
Orang tersebut berdiri dan tersenyum senang, dia tampak berfikir sesaat, lalu, dia tersenyum menatap wajah Wicaksono yang berdiri di depan pintu keluar bersama Penjaga Tahanan.
Penjaga diam saja, dia berdiri menunggu Wicaksono, karena dia tak berani dengan Wicaksono yang sangat terkenal dan di takuti dalam rumah tahanan tersebut.
"Ternyata Chandra sangat cerdas, dia bisa hapal gerakan ilmu bela diriku." ujar Orang tersebut.
"Ya gak apa apa, Pak. Ceritakan saja pada Chandra, sudah waktunya Chandra mengetahui diriku yang meminta Bapak menjaganya." jelas Orang tersebut menatap lekat wajah Wicaksono.
"Baiklah, Vlin. Akan aku sampaikan pada Chandra nanti." ujar Wicaksono.
"Ya Pak." Angguk Orang tersebut yang ternyata Gavlin.
Gavlin sengaja datang dengan menyamar menemui Wicaksono, sebab, kalau dia datang dengan sosok dirinya sendiri sebagai Gavlin, dia tak akan bisa bertemu Wicaksono.
Dan pastinya, baru juga masuk ke dalam rumah tahanan untuk membuat daftar kunjungan , dia pastinya akan ditangkap, karena para petugas di rumah tahanan pastinya mengenali dirinya sebagai buronan pihak ke polisian selama ini.
"Kamu cari tau orang suruhannya Samsudin, Vlin. Bapak akan mencoba mencari tau dari Napi napi di sini, mungkin saja mereka tau, siapa orang yang memberi uang dan menugaskan untuk membunuh Chandra." ujar Wicaksono menjelaskan.
"Ya, Pak." Angguk Gavlin.
Wicaksono lantas berbalik badan, Penjaga langsung membuka pintu, lalu, Wicaksono berjalan keluar dari dalam ruang pertemuan itu.
Lalu, Gavlin juga pergi meninggalkan ruang pertemuan, karena sudah tak ada lagi yang dia bahas bersama Wicaksono saat ini.
---
Gavlin berjalan keluar menuju mobilnya dihalaman parkir rumah tahanan. Lalu, dia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobilnya.
Gavlin lantas menyalakan mesin mobilnya, wajahnya tampak terlihat geram sekali, dia marah, karena Chandra sudah 3 kali berusaha untuk di bunuh.
"Aku harus bisa menemukan orang itu, sebelum mereka bertindak lagi untuk membunuh Chandra!" ujar Gavlin, dengan wajah geramnya.
Lalu, dia segera menyetir mobilnya, kemudian, mobilnya pun melaju pergi meninggalkan halaman parkir rumah tahanan tersebut.
Gavlin sekarang punya misi baru, dia akan memburu orang suruhannya Samsudin, lalu membunuhnya, kemudian, dia akan membuat perhitungan pada Samsudin yang telah berusaha membunuh Chandra.
Pintu sel tahanan di buka oleh Sipir penjara, dari dalam sel, Chandra dan juga Gentong serta Pijar melihat Wicaksono yang berdiri di depan jeruji penjara.
Pintu sel tahanan terbuka, lalu, dengan santainya Wicaksono masuk kedalam sel tahanan. Sipir penjara langsung menutup dan mengunci serta menggembok pintu sel tahanan tersebut.
Kemudian, Sipir penjara pergi meninggalkan ruang tahanan, Wicaksono lantas menghampiri Chandra yang masih duduk diam di lantai pojokan dalam sel tahanan mereka.
"Sepertinya, Bapak sering di kunjungi, apa Bapak punya keluarga yang rajin datang menemui Bapak ke sini?" tanya Chandra menatap wajah Wicaksono, yang berdiri disampingnya.
Wicaksono diam tak menjawab, dia hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan Chandra, lantas, Wicaksono pun duduk di lantai, disamping Chandra.
"Hanya ada satu orang saja yang rajin mengunjungi aku di sini, dan itu dilakukannya sejak awal aku masuk ke sini, dan hingga sekarang." ujar Wicaksono, tersenyum senang.
"Wah, beruntung Bapak masih punya keluarga yang perduli dengan Bapak dan mau menjenguk Bapak di sini." ujar Chandra, dengan wajahnya yang senang menatap wajah Wicaksono yang tersenyum juga padanya.
"Ya, dia sudah jadi keluargaku, bahkan aku menganggapnya anak sendiri." jelas Wicaksono, tersenyum senang.
"Oh." Angguk Chandra, mengerti dan paham atas penjelasan Wicaksono kepadanya.
