VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Penyergapan yang Gagal


__ADS_3

Di dalam kamar kecil khusus tempat menyimpan senjata senjatanya, Gavlin yang sedang duduk di kursi depan meja tampak sedang membersihkan pistol pistolnya.


Layar Monitor menyala di atas meja kerjanya, sambil membersihkan pistolnya, sesekali mata Gavlin melirik ke arah layar monitor, dia memantau kamera cctv yang terpasang di seluruh penjuru luar rumahnya.


Saat dia tengah melihat layar monitor, terlihat pada gambar cctv di layar monitor, ada banyak orang orang datang menyelinap kepekarangan bangunan rumahnya yang sudah hancur berantakan.


Melihat kedatangan orang banyak itu yang terlihat sangat mencurigakan, Gavlin pun kaget dan heran, cepat dia memeriksa pistol pistolnya, semua pistol terisi penuh oleh peluru, dengan cepat Gavlin pun lantas keluar dari dalam kamarnya.


Gavlin menghampiri Chandra yang tengah menelpon seseorang melalui ponselnya, dengan cepat Gavlin merampas ponsel Chandra.


"Hei, apa apaan kamu, Vlin?!" ujar Chandra kaget dan heran.


Gavlin tak perduli, dia cepat melepaskan kartu sim pada ponsel dan mematahkan kartu ponsel dan menghancurkan ponsel milik Chandra. Melihat hal itu, Chandra semakin heran dan marah.


"Apa apaan kamu? Kenapa hape ku kamu rusak?!" ujar Chandra kesal.


"Jangan tolol Chandra!! Gara gara kamu, orang orang mengetahui keberadaanmu di sini!!" bentak Gavlin.


"Apa maksudmu?" tanya Chandra heran.


"Inside melacakmu melalui ponsel kamu!! Dan mereka sudah menemukan tempat ini!! Sekarang mereka ada diluar rumah ini !!" bentak Gavlin marah.


"Apa?!" Chandra terkesiap kaget.


"Lantas, bagaimana ?!" tanya Chandra.


"Kamu diam di sini dan tetap sembunyi, biar aku yang beresin semuanya!!" ujar Gavlin.


"Iya, maafkan aku, aku gak tau kalo hape ku di lacak organisasi Inside!" tegas Chandra.


Gavlin diam saja tak menjawab, dia lantas bergegas pergi meninggalkan Chandra yang terduduk lemas di sofa yang ada diruang keluarga rumah bawah tanah Gavlin.


Gavlin dengan menggunakan pintu rahasianya segera keluar dari dalam rumah bawah tanahnya untuk menemui orang orang yang datang kerumahnya itu.


Lukman, ketua tim pembunuh bayaran organisasi Inside yang ditugaskan Binsar untuk memburu Chandra terlihat berdiri di atas batu reruntuhan bangunan rumah Gavlin.


Telihat 10 anak buahnya ada disekitarnya sedang mengawasi sekitar reruntuhan bangunan rumah Gavlin tersebut.


"Apa benar tempatnya di sini?" tanya Lukman pada anak buahnya.


"Menurut alat pelacak, titik akhirnya di sini Pak. Baru beberapa menit yang lalu hape nya aktif, tapi sekarang, sudah tak aktif lagi." jelas salah seorang anak buah Lukman.


"Hmm...Ini hanya reruntuhan rumah saja, jika benar alat pelacak yang kamu gunakan itu, lantas, di mana Chandra bersembunyi?" ujar Lukman, berfikir.


"Kalian, susuri semua bangunan ini, cari, siapa tau ada tempat atau ruangan yang dipakai Chandra untuk bersembunyi di tempat ini!" tegas Lukman memberi perintah.


"Baik, Pak!" ujar salah seorang anak buah Lukman.


Lalu, mereka pun menyebar, mulai mencari tempat persembunyian Chandra diantara reruntuhan bangunan rumah tersebut.


Lukman tampak berdiri diam dan berfikir keras, dia merasa heran, mengapa alat pelacak mengarahkan mereka kebangunan hancur tersebut.


