VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Aman


__ADS_3

Indri berdiri di pinggir tembok ruang tengah, Salah seorang Petugas Polisi masuk ke dalam ruang tengah.


"Bagaimana?" tanya Seorang Petugas Polisi 1.


"Clear ! Semua ruangan bersih. Gak ada tersangka!" Jawab Petugas Polisi 2.


"Kalo gitu, kita lapor Kapten !" jawab Petugas Polisi 1.


"Siap !" jawab Polisi 2.


Lantas, mereka pun beranjak pergi meninggalkan ruang tengah, Indri tampak lega, sebab Gavlin tetap aman, dan polisi polisi tidak menemui ruang bawah tanah di dalam rumah.


Indri lalu bergegas pergi mengikuti para petugas kepolisian yang berjalan keluar rumah.


Para Petugas Penyidik Kepolisian keluar dari dalam rumah Sarono, dan mereka menghadap Kapten yang sedang bersama Sarono.


"Lapor Kap ! Dalam bersih, gak ada tersangka!" Ujar Petugas Polisi 1 yang bernama Edo memberi laporan.


"Hmm...Baiklah. Sebaiknya kita melacak ulang keberadaan Gavlin." jawab Petugas Penyidik Kepolisian yang berdiri di hadapan Sarono.


Benar dugaan Sarono, melihat pangkatnya, Petugas yang menginterogasi dia pemimpin polisi polisi yang datang kerumahnya. Dan dia seorang Kapten.


Kapten Polisi itu di tugaskan langsung oleh Richard untuk memburu Gavlin, dia di angkat sebagai pengganti Gatot yang di non aktifkannya dari tugas sebagai komandan Penyidik Kepolisian. Richard belum tahu, jika Gatot sudah mati di bunuh Jafar di rumahnya sendiri.


Kita sebut saja Kapten Polisi itu dengan nama Andre, orangnya bertubuh kekar, namun tidak tinggi juga tidak pendek, tingginya standard , umumnya para Polisi.


Hanya wajahnya tampak galak.


"Baiklah, kami pamit, Terima kasih atas waktunya." ujar Andre, Kapten Polisi pada Sarono.


"Ya, Pak." Angguk Sarono.


Lalu, Andre pun segera pergi meninggalkan Sarono yang berdiri diteras rumah, tepat di depan pintu masuk rumahnya. Dia melihat Andre berjalan bersama para petugas penyidik kepolisian.


Sebelum masuk ke mobilnya, Andre berbisik pada petugas polisi 2 yang berdiri di sampingnya.


"Kamu selidiki Bapak itu, saya curiga, dia menyembunyikan sesuatu. Saya yakin, Bapak itu tau Gavlin. Hanya, saya gak punya bukti menuduh dan menangkapnya." Bisik Andre.


"Baik, Akan saya kerjakan !" jawab Petugas Polisi 2, yang bernama Masto.


Andre masuk ke dalam mobilnya, Masto, si Petugas Polisi 2 juga masuk ke dalam mobilnya, Polisi Polisi lain juga masuk ke dalam mobil mereka masing masing.


Sarono masih berdiri diteras depan rumahnya, dia melihat kepergian mobil mobil polisi tersebut, setelah mobil mobil polisi sudah tak ada lagi , Sarono pun menghela nafasnya, dia lega, sebab berhasil mengelabui para polisi tersebut.


Sarono tak tahu, kalau Andre masih menaruh curiga padanya, dan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi pergerakan Sarono.


Sarono lantas segera masuk ke dalam rumahnya, setelah di dalam rumah, dia segera menutup pintu dan mengunci pintu rumahnya.


Indri menghampiri Sarono, wajah Indri masih terlihat cemas, dia berdiri di samping Sarono.


"Mereka sudah pergi, Pak?" tanya Indri, masih dengan wajah cemas.


"Sudah, Gavlin sudah aman." jelas Sarono, tersenyum senang.


"Syukurlah. Indri tadi takut, Bapak dibawa polisi polisi itu." ujar Indri, dengan wajah khawatirnya.


"Gak apa apa. Polisi gak bisa membawa Bapak begitu saja, mereka harus ada bukti kalau mau membawa dan menuduh Bapak kaki tangan Gavlin." tegas Sarono, tersenyum tenang.


"Iya, Pak." jawab Indri.


"Mana Gavlin ? Apa dia pergi?" tanya Sarono, penasaran.

__ADS_1


"Nggak, Pak. Gavlin gak bisa lari dan keluar dari rumah, soalnya dibelakang ada polisi yang berjaga." jelas Indri.


