
Di dalam lift, Gavlin terlihat gelisah berdiri, matanya tajam terus mengamati nomor nomor lantai yang ada pada lift tersebut, wajahnya tegang, dia tak sabar untuk segera tiba di lantai lobby hotel. Sementara itu, Malik yang berdiri disampingnya hanya diam saja, sesekali dia melirik Gavlin yang terlihat gelisah, dia diam saja, tak mau mengganggu Gavlin.
Tak berapa lama kemudian, lift berhenti, lalu, perlahan lahan pintu lift terbuka, Gavlin langsung saja cepat keluar dari dalam lift, Malik kaget melihat Gavlin yang terlihat sangat terburu buru itu, dia lantas segera ikut keluar dari dalam lift dan mengejar Gavlin yang sudah berjalan keluar terlebih dulu dari dirinya.
"Vlin, tunggu." ujar Malik, memanggil Gavlin.
Gavlin menghentikan langkahnya menunggu Malik, Malik bergegas mendekat, lalu Malik menatap wajah Gavlin yang berdiri di sampingnya itu.
"Kamu kenapa sih, Vlin? Ngapain buru buru?!" ujar Malik, bertanya heran.
Gavlin diam saja tak menjawab pertanyaan Malik, lalu, Gavlin berjalan kembali, meninggalkan Malik begitu saja, melihat sikap Gavlin yang aneh, apalagi dia lihat wajah Gavlin tegang dan seperti gelisah, Malik menghela nafasnya, lalu segera mengejar Gavlin yang berjalan cepat menuju restoran.
Di depan restoran hotel, terlihat banyak para wartawan dan wartawati berdiri menunggu, mereka semua lengkap dengan peralatan wawancaranya, Gavlin dan Malik yang berjalan mendekat ke arah restoran heran melihat para wartawan dan wartawati yang tengah berkumpul di depan restoran seperti menunggu seseorang yang penting untuk mereka wawancarai.
Saat Gavlin mendekat dan hendak menuju ke pintu masuk restoran bersama Malik, keluar dari dalam restoran wanita cantik yang bertemu dengan Gavlin dan di duga Gavlin adalah Indri, pacarnya yang sudah lama tak bertemu, Wanita cantik itu keluar bersama Pria gagah bertubuh kekar yang tadi juga bertemu dengan Gavlin di lift.
Melihat Wanita cantik keluar dari dalam restoran, para wartawan dan wartawati langsung cepat menghampirinya, mereka menyerbu wanita cantik tersebut.
"Indriii...Indri...tolong beri pernyataan sedikit, tentang konsep pameran desainernya." ujar seorang reporter kepada Wanita cantik tersebut.
Gavlin terkesiap, dia tersentak kaget saat mendengar sang reporter menyebut nama wanita cantik tersebut.
"Indri?! Dia benar Indri?!" Gumam hati Gavlin bicara.
Untuk sesaat Gavlin terdiam, dia berdiri mematung dan tercenung melihat wanita cantik yang ternyata benar Indri sedang dikerumuni para wartawan dan wartawati.
"Maaf, maaf ya, sesi wawancara tidak sekarang, nanti di atur jadwalnya, maaf." ujar Pria yang mendampingi Indri.
"Indri...Indri...beri kami pernyataan, apakah setelah pameran kamu selesai, kamu punya rencana lainnya lagi?!" tanya seorang wartawan.
Gavlin terus memperhatikan Indri yang sedang di kerumuni para wartawan dan wartawati, Malik yang berdiri disampingnya menatap wajah Gavlin yang terlihat seperti kaget itu, lalu Malik melihat ke wanita cantik yang yang sedang di kelilingi para wartawan.
Gavlin lantas melangkahkan kakinya, dia berjalan hendak menghampiri Indri, namun, baru dua langkah dia berjalan, langkah kakinya terhenti , Gavlin diam, tak melanjutkan langkahnya mendekati Indri.
Gavlin melihat, Pria gagah bertubuh kekar merangkul tubuh Indri dan Indri menutupi wajahnya dengan topi lebar yang dia pakai tadi, untuk menghindar dari jepretan kamera para wartawan dan wartawati tersebut.
Melihat Indri di rangkul Pria gagah dan berjalan pergi meninggalkan para wartawan dan wartawati, Gavlin hanya bisa terdiam menyaksikan. Malik semakin heran melihat sikap Gavlin tersebut.