Sementara itu, Gavlin diam diam sudah keluar menyelinap, dari tempat persembunyiannya, dia mengamati sekitarnya, Gavlin melihat pergerakan anak buah Lukman yang tampak menyebar sedang mencari cari keberadaan Chandra di sekitar reruntuhan bangunan. Dengan cepat Gavlin pun berjalan ke arah anak buah Lukman, dengan perlahan lahan dan sembunyi sembunyi Gavlin menyelinap.


Para anak buah Lukman tampak sibuk mencari cari tempat persembunyian Chandra, namun, mereka tak menemukannya, hanya bangunan runtuh saja yang ada. Tak ada satu ruang yang mencurigakan yang bisa digunakan buat persembunyian yang mereka temukan.


Gavlin mengintai dari tempat persembunyiannya, lalu, dia mengambil pistolnya dan menembakkan pistol pada anak buah Lukman.


Mendengar suara tembakan, Lukman kaget, begitu juga dengan anak buahnya, mereka cepat bersembunyi di balik bebatuan reruntuhan bangunan, mereka mengambil pistol masing masing dan membalas menembak ke arah Gavlin menembak.


Lukman mengambil pistolnya, lalu dia bersembunyi di sebuah bongkahan batu besar yang ada direruntuhan bangunan itu.


Gavlin terus menembak. Beberapa anak buah Lukman mati terkena tembakan Gavlin. Lukman tampak geram.


"Siapa kamu?!!" bentak Lukman, teriak dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Gavlin tak menjawab, dia terus menyerang dengan menembaki anak buah Lukman.


Anak buah Lukman roboh satu persatu terkena tembakan Gavlin, kini, hanya menyisakan dua anak buahnya saja. Lukman geram dan marah melihat kenyataan, bahwa anak buahnya mati terbunuh.


"Keluar kamu!! Hadapi aku!! Kita duel satu lawan satu!!" teriak Lukman marah.


Gavlin menembak kedua anak buah Lukman hingga mati. Dan kini, hanya tersisa Lukman saja yang masih hidup.


Melihat semua anak buahnya tewas terbunuh, Lukman geram dan marah sekali, dia membabi buta menembak hingga peluru di pistolnya habis.


Setelah Lukman tak bisa lagi menembak karena pelurunya habis, lalu, Gavlin pun keluar dari tempat persembunyiannya, dia segera menghampiri Lukman.


Melihat kedatangan Gavlin yang berjalan mendekatinya, Lukman geram, dia tak mengenali Gavlin, Lukman hanya tahu tentang Chandra saja, dan dia sama sekali tak pernah tahu tentang sosok Gavlin.


"Siapa kamu?!! Berani beraninya membunuhi anak buahku!!" bentak Lukman marah.


"Apa kamu anjingnya Binsar?!" ujar Gavlin, menatap dingin dan sinis pada Lukman.


"Setaaan !! Siapa kamu!!" bentak Lukman marah.


"Aku Iblis yang akan mengambil nyawamu!" ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


"Keparaaat!! Dasar pecundang!! Mau coba coba denganku kamu ya!!" ujar Lukman marah.


Lukman lantas menyerang Gavlin yang berdiri tidak jauh dari Lukman, mendapat serangan dari Lukman, Gavlin pun menghindar, dia lantas memberi perlawanan pada Lukman.


Duel tangan kosong pun terjadi antara Gavlin dan Lukman, pertarungan sengit terjadi, aksi jual beli pukulan terjadi di antara reruntuhan bangunan rumah Gavlin.


Pukulan dan tendangan bertubi tubi dilancarkan Lukman pada Gavlin yang menghindar dari serangan Lukman, lalu, Gavlin pun memberikan balasan, dia kemudian menyerang balik Lukman, satu pukulannya telak mengenai wajah Lukman, Lukman mundur terjajar terkena pukulan.


Lukman geram, dia lantas mengambil pisau lipat dari kantong celananya, kemudian, dengan pisau ditangannya, dia pun mulai menyerang Gavlin.


Gavlin berusaha menghindar sabetan pisau lipat Lukman tersebut, dia terus memberi perlawanan, satu sabetan pisau lipat Lukman mengenai lengan tangan Gavlin, lengan tangan Gavlin tergores terkena sabetan pisau lipat Lukman. Gavlin tersenyum sinis melihat lengannya yang tergores pisau lipat.


