
Para petugas Medis, tim Ahli Forensik dan para petugas penyidik kepolisian berkumpul di gedung aula tempat dimana Herman mengadakan siaran langsung mengungkap kejahatan yang telah diperbuatnya selama ini.
Para petugas medis sibuk mengangkati mayat mayat para penembak jitu yang mati dibunuh di lantai atas gedung aula tersebut.
Diantara para penyidik kepolisian, ada Andre bersama Edo dan Masto, mereka datang untuk menyelidiki kematian para penembak jitu tersebut.
"Keliatannya mereka penembak jitu yang sengaja ditempatkan untuk membunuh pak Herman saat memberikan pernyataan didepan media, Pak." jelas Masto.
"Ya, sepertinya begitu, dan ada yang mengetahui gerakan mereka, lalu membunuh para penembak jitu itu." ujar Andre.
"Ya, Pak. Jika para penembak jitu tidak dibunuh, mungkin pak Herman sudah mati ditembak, dan suasana akan semakin memanas diluar sana, karena pastinya media akan menyebarkan berita pembunuhan Pak Herman." ujar Masto.
"Syukurlah hal itu tak terjadi, dan pak Herman selamat serta bisa memberikan pengakuan atas kejahatannya dan mengungkap kejahatan organisasi Inside." tegas Andre, dengan wajah serius.
"Bagaimana, Do, apa tim penyidik dan forensik menemukan bukti bukti disekitar korban korban itu?" tanya Andre.
"Dari hasil pemeriksaan tim forensik, para penembak jitu itu mati di bunuh dengan cara leher di patahkan dan di gorok pisau, Pak." jelas Edo.
"Hmm...begitu. Ciri membunuhnya sama seperti yang dilakukan Gavlin. Apa dia yang melakukannya?!" gumam bathin Andre bicara.
Andre diam, dia tampak memikirkan sesuatu, salah seorang petugas tim penyidik kepolisian datang menghampirinya.
"Maaf, Pak.hanya ada 2 cctv yang aktif di ruangan ini, selainnya mati, cctv dilantai atas juga rusak." ujar Petugas Penyidik kepolisian.
"Sepertinya para penembak jitu itu merusak cctv sebelum mereka bersembunyi." jelas Masto.
"Ya, sudah pasti itu, Dimana cctv yang aktif itu, saya mau lihat rekamannya." ujar Andre.
"Baik, Pak. Mari saya antar keruangan monitoring cctv." ujar Petugas penyidik kepolisian.
"Ya. Edo, Masto, kalian tetap disini, temani tim forensik, tanya mereka , jika mereka menemukan jejak jejak yang bisa dijadikan bukti disekitar ruangan ini." jelas Andre.
"Baik, Pak." jawab Edo dan Masto bersamaan.
Andre lantas pergi meninggalkan Edo dan Masto yang lantas melanjutkan pekerjaan mereka menyelidiki pembunuhan yang terjadi dalam ruang aula, Andre berjalan mengikuti petugas penyidik kepolisian.
Chandra datang menemui Samuel di dalam ruang kantor Samuel, Samuel menyambutnya dengan ramah, mereka duduk santai di sofa tamu yang ada di dalam ruang kantor Samuel.
"Ada kabar apa, Chan?" tanya Samuel, tersenyum ramah.
"Begini, Saya bertemu pak Presiden, keliatannya beliau itu sangat penasaran dan ingin tahu, apa yang terjadi tentang penangkapan para mentri di kabinetnya dan anggota parlemen." jelas Chandra, dengan wajah serius.
"Ohya? Baguslah, jika kasus tersebut menarik perhatian pak Presiden. Jadi kedepannya kita bisa tau, beliau terlibat didalam organisasi Inside atau tidak." tegas Samuel, dengan seriusnya.
"Ya. Dan Pak Presiden memintaku untuk menyampaikan niatnya kepada kamu dan Andre." ujar Chandra, serius.
"Apa itu?" tanya Samuel, menatap lekat wajah serius Chandra.
"Pak Presiden meminta ketemu kamu dan Andre, sepertinya, beliau ingin tahu lebih jauh lagi kasus yang sedang kalian selidiki dengan menangkap para pejabat mentri dan anggota dewan." jelas Chandra.
