VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Ide Jahat Peter Membuat Gavlin Ngamuk


__ADS_3

Gavlin masih mendengar dan merekam percakapan Herman dan Jack serta Peter di dalam ruangan yang ada disebelah ruangan tempatnya bersembunyi dan mencuri dengar percakapan.


"Bagaimana kalo kita bunuh saja Andre ?" ujar Peter, memberi ide.


Mendengar perkataan Peter, Gavlin tersentak kaget, dia tampak geram mengetahui ide busuk Peter yang ingin membunuh Andre. Gavlin lalu, mendengarkan lagi pembahasan mereka.


"Dengan cara apa kita membunuhnya?" tanya Jack.


"Aku punya ide." ujar Peter.


"Apa idemu?" tanya Herman.


"Bagaimana kalo kita menjebak Andre, setelah dia masuk perangkap, kita habisi dia!" ujar Peter , dengan wajahnya yang serius.


"Bagaimana caranya?" tanya Jack.


"Kamu kira Andre itu polisi bodoh? Dia itu mantan kepala unit divisi anti teror, dia sering menghadapi musuh musuh besar negara yang mencoba berbuat anarkis selama ini! Karena itu dia di pindahkan ke divisi kejahatan menggantikan Gatot, karena reputasinya!!" jelas Herman.


"Ya, aku tau. Tapi aku yakin, dengan ide ku ini, Andre pasti terpedaya dan masuk perangkapku!" ujar Peter serius.


"Kamu yakin, bisa menjebak Andre?" tanya Herman, menatap tajam wajah Peter.


Herman ragu dengan perkataan Peter, dan dia tak yakin, Andre akan mudah percaya dengan Peter lalu masuk perangkapnya.


"Aku akan berpura pura mengkhianati kalian berdua." ujar Peter.


"Apa ?!!" Herman dan Jack tersentak kaget mendengar perkataan Peter.


"Hei, santai dulu, biar aku selesai menjelaskan ide ku." ujar Peter, dengan wajah serius.


"Ini semua aku lakukan hanya pura pura saja, agar Andre terpedaya dan percaya sama aku!" jelas Peter.


"Aku yakin sebagai sesama polisi, dia pati akan mudah percaya aku, apalagi, aku ini kapolda !" tegas Peter, dengan bangganya pada jabatannya.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk membuat Andre percaya sama kamu?" tanya Herman, serius menatap wajah Peter, dia ingin tahu.


"Aku akan bilang Andre, kalo aku, bermusuhan dengan kalian, dan aku punya bukti bukti kejahatan kalian." ujar Peter.


"Lalu aku akan bilang Andre, bahwa aku mau menyerahkan bukti bukti kejahatan kalian yang aku simpan." lanjut Peter menjelaskan.


"Lalu, aku akan meminta Andre bertemu di suatu tempat. Nah, di tempat pertemuan kami nanti, kalian tunggu, aku juga akan kerahkan anak buahku, begitu Andre datang, kita tembak dia ramai ramai, mudah kan?!" ujar Peter, tersenyum bangga dengan penuh keyakinan idenya akan berhasil.


"Benar juga sih. Andre kan memang mau menangkap kita, dia pasti butuh bukti lainnya. Kalo Peter bisa meyakinkan Andre, bukan gak mungkin, Andre percaya lalu menuruti Peter untuk bertemu." ujar Jack serius.


"Di mana kamu mau tentukan tempat pertemuan kalian nanti?" tanya Herman pada Peter.


"Di kantor Bramantio yang sudah di tutup dan di segel." tegas Peter.


"Sebagai Polisi, gak akan ada yang curiga atau menghalangiku masuk ke dalam kantor Bramantio yang sudah tak terpakai dan di segel itu! Apalagi pemiliknya, si Bram sudah mati!" tegas Peter dengan wajahnya yang serius.


"Baiklah. Aku setuju dengan idemu. Lantas, kapan akan kamu jalani idemu itu?" tanya Herman.


"Secepatnya, sepulang dari sini, aku akan menemui Andre di kantornya, kalo gak ketemu, akan ku telepon dia." ujar Peter.


"Dan kalo kami udah ketemu atau bicara lewat telepon, malam ini juga akan kita lakukan, aku akan bilang Andre untuk ketemu jam 8 malam ini di kantor Bramantio itu!" tegas Peter.


"Baik, aku dan Jack akan bersiap siap menunggu dan bersembunyi di gedung kantor Bramantio." ujar Herman.


"Di lantai terakhir ya. Paling atas, biar enak nanti melempar Andre dari lantai paling atas gedung kantor Bram itu!" tegas Peter.


"Okay!" jawab Herman setuju.


Jack juga mengangguk, setuju.

__ADS_1


Peter tersenyum penuh kebanggaan, dia sangat yakin, ide nya akan berhasil nantinya.


