
Jack keluar dari dalam rumahnya , dia berjalan menuju ke mobilnya, namun, langkahnya terhenti, dia berdiri di teras rumahnya, wajahnya terlihat heran. Dia melihat , 5 mobil kepolisian datang dan masuk ke halaman rumahnya.
Para petugas kepolisian segera keluar dari dalam mobil, diantaranya ada Edo dan juga Masto, anak buah Andre.
Jack masih berdiri diam diteras rumahnya sambil melihat para petugas polisi berdiri berbaris di halaman rumahnya. Jack menghitung, ada 10 polisi yang datang kerumahnya.
Andre lantas keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan mendekati Jack yang berdiri diteras rumahnya, para petugas polisi bergegas mengikuti Andre yang berjalan menuju teras rumah.
Melihat Andre yang datang dengan membawa anak buahnya, Jack, sebagai Jaksa Agung lantas marah, dia merasa tersinggung karena Andre, sebagai Polisi berani mendatangi rumahnya.
Andre tiba, dia lantas berdiri didepan Jack yang tampak geram dan marah menatapnya.
"Apa apaan ini, pagi pagi datang ke sini! Mau apa kamu?!" bentak Jack marah pada Andre.
"Kami datang ke sini untuk menggeledah rumah Bapak, Rumah Bapak terindikasi , bahwa ada buronan bernama Jafar bersembunyi di sini!" jelas Andre.
"Kurang ajaaar!! Berani kamu menuduhku, Jaksa Agung menyembunyikan buronan ?!! Omong kosong !! Aku akan melabrak Richard, akan ku tuntut kalian semua atas tuduhan palsu ini!! Bentak Jack, mengancam dengan amarahnya.
"Geledah rumahnya!" Perintah Andre pada Masto dan Edo.
Andre tak perduli dengan perkataan Jack, dia hanya patuh pada Richard sebagai atasannya langsung, Jack semakin marah karena di cuekin dan di abaikan Andre.
"Heeei !! Kalian gak bisa seenaknya masuk kerumah orang dan menggeledah tanpa membawa surat perintah !!" Bentak Jack, penuh amarah.
Andre diam, dia lantas mengeluarkan selembar kertas dari dalam kantong bajunya, lantas, ditunjukkannya surat perintah penggeledahan rumah pada Jack.
Jack dengan kesal dan marah merampas kertas surat perintah dari tangan Andre, lalu dia membacanya. Tertera di kertas itu nama Richard sebagai Kapolri dan ditanda tangani oleh pihak kejaksaan.
Jack marah, dia tahu, siapa Jaksa yang menanda tangani dan memberikan izin penggeledahan rumahnya, Jack geram, dia merasa di khianati oleh anak buahnya di kejaksaan.
"Cepat kalian masuk, dan geledah seluruh ruangan rumahnya!" perintah Andre pada pasukannya.
Masto dan Edo lantas menyuruh para petugas kepolisian masuk ke dalam rumah, Jack hanya diam, dia tak bisa menghalangi mereka yang masuk ke dalam rumahnya, karena, Andre datang dengan membawa surat perintah langsung dari Kapolri dan Kejaksaan.
Andre lantas masuk ke dalam rumah Jack, Jack yang merasa tak dihormati dan tak dihargai dengan marah mengikuti Andre yang masuk ke dalam rumahnya.
Para Petugas kepolisian bersama Masto dan Edo langsung bergerak, mereka pun berpencar dan mulai mencari bukti bukti keberadaan Jafar.
Istri Jack keluar dari dalam kamar karena mendengar suara berisik berisik di ruang tamu rumahnya, dia kaget saat melihat banyak polisi di dalam rumahnya dan sedang menggeledah seluruh ruangan.
"Ada apa ini? Kenapa kalian datang datang menggeledah rumahku?!" bentak Istri Jack marah.
"Sebaiknya Ibu jangan menghalangi kami, atau Ibu akan kami tangkap, karena menghalangi kami menyelidiki kasus buronan yang melarikan diri bernama Jafar !" tegas Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Kalian gak bisa sembarangan geledah rumahku!!" bentak Istri Jack marah.
"Pah! Kenapa kamu diam saja!! Lakukan sesuatu!! Usir mereka !" hardik Istri Jack.
Jack lantas berjalan dan mendekati istrinya, dia menatap tajam wajah istrinya yang marah itu.
"Biarkan saja, Bu. Mereka datang dengan membawa surat perintah resmi!" tegas Jack.
"Iya, tapi mau apa mereka? Apa yang mereka cari di rumah kita Pah?!" tanya Istri Jack, kesal dan marah.
"Mereka mengira, Papah menyembunyikan Jafar, buronan kepolisian yang sudah lama mereka cari." jelas Jack.
"Jafar? Bukannya kamu juga la..." Jack menutup mulut Istrinya, agar tak melanjutkan perkataannya.
