
Maya menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memperdalam berkas kasus yang tengah dia selidiki.
"Apa Ayah udah menemukan Yanto?" Tanya Maya.
Wajahnya tampak sedih, dia khawatir dengan Yanto, sebab, dia melihat langsung, Apartemen tempat tinggal Yanto habis terbakar. Dia cemas dengan Yanto.
"Semua gedung apartemen itu udah di selidiki tim kepolisian, dan gak ada lagi mayat yang ditemukan." Ujar Gatot.
"Semua korban sudah berhasil di evakuasi, diantara korban, gak ada Yanto!" Tegas Gatot.
"Kalo Yanto gak ditemukan di puing puing gedung itu, lantas dimana dia?" Tanya Maya heran.
"Entahlah, May. Kalo Yanto mati di sana, pasti kami menemukan mayatnya." Ujar Gatot.
"Mungkin aja mayatnya terhimpit dengan batu batu reruntuhan gedung, Yah." Ujar Maya.
"Udah di cari May. Dan tetap gak ada." Ujar Gatot.
Gatot melihat, Maya begitu resah dan gelisah, wajahnya tampak sangat cemas dengan Yanto, Gatot jadi heran melihatnya.
"Kamu kenapa keliatan cemas sama Yanto?" Tanya Gatot ingin tahu.
"Gimana aku gak cemas, Yah. Yanto itu temanku, selama ini, kami berteman baik. Aku gak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Yanto!" Tegas Maya dengan wajah sedih.
"Ayah pikir, Yanto gak ada di aparteman, saat gedung itu meledak." Ujar Gatot.
Dia mengatakan hal itu, agar anaknya menjadi tenang, dan tidak gelisah lagi, Maya terdiam, dia tampak masih terus memikirkan Yanto.
"Ayah udah tau, kenapa gedung apartemen itu sengaja di ledakkan?" Tanya Maya penasaran.
"Ayah dan tim sedang mengusutnya. Ayah udah menemukan dalang pengebomannya." Ujar Gatot.
"Siapa, Yah?!" Tanya Maya dengan wajah penasaran.
Gatot memberikan selembar photo pada Maya, Maya mengambil photo dari tangan Ayahnya, dia lalu melihat wajah yang ada di dalam photo tersebut.
"Siapa orang ini, Yah?!" Tanya Maya heran.
"Ronald ! Recedivis kambuhan yang baru saja keluar dari penjara." Tegas Gatot.
"Dia itu sangat berbahaya, pembunuh berantai, dia membunuh korban korbannya, lalu memutilasi dan memakan korbannya !" Lanjut Gatot menjelaskan.
"Menyeramkan !!" Ujar Maya jijik.
Dia melempar photo Ronald ke atas meja, Maya sangat ngeri mengetahui, bahwa Ronald pembunuh sadis.
"Ayah tau, apa motif Ronald itu?" Tanya Maya ingin tahu.
"Belum, Ayah masih mendalami kasusnya, sebelum Ayah menangkap dan membawa Ronald ke kantor, Ayah akan mencari bukti lainnya atas keterlibatan Ronald!" Tegas Gatot.
"Kenapa si Ronald itu meledakkan gedung apartemen? Apa, diantara penghuni apartemen, ada musuhnya?!" Ujar Maya mencari tahu.
"Entahlah, Ayah masih mencari tau." Ujar Gatot.
Gatot melirik wajah Maya, dia melihat, Maya begitu penasaran dengan kasus peledakan gedung apartemen. Maya tampak diam dan berfikir keras.
"Ada yang kamu pikirin, May?" Tanya Gatot.
"Ah, nggak, Yah." Ujar Maya.
Sebenarnya dia memikirkan Yanto, dan mengaitkan antara Yanto dan Ronald, tapi dia ragu, kalau Ronald mengincar Yanto, menurutnya tak mungkin.
Sebab, sosok Yanto yang seorang seniman pembuat patung lilin, tak mungkin punya musuh, dan Ronald bukan musuh Yanto. Maya menghela nafasnya dengan berat.
"Ya, udah, Maya mau tidur dulu, Yah. Udah larut malam." Ujar Maya.
"Iya." Angguk Gatot tersenyum.
Maya lantas pergi meninggalkan Gatot, Gatot kembali memeriksa berkas laporan kasusnya, Maya masuk ke dalam kamarnya.
---
Di dalam kamar ruang ICU rumah sakit, tampak Gavlin tertidur di atas ranjang, wajahnya terlihat pucat, dan perutnya di perban.
Gavlin berhasil di operasi, dan luka perutnya pun sudah di jahit, serta di obati. Si Informan berdiri di samping ranjang, menatap lekat wajah Gavlin yang tertidur.
