
Jafar menyetir mobilnya, disampingnya, duduk Masayu. Masayu menghela nafasnya, dia lantas menoleh pada Jafar.
"Gavlin itu yang membunuh Mike!" tegas Masayu, memberi tahu Jafar.
Jafar kaget, dengan cepat, dia menginjak rem mobilnya. Mobil pun berhenti di tengah jalan. Mobil mobil yang melintas kaget, mereka semua membunyikan klakson mobil, karena marah, Jafar menghentikan mobilnya secara mendadak.
Jika tidak cepat menghindar, maka, tabrakan beruntun pun terjadi.
Di dalam mobil, Jafar menatap tajam wajah Masayu yang tampak serius itu.
Kamu yakin?!" tanya Jafar serius.
"Bram yang bilang. Gavlin itu juga yang mau balas dendam orang tuanya!" Tegas Masayu.
"Kalo soal balas dendam orang tuanya, aku juga tau!" tegas Jafar geram.
"Kalo tau dia Gavlin yang membunuh anakku!! Aku pasti membunuhnya di hotel Bram!" Ujar Jafar geram.
"Sebaiknya kamu hati hati, Far, Gavlin itu memburumu, karena mau balas dendam padamu, selain dia, kamu juga bermusuhan dengan Bram!" tegas Masayu.
"Kamu jangan sampe terluka, apa lagi terbunuh! Aku gak mau, Far! Aku gak mau kamu mati!" Tegas Masayu cemas.
"Kamu tenang aja, gak kan ada yang bisa membunuhku!" tegas Jafar, meyakinkan Masayu.
Masayu diam, dia tak membantah perkataan Jafar. jafar tampak geram dan marah.
"Gavlin ! Aku akan membunuhmu!!" Ujar Jafar geram dan marah.
Lantas, dia segera menjalankan kembali mobilnya, mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dijalan raya.
---
Masih di rumah Maya, di ruang tamu, Gavlin duduk di sofa, dia tengah mengobati luka tembaknya.
Dengan menggigit gulungan handuk tebal dan kecil, dia mengambil peluru dari dalam lengan tangan kirinya.
Maya duduk diam disampingnya, wajah Maya tampak meringis ngeri, saat melihat, Gavlin menarik keluar peluru dari dalam lengan tangan kirinya.
Peluru berhasil di ambil Gavlin, dia lantas meletakkan peluru di dalam mangkuk kecil, yang disediakan Maya di atas meja. Lantas, dia juga meletakkan penjepit besi yang dipakainya mengambil peluru, diatas meja.
Maya lalu membantu Gavlin, mengobati lukanya yang mengeluarkan darah. Dengan kapas, Maya menghapus darah yang mengalir keluar dari lubang luka bekas peluru di lengan tangan kiri Gavlin.
"Sakit gak, Vlin?!" tanya Maya penasaran.
Gavlin melepaskan gulungan kain handuk kecil dan tebal darj mulutnya, lalu dia letakkan di atas meja.
"Jelas sakit, May. Makanya aku gigit handuk ini, buat nahan rasa sakitnya, kalo nggak, aku bisa teriak teriak kesakitan." ujar Gavlin tertawa.
Maya pun ikut tertawa, Lalu, dia menuangkan alkohol ke luka Gavlin. Gavlin meringis menahan perih. Lalu, Maya menaburkan obat bubuk anti tetanus dan infeksi ke luka Gavlin, kemudian, dia mengoleskan salep luka.
Gavlin mengambil kapas dan kain kasa, dia taburi dengan obat luka, lalu, ditempelkannya kapas dan kain kasa di atas lukanya.
Maya lantas memakaikan perban di bagian luka Gavlin. Telepon Gavlin tiba tiba berbunyi.
Gavlin lalu mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.
"Kamu dimana?" tanya Teguh, dari seberang telepon.
"Di rumah Maya. Ada perkembangan apa, Bang Bro?!" tanya Gavlin dengan wajah serius, di telepon.
Maya diam, mendengarkan pembicaraan Gavlin dan Teguh di telepon.
"Aku udah menemukan persembunyian Ronald, sekarang aku lagi di jalan, menuju lokasi Ronald!" Tegas Teguh, dari seberang telepon.
Teguh memberikan informasi tentang Ronald pada Gavlin, mendengar nama Ronald, wajah Gavlin tampak geram dan marah.
