
Gavlin memegangi bahunya yang tergores dan berdarah karena terserempet peluru yang ditembakkan Richard.
Gavlin selamat, karena saat Richard menembakkan pistolnya, istri Richard mendorong Richard, hingga peluru meleset dan hanya menggores bahu kanan Gavlin saja.
Gavlin tampak geram dan marah, dia berbalik badan, dan cepat berjalan mendekati Richard sambil memegangi pistol ditangannya.
Richard mendorong tubuh istrinya yang menindih tubuhnya, lalu dia segera berdiri dan menodongkan pistolnya ke arah Gavlin, dia menembak Gavlin, Gavlin berhasil menghindari peluru yang melesat ke arahnya, lalu, Gavlin mengarahkan pistolnya dan bersiap menembak Richard, istri Richard cepat berdiri memeluk tubuh Richard, dia menghalangi dan menjadikan dirinya tameng Richard.
Gavlin tak jadi menembakkan pistolnya, karena melihat istri Richard menghalangi dan menjadi tameng Richard, Gavlin pun geram, ditatapnya tajam mata Richard yang di peluk erat istrinya, dan tangan Richard dipegangi istri agar dia tak bisa mengangkat pistolnya.
Gavlin lantas berbalik badan, dengan geram dan membawa amarahnya, dia lantas pergi meninggalkan Richard begitu saja. Nyawa Richard selamat, karena diselamatkan istrinya, dan Gavlin tak mau membunuh istri Richard yang dia tahu, tak bersalah.
Sambil memegangi luka di bahu kanannya, Gavlin masuk ke dalam mobilnya, lalu, Gavlin pun menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Richard.
Di dalam rumahnya, Richard melepaskan dekapan istrinya, wajahnya sangat marah pada istrinya.
"Apa apaan kamu?! Kenapa kamu halangi Saya membunuh dia?!" bentak Richard, melampiaskan amarahnya.
"Kalo Aku gak menghentikan dan menghalangimu, Orang itu duluan yang membunuhmu!" bentak Istri Richard melawan Richard.
"Dia itu buronan kepolisian, dia pantas di bunuh!!" bentak Richard marah.
"Apa hukum membolehkan kamu membunuh?!" tanya Istri Richard, tersenyum sinis.
Richard terdiam , dia tampak geram dan menahan marahnya pada istrinya yang berani melawan dan menghalanginya menembak Gavlin.
Richard lantas pergi keluar dari dalam rumahnya, meninggalkan istrinya yang berdiri menatap kepergian suaminya.
Wajahnya terlihat sedih, dan juga lega, karena Gavlin tak membunuh suaminya.
---
Di sebuah Villa, tampak Gatot bersiap siap hendak pergi, Maya yang juga sudah rapi menghampiri Ayahnya yang sedang memakai sepatu, duduk di sofa ruang tamu.
"Loh, kamu mau kemana, May?" tanya Gatot heran.
"Kerja, Yah. Sudah sebulan lebih aku cuti kerja, aku gak mau di pecat karena terus bolos gak kerja." jelas Maya.
"Tapi, di luar bahaya, May. Komplotan Herman pasti mencarimu, kalo kamu kerja dan ada di kantormu, Anak buah Herman bisa menangkapmu!" tegas Gatot, dengan khawatir.
"tapi, Yah. Aku bosan mengurung diri dalam rumah, otakku perlu berfikir!" jelas Maya, jengkel.
Gatot yang sudah selesai memakai sepatunya, lalu berdiri di hadapan Maya yang tampak jengkel itu.
"May, demi keselamatanmu, sebaiknya turuti kata Ayah, jangan pergi, tetaplah di Villa ini." ujar Gatot, dengan serius dan bersungguh sungguh.
"Ayah aja mau kerja , masa Maya gak boleh?!" ujar Maya kesal.
"May, Ayah kerja , ditemani tim kepolisian dan anak buah Ayah, Ayah gak sendirian, jadi aman, nah, kamu, siapa yang menjagamu?!" ujar Gatot, dengan wajah seriusnya.
Maya pun terdiam, dia berfikir, ada benarnya yang dikatakan Ayahnya, apalagi Gavlin saat ini pasti marah besar dengannya, dan tak mungkin Gavlin akan melindungi dirinya.
"Ayah pergi dulu, ya." ujar Gatot.
"Iya, Yah." Angguk Maya lemah.
Gatot pun lantas keluar dari dalam villa meninggalkan Maya sendirian yang berdiri di ruang tamu.
__ADS_1
Maya menghela nafasnya, dia masih sedikit kesal, karena tak di izinkan pergi bekerja, lalu, dia pun berbalik badan, dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Mobil Gatot berjalan, lalu segera meluncur keluar jalanan, meninggalkan Maya sendirian di dalam villa milik Richard, yang di jadikan tempat persembunyian mereka dari kejaran Herman dan komplotannya juga Gavlin.
---
Di dalam gudang tempat biasa Gavlin menyamar sebagai Yanto dan membuat patung patung lilinnya, masuk Gavlin dan berjalan menuju ke kamar khusus tempat menyimpan senjata senjatanya.