Dengan cepat Gavlin lantas menyerang Lukman, Gavlin melompat dan menerjang Lukman, satu tendangan Gavlin mengenai perut Lukman, Lukman terjajar dan hampir jatuh tersungkur, Dia cepat menahan dirinya dan tetap berdiri tegak, Gavlin menyeringai licik menatap Lukman yang memegang pisau belatinya.


Lalu, dengan satu gerakan cepat, Gavlin merampas pisau lipat dari tangan Lukman, dan kini, pisau lipat berpindah tangan, Gavlin memegang pisau lipat.


Lalu, dengan cepat, Gavlin menyerang Lukman dengan pisau lipat di tangannya, Lukman mencoba menghindar, dia mulai keteteran diserang Gavlin.


Gavlin sangat lihai menggunakan pisau, Lukman kerepotan menghadapi serangan pisau Gavlin, saat Lukman lengah, Gavlin pun berhasil melukainya, perut Lukman terkena sabetan pisau lipat, hingga pakaiannya sobek akibat tersabet pisau dan perutnya terluka serta berdarah.


Lukman geram dan marah, dia lantas menyerang Gavlin, Gavlin dengan mudah menghindari serangan Lukman, Beberapa kali Lukman terkena pukulan dan tendangan Gavlin hingga akhirnya dia jatuh terjajar ditanah.


Gavlin tak menyia nyiakan kesempatan itu, dengan cepat dia menghampiri Lukman, Gavlin melompat menerjang dan menginjak tubuh Lukman, Lukman pun meringis kesakitan.


"Aaarggghh!!" teriak Lukman, saat Gavlin menginjak tubuhnya.


Lalu, dengan gerak cepat, Gavlin lantas menyabetkan pisau lipat keleher Lukman, darah segar pun menyembur keluar dari leher Lukman.


Belum puas dengan hal itu, Gavlin lantas menghujamkan pisau lipat ke dada Lukman berkali kali, darah mengalir keluar dari dada Lukman, dan akhirnya, Lukman pun mati, terkapar di tanah.


Gavlin berdiri dihadapan Lukman yang sudah mati meregang nyawa dengan bersimbah darah, Gavlin tersenyum sinis, dia lantas membuang pisau lipat ke tanah.


Telepon Lukman berbunyi, dengan cepat Gavlin mengambil ponsel Lukman dari dalam kantong celananya.


Gavlin melihat sipenelpon adalah Binsar, lalu, Gavlin menerima panggilan telepon tersebut yang berasal dari Binsar.


"Dimana kamu? Bagaimana ? Sudah kalian temukan si Chandra?!" ujar Binsar, dari seberang telepon.


"Maaf, Anak buahmu udah ke neraka, Binsar!" ujar Gavlin, bicara ditelepon.


Di ruangannya, Binsar yang sedang menelpon terkesiap kaget, karena mendengar suara orang lain, dan itu bukan Lukman, anak buahnya.


"Siapa kamu?!!" bentak Binsar, di telepon.

__ADS_1


"Aku Gavlin, atau yang dikenal dengan nama Yanto, anaknya Sanusi, masih ingat padaku, Binsar?!" ujar Gavlin, dari seberang telepon.


Mendengar nama Gavlin, Binsar terkesiap kaget, dia pun akhirnya mengetahui dan menyadari, bahwa sekali lagi, orang bayaran dan suruhannya telah gagal menjalankan misi darinya untuk menangkap Chandra.


"Bedebaaah!!" bentak Binsar.


Binsar lantas menutup teleponnya, dia terlihat sangat marah sekali, karena rencananya menangkap Chandra gagal.


Sementara itu, Gavlin tersenyum sinis melihat telepon dimatikan begitu saja oleh Binsar. Dia kemudian menyimpan ponsel milik Lukman kedalam kantong celananya, Gavlin memerlukan ponsel itu untuk nanti dia menghubungi Binsar kembali, karena, di ponsel Lukman ada nomor telepon khusus Binsar.


"Sudah cukup kamu bermain main denganku Binsar, dan sudah saatnya, aku yang akan datang menemuimu!" ujar Gavlin geram.


