
Linda dan Gavlin masuk ke dalam gedung perkantoran mewah milik Bramantio.
Wajah Linda terlihat tegang karena khawatir dengan papahnya, sementara Gavlin berjalan santai disampingnya.
Wajah Gavlin dingin dan tenang, mereka masuk ke dalam gedung tanpa dihalangi penjaga keamanan yang mengenali Linda serta Gavlin.
Linda dan Gavlin bergegas masuk ke dalam lift yang ada di lobby gedung perkantoran.
Di dalam lift, wajah Linda semakin tegang, dia berdiri diam, sementara Gavlin yang berdiri di sampingnya hanya diam meliriknya.
Pintu lift terbuka, dengan cepat Linda melangkah keluar dari dalam lift di ikuti Gavlin.
Saat mereka berjalan di koridor lantai tempat dimana ruang kerja Bramantio berada, Mike yang baru keluar dari ruang kerjanya melihat kedatangan Linda bersama Gavlin.
Wajah Mike seketika marah, dia lalu segera melangkah untuk mendekati Linda dan Gavlin yang berjalan menuju ruang kerja Bramantio.
Di dalam kantor, ruang kerja Bramantio, Wijaya dan Bramantio masih sama sama menodongkan pistol yang ada di tangan mereka.
Wijaya menggerakkan jari tangannya, bersiap untuk menembak, begitu juga Bramantio.
Surya hanya bisa terdiam berdiri di tempatnya, menyaksikan pertarungan Wijaya dan Bramantio yang bagaikan koboi saling berhadapan dengan senjatanya.
"Aku tidak pernah takut dengan semua ancamanmu Wijaya !" Bentak Bramantio.
"Ingat, kartu As ada di tanganku ! Sekali aku membuka kartu, maka kamu akan hancur !" Ujar Bramantio sinis.
Bramantio terus mengarahkan pistol ditangannya pada Wijaya yang juga memegang pistol.
"Jangan banyak omong Bram ! Kematianmu akan segera datang!" Ujar Wijaya.
Wijaya menodongkan pistolnya ke arah kepala Bramantio, dia menatap geram wajah Bramantio yang berdiri di hadapannya dengan memegang pistol ditangan.
"Jangan lakukan itu Pah, hentikan !" Teriak Linda masuk ke dalam ruang kerja Bramantio.
Mendengar dan melihat anaknya yang datang, Wijaya mengurungkan niatnya untuk menembakkan pistol ditangannya ke arah Bramantio.
Linda segera mendekati Wijaya, berdiri disampingnya, sementara Gavlin mengikuti dan berdiri di samping Linda.
Melihat kedatangan Linda bersama Gavlin membuat Bramantio tertawa.
"Bukan main anak sama bapak ini...! Datang bersamaan hanya untuk membunuhku !" Ujar Bramantio tertawa sinis.
"Diam kamu Bram !!" Bentak Wijaya penuh amarah, dia arahkan pistolnya ke kepala Bramantio yang tertawa terbahak bahak.
"Jangan Pah, Jangan kotorin tangan papah dengan darah manusia iblis itu !" Ujar Linda menatap lekat wajah Wijaya.
"Pergi kamu Lin, biar papah menyelesaikan semuanya, papah akan membunuh dia, agar dia tidak bisa bertindak semena mena lagi sama semua orang !" Ujar Wijaya.
Wijaya geram, dia menatap tajam wajah Bramantio yang tersenyum sinis padanya.
"Nggak Pah, aku gak akan membiarkan Papah melakukan itu! Hentikan, masih ada cara lain untuk membalas dan memberi pelajaran padanya !" Ujar Linda.
Gavlin diam melirik Wijaya yang terlihat begitu emosinya, lalu Gavlin melirik, mencuri pandang pada Bramantio yang terlihat santai dan cuek tersenyum sinis.
Mike masuk ke dalam ruang kerja Bramantio, melihat Bramantio dan Wijaya saling menodongkan pistol, serta Linda dan Gavlin , Mike marah.
