VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Berakhirnya kisah Samsudin


__ADS_3

Tiba tiba saja, Pengawal Pribadi Samsudin yang berdiri tepat di depan Gavlin langsung menyerang Gavlin.


Gavlin yang sudah tahu, sebelumnya sudah siap siaga, dia tahu, kalau Pengawal itu akan menyerang lebih dulu.


Gavlin menghindari pukulan dan tendangan Pengawal Samsudin, lalu, dia membalas menyerang, Gavlin melompat dan menerjang Pengawal Pribadi Samsudin.


Perkelahian terjadi, jual beli pukulan dan tendangan di pertontonkan, Samsudin hanya bisa terdiam duduk di lantai, kondisinya masih lemah, kakinya tak bisa digerakkan karena sangat lemah sekali, Samsudin sangat kelelahan, karena selama hidupnya , dia tak pernah berlari lari , apalagi harus lari kencang dan menyusuri lorong yang sangat panjang seperti tak ada ujungnya itu.


Binsar membangun Bunker tersebut dengan menggunakan anggaran uang negara, Binsar korupsi besar besaran, dan melakukannya dengan cara hening, diam dan tanpa ada yang mengetahuinya.


Sehingga, dia bisa membuat Bunker persembunyian untuk dirinya sepanjang itu, hingga menembus ke kantor bea dan cukai.


Binsar memilih gedung kantor bea cukai untuk jalan keluar dari Bunkernya tersebut, karena , di gedung bea dan cukai itulah tempat yang aman buat dia melarikan diri.


Pengawal Pribadi Samsudin terus menyerang Gavlin, Gavlin dengan sigap memberi perlawanan pada Pengawal tersebut.


Gavlin melepaskan pukulannya, dan menghantam rahang Pengawal, hingga dia terhuyung huyung ke belakang hendak terjatuh.


Gavlin melompat, lalu menerjang sang Pengawal hingga akhirnya Pengawal itu terjatuh ke lantai, kemudian, Gavlin kembali melompat, dia menginjak perut Pengawal , sang Pengawal menjerit kesakitan.


"Aaagghh!!" teriak Pengawal kesakitan.


Gavlin masih berdiri diatas perut Pengawal, dengan cepat dia mengambil pisau belatinya yang terselip di pinggangnya.


Pisau belati keluar dari sarungnya, Gavlin lantas cepat berjongkok dan menyabetkan pisau belati ditangannya ke leher si Pengawal.


Darah segar mengucur deras saat Gavlin menyembelih leher si Pengawal hingga tewas seketika. Samsudin bergidik ngeri melihat Pengawalnya mati dengan cara lehernya di sembelih Gavlin.


Sudah menjadi ciri khas Gavlin, dia pasti akan menyembelih leher musuh musuhnya yang sudah kalah.


Gavlin lantas turun dari tubuh Pengawal yang sudah terkapar mati di lantai Bunker. Lalu, dengan menyeringai sadis, Gavlin berjalan mendekati Samsudin.


"Gak ada lagi orang yang bisa menolongmu , di dalam sini, hanya ada aku dan kamu!!" tegas Gavlin, dengan geram dan marahnya menatap tajam wajah Samsudin.


Samsudin gemetar ketakutan, dia tak bisa bicara, karena bibirnya bergetar hebat, dia sangat takut sekali pada sosok Gavlin yang saat ini tengah berdiri tepat di hadapannya dengan raut wajah bengis dan menyeramkan.


Gavlin lantas meremas rambut Samsudin dengan kuat, Samsudin langsung meringis kesakitan, karena rambutnya ditarik Gavlin dengan kuat.


"Aaargggghh...Saaakiitt!!" teriak Samsudin, kesakitan.


Gavlin tak perduli, dia terus meremas kuat rambut Samsudin, kemudian, Gavlin pun menarik rambut Samsudin, dan menyeretnya, Samsudin yang masih lemas, terseret di lantai.


Gavlin berhenti, dia lalu mengambil senjata bom roket yang dia letakkan di lantai tadi saat duel dengan Pengawal Pribadi Samsudin.


