
Gavlin yang masih menyamar dengan wajah kakek tua renta berlari cepat keluar dari dalam gedung pengadilan negeri.
Namun, langkahnya terhenti di anak tangga gedung pengadilan, karena saat dia keluar, bertepatan dengan terdengarnya suara letusan pistol.
"Jangaaaan Chandraaa!!" teriak Gavlin sekeras kerasnya.
Namun, teriakan Gavlin tak di dengar Chandra, Chandra yang berdiri tidak jauh dari hadapan Samsudin sudah melepaskan tembakan dari pistol yang ada ditangannya.
Refleks pengawal mengamankan Samsudin, dia mendorong tubuh Samsudin ke samping, hingga Samsudin terjajar dan hampir terjatuh, peluru mengenai lengan tangan Samsudin hingga mengeluarkan darah segar. Samsudin lantas lunglai dan jatuh terjerembab ditanah.
Dengan cepat para pengawal dan para pengacara memegangi tubuh Chandra, mereka menangkap Chandra dan seorang pengacara segera mengambil pistol Chandra.
Chandra diam berdiri tak bergeming, dia tersenyum sinis menatap Samsudin yang terbaring di tanah dengan meringis kesakitan memegangi lengan tangannya yang terkena tembakan.
Melihat kejadian itu, Gavlin langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu, dia tak ingin, kehadirannya diketahui, sebab, dia tadi sempat berteriak keras untuk mencegah Chandra menembak Samsudin.
Naas bagi Chandra, bukannya mati Samsudin, tapi, malah dia yang sekarang ditangkap oleh pihak Samsudin.
Para petugas penyidik kepolisian termasuk Andre bergegas lari keluar dari dalam gedung pengadilan, karena mereka mendengar suara dua kali tembakan dari arah halaman gedung pengadilan.
Saat itu Andre dan timnya sedang berjalan hendak keluar gedung, lalu mereka mendengar suara letusan senjata, makanya mereka bergegas lari keluar.
Seorang Pengawal pribadi Samsudin mengangkat tubuh Samsudin dari tanah, dia membantu Samsudin untuk berdiri, Samsudin tampak geram dan marah sekali.
Samsudin berdiri sambil memegangi luka tembak dilengan tangannya, dia menatap geram wajah Chandra yang bersikap dingin dan tersenyum sinis menatapnya.
Samsudin lantas bergegas jalan mendekati Chandra, lalu, dia memukul wajah Chandra berkali kali, melampiaskan kekesalan dan amarahnya, sebab Chandra telah berani menyerang dan menembaknya.
"Keparaat kamu!! Minta mampus kamu ternyata ya!!" bentak Samsudin penuh amarah.
Chandra hanya diam saja, biar pun berkali kali wajahnya mendapatkan hantaman pukulan dari Samsudin, dia tak bergeming sedikit pun, malah dia tampak semakin geram menatap tajam wajah Samsudin.
"Masih nantangin kamu ya!!" bentak Samsudin.
Samsudin marah, karena kedua mata Chandra melotot menatap tajam kepadanya, dia lantas hendak mengambil pistol yang diamankan salah seorang pengacaranya.
"Jangan, Pak. Kalo Bapak membunuhnya di sini, bisa jadi masalah nantinya!" ujar Pengacara, melarang dan mengingatkan Samsudin.
Samsudin terdiam, dia baru sadar, kalau dia masih berada di sekitaran gedung pengadilan negeri, lalu, dia menatap tajam penuh amarah wajah dingin Chandra yang dipegangi kedua pengawal Samsudin.
"Bawa dia, cepaat !!" Perintah Samsudin, pada para pengawal pribadinya.
"Baik, Pak." Angguk salah seorang pengawal pribadi yang memegangi tubuh Chandra.
Saat para pengawal pribadi Samsudin hendak membawa pergi Chandra, Andre yang baru saja keluar dari dalam gedung pengadilan bersama timnya segera menghentikan langkah mereka.
"Berhenti!! Jangan bawa dia!!" teriak Andre.
Samsudin kaget, begitu juga dengan para pengacara dan para pengawal pribadinya, mereka semua melihat ke arah Andre yang berlari lari mendekati mereka, di belakang Andre ada 6 petugas penyidik kepolisian yang juga berlari mengikuti Andre.
__ADS_1
Samsudin kesal, karena Andre datang, sehingga dia tak bisa membawa Chandra ke markasnya untuk di berikan hukuman.
