VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Gavlin Mengamuk


__ADS_3

Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya di hadapan Aamauri yang sudah mulai kesal dan marah itu.


"Maaf, Pak. Malik terpaksa membunuh Jackson untuk membantu saya." Ujar Gavlin, menatap wajah Aamauri.


"Iya, apa alasannya?!" Tanya Aamauri, dengan nada tegasnya bertanya pada Gavlin.


Gavlin yang tak bisa mendengar bentakan pada dirinya langsung berubah wajahnya, kepribadian ganda yang ada di dalam dirinya langsung bangkit, kalau saja Gavlin tak sadar dan bisa mengendalikan dirinya, tentu dia sudah menyerang Aamauri, karena sebagai psikopat, Gavlin tak bisa menerima dirinya di bentak dan di marahi siapapun juga.


"Karena Jackson ingin menghalangi Malik yang mau membawa Binsar ! Sementara Malik mau menggantikan saya untuk membunuh Binsar dengan cara meledakkannya dalam pesawat!" Tegas Gavlin, sambil menahan diri agar tetap tenang dan tak marah pada Aamauri.


"Jackson mau melapor ke Bapak, kalo Malik membuat saya pingsan dan mengikat saya, Dia juga ingin mencegah Malik membawa Binsar, Malik sebelumnya sudah ingatkan, tapi Jackson tetap berkeras dan malah gak mau nuruti omongan Malik!" Lanjut Gavlin, memberi penjelasan.


"Akhirnya, gak ada jalan lain buat menghentikan Jackson, Bapak pasti tau sendiri bagaimana tabiat Jackson. Satu satunya cara yang bisa di lakukan Malik yaitu membunuh Jackson!" Tegas Gavlin.


"Malik sudah gak punya waktu lagi, Pak. Gak bisa berlama lama, karena pesawat sudah menunggu lama. Dia harus segera membawa Binsar pergi. Makanya dia bunuh Jackson!" ujar Gavlin lagi.


"Oh, begitu. Lantas, kemana mayat Jackson di sembunyikan Malik?" tanya Aamauri, menurunkan emosi marahnya, setelah mendengar penjelasan Gavlin.


"Ya, Bapak memang memberi izin pada Malik, Dia boleh menggunakan cara apapun untuk mencegah kamu melakukan bom bunuh diri, tapi gak pernah menyangka, kalo Jackson malah jadi korbannya." Ujar Aamauri, menatap tajam wajah Gavlin.


"Malik gak sembunyikan mayat Jackson, Pak. Dia membawa mayatnya di dalam mobil, lalu, pak Pablo yang meletakkan mayat Jackson di dalam pesawat, sebelumnya, wajah Jackson sengaja di hancurkan Malik, agar gak ada yang bisa mengenali sosoknya." Ujar Gavlin, menjelaskan pada Aamauri.


"Malik berniat, membuat mayat Jackson seolah olah sosok saya yang mati dalam ledakan pesawat, Malik sengaja mencuri kartu identitas saya dan menyimpannya di dalam kantong celana Jackson, agar saat Polisi menemukan mayatnya di puing pesawat yang jatuh, Polisi mengira, kalo mayat Jackson adalah mayat saya." Ungkap Gavlin, memberi penjelasan pada Aamauri.


"Dengan begitu, Semua orang akan mengira, jika mayat yang ditemukan selain mayat Binsar di puing pesawat yang jatuh adalah saya, Pak. Jika Polisi di negara ini dan juga di negara saya tau, kalo saya yang mati di dalam pesawat yang meledak, maka, secara otomatis, saya akan terhapus dari daftar buronan kepolisian selamanya, karena menganggap saya sudah mati, dan kasus saya selama ini di tutup pihak kepolisian." Ujar Gavlin, memberi penjelasan pada Aamauri.


"Oh, begitu." Ujar Aamauri mengangguk mengerti dan paham akan penjelasan Gavlin.


"Ya, Pak. Semua yang di lakukan Malik untuk membantu saya, Malik juga telah mengorbankan dirinya, hingga terluka parah. Jika gak ada pak Pablo, mungkin saja Binsar lolos dan melarikan diri lagi." Ungkap Gavlin, dengan wajahnya yang serius menjelaskan pada Aamauri.


