
Teguh datang ke rumah sakit, dia mendapatkan kabar, bahwa Gatot sudah sadar dari komanya. Selain datang untuk bertemu dan melihat kondisi terakhir Gatot setelah siuman dari komanya, Teguh juga ingin bertemu dengan Gavlin, sebab, dia tahu, Gavlin ada dirumah sakit, menemani Maya.
Gavlin tampak duduk di bangku tunggu, samping kamar ruang ICU, Maya sedang berada di dalam kamar ruang ICU menemui Ayahnya yang sudah sadar dari koma.
Teguh berjalan cepat menghampiri Gavlin. Gavlin yang melihat kedatangan Teguh, lalu berdiri menyambutnya.
"Gimana kondisi Pak Gatot?" tanya Teguh.
"Udah mendingan." Jawab Gavlin.
Wajah Gavlin tampak dingin, dia masih menyimpan kemarahan dalam dirinya, sebab, gagal membunuh Bramantio.
Teguh menarik tangan Gavlin, mereka menjauh dari kamar ruang ICU, Gavlin heran, karena Teguh tiba tiba menarik tangannya.
"Aku mau ngomong sama kamu." ujar Teguh.
"Ngomong aja, Bang. Ngapain narik narik tanganku begini, kita kan bisa ngobrol di bangku tunggu." ujar Gavlin kesal.
Gavlin melepaskan pegangan tangan Teguh dari tangannya, Teguh menatap tajam wajah Gavlin, wajah Teguh tampak serius.
"Aku sengaja menarikmu, biar Maya gak dengar." Jelas Teguh serius.
"Lah, Maya di dalam kamar sama Ayahnya. kita ngobrol di bangku tunggu, dia gak bakalan dengar, bang Bro. Ngaco aja." ujar Gavlin tersenyum kecut.
Teguh diam, dia tak membantah perkataan Gavlin, Teguh merogoh kantong celananya, dia lalu mengeluarkan kalung emas dari dalam kantong celananya.
"Ini apa?" tanya Teguh, dengan wajah serius.
Gavlin menatap kalung emas yang di pegang Teguh, Gavlin lalu memegang lehernya, tak ada kalung emas di lehernya, Gavlin pun kaget.
"Itu kalungku, dari mana abang temukan?!" tanya Gavlin heran.
"Di bawah pohon, pinggir jalan, tepat di seberang depan rumah Bramantio!" tegas Teguh menjelaskan.
Gavlin terdiam, dia mencoba mengingat kejadian saat dia meledakkan rumah Bramantio.
"Oh, mungkin kalung itu jatuh, waktu aku lompat dari atas pohon, karena buru buru mau ngejar Bram yang melarikan diri." ujar Gavlin, menjelaskan.
"Yan, kamu sangat ceroboh! Kalo kalung ini sampe di temukan sama salah satu tim aku! Maka kamu, akan jadi tersangka utama kepolisian dalam kasus ledakan rumah Bramantio!" Tegas Teguh kesal.
"Karena aku liat nama kamu di liontin kalung ini, maka, aku terpaksa menyimpannya! Karena menyelamatkanmu, aku terpaksa melenyapkan barang bukti yang mengarah padamu!!" Tegas Teguh kesal.
"Maaf, bang Bro. Aku gak tau, kalo kalung itu lepas dari leherku dan jatuh." Ujar Gavlin, penuh penyesalan.
"Aku kan berkali kali ingatkan kamu! Jangan ceroboh, jangan gegabah kalo bertindak balas dendam! Jangan sampe karena gegabah, kamu meninggalkan jejakmu di mana mana!" Tegas Teguh.
"Satu hal lagi, aku yakin, kalo aku biarkan tim ku mengecek kamera cctv yang ada di depan jalan rumah Bram, maka, mereka akan melihatmu dengan jelas!!" Ujar Teguh.
"Aku gak akan membiarkan timku, melihatmu di rekaman cctv, aku terpaksa akan melenyapkan dan menghancurkan bukti rekaman itu, jika wajahmu terlihat jelas di kamera cctv !!" tegas Teguh, dengan wajah serius.
"Ya, bang Bro. Maafkan aku. Aku salah." ujar Gavlin, meminta maaf.
"Yan, tolong, jangan gegabah, kalo kamu seperti ini terus, ceroboh, kamu bisa mengancam pekerjaanku!! Bisa bisa semua polisi tau, kalo aku melindungimu!" Ungkap Teguh, dengan bersungguh sungguh dan serius.