Andre menghentikan langkahnya, dia berdiri tepat dihadapan Chandra dan juga Samsudin beserta para pengawal dan pengacaranya.
"Dia milik kami, serahkan pada kepolisian!!" ujar Andre, menatap tajam wajah Samsudin.
Samsudin diam, dia tampak geram dan menahan amarahnya menatap tajam wajah Andre, lalu, dia melirik pengacaranya, salah seorang pengacara memberikan isyarat pada Samsudin, agar mau melepaskan Chandra dan menyerahkannya pada pihak kepolisian.
"Lepaskan dia, berikan pada mereka!!" Perintah Samsudin, kepada para pengawalnya yang memegangi Chandra.
Para Pengawal melepaskan Chandra, dengan cepat, beberapa petugas penyidik kepolisian langsung memegangi tubuh Chandra dan memborgol kedua tangannya.
"Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Andre pada Samsudin.
"Lengan tanganku terluka!! Anak setan itu mencoba membunuhku!" Hardik Samsudin penuh amarah.
"Sebaiknya kalian beri hukuman yang setimpal buatnya!! Atau aku akan bertindak keras padanya nanti!!" tegas Samsudin, dengan nada yang terkesan mengancam kepolisian.
"Ini Pistol yang digunakan orang itu menembak pak Samsudin!" ujar Salah seorang Pengacara yang memegang Pistol milik Chandra.
Salah seorang petugas penyidik kepolisian mengambil pistol dari tangan sang pengacara, lalu dia memasukkannya ke dalam kantong plastik khusus menyimpan barang bukti kasus.
Andre diam, dia tak menanggapi perkataan Samsudin itu, Samsudin lantas berbalik badan, lalu pergi meninggalkan Andre, Para pengacara dan pengawal pribadinya lantas segera mengikuti Samsudin yang pergi duluan itu.
"Kenapa kamu nekat menembak Samsudin?" tanya Andre pada Chandra.
"Dia pantas mati, karena dia akan selalu lolos dari jerat hukum di negara ini!" ujar Chandra, dengan sikap dinginnya.
"Ya, tapi dia tetap hidup, dan kamu akhirnya mendapatkan masalah sekarang." ujar Andre.
"Maaf, Chan, mau gak mau, aku harus menangkapmu, karena kamu sudah jelas jelas menembak Samsudin.
"Gak apa apa. Aku udah tau, aku akan berakhir seperti ini. Hanya saja rencanaku gagal membunuh Samsudin." ujar Chandra, dengan suara datar dan sikap dinginnya.
Andre menghela nafasnya, dia berat sebenarnya untuk menahan Chandra, namun, sebagai Polisi, dia tak bisa melepaskan Chandra begitu saja, yang sudah terang terangan mau membunuh Samsudin dan menyerangnya tadi.
"Bawa dia ke kantor." ujar Andre, memberi perintah pada salah satu timnya.
"Baik, Pak." jawab Salah satu petugas penyidik kepolisian.
Lantas, petugas penyidik kepolisian memberi aba aba kepada rekan rekannya untuk membawa Chandra, lalu, para petugas penyidik kepolisian segera membawa Chandra yang sudah di borgol kedua tangannya itu, sekali lagi Andre menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia pun berjalan, pergi meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobilnya, dari kejauhan, Gavlin memperhatikan Andre dan timnya yang membawa Chandra. Wajah Gavlin tampak kecewa pada Chandra.
"Kenapa kamu keras kepala, Chan? Kenapa kamu gak mendengarkan omonganku?!" Gumam Gavlin, dengan wajah kecewanya.
"Andai saja kamu sedikit bersabar, aku pasti akan menghabisi Samsudin, dan kamu gak perlu mengorbankan dirimu seperti itu!" Ujarnya lagi dengan suara yang getir.
Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, dia prihatin melihat Chandra yang sudah bertindak gegabah dan nekat mau membunuh Samsudin terang terangan di depan umum.
__ADS_1
Gavlin lantas menyalakan mesin mobilnya, sebelum pergi, dia melihat kembali ke arah Andre yang membawa Chandra, dia melihat, Chandra dimasukkan ke dalam salah satu mobil unit kepolisian.
Lalu, tak berapa lama, mobil mobil polisi itu pergi, di susul dengan mobil Andre, mereka semua pergi meninggalkan gedung pengadilan tinggi, membawa Chandra, untuk segera di tahan di kantor kepolisian.