"Apa apaan ini !! Kalian mau buat keributan di sini !!" Bentak Mike.
"Diam kamu !!" Bentak Wijaya mengarahkan pistol pada Mike.
Melihat pistol mengarah ke dirinya, Mike kaget, dia takut juga di tembak Wijaya. Bramantio menodongkan pistolnya pada Linda dan Wijaya.
"Jangan coba coba menembak anakku Wijaya !! Berani menembaknya, aku akan membunuh !!" Bentak Bramantio.
Bramantio marah pada Wijaya karena menodongkan pistol pada anaknya.
Mike berdiri terdiam melirik Bramantio yang marah, lalu dia melihat Gavlin yang hanya diam ditempatnya.
Mike terlihat geram pada Gavlin yang datang bersama Linda ke kantornya.
"Simpan pistol papah. Tunda rencana papah saat ini membunuh dia." Ujar Linda.
Dia menatap wajah Wijaya yang begitu marahnya, Linda melirik Bramantio yang sinis memandang.
Linda memegang tangan papahnya, menurunkan tangan papahnya yang menodongkan pistol pada Mike.
Wijaya menatap wajah Linda yang tersenyum padanya, menenangkan papahnya.
Akhirnya Wijaya menurut pada Linda, dia menurunkan tangannya, Linda lalu mengambil pistol dari tangan papahnya.
Melihat itu Mike menghela nafas, dia lega karena tidak di todong pistol Wijaya lagi.
Bramantio juga menurunkan tangannya yang menodongkan pistol, lalu dia meletakkan pistolnya di atas meja kerja.
"Hari ini kamu masih bisa hidup Bram ! Ingat, aku akan membuat perhitungan denganmu !! Kita akan sama sama hancur !!" Bentak Wijaya melampiaskan amarahnya.
"Silahkan Wijaya ! Kapan dan dimanapun kamu mau agar kita saling berhadapan, aku siap! Aku tunggu harinya !!" Ujar Bramantio tertawa sinis meremehkan Wijaya.
"Kita pulang Pah." Ajak Linda pada Wijaya.
Wijaya mengikuti Linda, melangkah keluar dari ruang kerja Bramantio.
Gavlin mengikuti mereka berdua, berjalan di belakang Linda dan Wijaya.
Melihat Wijaya yang berbalik keluar ruangan, Bramantio tersenyum sinis.
Dia lalu duduk di kursi kerjanya, Asisten Manager yang dari tadi diam lega, karena tidak terjadi tembak tembakan di dalam ruangan kerja Bramantio.
Mike yang emosi, melihat kepergian Wijaya dan Linda beserta Gavlin mengejarnya.
"Jangan pergi kalian Setaan !!" Teriak Mike mengejar Linda dan Wijaya.
"Mike !! Biarkan mereka !!" Teriak Bramantio dari kursinya begitu melihat anaknya keluar ruangan mengejar Wijaya dan Linda serta Gavlin.
__ADS_1
"Cegah Mike !" Perintah Bramantio pada Asisten Manager.
"Baik Pak." Ujar Asisten Manager mengangguk, lalu bergegas pergi keluar ruangan, Bramantio geram.
Mike berlari mendekati Wijaya dan Linda yang sudah keluar dari ruang kerja Bramantio.
Saat mereka berjalan di koridor, Mike datang berlari kearah Wijaya dan Linda.
Gavlin yang mendengar teriakan Mike, dan melihat Mike berlari penuh amarah hendak menyerang Wijaya dan Linda, dengan gerak reflek menghantam Mike.
Mike terjajar jatuh di hantam pukulan Gavlin yang menghalangi dia menyerang Wijaya dan Linda.
Mike kaget, tak menyangka Gavlin memukulnya, Wijaya dan Linda menghentikan langkahnya, berbalik melihat Mike yang terduduk dilantai.
Mike cepat berdiri kembali dan menatap wajah Gavlin yang tenang penuh amarah.
"Bajingan!! Berani kamu memukulku!!" Bentak Mike.