"Kapan beliau mau ketemunya?" tanya Samuel, serius.
"Beliau tidak mengatakannya, jika kalian berdua mau bertemu, mungkin bisa diatur pertemuannya langsung diruang kantor pak Presiden." ujar Chandra.
__ADS_1
Samuel terlihat diam dan berfikir sesaat, Chandra yang duduk di sofa, dihadapannya menatapnya tajam, Chandra menunggu jawaban Samuel.
"Baiklah, aku akan hubungi Andre, dan , kamu bisa sampaikan pada pak Presiden, kami akan datang besok siang selepas makan siang ke kantor beliau." ujar Samuel.
"Baiklah, akan aku sampaikan." jawab Chandra.
"Ya, apa kamu ikut juga nantinya?" tanya Samuel.
"Ya, aku akan hadir juga, untuk memberi pernyataan dan penjelasan pada pak Presiden seputar organisasi Inside." ujar Chandra.
"Bagaimana kalo beliau ternyata terlibat dalam kejahatan anggota Inside ? Jika kamu memberi penjelasan, beliau pasti tau, kamu lah orang yang sudah membocorkan rahasia Inside sebenarnya, dan yang memberikan nama nama anggota yang terlibat, bukan Herman." tegas Samuel.
"Tidak apa apa, aku sengaja, justru aku ingin tau, beliau terlibat atau tidak, kita akan sama sama mengetahuinya nanti, setelah dia dengar langsung dariku, dan bagaimana reaksi beliau setelah mengetahuinya dariku." tegas Chandra, dengan serius menjelaskan.
"Baiklah kalo begitu, kita bertemu besok siang di ruang kantor pak Presiden." jelas Samuel.
"Ya. Kalo begitu, aku permisi. Jika berlama lama di sini, aku khawatir, ada yang curiga melihatku bertemu kamu." ujar Chandra.
"Baiklah. Chan, tetap berhati hatilah." ujar Samuel.
"Ya." jawab Chandra mengangguk.
Lalu, Chandra berdiri, dia berjabatan tangan dengan Samuel yang juga ikut berdiri dari duduknya di sofa. Lalu, Chandra pun lantas berjalan pergi meninggalkan Samuel, dia keluar dari dalam ruang kantor Samuel.
---
Andre sedang menonton rekaman cctv di area gedung aula, dia ditemani petugas penyidik kepolisian dan operator cctv.
Andre melihat jelas sosok seseorang bertubuh gemuk, berkumis dan berjenggot, berjalan keluar meninggalkan kerumunan para wartawan media yang hadir dan berkumpul di dalam gedung aula.
Dan Andre tidak bisa melihat bagaimana kelanjutannya, karena kamera cctv dilantai atas gedung aula rusak dan mati.
"Sepertinya, Pria yang ada dalam rekaman cctv itu pelakunya yang membunuh para penembak jitu tersebut." ujar Andre.
"Ya, Pak." Angguk petugas penyidik kepolisian.
"Kamu lacak pria itu, cari tau, siapa dia." ujar Andre.
"Baik, Pak." jawab Petugas penyidik kepolisian, menuruti perintah Andre.
Telepon Andre berbunyi, dia segera mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, dia melihat, nama Samuel muncul di layar ponselnya. Andre pun lantas berjalan keluar dari dalam ruang monitoring cctv.
Andre berjalan di koridor yang ada didekat ruang monitoring cctv, lalu, dia berhenti dan berhenti di sudut koridor. Andre menerima telepon Samuel.
"Ya, Hallo, Sam." ujar Andre, di telepon.
"Aku baru saja ketemu Chandra, dia memberi kabar, Pak Presiden mau ketemu kita berdua." ujar Samuel, bicara dari seberang telepon.
"Oh ya?" ujar Andre, kaget, ditelepon.
"Ya, aku juga gak nyangka, pak Presiden tiba tiba mau ketemu kita, sepertinya dia mau tau tentang penangkapan para mentrinya." ujar Samuel, dari seberang telepon.
"Baiklah, kapan beliau mau ketemu kita berdua, dan dimana tempat pertemuannya nanti?" tanya Andre serius, di teleponnya.
__ADS_1
"Aku bilang Chandra tadi, kita ketemu besok selepas makan siang, di kantor pak Presiden langsung." jelas Samuel, dari seberang telepon.
