
Binsar menggebrak meja kerjanya, dia terlihat sangat marah sekali, Binsar saat ini, baru saja mendapatkan kabar dari Muhtadin, salah satu anggota Inside yang menjadi anak buah dan salah satu orang kepercayaannya.
Muhtadin, yang pernah ditugasi menjaga dan melindungi Samsudin dan rumahnya tampak berdiri tertunduk diam dihadapan Binsar yang duduk di kursi kerjanya dengan wajah penuh amarah.
"Kurang ajar !! Pasti Gavlin yang menghancurkan markas Inside !!" bentak Binsar, penuh amarah yang membara di dalam jiwanya saat ini.
"Kamu cepat kerahkan anak buahmu, cari Gavlin sampai dapat, hidup atau mati !!" tegas Binsar, memberi perintah pada Muhtadin.
"Baik, Pak. Akan segera saya cari Gavlin!" tegas Muhtadin.
"Dan panggil Mino, suruh dia menghadap Saya sekarang juga!" ujar Binsar, memberi perintah.
"Maaf, Pak. Mino tewas terbunuh di markas." ujar Muhtadin, memberi tahu Binsar.
"Apa? Mino tewas ?!!" Binsar terhenyak kaget.
Binsar tak menyangka, jika Mino, orang kepercayaannya mati terbunuh dimarkas Inside, dia semakin marah mendengar kabar kematian anak buahnya.
"Kalo begitu, kamu Saya tugasi menemui Samsudin di hotel Veronica! Bilang padanya, agar bersiap siap untuk segera berangkat ke luar negeri! Sudah tak ada waktu lagi buatnya!!" tegas Binsar, memberi perintah.
"Baik, Pak. Akan saya laksanakan!" tegas Muhtadin, memberi hormat.
"Saya permisi, Pak." ujar Muhtadin, pamit pada Binsar.
Binsar mengangguk, mengiyakan, lalu, Muhtadin segera pergi meninggalkan ruang kantor Binsar, Binsar yang geram dan marah langsung melemparkan semua benda benda yang ada di atas meja kerjanya, dia benar benar sangat murka, karena markasnya di hancurkan Gavlin.
"Gavliiin !! Aku akan membunuhmu!!" ujar Binsar, dengan wajah geram penuh amarah membara.
---
Masto menemui Andre di ruang kerja Andre di kantor kepolisian, dia baru saja mendapatkan kabar dari salah seorang intelijen tentang organisasi Inside.
"Maaf, Pak. Saya baru saja dapat kabar dari intel kita, katanya, markas organisasi Inside sudah hancur lebur, sepertinya pelakunya Gavlin juga !" tegas Masto, memberi laporan.
"Apa ada korban?" tanya Andre, menatap serius wajah Masto yang berdiri dihadapannya.
"Hanya anggota anggota Inside yang bertugas menjaga markas itu saja, Pak." ujar Masto.
"Bagaimana dengan Binsar atau Samsudin?" tanya Andre lagi dengan wajahnya yang serius menatap Masto.
"Untuk sementara ini, gak ada kabar tentang keberadaan Samsudin maupun Binsar, Pak." ujar Masto, menjelaskan.
"Oh, begitu, baiklah. Kalo ada kabar lagi, cepat beri tau saya." ujar Andre.
"Baik, Pak." ujar Masto.
"Oh, ya, kamu ikut saya, kita ke rumah perlindungan, saya mau menemui Chandra di sana!" ujar Andre.
"Baik, Pak." ujar Masto, mengangguk.
Lalu Masto bergegas keluar dari dalam ruang kerja Andre, Andre lantas merapikan berkas berkas diatas meja dan menyimpannya dalam laci meja kerjanya.
Lalu, Andre pun bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya.
---
Muhtadin datang menemui Samsudin, tampak wajah Samsudin tegang dan memucat, dia baru saja mendapatkan kabar dari Muhtadin, bahwa markas inside sudah hancur berantakan.
__ADS_1
"Bagusnya saya gak tinggal di markas Inside, benar dugaan saya, Gavlin pasti akan datang ke markas kita!" ujar Samsudin, dengan wajah tegangnya.
"Lantas, kita bagaimana, pah?" tanya Istri Samsudin, dengan wajah penuh rasa takut dan khawatirnya bertanya pada Samsudin.
