
Sarono menatap lekat wajah Gavlin yang tampak tengah menyembunyikan rasa dendam membara dalam jiwanya.
"Nak Gavlin, tadi kamu bilang, waktu pembakaran rumah, kamu berhasil keluar dengan adikmu. Lantas, dimana adikmu sekarang?" tanya Sarono, dengan wajahnya yang ingin tahu.
Gavlin diam dan tercenung sesaat, Gavlin berusaha mengingat kembali tentang adiknya, wajahnya tampak sedih, dia lantas menghela nafasnya.
"Adik saya meninggal di rumah sakit, Pak." ujar Gavlin lirih.
"Meninggal? Kenapa?" tanya Sarono kaget.
Indri pun terkesiap kaget, dia semakin iba pada Gavlin mengetahui adiknya telah meninggal.
"Adik saya punya penyakit parah, Pak. Saya gak ada uang ngobatinya. Saat kejadian itu dan Om Gatot membawa kami ke rumah sakit, adik saya yang mengalami sesak nafas dan kambuh penyakitnya gak bisa tertolong, saat itu juga dia meninggal dirumah sakit." jelas Gavlin.
Gavlin menundukkan wajahnya, dia menahan kesedihan atas meninggalnya adiknya dulu. Dan dia juga menyalahkan Jafar bersama komplotannya, karena menurutnya, karena mereka lah adiknya meninggal, jika rumah mereka tidak dibakar, tentu adiknya akan baik baik saja dulu. Namun, semua sudah terjadi, dan Gavlin hanya focus untuk membalas dendam, dia tak mau terus larut dalam kesedihan mengingat kematian adiknya.
"Maafkan Bapak nak Gavlin, Bapak gak bermaksud membuka kenangan lama kamu." ujar Sarono, merasa tak enak hati.
"Tidak apa apa, Pak." jawab Gavlin tersenyum ramah.
"Memang seharusnya Bapak tau saya, agar saya gak seperti orang asing dan misterius yang tinggal dirumah Bapak." jelas Gavlin.
"Ya nak Gavlin." jawab Sarono, tersenyum ramah.
Tiba tiba, di luar rumah terdengar suara mobil mobil datang dan masuk ke pekarangan halaman rumah bilik kayu Sarono. Indri, Sarono dan Gavlin saling pandang, mereka heran, siapa yang datang.
Indri cepat berdiri dan berlari kedepan rumahnya. Sementara Sarono dan Gavlin masih duduk diam di ruang tamu.
Indri mengintip dari balik horden jendela, dia melihat ke arah luar rumah, Indri kaget, karena ada 5 mobil unit kepolisian yang datang, lalu Indri juga melihat, ada banyak polisi yang keluar dari dalam mobil.
Indri panik dan cemas, dia tahu, polisi itu pasti datang mencari Gavlin, Indri lalu berlari menghampiri Sarono dan Gavlin yang duduk di ruang tamu.
"Ada polisi di luar!" ujar Indri, dengan wajahnya yang panik.
"Polisi ?!" Sarono terhenyak kaget.
Sementara Gavlin tetap bersikap tenang dan santai mendengar Polisi datang ke rumah Sarono, tak ada ketakutan atau pun panik di wajah Gavlin, dia tetap duduk santai dan tenang.
"Nak Gavlin, sebaiknya kamu sembunyi dulu, jangan sampai polisi itu menangkapmu!" ujar Sarono cemas.
"Gak apa, Pak. Saya akan menghadapi mereka." jelas Gavlin tenang.
"Jangan nak Gavlin. Kamu harus sembunyi, kalo kamu tertangkap, bagaimana kamu bisa membalaskan dendam kedua orang tuamu? Kamu akan mendekam dalam penjara !" tegas Sarono, mengingatkan Gavlin.
Gavlin terdiam, dia berfikir sesaat, pintu rumah terdengar diketuk berkali kali, Gavlin melirik ke arah pintu, dia lantas menatap wajah Sarono dan Indri bergantian, mereka berdua tampak cemas pada Gavlin.
"Baiklah, Pak. Saya akan sembunyi." ujar Gavlin.
"Ya, cepatlah !" ujar Sarono cemas.
Gavlin lantas berdiri dari duduknya di sofa, dia pun bergegas lari ke belakang rumah Sarono, Indri mengikuti Gavlin.
__ADS_1
Polisi terus menggedor pintu rumah Sarono, mereka tak akan berhenti mengetuk pintu sebelum pintu di buka.
Di belakang rumah, saat Gavlin hendak keluar dari pintu belakang, sebelumnya Gavlin mengintip terlebih dahulu, dia tak jadi keluar rumah melalui pintu belakang, sebab, di belakang rumah, sudah ada 3 Polisi yang berjaga jaga. Gavlin diam sesaat untuk berfikir.
