
Mobil sedan mungil pink Maya melaju di jalan raya, Maya menyetir mobilnya, di sampingnya, duduk Gavlin. Wajah Gavlin sudah bersih, dia juga sudah berganti pakaian. Darah sudah tak ada lagi di wajah dan tubuhnya.
"May, sebelum balik ke rumah sakit, mampir dulu ke rental komputer dan internet, ya." ujar Gavlin tersenyum.
"Mau apa kesana?" tanya Maya heran.
"Aku mau ambil motorku disana." ujar Gavlin, menjelaskan.
"Oh, gitu. Dimana tempatnya, Vlin?" tanya Maya.
"Nanti aku kasih tau tempatnya." ujar Gavlin.
"Oke." Jawab Maya.
Maya terus menyetir mobilnya, mobil pun melaju di jalan raya, dengan kecepatan sedang.
---
Ronald menemui Bramantio di ruang kantornya, Bramantio sebenarnya tak senang, Ronald datang menemuinya, tapi dia juga tak bisa menolak Ronald untuk datang ke kantornya.
Bramantio tidak mau bermasalah dengan orang gila seperti Ronald, Dia lebih memilih mengalah dalam menghadapi Ronald.
"Cecunguk Moses gak bisa di hubungi, dia benar benar menghilang dan bersembunyi!!" Ujar Ronald geram.
Bramantio diam, dia duduk tenang di kursi meja kerjanya, Bramantio tak mau menanggapi ocehan Ronald.
"Dasar pengecut ! Pecundang!! Baru segitu aja, udah ngumpet !" Ujar Ronald kesal.
Bramantio tetap diam, tak menanggapi, Ronald pun jadi kesal sama Bramantio.
"Abang cuekin aku?!!" Bentak Ronald marah.
Bramantio kaget dibentak Ronald, dia lantas menatap tajam wajah Ronald.
"Siapa yang cuekin kamu? Aku lagi banyak pikiran soal kerjaan aku, Nald! Bukan sengaja cuekin kamu." ujar Bramantio.
Dia sengaja berbohong pada Ronald, karena tak mau menanggapi Ronald, dia tak mau berdebat dengan Ronald.
"Abang tau, rumah si Gatot, komandan polisi itu?" Tanya Ronald serius.
Ronald mendekati Bramantio, dia lantas berdiri di depan meja kerja Bramantio, dia menatap tajam wajah Bramantio yang duduk diam di kursi meja kerjanya.
"Untuk apa kamu tau rumahnya?" ujar Bramantio heran.
"Mau nyulik anaknya, anaknya kan pacar si cunguk Gavlin tengil itu! Aku mau culik si Maya, biar Gavlin datang nemuiku!" Ujar Ronald geram.
"Udahlah, Nald. Kamu gak usah nyari gara gara duluan lagi, cukup udah, masalah besarmu menikam Gatot!" Tegas Bramantio jengkel.
"Pokoknya aku harus bisa membunuh Gavlin! Aku gak perduli polisi memburuku!!" Bentak Ronald marah.
"Moses gagal menculik Maya, dan itu membuatku marah ! Aku gak mau gagal lagi!!" Bentak Ronald penuh amarah.
Bramantio diam, dia tak menjawab perkataan Ronald, Bramantio tersenyum sinis pada Ronald yang tampak marah itu.
Ronald dengan wajah kesal dan marah berbalik badan, dia hendak keluar dari ruang kantor Bramantio.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Bramantio pada Ronald.
"Cari Gavlin, Yanto dan Maya!!" Bentak Ronald marah.
Dia lantas membuka pintu, lalu dia keluar dari dalam kantor Bramantio. Melihat kepergian Ronald, Bramantio pun lega, dia tenang kembali.
---
Saat itu, Wijaya tampak sedang bertemu dengan salah satu kliennya. Mereka berdua tampak serius, membahas sebuah proyek pembangunan.
Ditengah tengah seriusnya membahas pekerjaan, mata Wijaya tak sengaja melihat Masayu dan Jafar.
Wijaya kaget, melihat Masayu datang dan masuk ke dalam cafe bersama Jafar. Dan yang membuatnya kaget, Jafar menggandeng mesra tangan Masayu.
"Masayu dan Jafar? Apa yang mereka lakukan?" Bathin Wijaya berkata.
