VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pengintai yang Terbantai


__ADS_3

Mobil Gatot tiba di rumah Gavlin, Gavlin berdiri di pinggir jalan, depan rumahnya, dia sudah menunggu Gatot. Mobil Gatot masuk ke halaman rumah Gavlin.


Sebelum berbalik badan untuk masuk ke halaman rumahnya, sekilas Gavlin melihat, sebuah mobil sedan berhenti sedikit jauh dari rumahnya, Gavlin diam sesaat.


Dia berfikir sejenak sambil melirik mobil sedan yang berhenti di pinggir jalan tersebut. Lalu, Gavlin pun berjalan dan masuk ke dalam rumahnya.


Gatot keluar dari dalam mobilnya, Gavlin pun segera menghampirinya, mereka berdua saling berpelukan erat.


"Gimana keadaanmu?" tanya Gatot.


"Aman, Om." ujar Gavlin.


Sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Gatot, dia melihat, mobil sedan yang tadi parkir di pinggir jalan melintas melewati rumahnya.


Sekilas, Gavlin melihat, sang Supir menoleh ke arah rumah Gavlin, Gavlin merasa curiga, dia merasakan ada gelagat aneh dari mobil sedan tersebut.


Namun, Gavlin berusaha menepiskan rasa curiganya, dan menganggap, mobil itu hanya sekedar lewat saja di depan rumahnya.


Di dalam mobil yang parkir di ujung jalan, sedikit jauh dari rumah Gavlin, seorang petugas polisi tampak sedang mengirimkan pesan pada Sutoyo.


Petugas Polisi itu tengah memberikan alamat rumah Gavlin, yang saat ini mereka intai dan awasi, sebab, mereka telah mengikuti Gatot dari rumahnya.


Gatot dan Gavlin berdiri saling berhadapan, Gatot tampak tersenyum senang menatap wajah Gavlin yang juga tersenyum padanya.


"Kamu berhasil membalaskan dendam Teguh, Vlin. Aku senang, lega sekarang, karena Rasid dan Gunadi, udah mendapatkan ganjarannya!" tegas Gatot, menjelaskan.


"Masih tersisa biangnya,Om. Aku belum bisa tenang, kalo Sutoyo masih hidup!" tegas Gavlin.


"Sutoyo bukan aja dalang pembunuhan bang Teguh, tapi, dia juga otak dari semua kejahatan pembunuhan orang tuaku dulu!" lanjut Gavlin, menahan geram dan marahnya.


"Ya, aku paham, tapi, Sutoyo berbahaya, dan sulit membunuhnya, kamu harus hati hati." ujar Gatot, mengingatkan.


"Iya, Om." Angguk Gavlin, mengiyakan.


Mobil sedan kembali melintas melewati rumah Gavlin, Gavlin mengenali mobil tersebut, adalah mobil yang sama, seperti tadi melintas di depan rumahnya.


Gavlin semakin yakin, ada yang mengikuti Gatot sampai kerumahnya, Dia pun tampak geram.


"Om, maaf, sebentar. Om tunggu di teras, ya." ujar Gavlin, dengan wajah serius.


"Ada apa, Vlin?" tanya Gatot heran.


"Aku mau keluar sebentar, ada yang mau aku beli." jelas Gavlin, berbohong.


"Gak usah repot repot, Vlin. Gak usah beli makanan segala." ujar Gatot.


Gatot mengira, Gavlin mau pergi keluar, karena ingin membeli makanan dan minuman untuk menjamu dirinya, padahal Gavlin mau melihat, siapa orang yang mengawasi rumahnya.


"Gak apa apa, om. Om tunggu aja, ya." ujar Gavlin .


Gatot pun akhirnya mengangguk, mengiyakan, lalu, dia pun berjalan ke arah teras rumah Gavlin, Gavlin masuk ke dalam rumahnya, Gatot duduk di kursi teras.


Dengan cepat, Gavlin mengambil pisau belatinya di dalam kamar khusus, dia juga mengambil pistol dan mengisinya dengan peluru.

__ADS_1


Gavlin lantas keluar dari arah belakang rumahnya, pergi untuk menemui pengintai diluar rumahnya. Gatot yang duduk di kursi teras heran, karena Gavlin belum keluar dari dalam rumahnya.


Dua petugas Polisi yang sedang mengawasi rumah Gavlin tampak serius melihat ke arah rumah Gavlin. Tiba tiba, kaca jendela pintu depan mobil di ketuk.