Gavlin berjalan sambil memegangi bahunya yang terluka, lalu, dia pun masuk ke dalam kamar khususnya. Gavlin lantas mengambil botol alkohol yang ada di sudut meja, lalu, dia mengambil pisau belatinya.
Kemudian, Gavlin juga mengambil tempat berisi obat obatan, dan meletakkannya di dekatnya.
Gavlin lantas membakar kertas di dalam asbak, kemudian, dia memanaskan pisau belatinya. Gavlin menyobek baju lengan kanannya.
Lalu, Gavlin mengambil sepotong kayu, kemudian menggigitnya, setelah itu, dia melumuri luka di bahunya dengan alkohol , lantas dengan pisau belati yang sudah di panaskannya, dia pun menusuk pisau ke dalam lukanya, dia mencoba mengeluarkan serpihan peluru yang mengenai bahu kanannya.
Walau pun peluru tidak menembus bahunya, tapi, pecahan serpihan peluru ada tertinggal di goresan luka Gavlin, dan itu sangat perih dan sakit sekali, maka dari itu, dia berusaha mengeluarkannya.
Dengan susah payah dan menahan rasa sakitnya, Gavlin berusaha mengambil serpihan pecahan peluru yang masuk ke dalam kulit bahunya, pada lukanya. Beberapa saat kemudian, Gavlin berhasil mengeluarkan pecahan peluru, di buangnya serpihan pecahan peluru ke dalam asbak yang masih ada sisa api membakar kertas.
Lalu, kembali Gavlin menaburkan alkohol dari botol ke lukanya, kemudian, dia menaburi lukanya dengan obat luka yang di ambilnya dari kotak obat obatan.
Lalu, Gavlin membalut lukanya dengan sobekan kain bekas lengan baju yang dia sobek tadi. lalu, Gavlin pun melepaskan kayu yang digigitnya.
Setelah itu, Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, dia mencoba menenangkan dirinya, namun, ingatannya kembali tertuju pada Richard.
Terlintas kembali dalam benaknya, saat Richard menembaknya dengan sengaja di rumahnya, Gavlin pun tampak marah dan geram pada Richard.
"Richard, aku tau, kamu mau memanfaatkanku saja menangkap Herman dan komplotannya, aku sengaja setuju membantumu, agar aku melihat, sejauh mana kamu akan beraksi menjebakku dan menangkapku !" ujar Gavlin, tersenyum sinis.
"Kamu kira, aku percaya sama kamu Richard?! Sudah ku katakan berkali kali, Aku gak pernah percaya dengan semua Polisi !" ujar Gavlin geram dan marah.
Lalu, dia pun bergegas ke lemari yang menyimpan senjata senjatanya, Gavlin sepertinya akan mulai kembali aksinya dengan menggunakan senjata senjata berbahaya yang dia miliki.
Gavlin berencana, untuk kembali berburu musuh musuhnya, sambil mencari keberadaan Gatot dan Maya.
"Gatot, dimana kamu?!" Gumam Gavlin, berfikir.
Dia memikirkan Gatot, Gavlin berniat untuk menemukan Gatot, untuk menuntut pertanggung jawaban Gatot yang sudah membawa mayat mayat warga kampung rawas miliknya.
---
Gatot masuk ke dalam ruang kerjanya, baru saja dia duduk di kursi meja kerjanya, datang seorang petugas kepolisian menghampirinya.
"Maaf, Pak. Bapak di panggil keruangan pak Richard, sekarang juga." ujar Petugas Polisi.
"Oh, baik. Terima kasih." jawab Gatot.
Petugas Polisi pun lantas pergi meninggalkan Gatot, Gatot berfikir sesaat, lalu, dia berdiri dari duduknya, kemudian, dia bergegas berjalan, keluar dari ruang kerjanya untuk datang menghadap Richard dikantornya.
Di dalam kantornya, tampak Richard duduk di kursi meja kerjanya, dia sedang memeriksa berkas kasus pembunuhan yang di lakukan Gavlin selama ini.
Pintu ruang kantor di ketuk dari luar, Richard menoleh dan menyuruh masuk.
"Ya, masuk!" ujar Richard.
Pintu pun lantas terbuka, dan Gatot lalu masuk ke dalam ruang kantor Richard, dia kemudian berjalan mendekati Richard, Gatot berdiri di depan meja, dihadapan Richard yang duduk di kursi meja kerjanya.
__ADS_1
"Duduklah di sofa itu." ujar Richard.
Gatot mengangguk, mengiyakan, lalu, dia pun berjalan dan duduk di sofa yang ada dalam ruang kantor Richard, lalu, Richard pun berdiri dari kursi kerjanya, dia lantas berjalan menghampiri Gatot.
Richard lalu duduk di sofa, tepat di depan Gatot yang sudah duduk di sofa.
"Ada apa memanggilku?" tanya Gatot.
Walau Richard pimpinan tertinggi, tetap saja Gatot bicara dengan Richard layaknya seorang teman, dengan kata 'Aku' dan 'Saya' , karena mereka dulunya selevel, hanya yang membedakan mereka cuma pangkat dan jabatan saja.