"Sebaiknya kamu diam saja." bisik Jack.
Jack melihat Andre yang sibuk mengamati anak buahnya yang sedang mencari jejak dan keberadaan Jafar di dalam rumah.
Jack lega, karena Andre tak mendengar perkataan istrinya tadi.
__ADS_1
Jack lantas melepaskan tangannya yang menutup mulut istrinya, lantas, istrinya pun diam, dia menurut dengan apa yang dikatakan Jack padanya.
Manto dan Edo bergegas menghampiri Andre yang berdiri bersama petugas penyidik kepolisian di ruang tamu.
"Semua ruangan clear, tak ada tanda tanda, Jafar ada dan tinggal di rumah ini !" ujar Manto, memberikan laporan.
Andre pun diam, dia lantas berfikir sejenak, Jack yang mendengar perkataan Masto tampak tersenyum sinis, dia mendekati Andre yang sedang berfikir.
"Sudah puas kamu Andre?" ujar Jack sinis.
"Sudah ku bilang, Jafar gak ada di sini , tapi kamu ngotot juga ! Akhirnya, kamu permalukan dirimu sendiri kan?!" Lanjut Jack menyindir Andre.
Andre diam, dia menatap tajam wajah Jack yang tersenyum sinis padanya, Andre tampak menahan geramnya pada Jack yang sudah menyindirnya.
"Bubaaar !!" ujar Andre memberi perintah pada anak buahnya.
"Siap !" jawab Edo.
Lalu, Edo dan Masto pun memerintahkan para petugas Polisi untuk membubarkan diri, lantas, para petugas penyidik kepolisian bergegas keluar dari dalam rumah Jack.
Kemudian, Andre juga keluar dari dalam rumah Jack, Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dia cuekin Jack, Andre terlihat kesal dan marah pada Jack. Andre lantas keluar dari dalam rumah Jack.
"Aku berangkat kerja dulu." pamit Jack pada istrinya.
"Iya, Pah. Hati hati." ujar Istri Jack dengan wajahnya yang cemas.
"Kamu gak usah cemas dan takut, mereka gak kan menemukan apa apa dirumah ini." jelas Jack dengan tenang.
"Iya, Pah." jawab Istri Jack.
Lalu, Jack pun berjalan keluar dari dalam rumahnya, Istri Jack menghela nafas, dia lega, karena, tak ada yang terjadi pada suaminya. Lantas, dia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Mobil mobil Polisi berlalu pergi meninggalkan rumah Jack, di ikuti mobil Andre yang berjalan terakhir keluar dari halaman rumah Jack.
Mobil Jack pun pergi meninggalkan rumahnya, di dalam mobilnya, tampak wajah Jack masih menyimpan kemarahan, dia marah pada Richard, dia berfikir, pastilah Richard yang sengaja menugaskan Andre menggeledah rumahnya, sebab Richard pasti mengira dia menyembunyikan Jafar di rumahnya.
"Kamu kira aku bodoh Richard ? Buat apa aku nyembunyikan Jafar dirumahku? Nyari mati itu namanya!" Gumam bathin Jack, geram dan marah.
---
Setelah tak menemukan bukti bukti keberadaan Jafar di rumah Andre, Andre pun lantas mengarahkan target ke rumah Herman, dia mendatangi rumah Herman, dan berfikir, bahwa Jafar disembunyikan Herman dirumahnya.
Mobil mobil polisi masuk ke halaman rumah Herman, begitu juga dengan mobil Andre, para penjaga keamanan yang ditugaskan menjaga rumah Herman segera bersiap siaga, mereka melihat, polisi polisi keluar dari dalam mobil mereka masing masing.
Para penjaga keamanan dirumah Herman segera berbaris rapi, dan mereka berdiri di depan teras rumah, menghalangi para petugas polisi yang hendak masuk ke dalam rumah Herman.
Andre keluar dari dalam mobilnya, dengan wajah kesalnya dia berjalan menghampiri para penjaga keamanan yang berbaris membuat pagar betis di depan rumah Herman.
"Minggir kalian, jangan halangi kami!!" bentak Andre marah.
"Tidak bisa ! Kalian tidak di izinkan masuk ke dalam rumah, Bapak gak ada dirumah!" tegas salah seorang penjaga keamanan.
"Berani kamu melawanku?!!" bentak Andre marah.
Andre sangat marah pada Penjaga keamanan yang melarangnya masuk ke dalam rumah Herman, seorang Petugas Polisi yang pangkatnya jauh di bawah Andre, berani melarang dan menghalangi Andre yang sedang bertugas memburu buronan.
"Minggir kalian!!" bentak Andre.
Ke sepuluh Penjaga Keamanan tak bergeming, mereka tetap berdiri diam menghalangi Andre dan timnya masuk ke dalam rumah.