"Baiklah. Bapak bisa menerima alasan Malik membunuh Jackson. Karena semua dilakukannya untuk dirimu." Ujar Aamauri, menatap serius wajah Gavlin yang duduk di hadapannya.


"Iya, Pak." Angguk Gavlin, dengan wajahnya yang lega, karena pak Aamauri tidak marah lagi dan bisa menerima alasan Malik membunuh Jackson.


"Sekarang, kamu temani Bapak, kita temui Malik di tempatnya Pablo, sekalian, Bapak mau berterima kasih dengan Pablo, karena sudah menyelamatkan nyawa Malik, anggota gank mafia Bapak ." Ujar Aamauri, menjelaskan pada Gavlin.


"Ya, Baik Pak." Ujar Gavlin.


Lantas, Aamauri segera berdiri dari duduknya di sofa, Gavlin juga ikut berdiri, Mereka berdua lantas berjalan pergi keluar dari dalam ruang kantor milik Aamauri.


---


Di sebuah gedung tempat akan berlangsungnya acara pernikahan Gavlin bersama Indri nantinya, terlihat Indri sedang mengawasi para pekerja yang sedang sibuk mendekorasi ruangan dan membuat pelaminan di dalam ruangan gedung yang megah tersebut.


"Sempurna hasilnya. Ini benar benar sangat bagus dan Indah." Ujar Indri, tersenyum senang, melihat hasil dekorasi para pekerja.


"Ini belum semuanya selesai, Bu. Masih ada yang harus kami dekorasi, terutama di bagian halaman gedung ini." Ujar Rani, yang bertindak sebagai penanggung jawab dari pembuatan dekorasi pengantin Indri tersebut.


"Iya, gak apa apa, yang penting, sebelum hari Pernikahan saya, semuanya sudah selesai." Ujar Indri, tersenyum ramah pada Rani.


"Ya, Bu. Itu Pasti." Ujar Rani, tersenyum juga pada Indri.


"Ya, sudah, silahkan di lanjut kerjaannya." Ujar Indri.


"Baik, Bu." Angguk Rani.

__ADS_1


Indri lalu berjalan pergi meninggalkan Rani yang lantas kembali bekerja dengan mengawasi para pekerjanya yang sedang mendekor pelaminan.


---


Gavlin dan Aamauri tiba di rumah Pablo, Pablo datang menyambut kedatangan mereka, wajah Pablo sangat senang sekali melihat Aamauri datang kerumahnya. Mereka saling berpelukan.


"Apa kabar Aamauri, lama kita gak bertemu. Kamu terlihat sehat dan segar bugar saja walau semakin tua." Ujar Pablo, tertawa melihat Aamauri.


"Kamu juga Pablo. Tetap gagah seperti waktu muda dulu." Ucap Aamauri, tertawa senang melihat Pablo sambil melepaskan pelukannya.


"Vlin, Kami ini dulunya berteman baik, setiap ada perang antar gank mafia, Pablo dan ganknya pasti selalu bergabung dengan gank mafia kita." Ujar Aamauri, memberi penjelasan pada Gavlin.


"Oh, begitu. Maaf, saya baru tau, Pak Pablo, kalo ternyata, selain bersahabat dengan pak Wicak, Bapak juga berteman baik dengan Pak Aamauri." Ujar Gavlin, memberi hormat pada Pablo.


"Santai saja , Vlin. Dunia permafiaan sempit, pasti saling mengenal dan saling berhubungan satu sama lainnya." Ujar Pablo, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


"Iya, Pak." Ujar Gavlin.


"Saya sudah banyak mendengar sepak terjang kamu selama ini dari pak Wicak dan juga Malik, kamu ternyata sangat ganas membunuh musuh musuhmu." Ujar Pablo, kagum pada sosok Gavlin.


Gavlin diam tak menjawab, dia hanya memberikan senyumannya saja pada Pablo yang memberi pujian padanya.


"Oh, ya. Mana Malik?" tanya Aamauri pada Pablo.


"Ada di kamar, sedang istirahat, mari kita ke dalam." Ujar Pablo, mengajak Aamauri dan Gavlin masuk ke dalam rumahnya.


