
Andrei masih terus berusaha memberi perlawanan, Gavlin menyerangnya dengan sengit. Andrei terlihat mulai susah payah melawan Gavlin. Beberapa kali wajahnya terkena hantaman pukulan tinju Gavlin yang sangat keras dan kuat, membuat dirinya terhuyung huyung limbung hendak jatuh.
Gavlin benar benar marah pada Andrei yang datang membawa ganknya menyerang rumah pak Sarono, mertuanya. Karena itu, Gavlin tidak akan melepaskan Andrei. Gavlin berniat memberi pelajaran dan menghukum Andrei.
Sementara itu Malik dan teman temannya berhasil mengalahkan anggota gank Bellamy yang datang bersama Andrei, mereka semua terkapar di tanah, dengan tubuh penuh lula luka.
Sementara itu, Dua rekan gank Malik juga terluka, rekan lainnya cepat menolong mereka yang terluka.
Gavlin terus menyerang Andrei, satu pukulan telak menghantam rahang Andrei dengan sangat kuatnya, sehingga Andrei langsung terjerembab jatuh ke tanah.
Melihat lawannya rebah di tanah dan kalah, Gavlin tidak membiarkannya begitu saja, Dia langsung berjongkok dan mencekik leher Andrei yang sudah terkapar lemas tak berdaya di lantai.
Malik melihat Gavlin yang sedang mencekik Andrei, Malik lalu berteriak kepada Gavlin, mencegahnya untuk membunuh Andrei.
"Jangan bunuh Dia, Vlin !!" Teriak Malik keras.
Gavlin tak perduli dengan teriakan Malik, Dia terus mencekik kuat leher Andrei, hingga wajah Andrei memerah karena tak bisa bernafas, melihat hal itu, Malik cepat berlari mendekati Gavlin. Malik lantas memegang tangan Gavlin yang mencekik leher Andrei.
"Biarkan Dia hidup, Vlin. Kita butuh Dia untuk mencari tau, dimana Bellamy bersembunyi." ujar Malik, mencoba mengingatkan dan menenangkan Gavlin.
Mendengar perkataan Malik, Gavlin tersadar, Dia lantas melepaskan tangannya dari leher Andrei, seketika Andrei terbatuk batuk dan berusaha untuk bernafas normal sambil memegangi lehernya yang sakit karena di cekik kuat tangan Gavlin.
Gavlin menatap tajam wajah Andrei yang terbaring lemah ditanah dan berusaha untuk mengembalikan tenaga dan nafasnya yang sesak.
"Apa kamu suruhannya Bellamy?!!" Hardik Gavlin.
"I...iya...Kami suruhannya Bellamy, Aku terpaksa melakukan perintahnya, karena Aku butuh pekerjaan." ujar Andrei, terbata bata.
"Tolong, jangan bunuh Aku. Aku terpaksa menuruti perintah Bellamy, karena , Aku masih ingin hidup, Bellamy mengancam akan membunuh istri dan anak anakku, jika Aku gak mau menuruti perintahnya." Ungkap Andrei.
"Aku anak buahnya Acheel, bukan anak buahnya Bellamy, percayalah. Aku terpaksa melakukan hal ini. Tolong, lepaskan aku, aku mohon." Ujar Andrei, memohon pada Gavlin.
Gavlin diam mendengar penjelasan Andrei, Dia menatap tajam wajah lemah Andrei, Malik yang berdiri disamping Gavlin menatap tajam wajah Andrei.
"Kami akan membiarkan kamu hidup, asal kamu beritahu tempat persembunyian Bellamy." ujar Malik, menegaskan.
"A...aku gak berani memberi tahunya. Kalo Bellamy tau, Aku yang membocorkan tempat persembunyian Dia, Keluargaku akan di bunuhnya!" Tegas Andrei.
Andrei yang tadinya terlihat gagah dan bersikap sombong saat datang menyerang, sekarang menjadi sangat lemah dan ketakutan di hadapan Gavlin dan juga Malik. Nyalinya menjadi ciut, Dia takut di bunuh Gavlin.
"Kamu kira, Aku gak akan membunuhmu?!! Aku pasti membunuhmu, jika kamu gak mau ngasih tau, dimana si Bellamy tinggal!!" Bentak Gavlin, dengan wajah penuh amarah menatap wajah Andrei.
Andrei terlihat ketakutan mendengar perkataan Gavlin yang mengancam dirinya itu. Dia menghela nafasnya, dengan berat hati akhirnya Dia memberi tahu lokasi Bellamy.
__ADS_1
"Bellamy tinggal di kota Dinan. Di atas bukit di tepi sungai Rance." ujar Bellamy, memberitahu pada Gavlin.
Gavlin tersenyum sinis menatap wajah Andrei, Dia senang karena akhirnya mendapatkan informasi dari Andrei tentang lokasi persembunyian Bellamy.
"Kalo begitu, Aku harus beritahu Bos, biar kita bersiap siap mendatangi Bellamy di tempatnya." ujar Malik pada Gavlin.
"Ya." Angguk Gavlin, dengan sikap dinginnya pada Malik.
"Tolong, lepaskan Aku. Aku sudah memberi tau lokasi Bellamy sembunyi. Biarkan Aku pergi sekarang." ujar Bellamy.
Gavlin diam tak menjawab perkataan Andrei yang memohon agar Dia di lepaskan oleh Gavlin, Malik berdiri diam saja memperhatikan Gavlin yang bersikap dingin itu.