Wijaya tampak berfikir sesaat, dia melirik kembali pada Masayu dan Jafar, dia melihat, Jafar menggenggam jemari tangan Masayu. Lalu, Jafar mengelus lembut pipi Masayu.
Wijaya pun paham, bahwa Masayu sedang berselingkuh dengan Jafar di cafe tersebut, sebab, dia melihat, keduanya sangat mesra sekali.
Wijaya tersenyum sinis, dia seperti mendapatkan ide besar setelah melihat Masayu dan Jafar.
"Bapak kenapa diam, Pak?"Tanya klien Wijaya.
"Oh, maaf." ujar Wijaya tersenyum.
"Apa ada lagi yang masih perlu kita bahas, Pak ?" tanya klien pada Wijaya.
"Saya kira, untuk sementara ini cukup, nanti, saya hubungi lagi, kita liat perkembangan proyeknya." ujar Wijaya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Baik, Pak. Kalo begitu, saya pamit." ujar Klien.
"Baik, silahkan." ujar Wijaya.
Mereka berdua pun lantas berdiri dan saling berjabatan tangan.
"Terima kasih atas waktunya, Pak." ujar Wijaya.
"Sama sama , Pak." Jawab Klien.
Klien mengangguk hormat, lantas dia pun pergi meninggalkan Wijaya. Setelah kepergian Kliennya, Wijaya pun berpindah duduk.
Wijaya duduk di bagian sudut cafe, lalu, dia melihat ke arah Jafar dan Masayu yang tengah memesan makanan.
Wijaya lantas segera mengambil ponsel dari kantong kemejanya, dia pun membuka layar ponsel, lalu, dia mengarahkan ponselnya, siap merekam dan mengambil photo Masayu dan Jafar.
Saat Jafar dan Masayu bermesraan, berpegangan tangan dengan mesra, dengan cepat, Wijaya pun memotretnya, dia mengabadikan moment mesra Masayu dan Jafar di cafe tersebut.
Apa pun yang dilakukan Masayu dan Jafar, di potret Wijaya. Tidak hanya memotret saja, Wijaya juga merekam semua kegiatan yang dilakukan Masayu dan Jafar.
Wijaya mengabadikan kemesraan Jafar dan Masayu, dan dia berniat, akan mengirimkan photo photo beserta rekaman videonya kepada Bramantio.
Wijaya ingin memberi kejutan pada Bramantio, dia ingin Bramantio marah pada Jafar, karena sudah berselingkuh dengan istrinya.
Wijaya tersenyum licik, dia sangat senang, melihat kemesraan Masayu dan Jafar, dia tampak bahagia, melihat Masayu telah berkhianat pada Bramantio.
"Mampus kamu, Bram! Sekarang, istrimu juga berkhianat padamu, gak ada lagi orang yang mau dekat denganmu!" Bathin Wijaya berkata.
Wijaya kembali tersenyum sinis, setelah dia merasa cukup, karena sudah banyak photo Masayu dan Jafar di ambilnya, juga dia sudah membuat video kemesraan Jafar dan Masayu, dia pun mematikan ponselnya.
Wijaya kemudian, memasukkan ponselnya ke dalam kantong kemejanya, lalu, dia pun berdiri, Wijaya lantas keluar dari dalam cafe, dia keluar dari pintu samping cafe. Dan Masayu serta Jafar, tidak melihat Wijaya di cafe tersebut.
Karena mereka berdua tampak tengah dimabuk asmara, mereka tidak menyadari, bahwa kemesraan mereka berdua disaksikan Wijaya, serta di abadikan Wijaya.
Wijaya lantas keluar dari dalam cafe, dia membuka pintu mobilnya, lalu, dengan cepat, dia masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, Wijaya lantas mengeluarkan ponselnya, dia tersenyum licik, di bukanya layar ponsel. Lalu, dia membuka galeri photo ponselnya.
Wijaya pun mengirimkan photo Masayu dan Jafar, dia mengirim ke nomor ponsel Bramantio, dia ingin tahu, bagaimana reaksi Bramantio setelah melihat photo photo mesra istrinya dengan adiknya di cafe.
Di dalam ruang kantornya, Bramantio masih duduk di kursi meja kerjanya, dan dia sedang membaca berkas laporan keuangan perusahaannya.
Ponsel Bramantio berbunyi, Bramantio mengambil ponsel dari kantong celananya, dia melihat di layar ponsel, ada pesan yang masuk di ponselnya.