Lalu, mereka bertiga lantas berjalan masuk ke dalam rumah Pablo yang sangat luas dan megah itu, Aamauri sudah tak sabar ingin melihat Malik.


Di dalam kamar, Malik sedang rebahan di kasurnya, tak berapa lama, pintu kamar terbuka, lalu, Pablo masuk ke dalam kamar dengan di ikuti Aamauri dan juga Gavlin.


Melihat Aamauri dan Gavlin masuk ke dalam kamar bersama Pablo dan berjalan mendekati dirinya, Malik cepat bangun dan duduk bersandar di ranjangnya.


Malik selalu menyebut Aamauri dengan sebutan 'Bos' saja. Dia melihat Aamauri yang berdiri disamping ranjang bersama Gavlin dan juga Pablo.


"Bagaimana kabarmu, Lik? Saya sudah mendengar semuanya dari Gavlin, juga tentang kematian Jackson." Ujar Aamauri, menatap tajam wajah Malik.


"Saya sudah lebih baik dan sehat, Pak. Secepatnya saya akan kembali ke markas." Ujar Malik pada Aamauri.


"Dan maaf, karena saya sudah membunuh Jackson. Saya terpaksa melakukannya, demi Gavlin." Ujar Malik, dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Ya, gak apa apa. Bapak bisa memahami perbuatanmu, jangan kamu pikirkan lagi, anggap aja masalah itu gak pernah ada." Ujar Aamauri, tersenyum senang menatap wajah Malik yang duduk bersandar di ranjangnya.


"Dan, Aku berterima kasih padamu, Pablo. Karena telah menyelamatkan nyawa Malik." Ujar Aamauri, menatap wajah Pablo yang berdiri di sampingnya.


"Ya, sama sama. Demi pertemanan kita sesama gank mafia." Ujar Pablo, tersenyum senang.


Aamauri tersenyum mengangguk, Gavlin senang melihat keakraban Pablo dan Aamauri, Dia tak menyangka, jika selama tinggal di negara Prancis, dirinya aman, karena di kelilingi oleh orang orang hebat dan punya sahabat yang baik seperti Malik.


---


Dan kini, tiba saatnya hari yang di nanti nanti Gavlin juga Indri, Hari pernikahan mereka akan di laksanakan, terlihat Gavlin dan Indri sudah berada di pelaminannya. Bersiap siap untuk melaksanakan proses pernikahan diantara keduanya.


Kebahagiaan terpancar di wajah Gavlin dan juga Indri. Tamu tamu sudah banyak yang datang, walau acara belum di mulai.


Terlihat diantara Gavlin dan Indri, ada pak Aamauri bersama Malik dan juga beberapa anggota gank mafianya. Selain itu, hadir juga diantara mereka Pablo, yang juga datang di kawal bersama anggota gank mafia pimpinannya.

__ADS_1


Suasana terlihat sangat meriah, pesta pernikahan di gelar dengan sangat mewahnya. Pak Sarono juga terlihat sudah hadir di tempat itu, dia berdiri bersama Rifai dan kedua orang tua Rifai serta rekan rekan kerja orang tua Rifai dan juga pak Sarono.



Tiba tiba saja, datang sekelompok orang dengan membawa golok masing masing di tangannya, mereka berlari menyerang orang orang yang hadir di gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan Gavlin dan Indri.


Sontak para tamu undangan yang hadir berteriak dan lari ketakutan, menghindar dari amukan sekelompok orang yang datang tiba tiba sambil membacok setiap orang yang ada di dekatnya.


"Teriakan apa itu?!" Ujar Aamauri, kaget mendengar suara teriakan histeris dari para tamu undangan.


Malik melihat para tamu berlari berhamburan teriak ketakutan, Pablo dan Aamauri melihat kedatangan sekelompok orang bersenjata golok ditangannya, berlari ke arah Gavlin dan juga Indri.


Melihat kedatangan sekelompok penjahat itu, Rifai cepat membawa kedua orang tuanya dan juga pak Sarono, untuk bersembunyi dan menghindar dari amukan sekelompok orang yang terlihat sangat marah itu.


"Lindungi Istrimu, Vlin. Mereka pasti datang mau menyerangmu!!" Teriak Aamauri pada Gavlin.