"Oh, Baiklah, besok aku akan datang ke sana." jawab Andre, ditelepon.
"Ya , sampai ketemu besok, Ndre." ujar Samuel , dari seberang telepon.
Lalu, terdengar nada terputus dari ponsel Andre, Andre lantas mematikan ponselnya, dia lalu menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya.
Andre tersenyum senang, dia lantas berjalan pergi meninggalkan ruang monitoring cctv.
---
Di dalam rumah bawah tanahnya, terlihat Gavlin duduk diam di sofa tamu rumahnya, wajahnya terlihat tegang, dan dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal.
Terlintas dalam benak dan ingatan Gavlin, saat Herman memberi pernyataan pengakuan kejahatannya serta mengungkap kejahatan organisasi Inside.
Dalam ingatannya, muncul juga saat Herman menyatakan, bahwa kematian Bapaknya dulu atas perintah ketua Inside yang bernama Binsar dan juga Samsudin, tangan kanannya Binsar.
Wajah Gavlin terlihat geram, lintasan ingatan menghilang dalam benaknya, wajah Gavlin memerah menahan amarahnya.
"Aku kira, hanya tinggal Herman dan Peter saja yang tersisa, dan selepas itu, aku bisa hidup tenang, ternyata, masih ada orang lain dibelakang Herman dan Peter." gumam Gavlin, geram dan menahan amarahnya.
"Samsudin, Binsar. Aku pasti akan datang menemui kalian, jika memang kalian otak yang menyuruh membunuh Bapakku, maka, aku gak akan mengampuni kalian berdua!" tegas Gavlin, geram dan marah.
Dia lalu terdiam, Gavlin kembali teringat akan ucapan Andre yang menyatakan , bahwa jika Chandra dia bunuh, maka dia tak akan mendapatkan informasi tentang organisasi Inside.
"Apa benar, Chandra memiliki bukti bukti kejahatan organisasi Inside? Dan apakah benar, Chandra itu mengetahui tentang kematian Bapakku?" gumam Gavlin, berfikir keras.
Gavlin lantas menarik nafasnya dalam dalam, dia berusaha menenangkan dirinya, kemarahan muncul dalam dirinya, dia marah, karena Bapaknya mati akibat ulah kerakusan kelompok organisasi Inside.
"Aku harus menemui Chandra, dan bertanya langsung padanya, dan aku harus mendapatkan bukti bukti kejahatan Inside dari tangan Chandra." tegas Gavlin, bicara pada dirinya sendiri.
Gavlin berfikir, dia terlihat sedang memikirkan suatu rencana agar dia bisa bertemu Andre dan mendapatkan barang bukti kejahatan organisasi Inside.
---
Petugas penjaga sel tahanan masuk dan berjalan mendekati sel tahanan, dia mengecek para tahanan yang ada di dalam sel, saat dia mendekati sel tahanan Herman, dia tersentak kaget.
Wajah petugas tahanan itu pucat dan tegang, matanya terbelalak lebar, dia menatap lurus ke dalam ruangan sel tahanan.
Di dalam sel tahanan, terlihat Herman terbujur kaku di lantai ruangan sel tahanan, mulut Herman berbusa, dan botol kecil tergeletak di lantai, di dekat tubuhnya.
Herman meregang nyawa, dia mati di dalam sel tahanan, Petugas tahanan cepat membuka pintu sel tahanan, dia lalu masuk ke dalam sel untuk mengecek kondisi Herman.
Setelah dia memeriksa tubuh Herman, dia pun tahu, dan bisa memastikan, bahwa Herman sudah benar benar mati.
Petugas tahanan segera berlari keluar dari dalam ruangan sel tahanan meninggalkan Herman yang sudah terbujur kaku, Petugas Tahanan ingin melaporkan kematian Herman.
Tak disangka, Herman mati di dalam sel tahanan, dengan mulut yang mengeluarkan busa yang banyak, dan wajahnya membiru serta ungu.
Edo bergegas menghampiri Andre yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya, wajah Edo terlihat tegang.
"Maaf, Pak. Pak Herman tewas di dalam sel tahanan." ujar Edo, memberi laporan pada Andre.
__ADS_1
"Apaa?!!" Andre terhenyak kaget.