Lalu, Dengan menenteng senjata bom roketnya, dia menarik kuat rambut Samsudin dan menyeretnya , Gavlin hendak membawa keluar Samsudin dari dalam Bunker tersebut.


Setelah melalui perjalanan yang sangat jauh di dalam bunker tersebut, akhirnya Gavlin dan Samsudin tiba kembali di dalam rumah peristirahatan milik Binsar.


Gavlin menyeret keluar Samsudin dari pintu rahasia Bunker yang sudah hancur di bom Gavlin. Lalu, Gavlin terus menyeret Samsudin, dia membawa Samsudin keluar dari dalam rumah peristirahatan milik Binsar tersebut.


Dengan wajah garang dan penuh amarah membara didalam jiwanya, Gavlin menyeret keluar Samsudin dari dalam rumah peristirahatan.


Lalu, dia berhenti menyeret Samsudin, Gavlin dan Samsudin sekarang berada di teras rumah peristirahatan, lantas, Gavlin mengangkat tubuh Samsudin.


Samsudin lantas berdiri, dia hampir terjatuh, karena kakinya masih lemas, karena berlari jauh tadi, Gavlin menyandarkan tubuh Samsudin di tiang pilar teras rumah peristirahatan.


Gavlin mengambil tali dari dalam tas pinggangnya, kemudian, dia meletakkan senjata bom roketnya di lantai teras.


Kemudian, dengan cepat, Gavlin mengikat Samsudin di tiang pilar teras rumah peristirahatan milik Binsar. Samsudin heran, mengapa dia di ikat di tiang pilar teras tersebut.


"Apa yang mau kamu lakukan padaku?!" tanya Samsudin, menatap tajam wajah dingin Gavlin.

__ADS_1


Gavlin diam tak menjawab, dia terus mengikat seluruh tangan kaki dan tubuh Samsudin di tiang pilar teras , Samsudin semakin takut melihat sikap dingin dan menyeramkan Gavlin.


Akhirnya, Gavlin selesai juga mengikat tubuh Samsudin di tiang pilar teras, lalu, dia mengambil senjata bom roketnya di lantai teras.


Lalu, dengan cuek dan santai, Gavlin berjalan pergi meninggalkan Samsudin yang terikat di tiang pilar teras.


"Heeeiii!! Mau kemana kamu Gavliiin!! Lepaskan aku!! Jangan tinggalkan aku sendirian di sini!!" teriak Samsudin, meronta ronta memanggil Gavlin.


Gavlin cuek , dia tak perduli dengan teriakan Samsudin itu, Dia terus saja berjalan dan menjauh dari rumah peristirahatan milik Binsar tersebut.


Samsudin meronta ronta, berusaha melepaskan diri, namun, ikatan yang di buat Gavlin sangat kuat sekali , jika dia bergerak, tali tali itu semakin mengikat kencang ke tubuhnya. Akhirnya, Samsudin diam, dia pasrah dengan kondisinya yang terikat di tiang pilar teras rumah peristirahatan tersebut.


Gavlin terus berjalan keluar dari halaman rumah peristirahatan milik Binsar tersebut, lalu, dia menghentikan langkahnya saat dia berada di pinggir jalan, tepat di depan pintu pagar depan rumah peristirahatan tersebut.


Lalu, Gavlin mengangkat senjata bom roketnya dan mengarahkannya pada Samsudin, di teras, Samsudin yang terikat di tiang pilar melihat Gavlin tengah berdiri dan bersiap siap memegang senjata ditangannya. Samsudin semakin ketakutan melihat senjata di tangan Gavlin tersebut.


"Lepaskaaan aaakkkuuu!! Lepaaassskaaan!!" teriak Samsudin histeris.


Samsudin berteriak sekeras kerasnya, dia berharap Gavlin mau melepaskan dirinya, namun, Gavlin tak bergeming, dia tetap berdiri tegak dengan memegang senjata bom roketnya.


"Sudah lama aku ingin membunuhmu Samsudin, sekarang, tiba waktumu!!" Ujar Gavlin, dengan geram dan penuh amarah.


Gavlin mengarahkan senjatanya, lalu, dia pun lantas melepaskan tembakan, bom roket melesat terbang , melaju ke arah Samsudin yang terikat di tiang pilar teras rumah peristirahatan.