Bramantio kernyitkan dahinya, dia heran, pesan apa yang di kirim Wijaya padanya. Dia pun lantas membuka pesan tersebut.
Bramantio semakin heran, karena melihat, gambar gambar Masayu dan Jafar di pesan tersebut. Photo yang tengah di lihat Bramantio saat ini masih wajar.
Di photo itu, Masayu dan Jafar masih bersikap wajar saja, Bramantio kesal, dia pun lantas menelpon Wijaya, dia ingin tahu, apa maksud Wijaya mengirim photo istri dan adiknya.
"Hallo?" ujar Wijaya dari seberang telepon.
"Apa maksudmu, mengirim photo photo istri dan adikku?!" Hardik Bramantio ditelepon.
Bramantio tampak marah pada Wijaya, terdengar suara tertawa Wijaya dari seberang telepon, itu membuat Bramantio semakin kesal dan marah pada Wijaya.
"Sabar Bram ! Masih banyak lagi photo photo dan video yang akan ku kirimkan padamu, liat saja!" ujar Wijaya tertawa sinis dari seberang telepon.
Bramantio semakin heran, dan marah mendengar perkataan Wijaya. Saat dia berfikir, masuk pesan Wijaya lagi ke ponselnya.
Dan kali ini, puluhan photo photo mesra Masayu dan Jafar di kirimkan Wijaya, Bramantio dengan cepat melihat photo photo tersebut.
Wajah Bramantio memerah, dia sangat marah sekali, saat melihat dalam photo, Jafar dan Masayu saling berpegangan tangan dengan mesra, dan di satu photo, dia melihat, Jafar mengelus lembut pipi Masayu, dan Masayu tersenyum senang memegang tangan Jafar yang menempel di pipinya.
"Kurang ajaaaaarrrr !!" Bramantio teriak marah.
Seketika, Bramantio pun marah, dia naik pitam, dan dia terbakar api cemburu, melihat photo mesra istri dan adiknya sendiri.
"Liat video ini."
Bramantio membaca teks pesan yang di kirimkan Wijaya. Dengan wajah penasaran dan marah, Bramantio cepat membuka file video yang di kirimkan Wijaya.
Bramantio pun lantas melihat rekaman video yang di kirim Wijaya, dia melihat, dalam rekaman itu jelas sekali, Masayu dan Jafar sedang mempertontonkan kemesraan mereka berdua.
Melihat adegan mesra istri dan adiknya, Bramantio semakin marah, darahnya naik, amarahnya memuncak.
"Biaaaadaaaaaab kamu Jafaaaaarrr!!" Teriak Bramantio marah.
Bramantio pun kemudian mengamuk, dia melampiaskan amarahnya, dia membuang semua barang barang yang ada di atas meja, termasuk telepon yang ada di atas meja, dibuangnya.
Bramantio benar benar marah, dia tak terima, karena telah di khianati istri dan Jafar, adik kandungnya sendiri.
"Bedebaaaah kamu Masayu, Jafar!! Kalian berani bermain mata di belakangku!!" teriak Bramantio marah.
"Ternyata, benar dugaanku, kamu ke hotel sengaja bertemu Jafar, karena kalian berselingkuh di belakangku!! Biadab !!" Teriak Bramantio penuh amarah.
__ADS_1
"Setaaan kamu Masayuuu !! Kamu udah berbohong padaku!!! Aku gak bisa menerima semua ini !! Aku akan memberimu pelajaraaan !!" teriak Bramantio.
Bramantio melampiaskan segala amarahnya yang telah memuncak dalam dirinya, dia kecewa, dia tak menyangka, istrinya telah berani mengkhianatinya.
Dan yang membuat dia semakin kecewa dan marah pada Masayu, karena Masayu berselingkuh dengan Jafar, adik kandungnya sendiri.
Dia tak menyangka, Jafar tega mengkhianatinya, dia kecewa pada Jafar, karena sudah berselingkuh dengan Masayu, istrinya. Bramantio benar benar tidak bisa menerima perbuatan Masayu dan Jafar, dia sakit hati.
Di dalam mobilnya, tampak Wijaya tertawa puas, dia senang, telah memberi tahu Bramantio tentang perselingkuhan istrinya.
"Tinggal tunggu waktunya, Bom meledak, dan keluarga Bramantio hancur berantakan !!" Ujar Wijaya tertawa senang.