"Ya, Bang. Aku janji, aku gak akan ceroboh lagi." ujar Gavlin, penuh penyesalan.
Gavlin sadar, dia sudah berbuat salah, karena lengah, dan meninggalkan bukti tanpa sengaja di lokasi kejadian, dia tak tahu, jika kalungnya terlepas dari lehernya saat itu.
Saat Teguh mau melanjutkan bicaranya, Maya keluar dari dalam kamar ruang ICU, melihat Maya keluar dan mendekati mereka berdua, Teguh pun mengurungkan niatnya untuk bicara pada Gavlin.
"Vlin, Ayah mau ketemu kamu, ada yang mau dia sampaikan, katanya. Dia memintaku memanggilmu." ujar Maya tersenyum senang.
Gavlin kaget, mendengar perkataan Maya, dia tak menyangka, Gatot mau bertemu dengannya, karena selama ini, mereka tidak akur, begitu juga Teguh, dia juga heran, mengapa Gatot ingin bertemu Gavlin.
"Kamu bilang Ayahmu, kalo aku ada di sini ?" tanya Gavlin, dengan wajah serius dan kagetnya.
"Iya. Aku bilang Ayah, kalo kamu selama ini menjaga dia." ungkap Maya tersenyum senang.
"Sebaiknya, kamu temui dia, Yan. Mungkin, ada yang mau di katakan pak Gatot padamu." ujar Teguh.
"Iya, bang bro." jawab Gavlin.
Gavlin pun lantas masuk ke dalam kamar ruang ICU, untuk menemui Gatot. Maya duduk di bangku tunggu, Teguh berdiri, tidak jauh dari Maya.Dia menunggu hasil pembicaraan Gavlin dan Gatot.
Di dalam kamar ruang ICU, Gavlin mendekati Gatot, yang terbaring lemah tak berdaya di atas kasur. Gatot melihat kedatangan Gavlin. Dia mencoba untuk tersenyum.
__ADS_1
Senyum Gatot tampak getir, karena dia masih menahan nyeri di bagian perutnya, yang terluka.
"Apa kabar, Om." ujar Gavlin, dengan sikap tenangnya.
Gavlin berdiri di samping ranjang, dia memandang wajah Gatot yang tersenyum getir padanya.
"Terima kasih, udah menjagaku." ujar Gatot dengan suara lemahnya.
"Ya, Om. Semoga Om cepat sembuh." ujar Gavlin tersenyum tulus.
"Ronald menikamku." ungkap Gatot.
"Ya, Om. Aku udah tau. Aku datangi Moses, Moses mengaku, kalo Ronald yang menikam Om, saat Om menemui Moses di markasnya." Jelas Gavlin.
"Buat apa kamu temui Moses ? Kamu membahayakan dirimu." ujar Gatot dengan lemah.
"Karena aku gak mau liat Maya terus menangis, Om. Aku mencari Moses, karena aku yakin, dia tau tentang masalah Om." ujar Gavlin menegaskan.
Gatot pun terdiam, dia tampak menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia menatap wajah Gavlin yang tampak memendam amarah.
"Vlin. Kamu tetap mau balas dendam dengan Bram?" tanya Gatot lemah.
"Ya, Om. Aku gak akan tenang, sebelum Bram dan komplotannya mati." tegas Gavlin, dengan wajah yang serius dan geram.
"Kamu harus hati hati, Vlin. Ada tokoh besar dan kuat di belakang Bram, yang selalu melindungi Bram!" Jelas Gatot, di sela sela menahan rasa nyerinya.
"Maksud, Om?" tanya Gavlin heran.
"Bram di lindungi tokoh kuat dan berpengaruh di kepolisian." ungkap Gatot.
Gavlin pun terdiam, dia kaget mendengar perkataan Gatot, dia tampak berfikir, siapa tokoh yang di maksud Gatot.
Gatot menatap tajam wajah Gavlin, tatapan mata Gatot sayu, karena dia masih lemas dan lemah.
"Mendekatlah, ada yang mau aku bisikkan padamu." ujar Gatot.
Gavlin diam, dia tampak ragu, namun, karena melihat wajah Gatot serius, akhirnya, dia pun mau mendekati wajahnya ke wajah Gatot. Dia mengarahkan telinganya ke mulut Gatot.
Gatot pun lantas membisikkan sesuatu pada Gavlin, tampak wajah Gavlin memerah karena menahan amarah dan geramnya.
Gavlin tampak marah, setelah mengetahui sesuatu hal yang di ungkap Gatot. Dia pun lantas berdiri dan menatap tajam wajah Gatot.