"Vlin, ke sini !" ujar Indri, dengan suara sedikit pelan.
Gavlin lantas menoleh pada Indri yang memanggilnya dan berdiri dibelakangnya, Gavlin pun menghampiri Indri.
"Ikut aku!" Ajak Indri.
Gavlin lantas bergegas ikut dengan Indri yang berjalan masuk ke ruang tengah rumahnya. Indri membuka karpet yang ada di lantai rumah. Ada sebuah pintu rahasia di bawah lantai beralaskan kayu. Gavlin heran, Indri cepat membuka pintu rahasia di lantai rumahnya.
"Cepat masuk ke sini !" ujar Indri, dengan suaranya yang pelan.
Gavlin tanpa bertanya langsung masuk ke dalamnya, lalu, Indri menutup pintunya, kemudian, dia merapikan karpet seperti semula di lantai.
Di dalam ruangan yang gelap, Gavlin heran, dia baru tahu, kalau ternyata di rumah Sarono ada ruang bawah tanah, di dalam ruangan itu, di penuhi barang barang rongsokan, ada juga mesin jahit usang dan sudah rusak.
Gavlin lantas duduk di sebuah bangku kayu, dia diam menunggu di dalam ruang bawah tanah.
Sementara, Sarono membukakan pintu rumahnya, lalu dia keluar menemui para polisi yang sudah berdiri di depan pintu teras rumahnya.
"Selamat sore, Pak. Benar Bapak bernama Sarono?" tanya Salah satu Petugas Penyidik Kepolisian.
"Ya, betul. Saya sendiri." jawab Sarono, dengan sikap tenangnya.
Sarono melihat pangkat yang ada di seragam Petugas Polisi yang bertanya padanya, dia tahu, kalau Polisi itu pemimpinnya.
Sarono lantas keluar, dan dia berdiri di teras rumahnya, Indri berdiri diruang tamu, dia melihat ke arah luar, dia cemas pada Bapaknya.
Petugas itu menunjukkan photo Amir pada Sarono, Sarono lantas melihat photo yang ada di tangan Petugas Penyidik Kepolisian.
"Ya, Saya kenal. Dia rentenir yang meminjam uang ke orang orang dengan bunga yang tinggi, 3 kali lipat." tegas Sarono.
Sarono bersikap tenang di hadapan Polisi, dia paham, Polisi datang karena menyelidiki kasus kematian Amir dan teman temannya.
"Kapan terakhir kali Bapak bertemu Amir?" tanya Petugas Penyidik Kepolisian lagi.
"Beberapa hari yang lalu, dia datang bersama kedua temannya, menagih hutang hutang saya." ujar Sarono, menjelaskan dengan jujur.
"Lalu, setelah saya bilang, saya belum bisa bayar dan minta waktu lagi, mereka pergi dari sini, sejak itu, saya belum ketemu lagi." lanjut Sarono, memberi penjelasan.
"Maaf, Pak. Kami harus menggeledah rumah Bapak." jelas Petugas Penyidik Kepolisian dengan wajah serius dan tegas dihadapan Sarono.
"Untuk apa?" tanya Sarono heran.
"Kami mendapatkan bukti dari kamera cctv, mobil Pick up Bapak tertangkap kamera ada di lokasi terjadinya pembunuhan, di rumah Amir!" tegas Petugas Penyidik Kepolisian.
"Pembunuhan di tempat Amir?!" Sarono terhenyak kaget.
Dia diam sesaat dan berfikir, dia tahu, Gavlin pastinya yang membunuh, karena sebelumnya, Gavlin meminta alamat rumah Amir, dan dia memberikan alamatnya. Sarono tak mengira, kalau ternyata Gavlin membunuh semua anak buah Amir yang menjadi rentenir dan debt colector.
__ADS_1
"Dan kami menemukan bukti, bahwa mobil Bapak di pakai Gavlin, buronan kepolisian !" Lanjut Petugas Penyidik Kepolisian menjelaskan.
"Apa Bapak mengenal Gavlin?!" tanya Petugas Penyidik Kepolisian.
Dia menunjukkan poster berisi pengumuman Gavlin sebagai buronan kepolisian. Sarono melirik poster, dia lantas berpura pura tak tahu menahu.
Indri di dalam rumah mendengar pertanyaan Polisi pada Bapaknya tentang Gavlin langsung melihat ke meja di ruang tamu. Di atas meja, masih tergeletak poster berisi wajah Gavlin sebagai buronan.