"Bapak dan Ibu bersiap siap, kita akan berangkat sore ini juga ke bandara, Pesawat Bapak dan Ibu sudah siap menunggu di Bandara, pak Binsar sudah mengatur semuanya!" ujar Muhtadin.
"Baiklah, kamu siap siap Ma. Kita mau pergi sekarang juga." ujar Samsudin pada Istrinya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, tinggal berangkat saja, Pah." ujar Istri Samsudin.
"Baguslah." jawab Samsudin.
"Bapak dan Ibu tunggu arahan dari saya selanjutnya, nanti saya akan ke sini lagi menjemput Bapak, untuk berangkat ke bandara." ujar Muhtadin.
"Tunggu dulu, bagaimana dengan para penjaga yang ada disini?" tanya Samsudin, menatap serius wajah Muhtadin, yang berdiri dihadapannya.
"Para penjaga tetap di sini, Pak. Mereka tetap menjaga Bapak, sampai Bapak dan Ibu naik pesawat dengan aman nantinya." tegas Muhtadin, menjelaskan.
"Oh, baiklah, terima kasih." ujar Samsudin.
Wajah Samsudin tampak lega, karena para penjaga masih ada di sekitarnya, menjaga dan melindungi dirinya.
Muhtadin lantas segera pergi keluar dari dalam kamar hotel meninggalkan Samsudin dan Istrinya.
"Aku ambil barang barangku dulu Pah." ujar Istri Samsudin.
"Ya." Angguk Samsudin.
Lantas, Istri Samsudin bergegas pergi meninggalkan Samsudin sendirian berdiri tercenung, Istri Samsudin masuk ke dalam kamar, untuk bersiap siap membawa segala macam keperluannya.
---
Di dalam rumah, Chandra sedang duduk santai menonton acara televisi diruang tengah rumah perlindungan, sementara, para penjaga tampak berdiri tegak siap siaga di sekitar rumah perlindungan.
Chandra melihat kedatangan Andre dan juga Masto, dia lantas berdiri dan bersalaman dengan Andre dan Masto.
"Bagaimana keadaanmu? Betah tinggal dì sini?" tanya Andre.
"Ya, dibetah betahin, habis mau gimana lagi, kalo gak disini, nyawaku terancam, mau gak mau ya tetap berdiam diri di sini, walau hidup bagai seperti dalam penjara saja di sini." ujar Chandra.
"Sabar saja, mudah mudahan dalam waktu dekat semua sudah beres, Binsar dan komplotannya bisa ditangkap, dan kamu aman." ujar Andre, mencoba menenangkan Chandra.
"Ya, mudah mudahan, kuncinya ada padamu dan Samuel, kapan kalian akan bergerak, jika terus menunda dan berlama lama, ya, aku juga bakalan lama terkurung di sini!" tegas Chandra, menyindir Chandra.
"Kamu tenang saja, Kami sedang mempersiapkan semuanya, segala sesuatunya harus di perhitungkan dengan cermat, agar gak gegabah dan salah langkah." ujar Andre serius.
"Bagaimana pun, yang kita hadapi ini sebuah organisasi yang sudah mendarah daging dalam berbuat kejahatan, mereka lihai dan licik, gak mudah menangkap mereka, apalagi Binsar, tokoh utama yang ada di balik kejahatan Inside!" tegas Andre, memberi penjelasan.
"Ya." Angguk Chandra.
Tiba tiba, telepon Masto berbunyi, Masto lantas cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, dia segera menerima panggilan teleponnya.
"Ya, ada info apa?" tanya Masto, dengan wajah serius, bicara di telepon.
"Kami baru saja mendapat info dan berhasil melacak keberadaan Samsudin." ujar Petugas Intelijen, dari seberang telepon.
"Oh,ya? Info apa itu?" tanya Masto, ditelepon.
__ADS_1
"Samsudin saat ini ada di hotel veronica, selama ini, dia tinggal disana, kami berhasil melacak kartu kredit yang dipakainya selama tinggal di hotel itu." jelas petugas Intelijen dari seberang telepon.
"Dan satu hal lagi, kami juga melacak, bahwa Samsudin dan Istrinya terdaftar di salah satu pesawat, dia berencana akan pergi ke negara Swiss sore ini!" tegas Intelijen, memberi laporan dari seberang telepon.