"Aku serius. Hati hatilah. Dan ingat, jangan sampe Maya celaka. Kamu harus bisa melindungi Maya." ungkap Gatot lemah.
"Iya, Om. Aku akan selalu melindungi Maya." tegas Gavlin serius.
"Maafkan aku, karena dulu, aku gak bisa menangkap Bram dan komplotannya, karena, dia di lindungi." ungkap Gatot.
"Ya, Om. Aku mengerti sekarang, mengapa sulit buat kepolisian menangkap seorang Bramantio." tegas Gavlin, dengan wajah geram dan menahan amarahnya.
"Aku gak bisa menolongmu, hanya informasi itu yang bisa aku sampaikan, selanjutnya, terserah kamu, bagaimana kamu mengatasi dan menghadapi orang itu nanti." ujar Gatot, dengan suara parau dan lemah.
"Ya, Om. Informasi Om penting buatku, aku jadi tau, dan aku akan mengejar orang itu." Jelas Gavlin dengan geram.
"Ada satu bukti kuat lagi sebenarnya tentang kematian Bapakmu saat bunuh diri di penjara, dan orang yang menyaksikannya juga masih hidup sampai sekarang." Tegas Gatot.
Gavlin pun kaget mendengar perkataan Gatot, dia tak menyangka, akan mendapatkan informasi banyak dari Gatot.
"Vlin. Bapakmu gak bunuh diri di dalam penjara, tapi, dia di bunuh. Lalu, di buat seolah olah dia bunuh diri karena putus asa." ungkap Gatot, penuh penyesalan.
"Kenapa aku baru tau, dan Om baru cerita padaku?!" ujar Gavlin, sedih bercampur marah.
"Karena, gak pernah ada kesempatan buatku menjelaskannya sama kamu, setiap kali aku mau bilang, kamu marah padaku." jelas Gatot, penuh penyesalan.
"Saat Bapakmu di bunuh, semua kejadian tertangkap kamera cctv, dan, kamera cctv itu telah dimusnahkan, sehingga, aku gak bisa menangkap pelakunya, karena, barang bukti hilang." tegas Gatot.
"Siapa pelakunya, Om?!" tanya Gavlin, geram dan marah.
"Ada tiga orang pelakunya, Wijaya sebagai saksi dan yang meracuni Bapakmu dengan meminumkan paksa racun ke dalam mulut Bapakmu sebelum di bunuh, lalu, tokoh besar, yang tadi aku bilang kamu." Jelas Gatot.
"Terus, yang satu lagi, siapa dia?!!" Tanya Gavlin, menahan amarahnya yang tengah meluap luap dan hendak meledak dari dalam dirinya.
"Kepala Sipir penjara, dia sekarang pensiun, dan menjadi pengusaha restoran." ungkap Gatot, dengan wajah serius.
"Siapa namanya? Dan di mana dia?!" tanya Gavlin, dengan wajah serius, penuh amarah.
"Namanya, Joko Sambodo, dia tinggal di Bekasi, dia cukup terkenal di wilayahnya." ungkap Gatot.
__ADS_1
Gavlin pun lantas diam, dia tampak sangat marah, dia tak menyangka, bahwa ternyata, Bapaknya tidak bunuh diri.
Gavlin pun lega, karena dugaan dia selama ini benar, dia memang tak pernah percaya, kalau Bapaknya bunuh diri dalam penjara, karena dia yakin, Bapaknya tak akan melakukan hal bodoh itu.
"Terima kasih Om. Om udah mengungkapkan satu fakta lagi buatku." ujar Gavlin.
"Mengapa Om akhirnya mau membantuku, dan mengungkapkan hal ini, kalo Om, tutup mulut, pasti aku gak akan pernah tau, jika, ada satu orang lagi pelaku pembunuh bapakku." ujar Gavlin dengan wajah serius.
"Karena aku pikir, gak ada gunanya mencegahmu, lagi pula, wajar, kalo kamu mau balas dendam, karena aku tau, bagaimana biadabnya Bram dan komplotannya." ujar Gatot.
"Aku tau, sebagai Polisi, sampai kapanpun aku gak akan bisa menangkap Bram dan komplotannya, selama dia di lindungi tokoh besar itu." Lanjut Gatot menjelaskan.
"Satu satunya jalan buatku bisa meringkus Bram dan komplotannya, melalui kamu. Aku akan memberimu kesempatan membalas dendam. Aku gak akan menghalangimu." Tegas Gatot.