Si Informan sebenarnya tak ingin, Yanto, atau Gavlin membalas dendam.
Namun, dia tak bisa mencegah Yanto, karena dia tahu, perasaan balas dendam Yanto terjadi akibat rasa sakit hati yang dilakukan seseorang pada keluarganya.
Walau Dia tahu, jika balas dendam bukan solusi terbaik. Sebab hal tersebut justru bisa merugikan diri sendiri yang mana perlu berpikir ulang melakukan balas dendam.
Namun dia pun tampak berfikir ulang membantu Yanto untuk mewujudkan balas dendamnya.
Antara dia dan Yanto sudah berhubungan baik, sebab, selama ini, antara Yanto dan Informan adalah saudara tiri. Tak ada yang tahu hubungan mereka.
Mereka berdua sama sama di adopsi oleh keluarga yang sama, Sang Informan lebih dulu pergi dari rumah. Umur dia dan Yanto berbeda 5 tahun, dia abang Yanto.
Sang Informan menatap lekat wajah Gavlin yang tertidur, wajahnya sedih dan prihatin, dia menghela nafasnya.
Meski rasa sakit hati dan amarah tidak dapat hilang begitu saja pada diri Yanto, setidaknya dia ingin, Yanto mengontrol emosi, tak gegabah.
__ADS_1
Sebab, menurutnya, jangan sampai, karena bernafsu membalas dendam, justru akan merugikan diri sendiri, bahkan membahayakan diri sendiri.
"Yan, sebenarnya, Pembalasan adalah monster nafsu makan, haus darah selamanya dan tidak pernah kenyang." ujar Informan prihatin.
"Bagiku, balas dendam itu seperti politik, satu hal selalu mengarah ke hal lain, sampai keburukan menjadi lebih buruk, dan lebih buruk menjadi lebih buruk." ujarnya lagi.
Dia bicara sendiri, sambil terus memandangi Gavlin, Gavlin tetap tidur dengan pulasnya.
"Aku tau, saat kamu menemuiku, dan mengatakan, kamu ingin balas dendam, aku sadar, bahwa kamu tengah memulai api yang gak bisa kamu kendalikan." Ujarnya lirih dan getir.
"Sebenarnya, Yan. Balas dendam gak layak untukmu. Jika kamu berkonsentrasi pada balas dendam, kamu akan menjaga luka-luka itu tetap segar, yang seharusnya bisa disembuhkan." ungkapnya.
"Namun, sebagai abang tirimu, aku gak bisa mengabaikan perasaanmu, untuk itu aku terlibat dengan aksi balas dendammu selama ini." Tegasnya.
"Saat aku belajar di akademi, Seniorku mengatakan, bahwa, kejahatan selalu menciptakan kesengsaraan yang lebih korosif melalui kebutuhan manusia yang gelisah untuk membalas dendam atas kebenciannya." lanjutnya.
"Dan, Seniorku dulu benar, Yan. Setidaknya, itu yang aku liat pada dirimu." Ujarnya bersedih.
Tiba tiba, mata Gavlin terbuka, dia terbangun dari tidurnya, Gavlin menatap lekat wajah Informan yang berdiri menemaninya.
"Bro." Ujar Gavlin.
Gavlin selalu memanggil Informan, abang tirinya dengan sebutan 'Bro', agar orang lain tidak tahu hubungan mereka berdua.
"Kamu udah bangun, Yan." Ujar Informan tersenyum senang.
"Bagaimana lukamu?" Tanya Informan lagi.
"Sudah mendingan, walau masih terasa nyeri dikit. Sampai kapan aku disini?" Tanya Gavlin.
"Kalo dalam beberapa hari ke depan, lukamu semakin sembuh, dan kamu gak mengalami apapun juga, kamu boleh pulang nanti." Ujar Informan tersenyum senang.
"Kenapa gak sekarang aja kita pulang, bang Bro?" ujar Gavlin.
Gavlin hendak bangun dari rebahannya, sang Informan menahan tubuhnya agar tidak bangun.
"Jangan, Yan. Kamu biar istirahat saja di sini, sampai kamu benar benar pulih." Ujar Informan serius.
"Aku gak betah lama lama dirumah sakit, bang Bro!" Tegas Gavlin dengan wajah masih pucat dan lemah.
"Aku tau, tapi, mau gak mau, kamu harus nurut, jika tidak, lukamu gak sembuh, dan kamu gak bisa membalas dendam!" tegas Informan.
Gavlin pun terdiam mendengar perkataan sang Informan, dia tampak berfikir, Informan tersenyum melihatnya.
"Apa yang bisa aku bantu dan bawakan, biar kamu betah dan nyaman selama di sini?" Tanya Informan.
