok besok, Gavlin bisa saja sudah gak ada di hotel ini lagi." ujar Indri, menatap serius wajah Rifai.
Rifai terdiam, sesaat dia tampak sedang berfikir, Indri yang berdiri dihadapannya menatapnya tajam dan serius.
"Tolong Aku, Fai. Bantu aku." ujar Indri memohon pada Rifai.
Rifai lantas menghela nafasnya, dia lalu menatap wajah Indri yang bersedih dan berharap itu, Rifai tak tega melihat saudara sepupunya itu larut dalam kesedihan.
"Baiklah, Akan aku tanya receptionis hotel." ujar Rifai, menatap lekat wajah Indri.
"Terima kasih, Fai." ujar Indri, tersenyum lega.
"Sambil menunggu, sebaiknya kamu makan, steak yang kamu pesan udah aku beli, gak enak kalo dimakan dingin." ujar Rifai.
"Iya, Fai. " Angguk Indri, tersenyum senang.
Indri senang, karena Rifai, sepupunya itu mau membantunya untuk mencari Gavlin. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan Gavlin malam ini juga, untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara mereka berdua.
"Kamu udah makan, Fai?" tanya Indri, menatap lekat wajah Rifai yang berdiri dihadapannya.
"Belum, nanti aja, sepulangnya dari receptionis hotel." ujar Rifai.
"Oh, ya udah kalo gitu." ujar Indri.
"Aku pergi dulu." ujar Rifai.
Rifai lalu cepat berbalik badan dan berjalan keluar dari dalam kamar hotel Indri, Setelah kepergian Rifai, Indri pun berjalan ke meja makan, untuk makan makanan cepat saji yang di belikan Rifai.
Indri bosan dengan makanan di hotel tempatnya menginap, karena itu dia menyuruh Rifai untuk membelikannya makanan di restoran di luar hotel.
---
Di rumah pemberian Aamauri, terlihat Gavlin dan Malik sedang terlibat pembicaraan yang serius, Gavlin berdiri sambil mengelap senjata senjatanya yang tergeletak diatas meja dengan kain lap.
"Apa semua senjata senjata ini akan kamu bawa besok, Vlin?" ujar Malik, bertanya pada Gavlin.
"Ya, untuk berjaga jaga, Lik. Bagaimana pun Binsar itu orangnya licik, gak akan mudah menangkap dia." ujar Gavlin, menjelaskan pada Malik.
"Aku membawa senjata senjata ini untuk persiapan, mana tau, situasinya berbeda dengan apa yang sudah kita rencanakan bersama Pak Aamauri." ujar Gavlin, serius menjelaskan pada Malik.
"Oh, begitu. Baiklah, Aku juga akan bersiap siap dengan senjataku, dan anggota anggota gank juga akan aku beri tahu, agar mereka semua menyiapkan perlengkapan senjatanya." ujar Malik, memberi tahu Gavlin.
"Ya, Lik." ujar Gavlin.
"Vlin. Jika situasinya berubah besok, tindakan apa yang akan kamu tempuh?" ujar Malik, bertanya pada Gavlin.
"Gak ada pilihan lain, Aku akan menembak Binsar di tempat pertemuan itu." ucap Gavlin serius.
"Oh, gitu. Berarti, rencana untuk membawa Binsar pulang ke negaramu berubah, dan kamu gak jadi melakukan aksi bom bunuh dirimu di pesawat?!" tanya Malik, menatap serius wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya itu.
__ADS_1
"Entahlah, liat saja gimana besok." ujar Gavlin.
Malik mengangguk diam, Gavlin lantas melanjutkan kembali pekerjaannya membersihkan senjata senjata dan mengeceknya sebelum dia menggunakannya besok dalam rencana meringkus Binsar.
---
Pintu kamar hotel Indri di ketuk, Indri yang baru saja selesai makan cepat berjalan menghampiri pintu kamar, kali ini dia tak mengintip dari celah lubang di pintu, Indri yakin, jika yang datang pastilah Rifai.
Indri dengan wajah senang dan penuh harap cepat membuka pintu kamar hotelnya, dan memang benar, yang datang Rifai. Saat pintu di buka, Rifai langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana, Fai?" tanya Indri, sambil menutup pintu kamarnya.
