
Herman, Jack dan Peter masuk ke dalam ruang kantor Herman, wajah Herman yang tadi panik dan takut saat mengetahui Gavlin datang ingin membunuh mereka di restoran sekarang menjadi marah.
"Kepaaaarraaatt !! Anak setan itu benar benar gila !! Dia berani nyerang kita di restoran !!" ujar Herman geram, berdiri di depan meja kerjanya.
"Ya. Gavlin itu berbahaya, dia nekat!" ujar Peter.
"Kalo kita diam saja gak membalas si Gavlin, lama lama kita jadi bulan bulanan dia, dan akhirnya mati konyol ditangannya !! Kita harus cari cara untuk menghabisi dia!!" bentak Jack, geram dan marah.
"Gavlin itu sulit kita ringkus, dia licin, dan dia sepertinya tau semua apa yang kita lakukan!" ujar Herman.
"Dia tiba tiba ada di restoran tempat kita berkumpul, padahal, selama kita bertemu di restoran itu, gak ada yang tau atau pun mengikuti kita!" ujar Herman.
"Tapi si Gavlin tiba tiba datang, dia pasti sudah mengintai kita dan mengikuti salah satu dari kita sampai ke restoran!!" tegas Herman, memberi penjelasan.
"Siapa diantara kita yang di ikutinya sampai ke restoran?" ujar Jack berfikir.
""Entahlah, tapi yang jelas, Gavlin sudah mengintai kita diam diam selama ini, kita harus lebih waspada lagi!!" tegas Peter.
Herman dan Jack mengangguk, mengiyakan perkataan Peter yang mengingatkan mereka untuk lebih hati hati terhadap Gavlin, yang bisa saja secara tiba tiba muncul kembali dan menyerang mereka seperti yang di lakukannya di restoran mewah tempat berkumpulnya Herman, Jack dan Peter.
"Bagaimana dengan rencanamu menjebak Andre ?" tanya Herman pada Peter.
"Oh, iya. Akan ku hubungi dia sekarang." ujar Peter.
Lantas, Peter mengambil ponsel dari dalam kantong celananya , dia mencari cari nama Andre pada kontak telepon yang ada di ponselnya.
Herman dan Jack saling lirik, mereka lantas duduk di sofa yang ada di ruang kantor Herman, mereka perhatikan Peter yang sedang mencoba menghubungi Andre.
---
Di dalam mobilnya, sambil menyetir mobil, Gavlin tampak sedang menelpon dengan menggunakan Headset wireless bluetooth di telinganya.
Wajah Gavlin tampak kesal , karena dari tadi teleponnya tak juga ada yang mengangkat dan menerimanya.
"Siaal !! Telpon kantor Andre gak di angkat angkat juga !!" ujarnya kesal, sambil memukul stir mobilnya.
"Bagaimana aku bisa mengingatkan Andre kalo Peter mau menjebak dia? Sementara dia gak bisa dihubungi? Nomor hape nya aku gak punya!" ujarnya lagi dengan sangat kesal.
Lantas, dengan wajah kesalnya, Gavlin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobilnya pun meluncur dengan cepat di jalan raya, melewati kendaraan kendaraan lain yang berlalu lalang di jalan raya.
---
Andre tampak sedang menerima telepon, wajahnya terlihat serius bicara di teleponnya, Andre mendapatkan telepon dari Peter.
Dan Andre percaya dengan apa yang di katakan Peter, Peter berhasil meyakinkan Andre untuk mau datang menemuinya malam nanti untuk membahas urusan kasus kejahatan Herman dan Jack.
"Baik, aku akan datang malam nanti jam 8 sendirian ke tempat itu!" ujar Andre diteleponnya.
"Ingat Peter !! Kalo kamu berbohong padaku, tau sendiri akibatnya!! Aku gak perduli kamu Kapolda, akan ku ringkus kamu!" tegas Andre, memberi peringatan pada Peter diteleponnya.
"Tenang saja , aku serius, semua yang kamu butuhkan tentang kejahatan Herman dan Jack ditanganku, akan ku serahkan padamu, karena aku muak sama Herman, aku mau, kamu menjebloskan Herman dan Jack kepenjara!!" ujar Peter dari seberang telepon.