Indri berjalan terus sambil tetap menutupi wajahnya dengan topi besarnya, dan dia berjalan menunduk, para wartawan dan wartawati terus mengejarnya, mereka ingin mendapatkan berita dari Indri, Pria bertubuh kekar terus merangkul tubuh Indri, mereka berjalan menuju lift.
Indri dan Pria kekar berjalan melewati Gavlin dan Malik, mereka berpapasan, Gavlin yang berdiri diam ditempatnya melihat Indri yang berjalan di depannya , lewat begitu saja. Indri tak melihat Gavlin, sebab dia berjalan menunduk dan terus menutupi wajahnya dengan topi besar serta di rangkul oleh Pria bertubuh kekar.
__ADS_1
Gavlin tetap berdiri diam ditempatnya, dia terpaku melihat Indri dan teman Prianya menjauh, lalu segera masuk ke dalam lift, para wartawan dan wartawati tampak kecewa, karena mereka tak berhasil mendapatkan berita dari Indri. Lalu, mereka pun membubarkan diri masing masing.
Gavlin masih terdiam tercenung, dia seakan masih tak percaya dengan apa yang dia lihat tadi, dan sama sekali tak menyangka, jika dia bertemu Indri, namun, Indri sama sekali tak melihat dirinya, padahal mereka berpapasan dan sangat dekat sekali tadi.
Malik menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri diam dan tercenung itu.
"Vlin, ayo kita ke dalam restoran, katanya kamu lapar, mau makan?!" ujar Malik, mengajak Gavlin masuk ke dalam restoran.
Gavlin lantas tersadar dari lamunannya, dia lalu menoleh dan menatap wajah Malik yang berdiri dihadapannya.
"Gak jadi, Lik. Aku jadi kenyang." ujar Gavlin, menatap wajah Malik.
Malik semakin heran melihat Gavlin yang tiba tiba saja berubah pikiran dan tak jadi makan, padahal mereka sudah di depan restoran hotel.
Gavlin berjalan pergi meninggalkan Malik begitu saja, Dia melangkah gontai menuju lift, Malik yang semakin heran langsung mengejarnya.
"Vliin...tunggu...Kamu kenapa sih?!" ujar Malik, bertanya pada Gavlin.
Malik berjalan di samping Gavlin, Gavlin diam, tak menjawab pertanyaan Malik, dia terus berjalan menuju pintu lift, setelah sampai didepan pintu lift, Gavlin segera menekan tombol naik pada lift, lalu berdiri diam menunggu.
Melihat sikap Gavlin yang semakin aneh dan diam saja, Malik pun memilih untuk diam dan tak bertanya lagi, dia berdiri disamping Gavlin.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, Gavlin cepat masuk ke dalam lift, Malik segera mengikutinya, dia juga cepat masuk ke dalam lift.
Namun, diam diam, Malik penasaran atas perubahan sikap aneh Gavlin tersebut, dia ingin mencari tahu penyebab perubahan sikap Gavlin itu.
Pintu lift terbuka, mereka berdua tiba di lantai kamar Gavlin menginap, Gavlin cepat keluar dari dalam lift, Malik ikut keluar. Dia berlari kecil mengejar Gavlin yang sudah berjalan cepat pergi meninggalkannya.
Gavlin tiba di depan pintu kamarnya, lalu, dengan kunci yang diambil dari kantong celananya, dia membuka pintu kamar, dan segera masuk ke dalam kamarnya, Malik mengikutinya dibelakang, dia juga masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar di tutup, Gavlin lantas duduk di sofa yang ada di dalam kamar hotel tempatnya menginap itu. Wajah Gavlin terlihat murung, ada rona rona kesedihan, kekecewaan, bahkan kecemburuan bermain main di dalam jiwanya saat ini.
Hatinya resah dan bersedih, Gavlin tercenung, Malik mendekat dan berdiri di depannya, Malik mengamati wajah murung Gavlin yang duduk diam di sofanya.
"Kamu kenapa, Vlin? Ada apa?" tanya Malik, dengan wajah heran menatap Gavlin.
Gavlin diam saja, tak bereaksi dan tak menjawab pertanyaan Malik yang berdiri dihadapannya, Malik menghela nafasnya.