Tiba tiba saja, Kaki Gavlin menginjak kuat leher Andrei yang terbaring di tanah. Kaki Gavlin menginjak kuat leher Andrei, hingga Andrei kembali sulit bernafas.
Dengan kedua tangannya Andrei berusaha melepaskan kaki Gavlin yang menginjak kuat lehernya, namun, tenaganya tak kuat mengangkat kaki Gavlin.
Dengan sikap dinginnya Gavlin menunduk dan menatap tajam wajah Andrei yang tersengal sengal susah bernafas, Gavlin memegang rambut Andrei, lalu, dengan gerak cepat, Gavlin menarik kuat dan menghentakkan kepala Andrei.
"Kreekk!"
Terdengar bunyi leher Andrei patah. Andrei mati seketika, Malik kaget melihat Gavlin mematahkan leher Andrei dan membunuhnya.
"Mengapa kamu bunuh Dia , Vlin? Kita masih butuh Dia, buat nunjukkan rumah persembunyian Bellamy nantinya." ujar Malik, menatap lekat wajah Gavlin.
"Lagi pula, kalo Dia dan teman temannya itu gak dikalahkan dan di bunuh, mereka pasti sudah menghancurkan rumah ini dan bisa saja melukai Indri lagi. Aku gak bisa memaafkan perbuatan mereka!!" Ujar gavlin tegas.
"Gak akan ada yang bisa hidup, jika sudah berada di genggaman tanganku!" Lanjut Gavlin, menjelaskan pada Malik.
Malik terdiam mendengar perkataan Gavlin, Dia tahu, Gavlin marah besar karena Andrei dan ganknya datang menyerang ke rumah pak Sarono.
Dan Malik juga tahu, jika Gavlin sudah bertindak, maka musuhnya pasti akan meregang nyawa, tak akan ada yang bisa hidup dari Gavlin, mereka pasti berakhir dengan kematian di tangan Gavlin.
"Okay, Vlin. Aku mau kita ke markas sekarang, lapor sama Bos, kalo kita sudah menemukan lokasi persembunyian Bellamy." ujar Malik, menatap lekat wajah Gavlin yang berdiri disampingnya.
"Kamu saja yang ke markas, Aku tunggu di sini, Aku gak bisa ninggalin Indri sendirian di rumah ini." Ujar Gavlin, menjelaskan pada Malik.
"Oh, baiklah. Nanti, kalo kami sudah bergerak untuk menemui Bellamy, Aku akan ke sini menjemputmu." Ujar Malik.
"Ya." Angguk Gavlin.
"Okay, Vlin. Aku pergi dulu." Ujar Malik.
Gavlin tak menjawab, Dia hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Malik. Malik lalu pergi meninggalkan Gavlin.
__ADS_1
Kelompok Andrei sudah di bawa masuk ke dalam mobil oleh rekan rekan Malik. Mereka semua di ikat. Dua orang anggota gank Malik juga membawa mayat Andrei, untuk di lenyapkan.
Gavlin berdiri diam memandangi mobil Malik dan rekan rekannya yang pergi meninggalkan rumah, setelah kepergian Malik dan anggotanya, Gavlin lalu berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar, terlihat Indri mulai membuka kedua matanya, Indri sudah sadar dan bangun. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
Tak berapa lama, Masuk Gavlin di dalam kamar, Dia berjalan mendekati Indri yang terbaring di ranjang.
"In. Kamu sudah sadar?" Ujar Gavlin, menatap senang wajah Indri.
"Gavlin." Sapa Indri, dengan suara lemahnya.
Indri menoleh dan melihat Gavlin yang berdiri di samping ranjang, Gavlin terlihat sangat senang, Dia lega karena Indri sudah sadar dari pingsannya.
"Aku senang, kamu sudah bangun, In." Ujar Gavlin.
"Iya, Vlin." ujar Indri lemah.
Indri berusaha bangun dari kasurnya, tapi Gavlin cepat menahan tubuhnya, dan mencegah Indri untuk bangun.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu, In. Nanti jahitan lukamu bisa terbuka. Rebahanlah. Sampai lukamu mengering dan benar benar sembuh." ujar Gavlin.
" Aku gak apa apa kok Vlin. Aku cuma mau duduk bersandar di ranjang." ujar Indri, dengan suara lemahnya.
"Oh, Baiklah In. Mari Aku bantu kamu duduk." ujar Gavlin.
"Iya." Angguk Indri lemah.
Gavlin lalu membantu Indri bangun dari kasurnya, Dia mengangkat tubuh Indri, dan membantu Indri duduk di kasur serta menyandar di ranjang.
"Sudah enakan duduknya, In?" tanya Gavlin.
"Sudah, Vlin." ujar Indri.
"In. Kenapa kamu membiarkan dirimu di tembak?" ujar Gavlin bertanya, dengan menatap wajah Indri.
"Karena Aku gak mau, kamu mati, Vlin. Kamu harus hidup." ujar Indri, menatap Gavlin.
"Tapi, kamu yang terluka, Aku takut, kamu terbunuh In. Aku gak sanggup melihatmu terluka." ujar Gavlin, menatap sedih wajah Indri.
"Aku gak akan terbunuh, Vlin. Karena Kamu ada di sampingku, menemani dan menolongku pastinya." ujar Indri, tersenyum menatap wajah Gavlin yang berdiri di samping ranjang.
Gavlin terdiam mendengar perkataan Indri, Dia hanya menatap wajah Indri saja. Tatapan mata Gavlin tampak penuh cinta dan kasih sayang pada Indri.
__ADS_1