
Chandra tiba di gedung kantor kepolisian, dia memarkirkan motor Gavlin yang di pakainya melarikan diri di halaman parkir, setelah dia melepas helm dan melepaskan kunci motornya, dia bergegas lari ke dalam gedung kantor kepolisian.
Dengan wajah panik dan penuh rasa khawatirnya Chandra bergegas masuk dan berjalan menyusuri koridor kantor kepolisian, dia hendak menemui Andre.
Masto baru saja keluar dari salah satu ruangan yang ada di gedung kantor kepolisian, dia melihat Chandra yang berjalan dengan tergesa gesa dengan wajah penuh kecemasan.
Masto menghentikan langkah Chandra, dia berdiri di depan Chandra yang terlihat cemas itu.
"Ada apa?" tanya Masto ,dengan heran menatap wajah Chandra yang berdiri cemas dihadapannya.
"Saya mau ketemu, Andre, tolong, beritau dia." ujar Chandra, dengan wajah panik dan cemasnya.
"Pak Andre ada diruangannya, mari saya antar." ujar Masto.
Chandra mengangguk, lalu, dia bergegas mengikuti Masto yang sudah berjalan lebih dulu didepannya menuju ke ruang kantor Andre.
Pintu ruangan di ketuk, Andre yang tengah duduk santai di kursi kerjanya menyuruh masuk.
"Ya, masuk." ujar Andre, dari kursi kerjanya.
Pintu ruangan terbuka, Masto masuk bersama Chandra, mereka berdua segera menghampiri Andre yang duduk di kursi meja kerjanya.
"Chandra? Ada apa?!" tanya Andre.
Andre kaget melihat Chandra datang bersama Masto, dan wajahnya terlihat pucat pasi penuh kecemasan dan ketegangan.
Andre lantas berdiri dari duduknya di kursi kerjanya, dia segera jalan mendekati Chandra yang berdiri didepan meja kerja bersama Masto.
"Tolong, selamatkan Gavlin, tolong!" ujar Chandra, dengan wajah panik dan cemas.
"Tunggu dulu, tenang, ada apa ini? Sebaiknya kita duduk dulu." ujar Andre, dengan wajah herannya.
"Gak ada waktu lagi, nyawa Gavlin terancam saat ini, dia sudah terkepung didalam rumahnya!" tegas Chandra, dengan wajah cemas.
"Apa maksudmu? Siapa yang mengepung Gavlin?!" tanya Andre heran.
"Tiba tiba saja, kami di sergap oleh pasukan tentara bayaran, dan saya tau, kalo pasukan itu orang suruhannya Binsar, mereka mengincar dan ingin membunuh saya!" tegas Chandra menjelaskan.
"Mereka berhasil melacak persembunyian saya di rumah Gavlin, lalu, tiba tiba datang menyerang, Gavlin menolong dan menyelamatkan saya, tapi dia terluka parah!" Lanjut Chandra, memberi penjelasan.
"Gavlin menyuruh saya pergi menyelamatkan diri, dia kasih motornya buat saya pake melarikan diri, tapi, saya khawatir dengan nyawa Gavlin, dia sendirian dan terluka saat ini!" ujar Chandra panik.
"Jika bukan karena Gavlin, pasti saya sudah mati, Gavlin terus melindungi dan menyelamatkan saya, jadi, saya datang ke sini, untuk minta bantuan, tolong, selamatkan Gavlin, jangan sampai dia tertangkap atau terbunuh!" tegas Chandra, dengan wajah panik dan penuh dengan khawatirnya.
"Baik, aku akan menolong Gavlin, demi Teguh, saudara angkatnya Gavlin, aku berjanji pada almarhum Teguh agar melindungi Gavlin." ujar Andre.
"Masto, cepat kerahkan tim anti huru hara agar ikut kerumah Gavlin, sekarang juga!!" tegas Andre.
"Siap, laksanakan!" ujar Masto, memberi hormat.
Lantas, Masto pun bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor Andre untuk mengumpulkan tim anti huru hara kepolisian.
"Kamu ikut denganku, antar kami ke sana!!" tegas Andre, pada Chandra.
__ADS_1
"Baik." Angguk Chandra.
Chandra sedikit lega, karena Andre mau membantunya untuk menyelamatkan diri Gavlin yang tengah terpojok dalam rumahnya sendiri dengan kondisi tubuh yang terluka cukup parah.
"Ayo, kita berangkat!" ujar Andre.