__ADS_1
"Ok. Kita ketemu malam nanti!" tegas Andre, di telepon.
Lantas, Andre menutup teleponnya, dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, Andre lalu keluar dari dalam gedung kantor kejaksaan.
Ternyata sebelumnya Andre bertemu dengan Samuel, sahabat baiknya yang menjadi Jaksa Penuntut, yang di serahkan Andre untuk mengusut kasus kejahatan Herman dan membawanya ke meja hijau.Mereka bertemu untuk membahas persidangan yang akan segera di laksanakan dalam waktu dekat ini.
Saat dia hendak pulang, Peter menghubunginya, mengajaknya bertemu dengan alasan dan dalih, bahwa Peter memiliki dokumen rahasia tentang permainan kotor pencucian uang Herman dan Jack serta kejahatan lainnya.
Andre akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan Peter, dan dia setuju untuk bertemu dengan Peter.
Andre keluar dari dalam gedung kejaksaan, dia mendekati mobilnya yang ada di halaman parkir kantor kejaksaan agung.
Andre membuka pintu mobil, lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian, mobil pun berjalan pergi meninggalkan gedung kantor kejaksaan agung.
Di dalam ruang kantor Herman, Peter tertawa senang karena berhasil memperdaya Andre, Herman dan Jack menatap wajah Peter yang tertawa senang.
"Bagaimana?" tanya Herman, dengan wajah yang penasaran dan ingin tahu.
Begitu juga dengan Jack, dia tampak juga ingin tahu hasil dari pembicaraan Peter dengan Andre di telepon.
"Berhasil! Andre setuju, dan malam nanti, dia akan menemuiku di gedung kantor milik Bramantio itu!" ujar Peter dengan senangnya.
"Yeessss, akhirnya!!" ujar Jack senang.
"Hidupmu tinggal sampai malam ini Andre !!" ujar Herman geram.
"Sebaiknya kita bersiap siap, waktu tinggal 3 jam lagi dari sekarang, aku akan mengerahkan pasukanku untuk bersembunyi dan mengintai di gedung kantor Bram, menunggu sampai Andre datang, lalu menembaknya langsung ditempat!" ujar Peter, tersenyum licik.
"Ya, aku akan siap siap!!" ujar Jack.
Ketiganya terlihat sangat senang dan bersemangat, karena Andre berhasil di perdaya Peter dan masuk ke dalam perangkap jebakan yang sengaja di buat Peter. Mereka bertiga senang, karena berfikir, akan membungkam Andre selamanya malam nanti.
---
Mobil Gavlin ada di halaman parkir gedung kantor kepolisian, dia masih dalam penyamarannya sebagai pemuda gemuk berambut ikal. Matanya terus melihat ke arah pintu keluar gedung kantor kepolisian.
Di halaman parkir , Gavlin tidak melihat mobil Andre, dia sudah mencarinya tadi, namun, mobilnya tak ada, dan Andre juga tidak juga keluar dari dalam kantornya.
Dengan wajah kesal, karena ingin menyelamatkan Andre dari jebakan Peter, Gavlin pun nekat masuk ke dalam gedung kepolisian mencari Andre.
Gavlin keluar dari dalam mobilnya, dia lalu berjalan menuju ke gedung kantor kepolisian.
"Demi Teguh, aku harus menyelamatkan Andre!!" ujar Gavlin, sambil terus berjalan menuju gedung kantor kepolisian.
Gavlin yang menyamar lalu masuk ke dalam gedung kantor kepolisian, dia terus berjalan menyusuri lorong lorong ruangan ruangan kantor yang ada di dalam gedung kantor kepolisian.
Lalu, dia melihat ada plang papan nama di atas pintu masuk sebuah ruangan. Gavlin membaca tulisannya 'Divisi Kriminal dan Pembunuhan', Gavlin diam sesaat.
"Ini ruangannya, apa Andre ada di dalam?" Gumam bathin Gavlin berfikir.
Edo yang sedang berjalan menuju ruangan kerja divisi pembunuhan melihat Gavlin berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Edo lantas mendekati Gavlin.
