
Gavlin masuk ke dalam mobilnya yang parkir di garasi rumah bawah tanahnya. Pintu gerbang otomatis bawah tanah terbuka, Gavlin lantas segera menjalankan mobilnya, keluar dari dalam garasi mobil.
Mobil Gavlin meluncur dari dalam garasi rumah bawah tanah keluar ke halaman belakang rumahnya, yang ada di samping rumahnya yang sudah hancur berantakan.
Saat mobil meluncur bergerak keluar dari dalam garasi rumah bawah tanah, tiba tiba saja, Gavlin mendapatkan berondongan tembakan senapan bertubi tubi dari arah luar, tepatnya di sekitar pekarangan halaman belakang rumahnya.
Gavlin kaget karena mobilnya di tembaki, dari dalam mobil dia melihat, begitu banyaknya tentara bayaran berdiri sambil menyerangnya dengan menembakkan senapan mesin ke arah mobil Gavlin.
Gavlin terkesiap kaget, dia terjepit di dalam mobilnya, Gavlin berusaha melindungi dirinya, agar tak terkena hantaman peluru yang ditembakkan.
Dia kaget, karena tiba tiba saja dia mendapatkan serangan mendadak, dan tempat persembunyiannya sudah di ketahui tentara bayaran suruhan Binsar.
Seorang tentara bayaran berdiri tepat tidak jauh dari mobil Gavlin yang berhenti di depan pintu masuk gerbang garasi rumah bawah tanahnya. Gavlin kaget melihat seorang tentara bayaran memegang bazoka di tangannya.
Lalu, dengan cepat, tentara bayaran itu menembakkan bazokanya pada mobil Gavlin, Gavlin dengan gerak cepat membuka pintu samping mobilnya, lalu melompat keluar dari dalam mobilnya.
Mobil Gavlin meledak dan hancur akibat terkena tembakan bazoka yang dilepaskan seorang tentara bayaran.
Gavlin terluka, lengannya terkena pecahan ledakan mobilnya, Gavlin berusaha berdiri, namun, satu tembakan mengenai tubuhnya, Gavlin tertembak di perut dan tangannya. Gavlin pun menahan sakitnya, memegang luka tembaknya.
Gavlin mengambil pistol dari pinggangnya, lalu, dengan pistol itu dia mencoba menyerang dan memberi perlawanan, aksi tembak menembak antara Gavlin yang seorang diri terjadi dengan pasukan tentara bayaran yang berjumlah 25 orang itu. Gavlin semakin terpojok, dia tak bisa melawan para tentara bayaran yang menggunakan senapan mesin.
Gavlin lantas berlari masuk ke dalam rumah bawah tanahnya untuk berlindung dan menyelamatkan dirinya, dia berlari dengan kondisi tubuh yang terluka akibat terkena tembakan.
Para tentara bayaran mengejarnya, mereka berjalan sambil terus menembaki Gavlin, mereka masuk ke dalam rumah bawah tanah Gavlin.
Di dalam rumahnya, Gavlin dengan tubuh berdarah dan luka parah bertemu Chandra yang kaget melihat Gavlin luka parah.
"Kamu kenapa terluka?!" tanya Chandra kaget.
"Kita di serang, kamu cepat pergi,selamatkan nyawamu, pakai motorku, cepat!!" ujar Gavlin, sambil meringis menahan sakit pada luka tembak di perut dan tangannya.
Gavlin memberikan kunci motornya pada Chandra, Chandra dengan wajah bingung menerima kunci motor Gavlin, dia masih berdiri terpaku karena masih bingung dengan situasi dan kondisi Gavlin.
"Jangan diam, cepat pergi!!" bentak Gavlin.
__ADS_1
Chandra masih diam dan gugup, terdengar suara tembakan ke arah mereka, Chandra kaget, begitu juga Gavlin, mereka berdua melihat tentara bayaran sudah masuk ke dalam rumah bawah tanah.
Gavlin dengan kesal langsung mendorong chandra ke balik lemari yang ada di ruangan itu, di belakang lemari ada pintu rahasia, Chandra yang di dorong Gavlin lalu masuk ke dalam lemari, lemari kembali menutup, di belakang lemari, di ruang rahasia, Chandra bingung, dia cemas dengan keadaan Gavlin.