Dia lantas menyerang Gavlin, Gavlin menghindari pukulan Mike, memberi perlawanan.
Jual beli pukulan terjadi antara Mike dan Gavlin. Tapi Gavlin bukanlah lawan yang gampang dan lemah buat Mike.
Dengan mudah Gavlin menghajar Mike, memberi pukulan pukulan keras, hingga membuat Mike terjajar jajar sempoyongan jatuh.
Mike dengan cepat segera bangun, lalu dia mencoba menyerang Gavlin lagi.
Melihat perkelahian antara Gavlin dan Mike, Surya kaget, dia bingung, tidak tahu caranya untuk melerai perkelahian itu.
Mike kembali menyerang Gavlin, wajahnya terlihat memar memar akibat terkena hantaman pukulan dari Gavlin.
Bibirnya pecah dan berdarah, pelipisnya robek mengeluarkan darah.
Gavlin terus menghajar Mike hingga jatuh lemas tak berdaya di lantai.
Linda yang masih memegang pistol papahnya segera mengarahkan pistol pada Mike yang terduduk lemah di lantai.
"Hentikan Mike ! Atau aku akan menembakmu !!" Ujar Linda.
Linda menatap geram Mike, dia marah karena tahu bahwa Mike mau menyerang dirinya dan papahnya.
Beruntung ada Gavlin yang mencegahnya, jika Linda datang tidak membawa Gavlin, mungkin dia dan papahnya sudah kehilangan nyawa.
Mike yang terduduk dilantai menatap geram wajah Linda, dia menghapus darah di bibirnya. Sementara Gavlin bersikap tenang, seolah tak ada yang terjadi.
"Ayo Vlin." Ajak Linda pada Gavlin yang mengangguk.
Gavlin melangkah dengan sikap dingin dan tenang mengikuti Linda dan Wijaya pergi dari ruang kantor Bramantio.
Mike menatap penuh amarah kepergian Linda dan Wijaya beserta Gavlin.
Dia dendam pada Gavlin karena menghajarnya, Surya, sang Asisten Manager cepat mendekatinya, membantu Mike berdiri.
Mike marah karena Asisten Manager membantunya berdiri, dia merasa harga dirinya di injak injak.
Mike berdiri masih terhuyung, dia sedikit pusing dan sempoyongan karena kepalanya dipukulin Gavlin yang memang jago ilmu bela diri.
Mike melangkah cepat membawa dendam dan amarahnya, dia pergi meninggalkan Asisten Manager yang terdiam berdiri ditempatnya.
Surya memandangi kepergian Mike yang berjalan gontai menuju ruang kerjanya.
Mike masuk ke dalam ruang kerjanya, dia hempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, melepas amarahnya.
Dia mengambil tissu yang ada di pinggir meja kerjanya, menghapus darah di pelipisnya dengan kertas tissu, lalu membuang tissu ke lantai.
Raut wajah Mike sangat marah, dia tidak bisa menerima kekalahannya dari Gavlin.
Mike mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dia lalu menelpon.
"Ada tugas buatmu !! Awasi Linda dan Gavlin pacarnya, Ikuti mereka ! Cari tau dimana rumahnya, datangi, beri pelajaran pada si Gavlin !" Ujar Mike di telepon.
"Aku mau kamu dan anak buahmu menghabisi dia, bungkam dan buang mayatnya ke dasar laut." Perintah Mike ditelepon.
"Berapa pun yang kamu mau, akan aku berikan nanti setelah kamu menyelesaikan tugas !!" Ujar Mike penuh amarah dengan suara kerasnya.
Mike menelepon Samsul, ketua kelompok preman bernama "Wolf Gank".
Kelompok preman yang biasa dibayar Bramantio untuk melakukan pekerjaan kotor Bramantio dan Mike.
Mike meletakkan ponselnya di atas meja kerja, tatapan matanya tajam, memandang jauh ke depan penuh amarah.
Sementara itu, Gatot sedang berada di lokasi proyek milik Wijaya.