"Ini ternyata rencanamu, Chan? Setelah membunuh Samsudin, kamu berencana menyerahkan dirimu, tapi, rencanamu gagal total, karena kamu bukanlah pembunuh." ujar Gavlin, lirih dan getir.
Sekali lagi Gavlin menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia kemudian menjalankan mobilnya, mobil Gavlin pun lantas melaju pergi meninggalkan halaman parkir gedung pengadilan tinggi negeri tersebut.
Gavlin menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil meluncur di jalan raya, sementara, Samsudin bersama para pengacara dan pengawal pengawal pribadinya sudah sangat jauh, dan sudah tak bisa di kejar Gavlin lagi.
Di dalam mobil, sepanjang jalan, Chandra hanya diam saja duduk di jok belakang, dengan kondisi kedua tangannya berada dibelakangnya dalam keadaan di borgol.
Di samping kiri dan kanannya, ada petugas penyidik kepolisian yang menjaga Chandra, agar tak melarikan diri. Di depan, Andre duduk di samping Supir.
"Apa kamu sengaja datang ke pengadilan karena berniat mau membunuh Samsudin?" tanya Andre.
Chandra diam saja, dia tak menjawab pertanyaan Andre, Andre melirik Chandra, dia melihat melalui kaca spion yang ada di dalam mobil.
Dari kaca spion dalam mobil, Andre melihat Chandra diam dengan ekspresi wajah tegang menahan amarahnya. Dia diam mematung duduk di jok belakang, kaku dan tak bergeming sedikit pun.
"Bagaimana bisa kamu berfikir nekat seperti ini, Chan? Kenapa kamu gak menyerahkannya pada kami, pihak kepolisian?!" ujar Andre.
Andre terlihat tampak menyesali perbuatan nekat Chandra tersebut, tapi Chandra malah tersenyum sinis mendengar perkataan Andre.
"Menyerahkannya pada kalian? Kalian saja gak becus bekerja!! Samsudin bebas begitu saja, dan kalian sebagai polisi dan pihak kejaksaan diam seribu bahasa, tak ada tindakan apapun juga atas kecurangan yang terjadi di pengadilan!!" tegas Chandra dengan tersenyum sinis menyindir Andre.
Andre terdiam mendengar perkataan Chandra yang menyindir kerja kepolisian dan kejaksaan yang gagal memberi hukuman pada Samsudin di pengadilan.
"Ketiga hakim yang membebaskan Samsudin mati dibunuh dalam ruang kerja mereka masing masing, aku mendapat kabar tadi, sebelum aku datang menemuimu." ujar Andre.
"Apa kamu yang membunuh hakim hakim itu?" tanya Andre.
Andre menoleh kebelakang, dia melihat wajah Chandra yang duduk diam di jok belakang dengan wajah yang tersenyum sinis.
"Bukan aku pelakunya." ujar Chandra sinis.
Chandra tahu , bahwa yang membunuh Hakim hakim itu pastilah Gavlin, tapi dia diam saja, dia tak mau membocorkan rahasia keberadaan Gavlin yang muncul di pengadilan lalu membantai para hakim yang sudah berbuat curang membebaskan Samsudin.
"Sudah ku duga, kamu gak mungkin bisa membunuh mereka dengan cara menggorok leher." ujar Andre.
Chandra diam saja, dia tak bereaksi dengan perkataan Andre tersebut, Andre kembali menoleh pada Chandra, dan dia menatap tajam wajah Chandra.
"Apa kamu bekerjasama dengan Gavlin? Ciri pembunuhan hakim jelas mengarah pada Gavlin, apa dia datang juga kepengadilan?" tanya Andre, menatap tajam wajah Chandra.
"Kenapa tanya aku, kamu kan polisi, seharusnya kamu tau, dan bisa menyelidikinya." ucap Chandra ketus dan sinis pada Andre.
Mendengar perkataan ketus dan sinis Chandra, Andre pun terdiam, dia tersenyum kecut, lalu Andre kembali duduk dan menatap jauh ke depan.
"Aku tau, Gavlin datang ke pengadilan, pasti dia menyamar, lalu menyerang dan membunuh para hakim itu, karena gak terima dengan keputusan mereka." tegas Andre.
__ADS_1
Chandra diam saja, dia tak menanggapi ucapan Andre itu, Andre tersenyum kecil, dia tahu, bahwa Chandra memang bekerjasama dengan Gavlin, namun, Chandra memilih untuk tetap diam dan melindungi Gavlin.