Gavlin terdiam, untuk sesaat dia berfikir, Informan tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang tengah berfikir sesuatu. Gavlin menarik nafasnya dalam dalam.
Gavlin lantas menatap lekat wajah Informan, wajah Gavlin tampak serius di lihat sang Informan, Informan pun tersenyum menatapnya.
"Bang, Bro ! Tolong bawakan seseorang ke sini." Ujar Gavlin sambil meringis perih karena terasa nyeri di lukanya.
"Apa maksudmu? Buat apa?!" Tanya Informan kaget.
"Jangan salah paham bang, Bro! Maksudku, tolong bawakan Maya, suruh dia kesini." Ujar Gavlin dengan lemah, menjelaskan.
"Maya? Anaknya pak Gatot?!" Ujar sang Informan kaget.
"Iya, dia pacarku, tolong kabari Maya, bilang, kalo aku lagi dirawat dirumah sakit, dia pasti datang menemuiku, dan menemaniku disini." Ujar Gavlin tersenyum.
Senyum Gavlin getir, karena dia masih merasa nyeri di bagian perutnya yang terluka, sang Informan diam, sesaat dia berfikir.
"Bagaimana bang, Bro? Kamu mau bawa Maya ke sini?" Ujar Gavlin bertanya.
Gavlin berharap, abang tirinya bersedia memenuhi keinginannya, dia ingin, Maya menemani dirinya. Sang Informan menghela nafasnya dengan berat.
"Kalo aku menemui Maya langsung, dia pasti heran, kenapa aku yang menyampaikan pesan darimu, Maya kenal denganku, Yan !" Tegas sang Informan.
"Kamu gak usah temui dia, cukup telepon aja. Pake nomor sekali pake, lalu buang kartunya, kalo kamu gak mau, nomormu di lacak Ayah Maya." Ujar Gavlin menjelaskan.
Sang Informan terdiam, dia tengah berfikir, sebenarnya, ada keraguan dihatinya mengabarkan pada Maya. Dia takut, identitasnya terbongkar oleh Maya.
Gavlin menatap tajam wajahnya penuh harap. Sang Informan tak tega melihat Gavlin yang sangat mengharapkan kehadiran Maya.
"Baiklah, aku akan mengabarkan Maya." Ujar Sang Informan.
"Terima kasih bang, Bro." Ujar Gavlin tersenyum senang dengan kondisi masih lemah.
---
Di ruang kerjanya, terlihat Maya tengah memikirkan Yanto, sampai detik ini dia mencemaskan Yanto, sebab, Yanto belum ada kabar beritanya. Yanto menghilang.
Tiba tiba, teleponnya berdering, dengan cepat Maya menerima panggilan telepon, dia mendengarkan serius suara seseorang yang menelponnya.
"Ya benar, saya Maya, siapa ini?" Tanya Maya di telepon.
"Gavlin terluka, dia sekarang di rawat dirumah sakit." Ujar seseorang dari seberang telepon.
"Gavlin terluka?!!" Ujar Maya terhenyak kaget di teleponnya.
"Ya, aku akan kirim alamat rumah sakit dan kamar tempat Gavlin dirawat." Ujar Seseorang dari seberang telepon.
__ADS_1
Lalu, sambungan telepon terputus, wajah Maya terlihat panik, dia bergegas merapikan laptopnya, dia memasukkan laptop ke dalam tasnya.
Ponsel Maya berbunyi, dengan cepat Maya membuka layar ponsel, dia membaca pesan yang masuk.
Seseorang mengirimkan alamat rumah sakit dan kamar Gavlin.
Maya menyimpan ponsel ke dalam tas, Maya pun pergi keluar dari ruang kerjanya. Teman teman kerjanya heran melihatnya yang terburu buru, wajah Maya panik.
Maya berlari lari cepat keluar dari dalam kantornya, dia berlari dan berdiri di pinggir jalan, depan kantornya. Maya lantas menghentikan taksi.
Saat taksi berhenti di depannya, dengan cepat Maya masuk ke dalam taksi tersebut. Sang Taksi memberi salam pada Maya.
Maya mengambil ponselnya, menunjukkan pesan di ponsel pada supir taksi, supir taksi membaca pesan di ponsel Maya.
"Cepat, antarkan saya ke rumah sakit ini, Pak." ujar Maya dengan wajah cemas.
"Baik, bu." Jawab Supir taksi mengangguk hormat.
Dia lantas menjalankan mobil taksinya, membawa Maya kerumah sakit yang dia sudah baca nama rumah sakitnya.
Wajah Maya tampak tegang, dia duduk dengan gelisah, tampak Maya tak sabar, dan ingin cepat sampai. Wajahnya sangat cemas.
"Bisa lebih cepat lagi, Pak?" Tanya Maya dengan wajah tegang.