Chandra mengangguk, mengiyakan, lalu, dia bergegas mengikuti Andre yang berjalan keluar dari dalam ruang kantornya.
Sementara itu, di dalam rumah ruang bawah tanah Gavlin, para tentara bayaran masih terus mengubrak abrik seisi rumah Gavlin, mereka terus membongkar dan mencari tempat persembunyian Gavlin.
Seorang anggota tentara bayaran menemukan sebuah pintu rahasia, saat dia mendorong sebuah lemari yang ada diruangan itu, lemari bergeser dan terbuka lebar.
"Ada pintu rahasia di sini!!" teriak seorang tentara bayaran.
Komandan tentara bayaran menoleh pada anak buahnya yang menemukan jalan pintu rahasia di belakang lemari, dia bergegas mendekat.
Komandan lantas menyuruh anak buahnya untuk masuk ke dalam ruang rahasia yang ada dibelakang lemari itu, para tentara bayaran pun bergerak masuk ke dalam ruang rahasia, Komandan juga ikut masuk, dia jalan dibelakang anak buahnya.
Di sebuah ruangan, para tentara bayaran terlihat heran, mereka saling pandang, karena mereka berada disebuah garasi.
Dari ruang rahasia inilah tadi Chandra melarikan diri dengan memakai motor sport Gavlin. Beberapa tentara bayaran bergegas keluar dari garasi, mereka melihat sekitar luar halaman belakang rumah, lalu, mereka masuk kembali ke dalamnya.
"Ini ruang rahasia, sepertinya, dari sini Chandra atau pun si Gavlin melarikan diri!" tegas seorang tentara bayaran.
"Siaaal !! Kalo gitu, Chandra berhasil lolos?!" tegas Komandan tentara bayaran.
"Sepertinya begitu, Komandan, ada jejak motor di sini, pasti dia pergi dengan menggunakan motor !" tegas seorang tentara bayaran.
"Cari Gavlin! Saya yakin, dia masih ada di dalam rumah ini, dia gak mungkin pergi jauh, karena dia terluka parah dan terkena tembakan!!" tegas Komandan tentara bayaran.
Lalu, mereka semua bergegas kembali ke dalam rumah ruang bawah tanah rumah Gavlin, Komandan lantas keluar dari ruang rahasia, lemari pun menutup kembali, setelah semua pasukan tentara bayaran masuk kembali keruangan rumah bawah tanah.
Komandan berdiri, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, dia mengingat, saat tadi, Gavlin melemparkan granat, lalu menembaki mereka.
Komandan tentara bayaran melihat ke arah asal tempat Gavlin melemparkan granat dan menembaki pasukannya, dia lantas melihat ke suatu tempat, Komandan berfikir sesaat, lalu dia pun cepat berjalan mendekat ke arah tempat yang dia lihat.
Beberapa tentara bayaran mengikutinya, Komandan tentara bayaran lantas berdiri diam di depan sebuah tembok rumah., Dia mengamati tembok tersebut.
"Saya yakin, dari arah sini si Gavlin melemparkan granat dan menembaki kita tadi!" tegas Komandan tentara bayaran.
"Tapi, gak ada ruang sama sekali di sini Komandan!" tegas seorang tentara bayaran.
"Saya yakin, pasti ada pintu rahasia di sekitar sini yang tak terlihat jelas!" ujar Komandan.
"Cari tau, selusuri semua ruangan ini." tegas Komandan memberi perintah.
"Baik Komandan!" ujar seorang tentara bayaran.
Komandan tentara bayaran lantas mundur beberapa langkah, lalu, 6 tentara bayaran berdiri di depan tembok ruangan, mereka bersiap memegang senapan mesinnya.
Lalu, ke enam tentara bayaran menembakkan senapan mesinnya ke tembok ruangan, tembok hancur berantakan terkena peluru dari senapan mesin.
Di dalam kamar rahasianya, Gavlin yang terbaring lemah di lantai, depan pintu masuk kaget mendengar suara tembakan, namun, ruang kamarnya tak bisa ditembus oleh peluru, karena dia memasang seluruh temboknya dengan anti peluru.
__ADS_1
Ke enam tentara bayaran terus menembaki tembok ruangan, beberapa saat kemudian, seorang tentara bayaran melihat, ada celah berlubang dari tembok.
"Hentikan tembakan!!" teriaknya.