Dari dalam mobil, petugas polisi yang duduk di depan stir menoleh pada sosok orang yang berdiri di luar, tepat di depan pintu mobilnya.


Petugas Polisi itu heran, dia melihat rekannya yang duduk di jok depan, disampingnya. Dari luar, orang yang ternyata Gavlin mengetuk kaca jendela pintu depan mobil lagi.


Belum sempat petugas polisi membuka kaca jendela mobilnya, tiba tiba, kaca jendela di pecahkan Gavlin, Kedua Petugas Kepolisian kaget.


Secepat kilat, tangan Gavlin masuk dari jendela pintu yang sudah di pecahkannya, dan pisau belati mengarah dan menghujam ke dada petugas polisi yang duduk di depan stir mobil.


Melihat rekannya di tikam pisau, Petugas Polisi lainnya kaget, Gavlin membuka pintu mobil, lalu menarik tubuh Petugas Polisi yang di tikamnya dengan pisau.


Belum sempat Petugas Polisi ke dua mengambil pistolnya, Gavlin sudah mengarahkan pistolnya ke arah dirinya. Dengan cepat, Petugas polisi kedua membuka pintu mobil, lalu lari keluar.


Dengan buas, Gavlin menghujamkan pisau belati sekali lagi ke dada petugas polisi pertama, lalu, Gavlin membawa keluar petugas polisi dari dalam mobil.


Gavlin meletakkan petugas polisi yang sudah mati karena dadanya di tikam tiga kali oleh Gavlin, di aspal jalan.


Dengan geram, Gavlin lalu membidik pistolnya ke arah Petugas Polisi dua yang berlari, untuk menyelamatkan dirinya. Gavlin menembak petugas polisi dua.


Tembakannya tepat mengenai kaki Petugas Polisi hingga dia terjatuh ke aspal jalanan. Suara tembakan dari pistol Gavlin membuat Gatot kaget.


Dengan cepat, Gatot yang duduk di kursi teras berlari sambil mengambil pistol di pinggangnya, dia bergegas lari ke arah suara tembakan terdengar.


Dengan sikap dingin dan tenang, Gavlin berjalan mendekati petugas polisi dua yang tengah menyeret tubuhnya di aspal, karena kakinya berdarah kena tembakan.


Petugas Polisi sambil berjalan ngesot di aspal jalan karena tak bisa berdiri, mengambil ponselnya, dia mau menghubungi Sutoyo.


"Kalian suruhannya Sutoyo kan?!" Bentak Gavlin.


Petugas Polisi dua diam tak menjawab, Gavlin menginjak kakinya yang terluka kena tembakan pistol Gavlin.


"Aaarrrgghhh!!" teriak Petugas Polisi dua, mengerang kesakitan.


Dia berteriak kesakitan karena kakinya yang tertembak di injak Gavlin dengan sangat kuat, Gatot keluar dari dalam rumah Gavlin.


Gatot melihat Gavlin berdiri di tengah jalan, sedikit jauh dari rumahnya, Dia juga melihat, ada seseorang yang rebah di aspal jalanan.


"Gavliiin!!" teriak Gatot, memanggil.


Gavlin diam, dia tak bereaksi dengan panggilan Gatot, tatapan mata Gavlin tajam dan dingin menatap wajah Petugas Polisi dua yang mulai takut pada Gavlin.


Petugas Polisi dua mengenali wajah Gavlin, sebab, Gavlin menjadi buronan utama kepolisian saat ini. Gavlin merampas ponsel petugas polisi dua.


Saat Gavlin melihat dan memeriksa ponselnya, diam diam, dia mengambil pistolnya yang ada di pinggangnya, lalu, dengan cepat, diarahkannya pistolnya pada Gavlin.


Belum sempat dia menembak Gavlin, terdengar letusan suara tembakan dari arah lain, dan satu peluru menembus dahi Petugas Polisi dua. Pistol terlepas dari tangan Petugas Polisi dua.


Gavlin kaget, dia melihat, Petugas Polisi dua terkapar dan mati di aspal jalanan, Gatot mendekati Gavlin.


"Hampir saja kamu di tembaknya, Vlin!" ujar Gatot terengah engah, karena habis berlari.

__ADS_1


"Terima kasih, Om." ujar Gavlin.


Gatot melihat lencana kepolisian di pinggang petugas polisi dua yang sudah mati terkapar di aspal jalanan.


"Dia polisi, Vlin!" ujar Gatot kaget.


"Iya, Om. Sepertinya, mereka, mengikuti Om sejak dari rumah sampe ke sini, aku melihat mobil mereka mundar mandir di depan rumahku tadi." ujar Gavlin, menjelaskan.