"Dan aku akan menunggu, Jafar dan Bram saling bunuh!!" ujar Wijaya tertawa tawa kesenangan.
Wijaya lantas menyalakan mesin mobilnya, sesaat kemudian, mobil Wijaya pun berjalan, dan pergi meninggalkan cafe tersebut.
Di dalam cafe, Masayu dan Jafar masih ada, mereka berdua saat ini tengah menikmati makanan yang mereka pesan.
Saat tengah asyik makan, telepon Jafar berbunyi, dia pun lantas menghentikan makannya, Jafar kemudian mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.
Jafar melihat, Bramantio yang menelponnya, dengan cepat, Jafar pun menerima panggilan telepon Bramantio.
"Ya, Bang, ada apa?" Ujar Jafar, bertanya di teleponnya.
"Kamu dimana sekarang?!" Tanya Bramantio dari seberang telepon.
"Di cafe, sama temanku, kenapa?!" Ujar Jafar santai, di telepon.
Sementara, Masayu diam, dia terus menyantap makanannya.
"Temui aku nanti di hotelku!" Tegas Bramantio dari seberang telepon.
"Mau apa disana, Bang? Hotel abang kan udah hancur ? Dan belum di renovasi." ujar Jafar heran, di telepon.
Masayu menatap tajam wajah jafar yang sedang menelpon, dia tahu, saat ini Jafar sedang bicara dengan Bramantio, sebab, Jafar menyebut hotel Bramantio yang sudah hancur.
"Gak usah banyak tanya, turuti aja perintahku, ada hal penting yang mau aku bahas denganmu!!" Bentak Bramantio dari seberang telepon.
"Baik, Bang, aku ke sana nanti." Jawab Jafar di telepon.
"Ya, aku tunggu kamu, jam 8 malam, jangan telat!" Tegas Bramantio dari seberang telepon.
"Iya, Bang." Jawab Jafar di telepon.
"Ingat ! kamu datang sendiri, jangan bawa temanmu!!" Tegas Bramantio lagi, dari seberang telepon.
"Iya, Bang, Iya. Aku datang sendiri nanti." ujar Jafar kesal, diteleponnya.
Lalu, telepon terputus, Bramantio mematikan teleponnya, Jafar pun lalu menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.
"Bram telpon aku." ujar Jafar pada Masayu.
"Mau apa dia?" ujar Masayu sinis.
"Entah, dia mau ketemu aku jam 8 malam nanti di hotel dia!" Ujar Jafar dengan wajahnya yang serius.
Masayu terdiam, untuk sesaat, dia tampak sedang berfikir, begitu juga dengan Jafar. Masayu lantas menatap tajam wajah Jafar.
"Kenapa Bram tiba tiba ngajak kamu ketemuan? Di hotelnya yang udah hancur lagi, malam malam, mau apa dia sebenarnya sama kamu?!" ujar Masayu.
Masayu merasa ada yang aneh, dia menaruh curiga pada Bramantio, karena meminta Jafar bertemu malam malam di hotelnya yang sudah hancur itu.
"Apa Bram tau hubungan kita, Far?" Tanya Masayu cemas.
"Gak mungkin dia tau !" tegas Jafar.
"Kalo, dia tau, gimana ?" Tanya Masayu cemas.
"Tenang aja, aku akan hadapi dia! Aku gak takut sama Bram !" Ujar Jafar dengan wajah yang serius.
"Mudah mudahan, Bram gak tau hubungan kita." ujar Masayu.
"iya, kayaknya, dia lagi ada masalah, kan dia bilang, kalo dia butuh bantuanku, dia yang akan menghubungi aku !" ujar Jafar.
"Mungkin aja, dia lagi ada masalah besar, dan dia mau menyuruhku, untuk menyelesaikan masalahnya itu." Lanjut Jafar menjelaskan pada Masayu.
"Iya, Far." Angguk Masayu.
"Ya, udah. Makan lagi, dihabisin." ujar Jafar tersenyum.
Masayu pun memgangguk, mengiyakan perkataan Jafar, lalu, dia pun melanjutkan makannya.
Jafar diam, dia lalu berfikir, masalah apa yang akan di bahas Bramantio bersama dia malam nanti. Apakah masalah itu, sangat besar ,hingga dia harus turun tangan menyelesaikannya?
Jafar lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dia juga melanjutkan makannya.
__ADS_1