"Loh, terus, sembunyi dimana? Kenapa Polisi gak bisa nemui Gavlin, kalo dia masih di dalam rumah?" tanya Sarono heran.


"Indri menyuruh Gavlin sembunyi di ruang bawah tanah Pak." jawab Indri, tersenyum senang.


"Pintar kamu ! Bapak malah lupa kalo kita ada rubanah!" jelas Sarono.


"Bapak terlalu focus sama polisi polisi itu, jadi gak kepikiran kalo Gavlin sembunyi di rubanah." lanjut Sarono menjelaskan.


"Ya, Pak. Rubanah tempat yang aman buat Gavlin." jelas Indri.


"Ya. Sekarang, kasih tau Gavlin, bilang, kalo dia sudah aman." ujar Sarono.


"Baik, Pak." ujar Indri, tersenyum senang.


Lantas, Indri pun bergegas keruang tengah untuk memberi tahu Gavlin yang bersembunyi di ruang bawah tanah rumahnya, Sarono lantas duduk di sofa, ruang tamu rumahnya, dia menunggu Gavlin dan Indri.


Indri menyingkirkan karpet di lantai, lalu, dia membuka pintu rahasia yang tidak di gemboknya. Lalu, Indri melongo ke dalam ruang bawah tanah.


Di dalam rubanah, Gavlin melihat pintu terbuka, dia lalu melihat ke atas, ada Indri di depan pintu masuk rahasia.


"Vlin, kamu udah aman, ayo naik!" ujar Indri, memberi tahu Gavlin.


Gavlin lantas bergegas naik ke tangga rubanah, dia lalu keluar dari dalam ruang bawah tanah.


Indri segera menutup pintu rahasia ruang bawah tanah, lalu menutupinya dengan karpet.


Gavlin berdiri di samping Indri, Indri lantas berdiri dan menatap wajah Gavlin.


"Hampir saja ketauan, untung kamu cepat sembunyi, Vlin." ujar Indri, tersenyum senang.


"Iya. Bapak kamu mana?" tanya Gavlin cemas.


"Oh, aku kira dibawa polisi." ujar Gavlin lega.


"Nggak, Bapak bisa ngatasi Polisi Polisi yang banyak tanya ke Bapak tadi." jelas Indri.


"Oh, Ayo temui Bapakmu." ujar Gavlin.


Indri mengangguk, dia tersenyum senang, Indri lega, karena Gavlin aman dan tak tertangkap, dia lantas mengikuti Gavlin yang sudah berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Sarono.


Gavlin masuk ke dalam ruang tamu, dia melihat Sarono sedang duduk santai dan tenang di sofa, Gavlin menghampirinya, dia duduk di sofa yang ada di depan Sarono, Indri ikut duduk, dia duduk di samping Bapaknya.


"Terima kasih, Pak. Sekali lagi Bapak menolong saya." ujar Gavlin dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.


"Sama sama nak Gavlin, sudah menjadi kewajiban Bapak nolong kamu." ujar Sarono, tersenyum ramah.


"Kamu juga udah nolong Bapak, nyelamatkan Indri dari rentenir Amir, dan kamu juga udah membebaskan hutang hutang Bapak. Jadi, gak ada salahnya, Bapak juga melindungi kamu." jelas Sarono serius.


"Ya, Pak." Angguk Gavlin.


"Aku juga terima kasih sama kamu In. Kalo kamu gak nyuruh aku masuk ke rubanah, mungkin aku nekat nyerang polisi polisi itu." ujar Gavlin.


"Ya, Vlin." jawab Indri, tersenyum senang.


"Apa saya bilang, Bapak dan Indri gak aman, dan benar saja, Polisi datang ke sini, karena mereka mencium jejak saya di rumah ini." jelas Gavlin.


"Tadi kata Kapten Polisi yang menginterogasi Bapak, mereka menemukan bukti dari rekaman cctv, kalo mobil Bapak dan wajah kamu ada dirumahnya Amir." jelas Sarono.


"Apa kamu membunuh seluruh anak buah Amir?" tanya Sarono ingin tahu.

__ADS_1


"Ya, Pak. Saya membunuh mereka semua, lalu membakar rumah dan mereka semua." jelas Gavlin serius.


"Saya sengaja melakukan itu, agar Bapak dan orang orang yang berhutang, gak terus menerus di teror dan di ancam para rentenir dan debt colector itu!" tegas Gavlin dengan wajahnya yang serius.