"Aku serahkan sama kamu, bang Bro! Tapi, tolong, jangan penjarakan dia, bawa Ronald padaku! Aku mau buat perhitungan dengannya!" tegas Gavlin, geram, di telepon.
"Oke, Yan. Memang sebaiknya kamu jangan datang, soalnya, tim akan curiga, kalo kamu juga ada di lokasi persembunyian Ronald!" Tegas Teguh dari seberang teleponnya.
"Tenang aja, bang Bro! Aku gak akan kesana, ada misi lain yang mau aku jalani malam ini juga!" tegas Gavlin, di telepon.
"Ok, Yan. Nanti aku kabari lagi!" Ujar Teguh, dari seberang telepon.
"Siap, bang Bro! Terima kasih atas infonya." ujar Gavlin, di telepon.
Gavlin lalu menutup teleponnya, wajahnya tampak menahan geram dan marah, Maya menatap tajam wajah Gavlin, dia heran, karena Gavlin tampak menahan amarahnya.
"Ada kabar apa, Vlin?!" Tanya Maya, ingin tahu.
"Bang Teguh, dia lagi ke lokasi persembunyian Ronald, malam ini, mereka mau menangkap Ronald!" Tegas Gavlin dengan wajah geram dan marah.
"Oh." ujar Maya, mengangguk paham.
"May, aku pergi dulu, ya." ujar Gavlin.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Vlin? Kamu kan masih terluka, mendingan kamu istirahat aja dirumahku malam ini, kalo udah baikan, kamu boleh pergi." ujar Maya bersungguh sungguh.
Maya tak mengizinkan Gavlin pergi, sebab, dia khawatir dengan kondisi Gavlin, yang terluka itu.
Gavlin tersenyum lembut memandangi wajah Maya.
Gavlin membelai lembut, penuh kasih sayang rambut Maya. Maya pun tersenyum senang.
"Aku baik baik aja, May. Kamu gak perlu khawatir." ujar Gavlin, tersenyum lembut.
"Aku harus segera menjalankan misiku ini, May. Aku gak mau menundanya lagi." ujar Gavlin dengan wajah serius.
"Biarkan aku pergi, ya. Nanti, setelah selesai urusanku, aku ke sini lagi." ujar Gavlin bersungguh sungguh.
"Aku mau kerumah sakit aja, Vlin, jaga Ayahku di sana malam ini." ujar Maya tersenyum.
"Ya. Nanti aku datang ke rumah sakit, nemani kamu." ujar Gavlin tersenyum.
"Ya, Vlin." Angguk Maya, Manja.
Gavlin lantas berdiri, Maya pun ikut berdiri. Gavlin mengecup lembut pipi Maya, Maya tersenyum senang, dia merasakan, kecupan Gavlin, penuh kehangatan.
"Aku tinggal dulu, ya." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya mengangguk, mengiyakan. Lantas, Gavlin pun segera berjalan keluar dari dalam rumah Maya. Maya ikut keluar, menemani Gavlin.
Gavlin memakai helmnya, dia lantas mengambil kunci motor dari kantong celananya, lalu, di nyalakannya mesin motornya.
Maya berdiri di dekatnya, menunggu, Gavlin. Gavlin kemudian naik ke atas motornya, lalu, dia segera menjalankan motornya.
Motor Gavlin pun pergi, meninggalkan Maya, yang berdiri tersenyum, memandangi kepergian Gavlin.
Maya lantas berbalik badan, dan dia masuk ke dalam rumahnya, pintu rumah di tutup Maya.
Di jalanan, di atas motornya, tampak wajah Gavlin tegang di dalam helm yang menutupi wajahnya.
Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sebelum dia ke tempat tujuannya, dia mampir terlebih dahulu, ke gudang besar miliknya, untuk menyiapkan segala sesuatu, yang akan dia bawa , untuk menjalankan misinya malam ini.
---
Sekitar 10 orang tim kepolisian, dengan di pimpin Teguh tampak bergegas menghampiri sebuah kamar hotel.
Saat sampai di depan pintu kamar hotel, Teguh menyuruh salah satu Petugas Polisi untuk mengetuk pintu kamar. Sementara, yang lainnya bersiap siap dan berjaga jaga, dengan memegang pistol di tangan masing masing.
Tak ada reaksi dan jawaban dari dalam kamar, Para petugas Polisi saling pandang, mereka melihat teguh, menunggu aba aba dari Teguh.