"Bagaimana dengan mayat mayat yang ditemukan di tempat persembunyian Gavlin?" tanya Richard, dengan wajahnya yang serius.
"Sudah dikembalikan ke kamar jenazah, dan aku juga sudah menugaskan sebagian pasukan untuk berjaga jaga di sekitar kamar jenazah, agar Gavlin gak bisa datang mengambil mayat mayat itu lagi!" jelas Gatot, serius.
"Kamu yakin, sudah aman tempatnya? Gavlin gak bisa menembus penjagaan anggota kepolisian kita?!" tanya Richard, dengan wajahnya yang serius.
"Ya, aku yakin, penjagaan sudah ketat, gak ada ruang buat Gavlin menyusup dan masuk ke dalam kamar jenazah!" tegas Gatot, dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, Saya serahkan pengamanannya padamu!" ujar Richard.
Richard terdiam untuk sesaat, dia menatap wajah Gatot yang tampak heran melihatnya.
"Gavlin kerumah saya, dia ngamuk!" ujar Richard, memberi tahu Gatot.
"Ngamuk? Kenapa?!" tanya Gatot heran.
"Mungkin dia sudah tau, mayat mayat di ruang rahasianya kamu ambil dan bawa, makanya dia marah dan ngamuk mendatangi saya!" ujar Richard, menjelaskan dengan wajah serius.
"Kenapa dia mendatangimu? Kan aku yang mengambil mayat mayat itu, bukan kamu!" ujar Gatot heran.
"Dia datang, buat nanyain dimana kamu sembunyi, sepertinya dia mencarimu ! Gavlin tau, kamu yang mengambil mayat mayatnya, dia bilang pada saya, kalo mayat mayat itu miliknya !!" tegas Richard, dengan wajah serius.
"Saya menolak untuk memberikan lokasi persembunyianmu, dia makin marah, dia mau membunuh saya, pistol sudah diarahkannya pada saya!" ujar Richard.
"Gilaa Gavlin !! Berani dia menodongkan pistol padamu?!" ujar Gatot kaget dan marah.
"Dia marah pada, karena saya gak mau bilang dimana kamu sembunyi, pas dia mau menembak, untung saja istri saya datang, dan mencegah Gavlin, Gavlin gak jadi menembak." jelas Richard.
"Pas dia mau pergi, saya tembak dia, cuma meleset, gak tau, pelurunya mengenai tubuhnya yang mana, karena pas nembak, saya di dorong istri, istri saua menghalangi menembak Gavlin!" tegas Richard geram.
"Siaaal !! Kenapa kamu tembak Gavlin?!! Itu artinya, kamu sudah membangkitkan amarah Gavlin ! Kalo sudah begini, kamu gak kan bisa lagi memanfaatkan Gavlin untuk menangkap Herman dan komplotannya!!" tegas Gatot kesal.
"Tanpa Gavlin, kamu akan sulit menangkap Herman dan komplotannya ! Mereka licin dan licik !!" ujar Gatot, menegaskan dengan wajah kesalnya.
"Jujur Chard, aku kecewa padamu, karena ternyata selama ini kamu hanya mau memanfaatkan Gavlin, dan menjadikannya kambing hitam dalam menumpas kejahatan Herman dan komplotannya, setelah itu kamu akan menjebak dan menjebloskan Gavlin kepenjara, lalu, memberinya hukuman mati!" tegas Gatot.
"Begitu kan rencanamu? Ini semua demi karirmu, kan ? Agar kamu mendapat penghargaan dan menggantikan posisi Sutoyo sebagai Kapolri?! " ujar Gatot, menahan marahnya.
"Ya. Bagus kalo kamu tau! Dan sebagai Komandan kepolisian yang dibawah kepemimpinan saya, kamu harus mengikuti dan menuruti semua perintah saya sebagai pimpinan tertinggi !" tegas Richard.
"Maaf Chard, Aku gak bisa mengkhianati Gavlin, sejak aku menyelamatkan nyawanya saat dia kecil dulu, aku sudah menganggapnya sebagai anak, tapi aku gak bisa mengadopsinya, karena aku sudah mengadopsi Maya, dan aku gak kan sanggup membiayai hidup dua anak dulu!" jelas Gatot.
"Kamu kira Gavlin tetap baik padamu? Melihat dia ngamuk karena mayat mayat patungnya di bawa kamu ! Dia gak bakal melepaskan kamu ! Gavlin pasti membunuhmu!" tegas Richard.
"Gak apa, aku sudah siap sejak lama, jika Gavlin harus membunuhku, dengan senang hati, akan ku berikan nyawaku untuknya." ujar Gatot serius.
Gatot lantas berdiri, kemudian berjalan pergi meninggalkan Richard, dia segera keluar dari dalam ruang kantor Richard.
__ADS_1
Richard terdiam duduk di sofanya, wajahnya tampak menahan amarah, melihat sikap teguh Gatot, yang seperti membela Gavlin.