Di dalam ruangan sebelah, Gavlin yang mendengarkan pembicaraan mereka tampak sangat geram, karena mengetahui rencana jahat mereka menjebak dan ingin membunuh Andre, seorang Kapten, atau ajun komisaris polisi pengganti Gatot.


"Kurang ajar, mereka mau menghabisi Andre, agar kasus mereka menghilang dan gak jadi di buka dalam pengadilan!" ujar Gavlin geram.


Gavlin lantas terdiam, dia terlihat tercenung, tiba tiba terlintas dalam ingatan, saat saat detik terakhir Teguh menghembuskan nafasnya yang terakhir karena tertembak waktu itu.


Kilas Balik pada beberapa saat waktu lalu , sebelum Teguh tewas dalam pelukan Gavlin.


Flash Back.


Teguh rebah di pangkuan Gavlin dengan luka tembak, tubuhnya berlumuran darah, Gavlin tampak menangis sedih, melihat Teguh tertembak.


"Vlin, temui pak Andre, beliau sudah ku anggap orang tuaku sendiri, aku menyerahkan berkas kasus Herman padanya" ujar Teguh berbisik sambil susah payah bicara karena luka tembaknya.


"Aku pesan, jangan bermusuhan dengan pak Andre, sebab, beliau akan membantumu menangkap Herman dan komplotannya, aku yang minta beliau." lanjut Teguh menjelaskan dengan berbisik.


Lalu, Teguh pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia mati dalam pelukan Gavlin, yang menangis melihat kematian Teguh.


Kembali ke masa sekarang.


Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, dia teringat dengan perkataan Andre saat mereka bicara ditelepon .


"Aku baru ingat, Teguh juga mengatakan hal yang sama seperti yang di bilang Andre padaku." gumam Gavlin.


"Pantas saja Andre bersikeras mau menangkap Herman dan komplotannya, karena dia mau memenuhi permintaan Teguh!" ujar Gavlin.


Gavlin diam sesaat, dia berfikir, lalu, Gavlin pun tersadar, dia teringat akan Andre.


"Aku harus memberi tahu Andre rencana jahat Peter, agar dia gak percaya dan gak masuk ke dalam perangkap Peter. Ya, aku harus secepatnya bilang ke Andre, jangan sampai keduluan si Peter !" ujar Gavlin, dengan wajah seriusnya.


Gavlin pun hendak pergi keluar dari dalam ruangan tempat dia bersembunyi, namun, saat dia mau melepaskan alat dengar di telinganya, dia terdiam mendengarkan perkataan Herman dan Jack.


"Tenang aja, Samuel urusanku, aku sendiri yang akan membereskan Samuel." ujar Jack serius.


"Baiklah. Berarti semuanya sudah beres, tinggal eksekusinya saja!" tegas Herman.


"Ya." Jawab Peter dan Jack, hampir bersamaan.


"Ya, sudah, karena semua beres, kita sekarang makan makan!" ujar Herman.


"Okay!" ujar Peter dan Jack.


Di ruang sebelah, Gavlin sangat geram mendengar perkataan Jack, dia lantas melepaskan alat dengar dari telinganya.


"Bedebah, Jaksa Penuntut pun mereka incar!! Mereka benar benar mau membungkam Andre dan Jaksa Penuntut! Aku gak akan membiarkan mereka ! Aku harus bergerak cepat." ujar Gavlin geram.


Gavlin lantas bergegas berjalan keluar dari dalam ruangannya, Setelah berada di luar ruangan, Gavlin langsung bergegas lari keluar dari dalam ruangan restoran mewah tersebut.


Gavlin keluar dari dalam restoran, dia berjalan cepat menuju mobilnya, sesampainya dia di mobilnya, Gavlin lantas membuka bagasi mobilnya.


Gavlin lalu mengambil senjata senjata dan beberapa granat, dia juga mengambil dua pistol yang di selipkannya di pinggangnya.


Gavlin marah, karena mendengar rencana jahat Herman serta Jack dan Peter yang mau menghabisi nyawa Andre dan juga Jaksa Penuntut.


Gavlin sangat marah, sebab, jika kedua orang itu mati, maka, kejahatan Herman dan komplotannya tak pernah terungkap dan menjadi beku, lalu menghilang begitu saja .


Karena itu, Gavlin pun berniat membantai Herman dan Jack serta Peter, agar mereka tak sempat membunuh Andre.


Gavlin menutup pintu bagasi mobilnya, dia berjalan dengan wajah geram dan marahnya, Gavlin masuk ke dalam restoran.


Orang orang yang berada di dalam restoran kaget melihat Gavlin masuk dengan membawa senapan mesin ditangannya.

__ADS_1


Para pengunjung panik, mereka lantas berhamburan lari ketakutan, sebagian dari pengunjung ada yang berteriak teriak histeris karena panik melihat Gavlin membawa senjata ditangannya.