Karena tidak ada jawaban dari Ronald, Teguh pun lantas memberikan komando pada Petugas Polisi.
"Dobrak pintunya!" Perintah Teguh.
Petugas Polisi mengangguk, lalu dia menendang kuat pintu hotel berkali kali. Pintu hotel pun terbuka. Dengan cepat , empat petugas polisi masuk ke dalam kamar hotel, bersama Teguh.
Pintu lift terbuka, Ronald keluar dari dalam lift, saat dia hendak berjalan ke arah kamarnya, dia kaget, melihat, banyak Polisi di depan pintu kamar hotelnya.
"Keparaaat !! Mereka menemukan persembunyianku!!" ujar Ronald geram dan marah.
Karena melihat Polisi itu banyak, Ronald tak mau mengambil resiko, dengan cepat, dia pun lantas segera lari, menuju pintu darurat, yang ada di koridor lantai kamar hotelnya itu.
Melalui pintu darurat, Ronald melarikan diri, dia terus lari, menuruni anak tangga lantai hotel.
Di dalam kamar, tampak wajah Teguh marah dan kecewa, sebab, tak ada Ronald di dalam kamarnya.
"Clear !!" Ujar salah satu Petugas Polisi, setelah memeriksa seluruh ruang kamar hotel.
"Siaal ! Dia gak ada di sini!!" geram Teguh.
Teguh lantas segera keluar dari dalam kamar hotel, wajahnya tampak marah besar, karena misi penangkapannya gagal total.
Tim Kepolisian pun mengikuti Teguh, mereka segera meninggalkan kamar hotel tempat persembunyian Ronald.
Di halaman parkir hotel, tampak Ronald lari tergopoh gopoh, menghampiri mobilnya. Dengan cepat dia mengambil kunci mobil dari kantong celananya.
Dia lantas membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil, dengan menggunakan kunci, dia menyalakan mesin mobil.
Lalu, dengan cepat, Ronald menjalankan mobilnya, dia pergi dari halaman parkir hotel, melarikan diri dari kejaran Tim Kepolisian.
Di luar, di depan halaman hotel, Teguh lantas menyuruh tim kepolisian untuk kembali ke kantor mereka.
Teguh masuk ke dalam mobilnya, lantas, dia bergegas pergi, dari hotel tersebut. Mereka pun bubar.
"Sial...Sial...Siaal!!" ujar Teguh, memukuli stir mobilnya.
Teguh melampiaskan kekesalannya, karena gagal menangkap Ronald, dia terus menyetir mobilnya dengan wajah kesal dan marah.
---
__ADS_1
Bramantio tampak terhuyung huyung berjalan menuju rumahnya, dia baru saja sadar dari pingsannya, akibat di hajar dan di tendang Jafar tadi.
Bramantio berjalan gontai, dia tampak lemah, serta meringis memegangi perutnya yang terasa sangat perih dan sakit, karena di tendangi Jafar dengan keras dan sekuat tenaga.
Saat melangkah menuju ke halaman teras rumahnya, tiba tiba, sebuah cahaya melesat , melewati Bramantio, dan benda itu terlihat bercahaya, karena mengeluarkan api di belakangnya menuju ke arah rumah Bramantio.
Benda yang seperti cahaya itu ternyata bom roket, yang sengaja di tembakkan Gavlin, dari atas pohon, yang ada di jalan, depan rumah Bramantio.
Bom roket melesat dan menghantam rumah Bramantio, lalu, meledak ! Bramantio tersungkur jatuh ke tanah, dia kaget, mendengar suara ledakan yang dahsyat itu.
Belum hilang kagetnya, sebuah bom roket, melesat lagi, dan menghantam rumah Bramantio, Rumah Bramantio pun seketika meledak, hancur berkeping keping.
Bramantio yang tersungkur di tanah, diam, terhenyak kaget, dia syock, melihat, rumahnya meledak, dan hancur berkeping keping.
Dari atas pohon besar, tampak Gavlin dengan memegang senjata bom roket di tangannya. Wajah Gavlin tersenyum menyeringai jahat.
"Mampus kamu, Bram!!" Ujar Gavlin geram dan marah.
Gavlin merasa puas, karena dia berhasil meledakkan rumah Bramantio, dan Gavlin mengira, jika Bramantio ada di dalam rumah, dan ikut meledak, lalu mati.