Para tentara bayaran serentak menghentikan tembakan mereka, lalu, seorang tentara bayaran yang melihat lubang celah itu berjalan mendekat, Komandan mengamatinya, dia juga mendekati lubang celah yang ada di tembok ruangan itu.
Seorang tentara bayaran meraba celah lubang yang terkena peluru dari senapan mesin, dia mengkernyitkan keningnya, lalu, tentara bayaran itu mendorong tembok yang ada celah lubangnya itu.
Dengan susah payah dia mendorong tembok, beberapa tentara bayaran membantunya, mereka beramai ramai mendorong tembok ruangan itu.
Mereka sedikit kesulitan membuka dan mendorong tembok, karena Gavlin terduduk di lantai depan pintu masuk menahannya dari dalam.
Dengan sekuat tenaga dan memaksakan diri, para tentara bayaran terus mendorong tembok ruangan, hingga perlahan lahan, tembok pun mulai bergeser secara perlahan.
Di dalam kamar khusus, Gavlin yang sudah lemas tak berdaya terkapar di lantai, dia terjatuh dan kembali pingsan.
Komandan wajahnya tegang memperhatikan anak buahnya yang terus berusaha mendorong tembok ruangan. Saat tembok itu bergeser dan terbuka, Komandan tentara bayaran matanya terbelalak lebar, dia melihat ada pintu rahasia di tembok ruangan tersebut.
Dengan cepat Komandan bergerak mendekat, dia lantas segera menerobos masuk ke dalam ruang rahasia yang ditemukan anak buahnya itu.
Para tentara bayaran ikut masuk, Komandan lantas masuk ke dalam kamar khusus, dia kaget saat melihat Gavlin sudah terkulai tak berdaya di lantai kamar khususnya itu.
"Ternyata dia bersembunyi di sini!!" ujar Komandan, tersenyum sinis.
"Seret dan bawa keluar dia!!" Perintah Komandan tentara bayaran.
"Siap, Komandan!!" ujar tentara bayaran.
Lalu, dua tentara bayaran menarik dan menyeret keluar tubuh Gavlin yang terluka parah dan pingsan itu, mereka membawanya keluar dari dalam kamar khususnya.
Komandan lantas ikut keluar dari dalam kamar khusus itu, dia tersenyum sinis melihat Gavlin yang pingsan diatas lantai.
"Akhirnya, kita berhasil menangkapnya!! Dengan tertangkapnya musuh besar Inside, tugas kita selesai dan berakhir!" ujar Komandan.
"Apa berarti, kita akan mendapatkan bonus nantinya dari Ketua Inside, Komandan?!" tanya salah seorang tentara bayaran.
"Ya, sesuai janji pak Binsar sebagai ketua Inside . Jika kita berhasil menangkap hidup atau mati Gavlin maupun Chandra, Kita akan mendapatkan bonus nantinya!!" jelas Komandan tentara bayaran.
Mendengar penjelasan Komandannya, para tentara bayaran terlihat sangat senang sekali.
"Cepat ikat kedua tangan dan kakinya, lalu, karungi dia dan bawa ke markas!! Saya harus menyerahkannya pada pak Binsar sekarang juga!!" tegas Komandan , memberi perintah.
"Baik, Komandan!!" ujar seorang tentara bayaran.
Lalu, salah seorang tentara bayaran bergegas memborgol tangan Gavlin yang tak sadarkan diri itu, lalu, seorang tentara bayaran mengikat kedua kaki Gavlin dengan sebuah tali tambang yang di ambil dari garasi rumah bawah tanah.
Lalu, seorang tentara bayaran bergegas datang dari arah kamar sambil membawa kain sprei yang lebar, dengan kain sprei itu, dia membungkus tubuh Gavlin yang pingsan tak berdaya itu.
Gavlin pun dibungkus di dalam kain sprei dan lalu di ikat kuat, Gavlin kali ini benar benar tak berdaya, dia tertangkap, dan nyawanya kali ini sudah berada di ujung tanduk. Para tentara bayaran berhasil menemukannya dan menangkap dirinya yang tak berdaya.
"Cepat bawa dia!!" Perintah Komandan.
"Siap!!" jawab beberapa tentara bayaran.
__ADS_1
Komandan tentara bayaran lantas berjalan keluar dari dalam ruang rumah bawah tanah Gavlin, beberapa tentara bayaran menggotong tubuh Gavlin yang di bungkus kain sprei lebar, mereka membawa Gavlin keluar dari dalam rumah bawah tanahnya untuk di serahkan kepada Binsar.