"Oh, begitu, pantas polisi polisi itu mencarimu sampai ke sini, karena mereka tau, kamu pake mobil Bapak saat ke rumah Amir." jelas Sarono.


"Mereka melacak mobil Bapak, lalu tau, kalo kamu ke sini, makanya tadi mereka menggeledah rumah Bapak." lanjut Sarono menjelaskan.


"Ya, Pak. Saya tau." jawab Gavlin.


"Pak. Sepertinya, saya harus segera pergi dari sini, saya gak mau, Polisi Polisi itu ke sini lagi, lalu menangkap Bapak." tegas Gavlin.


"Saya yakin, mereka tetap mengawasi Bapak. Karena, dengan mendatangi rumah Bapak, artinya polisi curiga sama Bapak. Dan itu akan membuat Bapak gak akan aman, selalu di awasi." lanjut Gavlin menjelaskan.


"Ya, nak Gavlin. Bapak paham." jawab Sarono.


"Tapi, sebaiknya, untuk beberapa hari, tinggallah di sini dulu, Bapak yakin, Polisi itu gak akan cepat kembali ke sini." ujar Sarono.


"Sambil kamu mempersiapkan segala sesuatu untuk rencanamu membalaskan dendam kedua orang tuamu." lanjut Sarono menjelaskan.


"Baik, Pak. Saya akan tinggal beberapa hari lagi." ujar Gavlin, tersenyum senang.


"Ya nak Gavlin." jawab Sarono senang.


Indri pun tersenyum, dia senang, karena Gavlin memutuskan untuk tetap tinggal dirumah bersama dia dan Bapaknya.


"Saya keluar sebentar, Pak." ujar Gavlin.


"Mau kemana?" tanya Sarono heran.


"Cuma ke mobil Bapak. Saya mau ambil tas tas saya yang masih tertinggal di dalam mobil." ujar Gavlin.


"Untung Polisi gak geledah mobil Bapak, kalo mereka menggeledah, pasti mereka akan menemukan barang bukti milik saya, dan Bapak pasti akan langsung di tangkap!" tegas Gavlin serius.


"Memangnya kamu bawa barang apa di mobil Bapak?" tanya Sarono heran dan wajah yang penasaran.


Indri juga penasaran, dia ingin tahu, apa yang ada di dalam tas Gavlin, sehingga dia khawatir polisi menemukan barang miliknya di mobil.


"Di dalam dua tas besar saya, ada senjata senjata, Pak." jelas Gavlin.


"Senjata?!" ujar Sarono, terhenyak kaget.


"Ya, Pak. Sebelum kembali ke sini, saya balik kerumah saya untuk mengambil dan membawa senjata senjata yang saya perlukan dalam menjalankan aksi balas dendam saya." jelas Gavlin serius.


"Oh, kalo gitu, cepat kamu ambil sana, lalu simpan ditempat aman, bila perlu taruh di rubanah!" tegas Sarono cemas.


"Baik, Pak." ujar Gavlin.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya, lalu dia bergegas keluar rumah, Indri menatap wajah Bapaknya yang terlihat cemas itu.


"Gavlin benar benar nekat ya, Pak?" ujar Indri.


"Bapak paham mengapa Gavlin menjadi begitu, mengingat masa lalunya yang kelam dan sangat menderita, wajar dia punya dendam yang begitu besar." ujar Sarono.


"Kalo Bapak dalam posisi Gavlin, mungkin Bapak akan melakukan hal yang sama dengan Gavlin." lanjut Sarono, menjelaskan dengan serius.


"Iya, Pak." jawab Indri, mengangguk mengerti dan paham.


"Mudah mudahan aja, Gavlin bisa menyelesaikan semua dendamnya, dan gak ada yang terjadi sama Gavlin nantinya." ujar Sarono, berharap dan berdoa.


"Iya, Pak. Indri juga berharap seperti itu." jelas Indri.

__ADS_1


Sarono lantas menghela nafasnya, dia tampak prihatin dengan Gavlin, dan Sarono mendukung sepenuhnya langkah yang di tempuh Gavlin dalam membalas dendam, karena Gavlin sudah bersikap baik dan menyelamatkan nyawa dia dan Indri dari cengkraman rentenir Amir.


Indri juga terlihat iba pada Gavlin, dia tak menyangka, Gavlin yang sosoknya gagah, ternyata menyimpan kesedihan yang mendalam akan masa lalunya yang kelam.


__ADS_2