Chandra ragu dan berat untuk pergi meninggalkan Gavlin yang dalam kondisi terluka parah itu, namun, tak ada pilihan lain buat dirinya, dia harus lari dan menyelamatkan dirinya seperti yang di minta Gavlin, dan Gavlin sudah mengorbankan dirinya dengan memberikan dia kunci motor agar di pakainya untuk melarikan diri.
Lalu, dengan cepat, Chandra pun bergegas menyusuri ruang rahasia, lalu, dia segera naik ke atas motor Gavlin yang ada di ruang rahasia, dengan kunci yang diberikan Gavlin, dia lantas menyalakan mesin motor, lalu, Chandra memakai helm dan segera naik ke atas motor, dan kemudian segera menjalankan motor. Motor pun melaju keluar dari ruang rahasia tersebut.
Di luar, Motor yang dikendarai Chandra melesat, dia disambut dengan berondongan tembakan dari para tentara bayaran yang berjaga jaga di luar, Chandra menghindar, dengan cepat dia menjalankan motornya, dia menerobos para tentara bayaran, Motor melesat dan pergi menjauh dari para tentara bayaran yang terus menembakinya, Chandra lolos dan berhasil melarikan diri.
Sementara itu, Gavlin dengan sisa sisa tenaganya bergegas lari masuk ke dalam kamar rahasianya yang khusus menyimpan senjata senjatanya. Tak ada yang mengetahui ruangan tersebut, karena pintu masuknya menyatu dengan tembok rumah.
Para tentara bayaran yang masuk ke dalam rumah bawah tanah Gavlin segera menyusuri seluruh area rumah, mereka mencari keberadaan Gavlin, semua tempat di telusuri mereka, mencari dimana Gavlin bersembunyi.
Di dalam kamar, dari layar monitor dia melihat pada kamera cctv, begitu banyaknya pasukan tentara bayaran yang masuk ke dalam rumahnya.
Gavlin sadar, tempatnya sudah terlacak, akibat Chandra menggunakan ponselnya rutin sekali beberapa saat setelah dia tinggal dirumah Gavlin, sehingga mudah bagi tentara bayaran suruhan Binsar melacak keberadaan Chandra melalui nomor telepon dan sinyal ponselnya.
Gavlin meringis kesakitan, dia mengambil kotak obat obatan dari dalam laci lemari tempat senjatanya, lalu, dia segera mengobati luka tembak di perut dan tangannya.
Gavlin menaburi bubuk obat luka pada perutnya yang tertembak, lalu, dia segera mengikat luka perutnya dengan perban, begitu juga dengan tangan kirinya yang juga terkena tembakan.
Gavlin berusaha menguatkan dirinya agar tetap bisa berdiri tegak, lalu, dengan sisa sisa tenaganya, dia lantas mengambil senjata senjata yang dia perlukan dari dalam lemari khusus penyimpanan senjata.
Diletakkannya senjata senjata ke dalam tas ransel besar dan panjangnya, lalu, tidak lupa juga Gavlin mengambil beberapa butir granat untuk dia gunakan menyerang para tentara bayaran yang sudah menyusup masuk ke dalam rumahnya.
Lalu, dari layar monitor laptop dia melihat ke kamera cctv, dimana tampak jelas, para tentara bayaran menembaki seluruh ruangan rumah bawah tanah Gavlin hingga hancur berantakan.
Gavlin terlihat geram dan sangat marah sekali melihat hal itu, lalu, dia memegang perutnya yang sudah dia obati itu, kemudian, dengan susah payah, dia melangkah mendekati pintu masuk ke kamarnya, pintu terbuka sedikit, Gavlin lantas mengintip keluar, melihat situasi di sekitar ruangan dalam rumahnya itu.
Dari kamera cctv yang dia lihat di layar monitor laptop Gavlin tahu, di mana saja para tentara bayaran berdiri saat ini. Lalu, Gavlin dari balik pintu melemparkan granat granat ke arah para tentara bayaran.
Granat granat meledak dan hancur berkeping keping, para tentara bayaran beberapa ada yang tewas terkena ledakan dari granat yang di lemparkan Gavlin.
"Kurang ajaar!! Cari dia sampai dapat, dan bunuh di tempat!!" perintah komandan tentara bayaran pada anak buahnya.