Para Pelayan restoran diam ditempat mereka masing masing mereka tak berani bergerak, apalagi menghalangi dan mencegah Gavlin yang tampak sangat marah itu.


Di dalam ruangan, tampak Herman dan Jack serta Peter kaget, karena mendengar suara teriakan orang orang dari restoran mewah tersebut.


"Ada apa di luar?!" tanya Herman heran.


"Sebentar, aku liat!" ujar Peter.


Peter lantas beranjak bangun dan berdiri dari duduknya, dia lalu bergegas berjalan keluar dari dalam ruangan makan VVIP.


Gavlin berjalan dengan wajah garang sambil memegang senapan mesinnya, dia berjalan terus menuju ruangan dimana Herman dan Jack serta Peter berkumpul.


Peter keluar dari dalam ruangannya, dia melihat, Gavlin berjalan mendekat ke arahnya, Peter kaget.


"Gavliin?!!" ujarnya kaget.


Peter cepat mengambil pistolnya dia lalu menembak Gavlin yang berjalan ke arahnya.


Melihat Peter yang berdiri didepan pintu masuk ruangan sambil menembak ke arahnya, Gavlin semakin marah.


Gavlin lantas menembakkan senapan mesinnya ke arah Peter yang berdiri di depan pintu masuk ruangan.


Melihat Gavlin menggunakan senapan mesin, Peter ciut nyalinya, dia cepat masuk ke dalam ruangan kembali.


"Gawat ! Gavlin ada di luar, dia menembaki aku tadi!" ujar Peter dengan wajah tegang.


"Kacau, kacau!! Kita harus bagaimana? Jangan sampai kita mati konyol di dalam ruangan ini!!" ujar Herman panik dan takut.


Tiba tiba ,dari arah belakang Jack, dinding ruangan terbuka, ternyata, ada pintu keluar lainnya. Manager restoran muncul di depan pintu.


"Cepat keluar dari sini , di luar sana berbahaya ! Ada orang gila mengamuk menembaki semua ruangan!" ujar Manager restoran.


Manager restoran yang berlari dan bersembunyi saat kedatangan Gavlin membawa senjata langsung teringat pada Herman, karena Herman pelanggan istimewa di restoran mewah mereka, manager restoran pun mau menyelamati Herman dan rekan rekannya.


Herman dan Jack serta Peter bergegas keluar dari pintu tempat manager restoran berdiri. Terdengar teriakan Gavlin dari luar ruangan.


"Keluar Kalian setaaaan !!" teriak Gavlin sambil menembaki senapan mesinnya ke dalam ruangan VVIP tempat pertemuan Herman bersama Jack dan Peter.


Herman dan Jack serta Peter sudah pergi dari ruangan bersama manager restoran, dan pintu dinding ruangan pun sudah tertutup kembali.


Gavlin menendang pintu, pintu pun hancur, Gavlin lalu berjalan masuk kedalam ruangan, dia kaget, karena di dalam ruangan sudah tak ada Herman dan Jack juga Peter.


"Bedeeebaaaaaahhh!! Kemana kaliaaaannn seeetaaaannn !!" teriak Gavlin mengamuk marah.


Gavlin tampak marah sekali, karena Herman dan Jack serta Peter berhasil melarikan diri. Lalu, Gavlin pun berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.


Gavlin berjalan sambil menenteng senapan mesinnya, wajahnya tampak marah sekali, lalu, diambilnya beberapa bom granat dari tas pinggangnya.


Lalu, sambil berjalan keluar restoran, dia melemparkan granat granat yang ada ditangannya. Karena amarahnya, dan Herman menghilang, Gavlin kalap , dia lantas membantai siapa saja yang menghalangi jalannya.


Bom granat meledak, menghancurkan seisi dalam ruangan restoran. Untung saja sudah tak ada pengunjung di dalamnya , karena semuanya sudah lari menyelamatkan diri. Begitu juga dengan pegawai pegawai restoran.


Gavlin berjalan di halaman restoran, restoran meledak, karena lemparan granat granat, Gavlin menghancurkan restoran, dengan harapan, jika Herman, Jack dan Peter masih bersembunyi di dalam, mereka mati tertimpa reruntuhan bangunan restoran.


Gavlin lantas masuk ke dalam mobilnya, di letakkannya senapan mesin di jok depan, disampingnya. Lalu, dia menyalakan mesin mobilnya.


"Mereka pasti sudah pergi melarikan diri dari pintu lainnya !" ujar Gavlin geram.


"Kalo gitu, aku harus mencegah Andre bertemu dengan Peter!" ujar Gavlin geram.


Gavlin lantas menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan restoran yang meledak dan hancur berantakan karena lemparan bom granat granatnya.

__ADS_1


__ADS_2