"Ini udah cepat bu, kalo lebih cepat, saya khawatir, kita kecelakaan." Ujar Supir taksi mengingatkan.
Maya pun terdiam, dia resah, menggigit kuku jari tangannya, wajahnya sangat cemas, dia mengkhawatirkan kondisi Gavlin.
---
Di kamar ruang ICU, Gavlin tersenyum senang menatap wajah sang Informan, Sang Informan mematahkan sim card telepon yang dia pakai menghubungi Maya tadi.
"Terima kasih bang, Bro." Ujar Gavlin tersenyum senang.
"Iya." Angguk Informan tersenyum.
"Yan. Aku gak bisa di sini terus menemanimu." Ujar sang Informan, abang tiri Gavlin, atau Yanto.
"Kenapa? Apa kamu mau tugas?" Ujar Gavlin.
"Iya, kalo aku lama menghilang dari kantor, atasanku pasti mencariku." Ujar sang Informan.
"Selain itu, aku harus pergi, sebelum Maya datang ke sini, aku gak mau, kami bertemu." Lanjutnya.
"Kalo Maya sampai melihatku disini menemanimu, rencana kita semuanya akan gagal total, dan jati diriku akan di ungkap Maya sama Ayahnya." Tegas sang Informan.
Gavlin terdiam, dia berfikir, ada benarnya yang dikatakan abang tirinya tersebut. Gavlin pun tersenyum memandang wajah sang Informan.
"Baik bang, Bro. Kamu boleh pergi, tapi, aku minta, kamu nanti datang lagi ke sini." Ujar Gavlin.
"Pasti, aku pasti datang ke sini, kalo Maya gak ada di sini." Ujar Sang Informan.
Gavlin mengangguk, dia tersenyum senang menatap wajah sang Informan yang juga tersenyum. Gavlin senang, abang tirinya mau membantu dia membalas dendam.
Sebab, hanya sang Informanlah satu satunya saudara yang dia miliki, walau mereka tak ada hubungan darah, namun, persaudaraan mereka kuat.
Mereka selalu bersama, berdampingan, dan saling membantu, sejak kecil, mereka selalu bersama sama.
---
Taksi berhenti di depan rumah sakit, Maya membayar ongkos taksi, dengan cepat, dia pun keluar dari dalam taksi.
Mobil taksi lantas pergi, dan Maya langsung berlari cepat, berlari menyusuri halaman rumah sakit, lalu masuk ke dalam lobby rumah sakit
Di dalam lobby rumah sakit, Maya dengan wajah tegang bertanya pada seorang petugas medis, letak ruang kamar ICU Gavlin.
Lalu, setelah dia mendapat penjelasan, Maya pun segera berlari, dia lari cepat menyusuri lorong dan koridor rumah sakit. Wajahnya tampak masih tegang.
---
Di dalam kamar ruang ICU, sang Informan memegang tangan Gavlin. Gavlin tersenyum senang padanya.
"Aku pergi sekarang, ya." Ujar sang Informan tersenyum.
"Iya, Bang Bro." Angguk Gavlin dengan lemah dan tersenyum.
Sang Informan lantas melepaskan genggaman tangannya, dia pun kemudian berjalan keluar dari kamar ruang ICU, Gavlin tersenyum senang memandangi kepergiannya.
Sang Informan keluar dari ruang kamar ICU, tepat setelah dia keluar dan berjalan di koridor ruang ICU, datang Maya dari arah belokan lorong rumah sakit.
Sang Informan melihat Maya, Maya dengan wajah tegang berlari cepat ke arah kamar ruang ICU Gavlin, dia berpapasan dengan sang Informan.
Sang Informan berjalan santai, dia menundukkan dan memalingkan wajahnya saat berpapasan dengan Maya yang berlari.
Maya yang terus lari dengan wajah tegang, tidak melihat sang Informan, dengan cepat, Maya lantas masuk ke dalam kamar ruang ICU.
Sang Informan menghentikan langkahnya, dia melihat Maya yang masuk ke ruang ICU, dia pun tersenyum lega.
"Hampir saja ketahuan. Kalo telat sedikit aja aku keluar dari kamar Yanto, kami pasti bertemu." Ujarnya tersenyum.
"Yan, kamu beruntung, Maya sangat peduli dan mencintaimu, dia keliatan cemas dengan kondisimu." Ujarnya tersenyum.
__ADS_1
Lantas, sang Informan membuka pakaian khusus saat menemui Gavlin di ruang ICU, dia meletakkan pakaian khusus di atas tempat sampah.
Lalu, dia pun segera pergi, dia meninggalkan Maya, yang tengah bertemu dengan Gavlin di dalam kamar ruang ICU. Sang Informan berjalan keluar dari dalam rumah sakit.