"Dan kami sudah memblokir jadwal penerbangannya saat ini, agar pesawat yang akan ditumpangi Samsudin dan Istrinya tidak berangkat sore ini!" lanjut petugas Intelijen, menjelaskan dari seberang telepon.
"Bagus, kami akan bergerak untuk menangkap Samsudin di Bandara!" tegas Masto.
"Terima kasih Informasinya." lanjut Masto, ditelepon.
Lalu, Masto menutup teleponnya, dia lantas menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya, Andre mendekatinya, dia berdiri di depan Masto dan menatap serius wajah Masto.
"Ada info apa?" tanya Andre, menatap serius wajah Masto.
"Samsudin sore ini berencana kabur ke negara Swiss, Pak. Pihak Intelijen sudah memblokir keberangkatan pesawat!" ujar Masto.
Chandra diam mendengarkan pembicaraan Masto dan Andre, tampak jelas, raut wajah Chandra tengah memikirkan sesuatu hal saat ini. Seperti ada yang sedang dia rencanakan, Chandra menatap wajah Andre dan Masto yang terlihat bicara serius.
"Kalo gitu, segera kerahkan pasukan untuk ke Bandara ! Tangkap Samsudin, jangan sampai dia lolos dan melarikan diri keluar negeri!" ujar Andre, memberi perintah.
"Siap, laksanakan !" ujar Masto, memberi hormat.
Masto lantas bergegas pergi keluar dari dalam rumah perlindungan meninggalkan Andre dan Chandra.
Chandra melirik Andre yang tampak sedang berfikir itu.
Chandra lantas pergi meninggalkan Andre begitu saja, dia masuk ke dalam kamarnya, Andre yang berdiri dan berfikir lantas mengambil ponselnya, lalu, dia pun menelpon.
"Hallo, Sam. Aku baru dapat kabar, kalo sore ini, Samsudin berencana melarikan diri keluar negeri, dia mau ke negara Swiss!" ujar Andre, bicara di telepon.
"Kamu sudah blokir pesawatnya?" tanya Samuel, dari seberang telepon.
"Sudah, pihak Intelijen sudah menghubungi pihak bandara, dan memblokir jadwal penerbangan pesawat ke Swiss, Aku sekarang juga mau ke Bandara, untuk menangkap Samsudin!" tegas Andre, bicara serius di teleponnya.
"Baik, kita ketemu di Bandara, aku juga akan kesana dengan tim ku!" ujar Samuel, dari seberang telepon.
"Ok. Kita harus cepat bergerak, jangan sampe Samsudin lolos, Kita ketemu di Bandara!" tegas Andre diteleponnya.
Lalu, Andre mematikan ponselnya, dia menyimpan kembali ponsel ke kantong celana, Andre celingak celinguk, menoleh ke kanan dan ke kiri, dia mencari Chandra, namun, Chandra tak ada diruangan itu.
Sementara itu, didalam kamarnya, Chandra tampak duduk diam di kursi meja, Andre masuk ke dalam kamar dan menghampirinya.
"Kamu mau ikut denganku menangkap Samsudin, atau tetap tinggal di sini?" tanya Andre.
"Aku di sini saja." jawab Chandra.
"Baiklah. Kalo begitu, aku pergi dulu. Kamu jangan kemana mana, tetap diam di dalam rumah ini." ujar Andre, menegaskan pada Chandra.
"Ya." Angguk Chandra.
Lantas, Andre pun bergegas keluar dari dalam kamar Chandra, Chandra lantas menarik nafasnya dalam dalam.
"Kalo saja aku ada hape, akan ku hubungi Gavlin, dan kasih tau dia, agar Gavlin datang ke Bandara dan membunuh Samsudin di sana, aku gak percaya dengan Andre dan juga Samuel, aku gak yakin Samsudin ditangkap, dia pasti akan bebas kembali nantinya." Gumam Chandra, bicara sendiri.
"Satu satunya cara menghancurkan Samsudin dengan cara Gavlin, ya, dengan membunuh Samsudin dan juga Binsar, jika hanya di sidang lalu di penjara, mereka pasti gak lama sudah bebas lagi!" lanjut Chandra berfikir keras.
"Ah, mudah mudahan saja Gavlin lebih dulu membantai Samsudin dan juga Binsar." ujarnya penuh harapan pada diri Gavlin.
__ADS_1