"Ya, Om. Aku pasti memburu mereka, aku juga akan mencari si Joko Sambodo itu!" Tegas Gavlin dengan geram dan marah.
Tampak wajahnya memerah menahan amarah, dia juga geram dan marah pada Wijaya.
"Wijaya, kamu meracuni Bapakku, aku akan membunuhmu!" Bathin Gavlin bicara.
"Terima kasih, Om. Aku pergi dulu, nanti aku ke sini lagi." ujar Gavlin.
"Ya." Ujar Gatot tersenyum lemah.
Gavlin berbalik badan, baru saja dia berjalan dua langkah, Teguh memanggilnya.
"Vlin." Panggil Gatot.
Gavlin pun menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik badan, dan menatap wajah lemah Gatot.
"Ya, Om." Jawab Gavlin.
"Teguh ada di luar?" tanya Gatot.
"Ada, Om. sama Maya." ujar Gavlin.
"Suruh dia masuk, ya. Bilang, aku mau bicara." Jelas Gatot.
"Ya, Om." Jawab Gavlin.
"Vlin, aku tau, Teguh abang tirimu." ungkap Gatot.
Gavlin terdiam, dia kaget mendengar perkataan Gatot, dia tak menyangka, jika Gatot sudah mengetahui hubungan dia dan Teguh.
"Saat aku menyelidiki, mencari tau tentang dirimu, tentang masa kecilmu sebagai Yanto dulu, aku menemukan sebuah berkas, yang berisi tentang adopsi kamu." ungkap Gatot.
Dari berkas itu aku tau, kalo kamu punya saudara, yang sama sama di adopsi oleh orang tua angkatmu, dan, saat aku mendalami penyelidikanku, aku menemukan saudaramu itu." Lanjut Gatot menjelaskan.
"Aku, tau, dia Teguh, anak buahku. Tapi aku berpura pura bersikap biasa di depan Teguh." ungkap Gatot.
Gavlin terdiam, dia tak bisa berkata kata, dia kaget, karena rahasianya telah terungkap oleh Gatot. Gatot benar benar seorang Polisi yang handal, dia bisa mengungkap satu rahasia yang tertutup rapat selama ini.
"Aku tau, Teguh selalu membantumu, memberikan informasi padamu, karena aku pernah mendengar langsung, Teguh menyampaikan info tentang keberadaan Ronald sama kamu waktu itu." ungkap Gatot.
"Kamu gak usah khawatir, aku gak akan menegur Teguh. Mulai saat ini, demi Maya, anakku, aku akan mendukung setiap langkahmu membalas dendam." Tegas Gatot.
"Ya, Om. Terima kasih." ujar Gavlin.
"Aku tinggal dulu, Om." ujar Gavlin tersenyum senang.
"Ya." Angguk Gatot, lemah.
Gavlin pun lantas segera keluar dari dalam kamar ruang ICU, meninggalkan Gatot seorang diri.
Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia pun lantas tercenung, memikirkan Gavlin.
"Semoga, kamu bisa membalaskan dendammu, Yanto. Maafkan aku, selama ini, aku menyembunyikan bukti padamu, tentang kematian Bapakmu." Bathin Gatot bicara.
Wajah Gatot tampak sedih, ada rasa penyesalan dan rasa bersalah di dalam jiwanya.
Karena rasa bersalahnya itu jugalah, yang membuat Gatot akhirnya luluh hatinya pada Gavlin.
Dan dia pun mengungkapkan sebuah fakta besar yang tak pernah di ketahui Gavlin, atau Yanto selama ini.
Sebuah fakta yang mencengangkan dan tak pernah di duga sama sekali, bahwa, Bapaknya Gavlin, atau Yanto, tidak bunuh diri, namun, dia mati di racun Wijaya, lalu, tubuhnya di gantung oleh Joko Sambodo, dan dibantu tokoh besar, yang selama ini melindungi Bramantio.
Tokoh besar itu membuat pernyataan di depan umum dan media, bahwa Sanusi, terpidana kasus pembunuhan dan pemerkosaan, mati bunuh diri di dalam penjara. Tak ada yang tahu, kalau Sanusi, mati di racun. Sebab, kematiannya, tidak dilakukan visum. Sanusi langsung di kubur.
__ADS_1
Sebuah fakta mengejutkan Gavlin, dia pun tak menyangka, ada orang lain, yang membunuh Bapaknya. Dan Gavlin pun bertekat, akan memburu, dan membantai orang yang telah membunuh Bapaknya di dalam penjara.