Dia tak tahu, jika saat ini, Bramantio ada di luar rumahnya, karena berkelahi dengan Jafar, lalu pingsan di luar rumahnya, Nyawa Bramantio pun selamat.
Bramantio tampak lega, hampir saja dia mati konyol di bom, seandainya dia berada dalam rumahnya.
Dengan cepat, Bramantio bangun, dia lantas berlari ke luar rumahnya, dengan wajah yang ketakutan.
Gavlin segera turun dari atas pohon besar dan tinggi, sambil membawa senjata bom roketnya.
Bramantio berlari, lalu berdiri di trotoar jalanan, dari atas pohon, Gavlin melihat Bramantio yang tengah menghentikan mobil taksi.
"Bedeeeebbbaaah!! Ibliiis itu belum matiii ternyataa!!" geram Gavlin marah.
Dia melihat, Bramantio masuk ke dalam taksi, dia pun bergegas turun dari atas pohon. Gavlin lantas melompat, lalu berlari menuju motornya.
Gavlin menyelempangkan senjata bom roket di bahunya, dia lalu memakai helmnya, lantas, dia segera naik ke atas motornya.
Setelah motor menyala, dia langsung menjalankan motornya dengan cepat, Gavlin mengejar Bramantio, yang pergi melarikan diri, dengan menggunakan taksi.
Sementara, kobaran api, dari bom roket yang meledak, tampak membesar, dan melahap seluruh bagian rumah besar, mewah dan megah milik Bramantio.
Semua harta benda Bramantio, hancur, dan musnah , akibat di bom Gavlin.
Di dalam taksi, wajah Bramantio tampak takut, duduknya gelisah, dia tidak tenang.
"Siapa yang meledakkan rumahku?!" Bathin Bramantio bicara.
Dia tampak berfikir, siapa yang telah berani meledakkan rumahnya. Wajah Bramantio pun kemudian sedih, karena, harta benda dan kekayaannya semua musnah.
Di atas motornya, Gavlin mengendarai motornya dengan kencang, dia ingin, menyusul taksi yang di gunakan Bramantio.
Jarak antara taksi dan motornya cukup jauh, saat di pertigaan jalan, taksi berbelok ke kiri, dari kejauhan, Gavlin melihat taksi berbelok ke arah kiri.
Gavlin pun memacu motornya dengan lebih cepat, setibanya di pertigaan jalan, dengan cepat, Gavlin berbelok ke kiri, lantas dia melanjutkan pengejarannya.
Namun, baru beberapa saat dia berbelok dan mengejar, dia lantas menghentikan motornya. Dia tampak bingung, karena di depannya ada pertigaan jalan kecil lagi.
Gavlin kehilangan taksi Bramantio, dia bingung, jalan mana yang di pilih taksi Bramantio.
Gavlin membuka kaca helm penutup wajahnya, dia tampak geram dan marah.
"Siaaall !! Aku kehilangan jejak!!" Ujar Gavlin geram dan marah.
"Keparat kamu, Bram!! Teriak Gavlin, melampiaskan amarahnya, di atas motor.
Gavlin lantas menutup kaca helmnya lagi, lalu, dia pun segera pergi dari pertigaan jalan tersebut.
Gavlin berbalik arah.
Di dalam taksi, tampak Bramantio sedang menelpon seseorang. Wajahnya tampak tegang dan serius.
"Hanya kamu satu satunya sekarang yang bisa melindungiku ! Rumahku baru aja di bom! Aku gak tau, harus sembunyi dimana!!" Ujar Bramantio, bicara di teleponnya.
"Biarkan aku nginap malam ini dirumahmu!" Ujar Bramantio dengan wajah memelas dan memohon, ditelepon.
"Ok. Trima kasih, aku akan segera kerumahmu, tunggu aku!" tegas Bramantio, di telepon.
Bramantio lantas menutup teleponnya, dia kemudian menyimpan ponselnya, kedalam kantong celananya.
"Kita ke komplek Brimob, Pak !" tegas Bramantio, pada supir taksi.
"Baik, Pak." Jawab supir taksi.
Bramantio menarik nafasnya, dia berusaha menenangkan dirinya, dia sedikit tenang, karena paling tidak, malam ini, dia berada di tempat paling aman.
Orang yang dihubungi Bramantio, satu satunya orang yang bisa melindungi dan menyelamatkan nyawanya, karena orang tersebut, yang selama ini, berada dibelakang Bramantio, dan melindunginya.
__ADS_1