Edo lantas mendekati para penjaga keamananan, dia lalu menunjukkan surat perintah penggeledahan rumah Herman.
"Baca ini!!" Hardik Edo kesal.
__ADS_1
Para penjaga keamanan membaca kertas surat yang ditunjukkan Edo pada mereka. Lantas, mereka saling pandang memandang, setelah tahu, bahwa surat itu berisi surat perintah penggeledahan rumah, para penjaga keamanan pun bergeser dari tempatnya. Mereka lalu memberikan jalan pada Andre dan pasukannya.
"Cepat masuk ! Geledah rumahnya!!" Perintah Andre.
Lantas, Manto, Edo beserta para petugas penyidik kepolisian masuk ke dalam rumah, pintu terkunci, Masto menekan bel rumah.
Seorang Asisten rumah tangga lantas membukakan pintu, setelah pintu terbuka, Masto, Edo dan para petugas kepolisian langsung menerobos masuk, Asisten rumah tangga terhenyak kaget melihat banyak polisi yang masuk ke dalam rumah majikannya.
Andre mendekati wajah penjaga keamanan yang melarang dia masuk tadi, dengan wajah geram dan marah dia menatap wajah si penjaga keamanan.
"Urusan kita belum selesai, aku akan memprosesmu nanti di kantor, karena sudah berani menghalangi Aku yang sedang bertugas di lapangan mencari buronan !" ujar Andre geram.
"Maafkan saya Pak." ujar Penjaga keamanan itu.
Andre tak perduli, dia pergi begitu saja dan mengabaikan perkataan Penjaga keamanan yang berusaha meminta maaf padanya. Andre lantas masuk ke dalam rumah Herman.
Di dalam rumah, tampak para petugas kepolisian bersama Edo dan Masto mulai bergerak mencari Jafar ke segala penjuru ruangan yang ada di dalam rumah Herman. Asisten rumah tangga tampak panik.
"Nyaaaa...Nyonyaaaaa !!" teriak Asisten rumah tangga dengan wajah paniknya.
Tak berapa lama, datang istri Herman dari arah kamarnya, dia segera menghampiri Asisten rumah tangga yang panik, Istri Herman kaget, karena banyak polisi didalam rumahnya.
"Ada apa ini Bik? Mengapa polisi polisi ini masuk dan menggeledah rumah?" ujar Istri Herman bertanya.
"Entah, Nyonya. Pas saya buka pintu, mereka langsung masuk ke dalam rumah. Saya juga bingung." ujar Asisten rumah tangga menjelaskan.
Andre masuk ke dalam rumah, dia melihat istri Herman sedang bersama Asisten rumah tangganya, Andre lantas berjalan mendekat.
"Kami datang membawa surat perintah penggeledahan rumah ini!" ujar Andre memberi penjelasan.
"Apa yang kalian cari di sini?!" tanya istri Herman.
Istri Herman berbeda dengan istri Jack, Istri Herman lebih bersahabat dan mau bicara baik dengan Andre, dan tidak ngamuk marah marah.
"Kami sedang mencari Jafar, buronan kepolisian!" tegas Andre.
Asisten rumah tangga yang melihat Andre sedang bicara dengan majikannya bergegas pergi meninggalkan mereka, dia masuk ke dalam kamarnya dengan wajah cemas.
"Jafar? Dia gak pernah datang kerumah ini." jelas Istri Herman.
"Ibu yakin?" ujar Andre menatap lekat wajah istri Herman untuk memastikan kejujurannya.
"Saya yakin, dan gak bohong, Jafar gak pernah datang nemui Herman di sini!" tegas Istri Herman, dengan wajah serius.
"Baiklah, saya percaya pada perkataan ibu." ujar Andre.
Andre lantas melihat para pasukannya yang masih menggeledah seluruh ruangan di dalam rumah, tak lama kemudian, datang Edo menghampiri Andre yang sedang berdiri diruang tamu bersama Istri Herman.
"Kosong, semua ruangan sudah kami periksa, gak ada tanda tanda Jafar di rumah ini juga." jelas Edo.
"Apa saya bilang, gak ada kan?" ujar Istri Herman , tersenyum senang dan tampak lega.
"Baiklah, kalo gitu, kita pergi, dan melanjutkan pencarian kita ketempat lain!" tegas Andre.
"Siap !" jawab Edo, memberi hormat pada Andre.
Edo lalu pergi meninggalkan Andre, dia memberi tahu para petugas polisi dan juga Masto agar segera meninggalkan rumah Herman.
"Saya permisi, Bu. Maaf, sudah membuat ibu kaget." ujar Andre.
"Ya, gak apa apa." jawab Istri Herman ramah.
Andre lantas berjalan pergi keluar dari dalam rumah Herman, Istri Herman menghela nafasnya, dia tampak lega, karena para polisi sudah pergi dari rumahnya, dia lantas menutup pintu dan menguncinya, lalu, dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1