__ADS_1
"Maaf, Ada yang bisa saya bantu?" tanya Edo, dengan sikap ramah dan sopannya
Edo tak mengenali Gavlin, sebab, Gavlin menyamar menjadi seorang pemuda gemuk, berkacamata dan berambut ikal.
"Oh, maaf, saya saudaranya pak Andre, mau bertemu pak Andre." ujar Gavlin berbohong.
"Pak Andre gak ada di ruangannya, dia keluar, ada tugas yang dikerjakannya di lapangan!" jelas Edo ramah.
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih, Pak." ujar Gavlin hormat.
"Ya, sama sama." jawab Edo, tersenyum ramah.
Gavlin pun lantas berbalik badan, lalu berjalan menjauh dari ruang kerja Andre, wajahnya tampak kesal, karena Andre juga tak ada di dalam ruang kerjanya.
Edo lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Gavlin berjalan kesal mendekati mobilnya, dia lantas membuka pintu lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Siaaal !! Kemana kamu pergi Andre!!" ujar Gavlin kesal.
"Apa jangan jangan, Peter sudah menghubungi Andre, dan Andre percaya, lalu dia mau datang malam nanti!" ujar Gavlin berfikir.
Dia melihat, hari sudah mulai gelap, lalu, Gavlin melihat jam yang ada di dalam mobilnya.
"Hari sudah masuk malam, dan sekarang sudah jam 6 lebih." ujarnya.
"Ah, sebaiknya aku langsung ke kantor si Bramantio, akan ku tunggu Andre dan Peter di sana, aku harus menolong Andre, demi Teguh!!" tegas Gavlin.
Lantas, dia menyalakan mesin mobilnya, sesaat kemudian, mobil Gavlin pun sudah pergi, keluar dari halaman gedung kantor kepolisian.
---
Malam harinya, terlihat suasana sepi dan hening, dan di dalam gedung di lantai paling atas kantor milik Bramantio yang sudah tak terpakai dan di segel, 12 polisi bersembunyi di tiap tiap sudut ruangan.
Mereka Polisi Polisi yang di tugaskan langsung oleh Peter untuk berjaga jaga dan menyergap Andre nantinya. Karena polisi polisi itu anak buah Peter, mereka pun menurut dan patuh pada perintah Peter.
Gavlin yang saat ini sudah melepaskan penyamarannya dan kembali menjadi sosok Gavlin lagi tampak menyelinap masuk, dia berjalan dikegelapan malam dalam ruangan itu. Gavlin melangkah pelan mendekati salah seorang Polisi yang bersembunyi.
Gavlin diam diam mendekati Polisi tersebut, lalu, dengan gerak cepat, dari belakang, dia menyergap polisi tersebut, Gavlin menutup mulut petugas polisi lalu cepat menggorok lehernya dengan pisau belati yang ada ditangannya.
Kemudian, Gavlin bergegas jalan dan pindah ketempat lain, dimana ada petugas polisi lainnya bersembunyi.
Dengan diam diam dan gerak cepat, bagaikan hantu, Gavlin membunuh satu persatu petugas polisi yang ditugaskan Peter berjaga jaga dan mengintai.
Dengan mudahnya, 12 petugas polisi itu terkapar mati, dengan semuanya sama, kondisi leher terluka parah, karena di gorok pisau belati Gavlin.
Lalu, setelah dia membantai semua petugas polisi, Gavlin pun bersembunyi di suatu sudut ruangan, dia diam menunggu kedatangan Peter, Herman, Jack dan juga Andre.
Tak berapa lama, datang Herman dan Jack, mereka datang bersama 6 orang pengawal yang di bawa Herman untuk menjaga dirinya.
Dari tempat persembunyiannya, Gavlin melihat kedatangan Herman dan Jack bersama 6 pengawal yang memegang pistol di tangannya masing masing.
__ADS_1
Gavlin tersenyum sinis, dia menatap wajah Herman dengan tatapan mata yang dingin, lalu, dia melihat, Herman dan Jack beserta 6 pengawalnya bergerak, lalu bersembunyi di suatu tempat dalam ruang kantor yang terbuka itu. Gavlin terus memperhatikan mereka semua dengan tatapan mata yang tajam dan dingin serta menahan geram dan amarahnya.