Indri cepat mengambil poster itu, lalu, dia ******* ***** lembaran kertas poster, dia berlari ke belakang rumah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Kemudian, Indri membuang kertas poster ke dalam lubang wc, dan lantas menyiramkannya dengan air. Kertas itu pun masuk ke dalam lubang wc dan menghilang.
Indri menghilangkan poster tersebut, dia tak ingin Polisi Polisi menemukan poster tersebut.
"Saya gak kenal, Pak." jawab Sarono tenang.
Sarono berpura pura tidak mengenali Gavlin, namun, terlihat dari raut wajah Petugas itu, kalau dia tak percaya dengan pengakuan Sarono.
"Apa Bapak pernah kehilangan mobil?" tanya Petugas Penyidik Kepolisian.
"Ya, baru baru ini, tapi, sudah saya temukan kembali Pak." jawab Sarono.
"Kenapa Bapak gak melaporkannya?" tanya Petugas Penyidik Kepolisian.
"Karena saya belum sempat melapor, saya sedang sakit." jawab Sarono, berbohong.
Petugas Penyidik Kepolisian curiga dengan jawaban Sarono, dia lantas menatap tajam wajah Sarono yang tetap bersikap tenang berdiri dihadapannya.
"Periksa semua ruangan di dalam rumah ini!" Perintah Petugas Penyidik Kepolisian pada anak buahnya.
"Siap ! Laksanakan!!" jawab para Petugas Penyidik ke polisian.
Lantas, ke enam petugas penyidik kepolisian pun masuk ke dalam rumah Sarono, Sarono diam, dia tak mencegah polisi polisi itu masuk ke dalam rumahnya.
"Kami harus menggeledah rumah Bapak. Kami menemukan Jejak buronan itu yang berlari menuju ke rumah Bapak. Untuk itu kami ke sini!" jelas Petugas Penyidik Kepolisian.
"Jika Bapak gak kenal Gavlin, artinya nyawa Bapak terancam, kalo benar seperti dugaan kami, dia berlari ke sini!" jelas Petugas Penyidik Kepolisian.
"Dan, kalo Bapak kenal, lalu berbohong pada kami, petugas kepolisian, artinya Bapak bekerja sama dengan buronan, berbohong pada polisi dan melindungi serta menyembunyikan buronan!" lanjut Penyidik Kepolisian.
"Bapak akan menjadi tersangka, karena menjadi kaki tangan Gavlin, buronan kepolisian, Bapak paham?" tegas Petugas Penyidik Kepolisian menjelaskan pada Sarono.
"Ya, saya mengerti dan paham. Silahkan saja di periksa rumah saya." jelas Sarono, dengan bersikap tenang.
Sarono berusaha agar dirinya tetap tenang dan tidak terlihat gugup di hadapan petugas penyidik kepolisian yang berdiri dihadapannya.
Di dalam rumah, Polisi Polisi langsung menggeledah seluruh ruangan yang ada di dalam rumah Sarono, mereka mencari cari keberadaan Gavlin yang mereka duga bersembunyi di dalam rumah.
Indri tampak berdiri mengamati para petugas penyidik kepolisian yang tengah menggeledah rumahnya, dia cemas, namun berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Indri mengikuti petugas polisi yang berjalan dan masuk ke ruang tengah rumahnya.
Indri diam dan berdiri ditempatnya, dia tampak menyembunyikan rasa khawatirnya, sebab, dia melihat, salah seorang petugas penyidik kepolisian berdiri tepat di atas pintu masuk rubanah, petugas itu menginjak karpet. Indri khawatir, kalau kalau petugas itu merasakan sesuatu yang ganjil di dalam karpet dan lantai rumahnya. Indri diam dengan wajah tegang dan menyimpan rasa cemasnya, Petugas Penyidik Kepolisian lainnya menggeledah seluruh ruang tengah rumah Sarono.
__ADS_1
Di ruang bawah tanah, Gavlin yang sedang duduk di bangku kayu menengadahkan kepalanya ke atas, dia mendengar bunyi derit suara lantai kayu yang di injak kaki dan sepatu petugas penyidik kepolisian. Gavlin tahu, kalau para petugas penyidik kepolisian sedang mencari cari dan menggeledah ruang tengah, karena dia mendengar jelas suara langkah kaki para petugas penyidik kepolisian dari ruang bawah tanah rumah Sarono.
Gavlin diam, dia terus mendengarkan langkah kaki para petugas penyidik kepolisian yang masih berada di ruang tengah tersebut. Sikap Gavlin tenang, dia santai, tak ada rasa khawatir tertangkap atau pun takut dalam diri Gavlin saat ini, walau pun dia tahu, polisi polisi sedang menggeledah rumah Sarono, dan pastinya sedang memburunya.