Dia memandangi bangunan bangunan yang sedang di bangun, semua bangunan yang ada di lokasi proyek hangus terbakar.
"Sepertinya pelaku tidak akan berhenti sebelum bisnis pak Wijaya hancur." Ujar Gatot pada pimpinan proyek.
"Saya yakin, pelakunya sama dengan pelaku penyerangan sebelumnya pak." Ujar Pimpinan Proyek.
"Dimana pak Wijaya, kenapa beliau tidak datang ke sini?" Tanya Gatot.
"Beliau sudah tau kabarnya dari saya, saya juga tidak tahu, kenapa pak Wijaya belum datang juga." Ujar Pimpinan Proyek.
Gatot mengangguk angguk, dia berfikir, Gatot punya firasat, bahwa saat ini pasti Wijaya sedang menemui Bramantio.
Bramantio pasti di curigai Wijaya sebagai pelaku pembakaran proyeknya. Begitu yang terlintas di pikiran Gatot saat ini.
"Baiklah, saya akan menyelidiki kasus ini, jika ada perkembangan tentang kasus ini, saya akan mengabarinya." Ujar Gatot pada Pimpinan Proyek.
"Baik Pak." Jawab Pimpinan Proyek mengangguk hormat pada Gatot.
Gatot kemudian melangkah pergi meninggalkan Pimpinan Proyek yang mengangguk padanya.
__ADS_1
Sebelum kembali ke mobilnya, Gatot melihat para Petugas Forensik yang sedang mencari bukti bukti pembakaran.
Lalu Gatot melihat para petugas pemadam kebakaran yang sibuk memadamkan sisa sisa api yang masih menyala dan membakar bangunan bangunan.
Gatot berjalan masuk ke dalam mobilnya, dia diam sejenak, berfikir keras.
Lalu menghela nafasnya, Gatot kemudian menyalakan mesin mobilnya, memegang stir mobil, lalu menjalankan mobilnya, Gatot pergi dari lokasi Proyek Wijaya.
Wijaya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu dalam rumahnya.
Linda menatap wajah papahnya yang masih menyimpan amarah dalam dirinya.
Sementara Gavlin diam berdiri di samping Linda. Wijaya melirik Gavlin, ada rasa tidak suka Wijaya dengan Gavlin yang berada di dalam rumahnya.
Itu disebabkan karena Wijaya tahu, bahwa Gavlin pernah bekerja dengan Bramantio.
"Papah istirahat ya, tenangkan diri papah. Nanti kita cari cara untuk membalas semua perbuatan Bramantio." Ujar Linda pada Wijaya yang mengangguk.
"Kamu mau kemana?" Tanya Wijaya.
"Aku mau pergi dulu, ngantar Gavlin pulang." Ujar Linda, Wijaya mengangguk.
"Ayo Vlin." Ajak Linda pada Gavlin.
"Saya pamit Om." Ujar Gavlin memberi hormat pada Wijaya yang hanya mengangguk tanpa menjawab.
Raut wajahnya menunjukkan rasa tidak senangnya pada Gavlin, walaupun Gavlin sudah menolongnya dari Mike yang hampir memukulnya.
Gavlin dan Linda berbalik dan melangkah meninggalkan Wijaya yang duduk di sofanya.
"Tunggu Lin." Panggil wijaya tiba tiba, Linda menghentikan langkahnya, berbalik menatap papahnya.
"Papah mau bicara denganmu." Ujar Wijaya pada Linda.
Linda menoleh pada Gavlin yang diam berdiri disampingnya.
"Kamu tunggu aku di luar rumah ya Vlin." Ujar Linda tersenyum pada Gavlin.
Gavlin mengangguk, lalu pergi keluar dari dalam rumah Wijaya.
Linda melangkah mendekati Wijaya yang berdiri dari duduknya menatap lekat wajah Linda.
"Papah mau bicara apa sama Linda?" Tanya Linda , Wijaya menghela nafas menatap wajah Linda.