"Sejak kamu ketemu dengan wanita itu di depan lift, lalu tadi juga ketemu, kamu semakin berubah, dan sikapmu semakin aneh, Vlin." ujar Malik, menjelaskan pada Gavlin.
"Tolong, tinggalkan aku sendiri, Lik. Aku gak mau diganggu." ujar Gavlin, dengan suara datar pada Malik.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Vlin? Kok jadi gini? Apa ada hubungannya dengan wanita itu tadi?!" ujar Malik bertanya.
Malik mulai terlihat kesal karena melihat sikap Gavlin yang semakin aneh saja, dan cuek kepada dirinya.
"Apa wanita itu benar benar pacarmu?! Aku tadi juga dengar, para wartawan itu memanggilnya dengan nama 'Indri', Aku ingat, kamu bilang, nama pacarmu 'Indri' , iya kan?!" ujar Malik, menatap tajam wajah Gavlin yang duduk diam di sofanya.
"Apa benar wanita itu Indri, pacarmu yang udah lama gak ketemu denganmu, Vlin?!" tanya Malik lagi, dengan wajahnya yang serius menatap wajah murung dan sedih Gavlin yang duduk di sofa.
Gavlin tetap diam saja tak menanggapi perkataan Malik, melihat sikap Gavlin yang mengabaikan pertanyaan darinya, Malik semakin kesal jadinya.
"Kamu jadi diam begini karena galau, Vlin? Kamu kecewa? Karena Pacarmu itu bersama Pria lain?!" ujar Malik, menatap tajam wajah Gavlin.
"Kamu gak rela, Indri bersama Pria lain? Kamu marah melihatnya berduaan?!" ujar Malik, bertanya lagi pada Gavlin.
Gavlin tetap diam saja , dia diam tak bergeming dari duduknya di sofa, Malik semakin kesal saja dibuatnya.
"Aku gak suka melihat kamu begini, Vlin ! Kalo benar wanita itu Indri, pacarmu, baik, aku akan menemuinya sekarang juga!" ujar Malik, menegaskan pada Gavlin.
"Mau apa kamu menemuinya?!" tanya Gavlin.
Tiba tiba saja Gavlin merespon perkataan Malik yang menyatakan akan menemui Indri saat ini juga.
"Ya, aku mau bilang, kalo kamu ada di sini, melihatnya bersama Pria lain, dan akan aku bilang sama pacarmu itu, kalo dia sudah mengkhianati cintamu!!" tegas Malik, menjelaskan pada Gavlin dengan wajahnya yang serius.
"Kamu jangan ikut campur dengan urusanku, Lik. Biar aku yang menyelesaikannya sendiri dengan Indri nanti." ujar Gavlin, dengan suaranya yang datar.
"Kalo begitu, aku akan menghabisi Pria itu, akan ku bunuh Pria yang bersama Indri, pacarmu itu!! Karena dia menjadi penghalang dan perusak hubungan kamu dan Indri!!" ujar Malik, marah dan kesal.
"Gila kamu, Lik!! Jangan coba coba kamu lalukan hal gila itu!!" ujar Gavlin.
Gavlin langsung berdiri dari duduknya di sofa, dia menatap tajam wajah Malik yang berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa, Vlin? Bukankah kamu jadi galau, sedih dan patah hati kayak gini karena melihat pacarmu itu di rangkul Pria lain?!! Kalo gak ada Pria itu di dekat Indri, pasti kamu gak akan terus bersikap aneh seperti ini!!" ujar Malik, menjelaskan pada Gavlin dengan wajahnya yang kesal.
"Gila , Kamu jangan membuat masalah semakin besar, Lik!" ujar Gavlin, menatap tajam wajah Malik yang berdiri dihadapannya itu.
"Masalah besar apa? Paling juga hotel ini gempar karena ada pembunuhan, dan aku jadi buronan polisi, aku bisa sembunyi, melarikan diri!" ujar Malik, menegaskan.
"Tolong jangan lakukan itu, Lik. Aku gak mau kamu membunuh Pria itu." ujar Gavlin, menatap tajam wajah Malik yang berdiri dihadapannya.
"Vlin, kalo aku gak membunuhnya, kamu akan tetap seperti ini!!" tegas Malik kesal dan marah pada Gavlin.
__ADS_1
Untuk sesaat Gavlin diam berdiri dihadapan Malik, dia menatap lekat wajah Malik yang terlihat sangat kesal dan marah kepada dirinya.