"Itu sebabnya, aku tadi sengaja bilang sama Om, mau pergi sebentar. Aku mau mencari tau, siapa mereka, dan apa maunya." jelas Gavlin lagi, dengan wajah serius.


"Mereka? Maksudmu, dia gak sendiri?" tanya Gatot heran.


"Ya, Om. Dia berdua dengan rekannya, rekannya udah ku bunuh, mayatnya ada di depan mobilnya, di sana." jelas Gavlin.


Gavlin menunjuk ke arah sebaliknya, dimana mobil kedua petugas polisi yang mengintai di parkir, Gatot melihat kearah yang di tunjuk Gavlin.


Gatot melihat mobil tersebut, dan di aspal, dekat mobil, dia melihat, ada mayat petugas polisi lainnya. Gatot pun menghela nafasnya.


Gavlin membaca pesan yang di kirimkan petugas polisi dua pada Sutoyo, wajah Gavlin tampak geram.


"Dia mengirimkan alamat rumahku ke Sutoyo, liat ini, Om." ujar Gavlin geram.


Gatot lantas melihat ponsel yang ada di tangan Gavlin, dia membaca pesan yang ada dalam ponsel tersebut. Wajah Gatot pun cemas.


"Kamu gak aman, Vlin, rumahmu udah diketahui, Maafkan Aku, Aku lengah, gak tau kalo aku di ikuti sejak dari rumah tadi!" ujar Gatot, merasa bersalah.


"Gak apa apa ,Om. Tenang aja, Sutoyo gak akan bisa menangkapku!" tegas Gavlin, dengan sikap tenang dan dinginnya.


"Tapi, kamu harus bersembunyi, Vlin, untuk sementara waktu, jangan dirumahmu dulu, aku yakin, Sutoyo akan datang membawa pasukannya ke rumahmu!" Jelas Gatot, menegaskan.


"Ya, Om. Gimana nanti aja. Sekarang, gimana kita urus mayat mayat ini?" ujar Gavlin tenang.


"Serahkan padaku, biar aku yang urus kedua mayat polisi ini, kamu, menyingkir saja dari sini." ujar Gatot.


"Vlin ! Kita tunda sementara waktu pembahasan kita yang belum sempat kita bicarakan tadi!" tegas Gatot, dengan wajah serius.


"Ya, Om. Nanti kita lanjut lagi." ujar Gavlin.


Gavlin lantas menyimpan ponsel milik petugas polisi dua kedalam kantong celananya, dia sengaja menyimpannya, karena ada nomor telepon Sutoyo di dalam ponsel.


Gavlin lantas pergi meninggalkan Gatot sendirian, Gatot segera menghubungi petugas medis dan mobil ambulance.


Gavlin masuk ke dalam rumahnya, lalu, dia berjalan ke sudut lemari yang ada di ruang tengah rumahnya, dia menekan dinding ruangan, tiba tiba, dinding ruangan terbelah dua.


Dengan cepat, Gavlin masuk ke dalam ruangan di dalam dinding, dinding kembali menyatu dan kembali ke posisi semula. Gavlin masuk keruang bawah tanahnya.


Dia berjalan ke arah kamar khusus tempat penyimpanan senjata senjatanya, wajah Gavlin tampak geram dan marah, dia lantas menyalakan monitor.


Kemudian, Gavlin duduk di kursi meja, dia melihat ke arah layar monitor cctv yang ada diatas meja. Ada 15 kamera cctv terpasang di sekitar area luar rumah Gavlin.


Sementara, di dalam rumahnya sendiri, dia memasang 30 kamera cctv, di tiap tiap sudut seluruh ruangan dalam rumahnya. Gavlin sengaja memasang banyak kamera cctv, agar dia bisa memantau rumahnya. Berjaga jaga, kalau kalau, di dalam rumahnya ada yang menyusup masuk dan berniat jahat.


Dan diantara kamera cctv yang terpasang, ada yang sengaja di pasang Gavlin di kiri dan kanan jalan depan rumahnya.

__ADS_1


Dari layar monitor cctv, dia dengan jelas melihat Gatot tengah berdiri di tengah jalan, didepan mayat petugas polisi dua.


Tak berapa lama, dari kamera cctv, Gavlin melihat, dua mobil ambulance datang, dan mendekati Gatot. Dengan tatapan mata yang dingin, Gavlin terus melihat ke layar monitor cctvnya.


__ADS_2