"Sebaiknya kamu tidak pacaran dengan pria tadi." Ujar Wijaya, Linda kaget.
"Maksud papah Gavlin?" Ujar Linda menatap lekat wajah Wijaya yang mengangguk, mengiyakan pertanyaan Linda padanya.
"Memangnya kenapa aku gak boleh pacaran sama Gavlin?" Tanya Linda heran.
"Bagaimana pun dia itu kenal Bram, pernah kerja dengan Bram, Papah curiga." Ujar wijaya.
"Maksud Papah?" Tanya Linda.
"Bisa saja, Bram pura pura memecat dia lalu menyuruhnya agar mendekatimu, dengan tujuan mengawasi gerak gerik papah dan kamu." Ujar Wijaya.
Linda tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan Wijaya padanya tentang Gavlin.
"Kok Papah malah berprasangka buruk sama Gavlin ?" Tanya Linda.
"Karena gelagat pria itu sangat mencurigakan, dari sorot mata dan raut wajahnya papah tau, dia menyimpan suatu rahasia dalam dirinya." Ujar Wijaya.
"Pasti ada yang disembunyikannya, dan sedang direncanakannya. Firasat papah biasanya kuat dan benar dalam menilai seseorang." Ujar Wijaya.
"Gavlin gak seperti yang papah duga, dia baik, dia benar benar di pecat Bramantio, gak ada yang disembunyikannya." Ujar Linda.
"Justru Gavlin bilang, dia memang sudah lama ingin berhenti kerja, karena dia udah muak sama sikap Bramantio yang suka berbuat semena mena padanya." Ujar Linda.
Linda mencoba memberi penjelasan pada papahnya agar tidak salah paham dengan Gavlin.
"Itukan katanya, kamu jangan mudah terpedaya sama pria seperti dia." Ujar Wijaya.
"Pah ! Kok Papah jadi masalahin hubungan aku dengan Gavlin ?" Linda marah.
"Apa urusannya papah melarang aku pacaran sama Gavlin?" Linda sewot.
"Aku mencintainya Pah, Gavlin itu baik, bukan penjahat seperti yang papah tuduhkan karena prasangka buruk papah itu !" Ujar Linda.
Suaranya sedikit bernada keras karena kesal dan marah pada Wijaya yang melarang hubungan dia dengan Gavlin.
"Pokoknya Papah minta kamu menjauh dan jaga jarak dengan si Gavlin itu !" Bentak Wijaya, Linda kaget.
"Papah gak mau dia menjadi bagian dari keluarga kita! Level dia berbeda jauh dengan kamu, dengan keluarga kita !!" Ujar Wijaya dengan penuh emosi marah.
"Kamu harusnya mencari pria yang selevel denganmu, jauh di atas Mike! Bukan malah pacaran dengan pria yang levelnya jauh dibawah si Mike !" Ujar Wijaya marah.
"Terserah ! Aku tetap pacaran dengan Gavlin !!" Ujar Linda marah, dia segera berbalik dan pergi meninggalkan Wijaya.
"Lindaaa !!" Bentak Wijaya memanggil anaknya.
Namun Linda terus berjalan keluar rumah, dia tidak mendengar dan mengabaikan panggilan papahnya.
Linda berjalan keluar rumah dengan wajah kesal dan marah pada papahnya.
Melihat kepergian Linda, Wijaya semakin kesal, dia hempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya itu.
Wajahnya penuh amarah, dia mengepalkan jari jemari tangannya, menahan geram dan amarahnya yang saat ini bergejolak hebat di dalam jiwanya.
"Ayo Vlin." Ajak Linda pada Gavlin yang berdiri diteras depan pintu masuk rumah Wijaya.
Gavlin mendengar jelas semua pembicaraan Wijaya dan Linda tentang dirinya.
Gavlin melangkah mengikuti Linda yang sudah lebih dulu berjalan ke mobilnya.
__ADS_1
Saat melangkah, Gavlin menoleh ke belakang, ke dalam rumah Wijaya, dia berjalan sambil tersenyum sinis.