Bom roket melesat cepat, lalu tepat menghantam tubuh Samsudin yang berdiri terikat di tiang pilar teras, seketika, tiang pilar hancur berantakan, dan serpihan serpihan daging daging dari tubuh Samsudin berterbangan dan berhamburan, rumah peristirahatan seketika rubuh dan hancur berantakan.


Kepala Samsudin terjatuh , lalu menggelinding di tanah, sesaat kemudian, tangan tangan Samsudin juga jatuh ke tanah, di susul kedua kakinya.


Tubuh Samsudin terbelah dan hancur berkeping keping akibat di ledakkan Gavlin dengan menggunakan bom roketnya.


Benar benar tiada ampun lagi, Gavlin membantai Samsudin dan menghancurkan tubuhnya, Samsudin mati di tangan Gavlin, dengan kondisi tubuh yang hancur berkeping keping dan berantakan.


"Pergilah ke Neraka jahanam Samsudin!!" ujar Gavlin, geram dan marah.


Gavlin sengaja menghancurkan tubuh Samsudin dengan meledakkannya, agar tubuhnya tak bisa di kenali lagi, itu di lakukan Gavlin karena dia sangat jijik, marah, dendam dan murkanya pada Samsudin, salah seorang pelaku yang telah menjebak dan membunuh Bapaknya.


Dengan kematian Samsudin ditangannya, Gavlin sedikit lega, tinggal selangkah lagi, misi balas dendamnya selesai, dia harus memburu dan mengejar Binsar yang sedang melarikan diri ke negara Perancis saat ini.


Gavlin lantas melepaskan tembakan dari senjata bom roketnya. Bom roket melesat dan menghantam bangunan rumah peristirahatan hingga porak poranda, dan hancur berantakan , lalu menyisakan puing saja.


Dari dalam mobil, Jalal melihat semuanya, dia bergidik ngeri melihat Gavlin meledakkan rumah peristirahatan milik Binsar dan membantai Samsudin dengan meledakkannya.


Gavlin tersenyum puas, lalu, dia berbalik badan, dan berjalan menuju ke mobilnya.


Jalal di dalam mobil melihat Gavlin berjalan mendekat ke arahnya, dia mencoba untuk tetap bersikap tenang dengan kedatangan Gavlin.


Gavlin tiba di dekat mobilnya, dia lantas membuka bagasi mobil dan memasukkan senjata senjatanya ke dalam bagasi mobil.


Gavlin lalu menutup pintu bagasi mobilnya, lalu, dia berjalan, lantas Gavlin berdiri tepat di depan pintu belakang mobilnya.


Jalal dari dalam mobil heran melihat Gavlin berdiri di depan pintu, belum sempat hilang rasa herannya, Gavlin sudah meraih pisau belatinya, lalu, dengan gerak cepat, Gavlin membuka pintu belakang mobil.


Gavlin lantas cepat menarik rambut Jalal dan membawanya keluar, tubuh Jalal terhempas ke tanah, karena di tarik dan di seret paksa keluar dari dalam mobil, sementara kondisinya dalam keadaan terluka parah dan terikat.


Gavlin cepat menggorok leher Jalal, dia membantai Jalal dengan menyembelihnya, seketika, Jalal mati terkapar di tanah.


Gavlin lantas menyimpan pisau belati ke dalam sarung pisau yang ada di pinggangnya, lalu, dia berjalan ke depan mobilnya.


Gavlin cepat masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia segera menyalakan mesin mobil dan kemudian menjalankan mobilnya.


Gavlin pergi meninggalkan lokasi rumah peristirahatan milik Binsar yang sudah dalam kondisi hancur berantakan , akibat di ledakkan Gavlin.

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Gavlin menyetir mobilnya dengan serius, wajahnya tampak geram dan marah sekali, matanya memerah, karena menahan amarahnya.


"Binsar, aku akan mengejarmu sampai ke Perancis !! Aku pasti akan menemukanmu disana!!" ujar Gavlin, geram dan marah pada Binsar.