"Baik, Pak." Ujar Gavlin.


"Kamu tenang saja di sini bersamaku, In." Ujar Gavlin, menatap wajah Indri yang mulai takut dan panik itu.


Gavlin bersiap siap, dia memegangi kuat tangan Indri, melindungi kekasih hatinya agar tak di lukai sekelompok orang tersebut.


Gavlin melihat Malik sudah memberi perlawanan , Malik bersama anggota gank mafianya dan juga anggota gank mafia Pablo memberi perlawanan pada sekelompok orang yang datang mengamuk itu.


Ada sekitar 50 orang yang datang dengan membawa golok, mengamuk, membantai semua orang yang ada di dekatnya.


"Kurang ajar !! Berani beraninya mereka merusak suasana kebahagiaan ini!!" Ujar Aamauri dengan wajah geram dan marahnya.


"Santai, kita tunggu saja di sini, jika ada yang berusaha mendekati Gavlin, baru kita hajar! Sekarang, serahkan saja pada anggota kita, biar mereka yang menghadapi mereka itu." Ujar Pablo, menenangkan diri Aamauri yang marah itu.


Terlihat tiga orang berlari mendekat ke arah Gavlin, Dua orang lantas menyerang Aamauri dan Pablo yang berdiri di depan Gavlin dan juga Indri, memberi perlindungan pada keduanya.


Aamauri dan Pablo dengan tenang meladeni serangan kedua orang tersebut, dengan mudahnya Aamauri dan Pablo bisa menghindari sabetan golok dari dua orang yang menyerang mereka.


Salah seorang dari kelompok yang datang menyerang dengan geram dan marah menatap Gavlin yang berdiri di pelaminan bersama Indri.


Orang itu lalu mengambil pistol dari pinggangnya, ternyata , selain membawa golok, sekelompok orang itu juga membawa pistol. Terjadi baku tembak juga antara sekelompok orang yang datang menyerang dengan anggota gank mafia Aamauri dan juga Pablo.


Seorang yang berdiri tidak jauh di hadapan Gavlin dan Indri itu lantas melepaskan tembakan dari pistol ditangannya. Indri melihat orang tersebut yang mencoba menembak Gavlin.


"Awaaaas Vliiin!!" teriak Indri.


Sambil berteriak keras mengingatkan Gavlin, Indri cepat bergerak ke depan Gavlin dan memeluk tubuh Gavlin.


Peluru mengenai punggung Indri, hingga mengeluarkan darah, Gavlin yang memeluk Indri juga merasakan darah mengalir di tangannya. Gavlin cepat melihat Indri.


"Iiinnn...Indriiii!!" Teriak Gavlin, panik melihat Indri yang berlumuran darah di bagian punggungnya.


Indri tampak memucat dan tubuhnya melemah, cepat Gavlin mendudukan Indri di bangku pelaminan, wajahnya sedih melihat Indri, tiba tiba saja Indri jatuh pingsan.


"Indriii...!! Tidaaaaaakkkkk !!! Jangan laaagiii...Jangan lagi pergi meninggalkankuuuu!!" Teriak Gavlin histeris.


Tiba tiba saja terlintas dalam pikirannya, tentang kejadian yang menimpa Maya, sama persis seperti Indri yang terkena tembakan karena melindungi dirinya dan menjadi tameng buat Gavlin. Gavlin takut kehilangan Indri, Dia tak ingin Indri mati seperti Maya dulunya.


"Kepaaaaraaaattt !! Ku potong potòng kamuuuu!!" Teriak Gavlin, penuh amarah.

__ADS_1


Aamauri dan Pablo yang sedang bertarung dengan dua orang penjahat kaget mendengar teriakan Gavlin yang penuh emosi marah itu.


Pablo dan Aamauri juga Malik melihat Indri yang terbaring pingsan di bangku pelaminan, mereka melihat gaun pengantin yang di pakai Indri berlumuran darah, mereka tahu, Indri terkena tembakan. Karena itu Gavlin mengamuk dan sangat marah sekali saat ini. Gavlin melompat menerjang ke depan, menghampiri orang yang telah menembak Indri.


__ADS_2