__ADS_1
"Kamu dapat salam, Chan." ujar Wicaksono, menatap lekat wajah Chandra.
"Dapat salam dari siapa?" tanya Chandra, menatap heran wajah Wicaksono.
"Aku gak punya siapa siapa, sebatang kara." jelas Chandra, dengan wajahnya yang serius.
"Gavlin." tegas Wicaksono.
"Gavlin?!!" Chandra tersentak kaget, begitu Wicaksono menyebut nama Gavlin padanya.
"Ya, Gavlin, Orang yang aku temui barusan tadi adalah Gavlin. Dialah yang aku maksud sudah seperti anakku sendiri ." ujar Wicaksono, memberi penjelasan pada Chandra.
Chandra terhenyak kaget, namun dia senang mendengar penjelasan Wicaksono kepadanya tentang Gavlin.
"Benar dugaanku, Bapak mengenal Gavlin, bahkan sangat dekat dengan Gavlin." ujar Chandra dengan wajah senangnya.
"Ya, ada kisah dari awal pertemuan kami berdua dulu, sebelum Gavlin menjadi akrab denganku." ujar Wicaksono menjelaskan pada Chandra.
"Oh ya? Kisah apa itu? Boleh aku tau, Pak?" tanya Chandra, menatap lekat wajah Wicaksono.
Ada rasa keingin tahuan Chandra, dia ingin mendengar kisah awal kedekatan Gavlin dengan Wicaksono.
"Nanti saja aku ceritakan padamu, jangan sekarang, aku lelah." ujar Wicaksono, tersenyum.
"Yaah. Ayolah Pak. Cerita aja sekarang." ujar Chandra.
Chandra menatap lekat wajah Wicaksono, raut wajahnya seperti memohon, dia berharap, Wicaksono mau menceritakan kisah pertemuan dia dengan Gavlin pertama kalinya.
"Nanti ya, aku janji. Aku pasti akan cerita padamu." jelas Wicaksono tersenyum pada Chandra.
"Gitu dong. " ujar Wicaksono tersenyum senang.
Chandra juga ikut tersenyum senang, sementara , seperti biasanya, Gentong dan Pijar asyik dengan kesibukan mereka sendiri.
Mereka berdua cuek dengan obrolan Wicaksono dan juga Chandra.
"Kenapa Bapak gak ngaku, pas saya tanya, apa Bapak kenal Gavlin? Bapak malah bilang 'Tidak' !" tegas Chandra, menatap tajam wajah Wicaksono.
"Karena Gavlin yang melarangku, dia bilang, jangan kamu sampai tau, kalo aku dan Gavlin saling kenal." ujar Wicaksono, mencoba memberi penjelasan pada Chandra.
"Terus, kenapa akhirnya Bapak ngaku, kalo Bapak memang sangat kenal dengan Gavlin, bahkan Bapak bilang, kalo Gavlin sudah Bapak anggap anak sendiri." ujar Chandra, menegaskan pada Wicaksono.
"Karena Gavlin juga. Dia sudah memberi izin padaku tadi, untuk membongkar rahasianya padamu." ujar Wicaksono.
"Aku tadi bilang sama Gavlin pas kami bertemu, bahwa kamu sangat mengenali jurus ilmu bela diri Gavlin yang sama denganku." ujar Wicaksono.
"Gavlin tertawa mendengarnya, dia kagum, karena kamu ingat dengan baik gerakan ilmu bela dirinya." jelas Wicaksono.
"Lantas, Gavlin memberi izin, untuk memberitahu, kalo aku kenal sama Gavlin." tegas Wicaksono.
"Dan Gavlin lah orangnya, yang meminta Bapak untuk menjaga dan melindungiku selama di dalam penjara ini, bukan begitu, Pak?" ujar Chandra bertanya.
Chandra menatap lekat wajah Wicaksono yang tersenyum mendengar penjelasan Chandra, Wicaksono mengangguk.
__ADS_1
"Ya, kamu benar, Gavlinlah yang meminta aku menjaga dan melindungimu, karena Gavlin tau, Samsudin akan mengincarmu, dan mau membunuhmu." ungkap Wicaksono, dengan wajahnya yang serius menjelaskan pada Chandra.
"Gavlin gak mau kamu mati sia sia dalam penjara ini, sepertinya, Gavlin sangat perduli denganmu." ucap Wicaksono tersenyum senang menatap Chandra.
"Gavlin itu susah menyukai orang, apalagi sampe percaya sama seseorang, dia sulit, dari dulu, dia terbiasa sendirian." tegas Wicaksono.
"Aku malah gak nyangka, kalo dia ternyata punya teman seperti kamu." jelas Wicaksono.