Di ruang kantornya, Binsar masih terlihat marah, karena, anak buahnya, pembunuh bayaran gagal menjalankan misinya.


"Setaaan si Gavlin atau Yanto itu!! Dia terus saja menggagalkan rencanaku!!" ujarnya geram dan marah.


"Sepertinya aku harus lebih hati hati lagi, dan aku juga harus mencari cara, bagaimana cara menghabisi si Gavlin itu!!" lanjutnya bicara sendiri dengan amarahnya yang membara.


Binsar lantas mengambil ponselnya, dia lalu menghubungi seseorang di telepon.


"Hallo?! Mulai sekarang, kerahkan tentara bayaran untuk mencari keberadaan si Chandra dan Gavlin!! Habisi mereka berdua!!" perintah Binsar, bicara ditelepon.


Lalu, Binsar pun menutup ponselnya dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.


Sementara itu, Gavlin terlihat menumpuki mayat mayat anak buah Lukman dan juga Lukman dalam satu tumpukan dibelakang rumahnya yang sudah hancur itu. lalu, Gavlin pun membakar mayat mayat tersebut. Gavlin menghilangkan jejak mereka dengan membakar mayat mayatnya.


Lalu, Gavlin bergegas pergi meninggalkan tempat itu, dia masuk kembali ke dalam rumah ruang bawah tanahnya.


Di ruang keluarga, tampak Chandra duduk di sofa dengan wajahnya yang cemas, saat dia melihat Gavlin datang, Chandra pun berdiri dari duduknya di sofa, dia menghampiri Gavlin yang berjalan mendekatinya.


"Bagaimana , Vlin?" tanya Chandra, dengan wajah cemasnya.


"Sudah ku bereskan, untuk saat ini kamu aman." ujar Gavlin.


"Mulai sekarang, jangan berkomunikasi pada siapapun juga, karena kamu pasti sedang di lacak Inside!" tegas Gavlin, mengingatkan.


"Iya, Vlin. Aku gak akan lengah lagi." ujar Chandra.


"Ya, sudah. Kamu diam di dalam sini , dan jangan keluar rumah! Tetaplah bersembunyi hingga aku balik ke sini lagi nanti!" tegas Gavlin.


"Kamu mau kemana?!" tanya Chandra, heran.


"Ada urusan yang mau aku selesaikan, nanti aku kembali lagi." jelas Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


"Ok, baiklah, aku tunggu di sini." ujar Chandra.


"Aku pergi." ujar Gavlin.


"Ya." Angguk Chandra.


Lantas, Gavlin pun bergegas pergi meninggalkan Chandra sendirian di dalam rumah ruang bawah tanahnya.


Setelah kepergian Gavlin, Chandra pun lantas beranjak pergi dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Di jalanan, tampak Gavlin menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil melesat di jalan raya, wajah Gavlin terlihat dingin.



Samsudin keluar dari dalam rumahnya, dia lantas masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian, mobilnya pun berjalan pergi meninggalkan rumahnya, di belakangnya, ada satu mobil khusus yang mengawal Samsudin sebagai Menkopolkam. Samsudin kemana mana selalu mendapatkan pengawalan khusus.


Mobil Gavlin yang berhenti di pinggir jalan tak jauh dari rumah Samsudin terlihat mengintai, dari dalam mobilnya Gavlin melihat kepergian Samsudin yang menggunakan mobil dan mendapat pengawalan khusus.


Gavlin tersenyum sinis melihat kepergian Samsudin, lalu, dengan cepat, dia pun menyalakan mesin mobilnya. Kemudian, Gavlin segera menjalankan mobilnya.


Mobil Gavlin melesat cepat, mengejar mobil Samsudin beserta mobil pengawalnya yang sudah melaju jauh di jalanan.

__ADS_1


Gavlin menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menyusul mobil Samsudin, Gavlin tak mau kehilangan jejak mobil Samsudin, Gavlin berusaha untuk terus mendekat pada mobil Samsudin, agar dia bisa leluasa mengikuti kemana pun Samsudin pergi saat ini. Gavlin mengikutinya dan berencana untuk membunuh Samsudin.


__ADS_2