Gavlin terus menyetir mobilnya, mobil melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan yang tinggi, Gavlin ingin segera pergi menjauh dari lokasi persembunyian Samsudin tersebut.


---


Telepon berdering, Andre yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya cepat mengangkat telepon yang ada di atas meja kerjanya.


"Hallo, dengan Komandan Andre, disini." ujar Andre , bicara di telepon.


"Hai, Ndre, aku Gavlin. Aku sudah membunuh Samsudin." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


Andre terhenyak kaget saat mengetahui yang menelponnya adalah Gavlin lagi, dan dia semakin kaget, karena gavlin bilang, kalau dia sudah membunuh Samsudin.


"Kamu jangan becanda, Vlin!" tegas Andre, di telepon.


"Silahkan datang ke rumah peristirahatan milik Binsar, yang ada di daerah Lokasari, disana kamu akan menemukan kepala dan potongan potongan tubuh Samsudin, sekaligus rumahnya yang sudah hancur!" tegas Gavlin, menjelaskan pada Andre, dari seberang telepon.


Lalu, dia menutup teleponnya, Andre yang terdiam, tersentak kaget , karena mendengar suara nada telepon yang terputus.


Andre tahu, Gavlin sudah menutup dan mematikan teleponnya, Andre lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Gavlin beraksi lagi. Kali ini, aku harus senang, atau marah, karena Gavlin membunuh Samsudin?" Gumam Andre berfikir.


"Mampus kamu Samsudin, akhirnya kamu mati juga, dengan cara itu yang bisa melenyapkan dirimu!!" ujar Andre, tersenyum senang.


"Ah, tapi, sebagai Polisi, aku harus kelokasi itu, untuk mengecek kebenaran dari apa yang disampaikan Gavlin, walau aku senang dengan kematian Samsudin, setidaknya, aku harus datang ke lokasi tersebut untuk melihat langsung." Gumamnya berfikir.


"Ya, aku akan ke sana sekarang juga bersama Masto." ujarnya lagi.


Lalu, Andre pun berdiri dari duduknya di kursi kerja, kemudian, dia bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerjanya, dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya dan menelpon Masto.


"Kamu saya tunggu di parkiran mobil saya, kita kelokasi pembunuhan sekarang." ujar Andre, bicara di telepon.


Lalu, dia segera menutup teleponnya, dan menyimpan ponsel kedalam kantong celananya, Andre berjalan cepat keluar dari dalam gedung kantor kepolisian.


Andre bergegas jalan keluar dari dalam gedung kantor kepolisian menuju halaman parkir mobil.


Di kejauhan, tampak Masto berlari lari kecil, keluar dari dalam gedung kantor kepolisian. Sementara Andre sudah berdiri di depan mobilnya.


Andre melihat Masto berlari kearahnya, dia pun menunggu Masto. Lalu, Masto pun tiba, dia berdiri di depan Andre.


"Siapa yang terbunuh, Pak?" tanya Masto, menatap wajah Andre.


"Samsudin yang mati." ujar Andre.


"Samsudin?!!" Masto terhenyak kaget mendengar perkataan Andre.


"Ya, Gavlin membunuhnya, dan tadi, Gavlin menelpon saya, memberi tahu tempat dia membunuh Samsudin." ujar Andre, memberi penjelasan pada Masto.


"Gavlin ?!!" Ujar Masto terhenyak kaget mengetahui, bahwa yang membunuh Samsudin adalah Gavlin.


"Di mana lokasi kejadiannya, Pak?" Tanya Masto menatap serius wajah Andre yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.


"Di rumah peristirahatan milik Binsar." ujar Andre, menatap lekat wajah Masto yang berdiri dihadapannya.


"Oh, yang di jalan lokasari, saya tau tempatnya, Pak. Saya sempat mengintai ke sana dulu." ungkap Masto.


"Oh, begitu, baguslah. Kita berangkat sekarang." ujar Andre, dengan wajahnya yang serius.

__ADS_1


"Ya, Pak." Angguk Masto.


Lalu, mereka berdua pun lantas masuk ke dalam mobil Andre, dan tak lama kemudian, mobil Andre pun pergi keluar meninggalkan gedung kantor kepolisian.


__ADS_2