"Ya, Pak. Gavlin memang baik, sudah beberapa kali bahkan Gavlin menyelamatkan nyawaku." ujar Chandra, tersenyum.
"Gavlin gak segan segan mengorbankan dirinya, membiarkan dia terluka parah, untuk menyelamatkan nyawaku." lanjut Chandra menjelaskan dengan bersungguh sungguh.
"Atas semua kebaikan Gavlin itu, aku gak bisa membalasnya, Pak." ungkap Chandra.
"Gavlin gak butuh balasan atas apa yang sudah dia lakukan dalam menolong orang, karena dia tulus melakukannya." ujar Wicaksono.
"Gavlin menyelamatkanmu, karena dia percaya dan yakin, bahwa kamu orang yang baik. Dan Bapak liat, kalian berdua memang bisa menjadi sahabat baik selamanya." ujar Wicaksono, tersenyum senang menjelaskan.
"Ya, Pak. Mudah mudahan saja persahabatan kami panjang nantinya." ujar Chandra, tersenyum senang.
"Karena Gavlin anak angkat Bapak, bolehkah saya juga menganggap Bapak sebagai Bapak juga?" ujar Chandra, bertanya.
Chandra menatap lekat wajah Wicaksono, Wicaksono tersenyum senang menatap wajah Chandra.
"Ya, tentu saja boleh, kamu boleh panggil aku Bapak, dan menganggapku sebagai Bapak angkatmu mulai saat ini." ucap Wicaksono, menegaskan pada Chandra.
"Ya, terima kasih, Pak." ucap Chandra, dengan tersenyum senang menatap Wicaksono yang juga tersenyum senang pada Chandra.
"Ya, sudah, Bapak mau istirahat dulu ya." ujar Wicaksono .
"Ya, Pak. Silahkan." Angguk Chandra, tersenyum senang menatap wajah Wicaksono.
Wicaksono lantas berdiri, lalu, dia berjalan ke tikar nya yang ada didekat Gentong dan Pijar duduk. Lalu, Wicaksono pun merebahkan tubuhnya di atas tikar yang tergelar di lantai sel tahanan.
Chandra tersenyum senang melihat Wicaksono yang berbaring dan hendak beristirahat, Chandra tampak lega dan senang, karena pertanyaannya selama ini sudah terjawab.
Dan memang benar adanya, bahwa Gavlinlah yang meminta pada Wicaksono untuk melindungi dirinya, dan antara Gavlin sama Wicaksono hubungannya juga sangat kuat dan erat.
Chandra sangat senang sekali, karena ternyata, dirinya di kelilingi oleh orang orang yang sangat baik dan perduli padanya, seperti Gavlin, Wicaksono dan Gentong serta Pijar.
Chandra pun semakin tenang dan tidak merasa kesepian lagi selama dia berada di dalam sel tahanan tersebut, karena , di dalam rumah tahanan, dia mendapatkan keluarga baru, dari Wicaksono, Gentong dan Pijar.
"Terima kasih , Vlin, sudah perduli denganku, dan tetap melindungiku." Gumam Chandra.
"Aku gak tau, berapa lama aku akan mendekam dalam tahanan ini, semoga saja, aku bisa keluar dari rumah tahanan ini, dan lalu, kita bisa bertemu lagi kelak." ungkap Chandra ,dengan suara pelan dan getirnya.
Chandra lantas menghela nafasnya, kemudian, dia pun lantas mulai memejamkan kedua matanya, untuk mencoba beristirahat juga seperti Wicaksono, yang sudah terlelap dalam tidurnya saat ini.
---
Sementara itu, dari kejauhan, Gavlin terlihat sedang mengintai rumah Binsar, dia ingin tahu, apakah Samsudin pernah datang menemui Binsar dirumahnya, dan apakah Samsudin datang bersama orang suruhannya yang ditugaskannya membunuh Chandra dalam rumah tahanan.
Tampak Gavlin berdiri diatas pohon kelapa yang ada di pinggir jalan, sedikit jauh dari rumah Binsar jaraknya, namun, pohon itu, berdiri tegak lurus ke arah rumah Binsar, dan adanya di seberang jalanan.
__ADS_1
Dari atas pohon kelapa, Gavlin mengawasi sekitar area rumah Binsar, dia mengintai dan memata matai dengan menggunakan teropongnya.
Wajah Gavlin terlihat sangat serius, dia berharap, Samsudin datang ke rumah Binsar bersama orang suruhannya, agar dia bisa tahu, siapa orangnya yang di tugaskan Samsudin membayar para narapidana untuk membunuh Chandra di dalam rumah tahanan.