__ADS_1
"Siap komandan!!" ujar salah seorang anggota tentara bayaran.
Mereka lantas kembali menyusuri ruangan, mencari cari tempat persembunyian Gavlin, Gavlin yang sudah sangat marah sekali lantas keluar dari dalam kamar sambil membawa senapan senapannya yang dimasukkannya ke tas ransel besarnya. Dia juga memegang senapan mesin ditangannya.
Lalu, dengan kalap dan penuh amarah, Gavlin pun menyerang para pasukan tentara bayaran itu, dia membabi buta menembaki senapan mesinnya.
Melihat hal itu, para pasukan tentara bayaran kocar kacir, mereka berhamburan berlari mencari tempat persembunyian, begitu juga dengan komandan tentara bayaran, dia berlindung di balik tembok.
Gavlin kalap, dia sudah sangat marah sekali, dia tak perduli dengan luka di tangan dan di perutnya yang terus mengeluarkan darah dari balutan perbannya. Gavlin menembaki tentara bayaran. Aksi tembak menembak terjadi di dalam rumah bawah tanah Gavlin.
Gavlin sendirian menghadapi puluhan tentara bayaran yang lengkap dengan senapan mesinnya ditangan mereka.
Gavlin menghindar dan bersembunyi di balik tiang pilar yang ada di dalam ruang rumah bawah tanahnya itu, lalu, Gavlin kembali menyerang, dia menembaki tentara bayaran.
Namun naas, Gavlin kembali terkena tembakan, dan kali ini kakinya yang terkena tembakan, hingga Gavlin pun tersungkur jatuh kelantai, senapan terlepas dari tangannya, begitu juga tas ransel besar yang di bawanya, Gavlin berusaha bangun, dengan susah payah dia berdiri dan berjalan sambil menyeret tas ransel besar berisi senjata senjatanya, dia mundur, dan kembali ke dalam kamarnya.
Para pasukan tentara bayaran yang melihat Gavlin terluka, lalu, cepat mendekat dengan terus menembaki Gavlin, Gavlin dengan susah payah dan dengan sisa sisa tenaganya mencoba masuk ke dalam kamarnya.
Lalu, dengan cepat Gavlin menutup pintu kamar khususnya itu, dia lalu terduduk di lantai, bersandar pada pintu masuk kamar khususnya. Gavlin melihat luka di kakinya yang mengeluarkan darah segar akibat terkena tembakan, dia meringis menahan sakitnya.
Gavlin terpojok, dia tak bisa melarikan diri saat ini, mengingat kondisinya yang terluka dibagian perut, tangan dan kakinya, dan karena banyak mengeluarkan darah, tubuhnya semakin melemah.
Hanya berdiam diri dan bersembunyi di dalam kamar khususnya saja yang bisa dia lakukan saat ini, dengan berharap, para tentara bayaran tidak menemukan letak pintu rahasia untuk masuk ke dalam kamar khususnya itu.
Kali ini, Gavlin benar benar kewalahan, dia tak sanggup melawan para pasukan tentara bayaran yang memang sangat terlatih dalam berperang.
Apalagi Gavlin mendapatkan luka yang cukup serius, sehingga dia tak mampu untuk melawan para pasukan tentara bayaran yang sudah masuk ke dalam rumah bawah tanahnya.
"Bagaimana? Belum ketemu juga?!" tanya Komandan.
"Belum Komandan! Dia menghilang seperti di telan bumi!" tegas salah seorang tentara bayaran.
"Cari sampe ketemu!! Saya yakin, ada ruang rahasia di dalam sini, tempat dia bersembunyi!!" tegas Komandan memberi perintah.
"Baik, akan kami periksa lagi!" ujar seorang tentara bayaran.
__ADS_1
Lalu, tentara bayaran kembali menyusuri seluruh ruangan rumah bawah tanah, mencari keberadaan Gavlin yang bersembunyi.
Sementara itu, di dalam kamar khususnya, Gavlin yang masih duduk di lantai semakin terlihat lemah, wajahnya mulai memucat, dia semakin lemas tak berdaya, tiba tiba saja, tubuhnya terkulai lemah tak berdaya, Gavlin pun kemudian tak sadarkan diri, terkulai lemah duduk dilantai dengan kondisi yang terluka cukup parah.