Rifai diam tak langsung menjawab pertanyaan Indri, Dia duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Apa kata Receptionis hotel? Di kamar berapa Gavlin menginap?!" tanya Indri, sambil berjalan mendekati Rifai yang duduk di sofa.
"Maaf, In. Receptionis bilang, Gavlin udah check out dua hari yang lalu dari hotel ini." ujar Rifai, menatap lekat wajah Indri yang berdiri dihadapannya.
"Apa? Gak mungkin, Fai. Tadi siang di acara pameranku aja Gavlin masih terlihat di hotel ini, masa dia udah check out dari dua hari yang lalu? Receptionisnya salah orang pasti, Fai." ujar Indri, tak percaya dengan apa yang dikatakan Rifai.
"Gavlin memang udah check out dua hari yang lalu, In. Receptionis gak salah, dia udah mengecek daftar tamu hotel yang menginap, check in mau pun yang check out, semuanya terdata jelas." ujar Rifai.
Mendengar perkataan Rifai itu Indri pun terhenyak sedih, seketika tubuhnya lemas tak bersemangat, dia berjalan gontai dan duduk di tepi ranjang.
Rifai menatap lekat wajah Indri yang kembali terlihat bersedih hati itu, dia tak tega melihat Indri terus bersedih.
"Sudahlah , In. Kamu jangan sedih terus, kalo kamu memang berjodoh dengan Gavlin, kalian berdua pasti akan bertemu lagi. Yakinlah dengan apa yang aku bilang ini." ujar Rifai, mencoba memberi nasehat dan menenangkan diri Indri yang bersedih hati itu.
"Bagaimana kami bisa bertemu lagi, Fai, kalo Gavlin udah ucapkan selamat tinggal dan bilang di suratnya, kalo dia akan menghilang dari dunia ini selamanya." ungkap Indri sedih.
"Dan Gavlin juga bilang di suratnya, agar aku melupakan semua kenangan tentang dirinya, itu artinya Gavlin akan memilih jalan pintas yang sangat aku takutkan, Fai." ucap Indri menangis sedih.
"Aku takut, Gavlin bertindak nekat, tak perduli dengan nyawanya saat dia membalas dendam pada musuhnya, dan itu akan membuatnya mati terbunuh, menghilang selamanya dari dunia ini." ungkap Indri, menangis terisak isak.
Rifai terdiam mendengarkan perkataan Indri tersebut, dia bingung, tak tahu harus berbuat apa, dia sebenarnya ingin membantu Indri, Rifai juga ingin menemui Gavlin dan meluruskan kesalah pahaman Gavlin padanya, dia ingin mengatakan pada Gavlin siapa dirinya sebenarnya.
Namun, Rifai tak mengetahui keberadaan Gavlin saat ini, begitu juga dengan Indri, Rifai prihatin melihat Indri terus menangis sedih.
"In, jangan menangis terus, nanti matamu bengkak, kamu kan besok ada jadwal pemotretan dan sesi tanya jawab lagi dengan para penggemarmu?" ujar Rifai, mengingatkan Indri.
"Batalkan saja acaranya besok, Fai. Aku gak bisa focus. Lagi pula kepalaku pusing, aku lelah, mau istirahat saja sampai besok." ucap Indri, sambil menghapus air matanya.
"Baiklah, In. Akan aku batalkan acara besok." ujar Rifai.
Indri menghela nafasnya, dia menenangkan dirinya agar tak menangis terus. Indri lantas menatap lekat wajah Rifai yang berdiri di hadapannya itu.
"Maaf, Fai. Tolong tinggalkan aku, aku mau istirahat." ucap Indri, lirih dan getir.
"Ya, In." Angguk Fachri.
Fachri lantas segera pergi meninggalkan Indri, tak lupa dia mengambil sekotak makanan cepat saji buatnya.
__ADS_1
Setelah kepergian Rifai, Indri mengunci pintu kamar hotelnya, lalu, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur ranjangnya , berusaha melepaskan segala penat dan kesedihan hatinya.