VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menghancurkan Kesombongan


__ADS_3

Muhtadin perlahan lahan mengangkat tangan kirinya dan perlahan lahan membungkuk untuk meletakkan pistol yang dipegang ditangan kanannya, Andre yang berdiri dihadapannya, tak jauh dari dia masih waspada dan siap siaga sambil tetap mengarahkan pistolnya pada Muhtadin.


Begitu juga halnya dengan Masto, dia membaca gelagat yang kurang baik dari gerak gerik Muhtadin saat ini. Masto, dengan menggenggam pistol dan mengarahkannya pada Muhtadin berdiri diam di belakang, tak jauh dari Muhtadin berdiri saat ini.


Masto melihat, gerakan tangan kanan Muhtadin yang tengah membungkuk perlahan lahan dan ingin meletakkan pistolnya sangat mencurigakan sekali. Masto pun semakin waspada, dan bersiap siap untuk menembak, jika tiba tiba saja Muhtadin melawan dan menyerang dia dan Andre.


Namun, dugaan Masto ternyata salah, Muhtadin yang membungkuk perlahan lahan itu benar benar meletakkan pistolnya ke lantai ruang koridor bandara, lalu, Muhtadin berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangannya, dia tersenyum sinis menatap wajah Andre.


"Tendang pistolmu itu ke sini!" bentak Andre, masih mengarahkan pistol pada Muhtadin.


Dengan santai dan sikap tenangnya Muhtadin lantas menendang pistol yang diletakkannya di lantai, pistol di tendang, meluncur ke arah Andre.


Dengan cepat Andre mengambil pistol Muhtadin yang berada dilantai, tepat di hadapannya, Andre mengamankan pistol milik Muhtadin, dia menyimpannya di pinggangnya.


Andre lantas menurunkan tangannya yang memegang pistol, dia lantas meletakkan pistol miliknya sendiri ke pinggangnya juga, lalu, Andre pun berjalan mendekati Muhtadin sambil mengambil borgol dari pinggangnya.


Masto yang berdiri dibelakang berjalan selangkah demi selangkah mendekati Muhtadin yang masih berdiri diam sambil mengangkat kedua tangannya.


Masto mendekati muhtadin, dia lantas berdiri tepat di belakang Muhtadin sambil menodongkan pistolnya pada Muhtadin.


Andre yang memegang borgol di tangannya berjalan cepat mendekati Muhtadin. Andre lantas berdiri dihadapan Muhtadin.


Andre lalu meraih tangan Muhtadin yang terangkat, dia hendak memborgol kedua tangan Muhtadin agar tak melarikan diri.


Namun, apa yang terjadi, Andre dikagetkan dengan gerakan cepat dari Muhtadin, saat Andre memegang satu tangan Muhtadin untuk di borgol, tiba tiba saja Muhtadin menyerangnya, dia menendang keras perut Andre yang berdiri dihadapannya. Lalu, dengan cepat, Muhtadin menyerang Andre.


Andre kaget mendapat tendangan mendadak dari Muhtadin, dia lengah dan tak menyangka jika Muhtadin masih berani melawan, padahal dia tahu, Masto di belakangnya menodongkan pistol.


Andre terjajar ke belakang dan hampir saja terjatuh akibat terkena tendangan keras dan hantaman tinju dari tangan Muhtadin. Borgol terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai.


Masto yang berdiri di belakangnya tersentak kaget, melihat Muhtadin yang menyerang Andre. Masto pun marah, dia menekan pistolnya ke punggung Muhtadin.


"Jangan coba coba melawan!! Aku akan menembakmu!!" bentak Masto marah, berdiri tepat di belakang Muhtadin.


Muhtadin tersenyum sinis, dia melirik sedikit ke belakang, melihat pada Masto yang menekankan pistolnya di punggungnya.


"Biarkan dia, To." ujar Andre, sambil berdiri tegak dan menarik nafasnya dalam dalam, untuk menghilangkan rasa sakit dibagian perut dan wajahnya.


"Tapi, Pak..." ucap Masto.


"Gak apa apa. Saya akan menghadapinya." ujar Andre, memotong perkataan Masto.


Masto pun lantas terdiam, dia pun lalu mundur dua langkah ke belakang, pistol ditariknya dari punggung Muhtadin, Muhtadin tersenyum sinis mengetahui hal itu.


"Ayo, lawan aku, kalo kamu memang mau duel tangan kosong!" ujar Andre, menatap tajam wajah Muhtadin.

__ADS_1


Muhtadin dengan sikap tenangnya tersenyum sinis menatap wajah Andre, Andre pun bersiap siap, dia mulai memasang kuda kudanya untuk mulai duel dengan Muhtadin.


"Dengan senang hati aku melawanmu!" tegas Muhtadin, tersenyum sinis.


Melihat Andre dan Muhtadin mulai bersiap siap untuk duel, Masto pun kembali mundur dua langkah ke belakang, dia sedikit menjauh, memberi ruang keleluasaan pada keduanya yang akan berduel dengan tangan kosong, satu lawan satu.


Muhtadin terlihat sombong dan sinis, dia tampak sangat meremehkan Andre yang akan menjadi lawan duelnya kali ini.


Muhtadin yang merasa hebat, karena sering juara dalam mengikuti kejuaraan bela diri menganggap Andre bukanlah lawan yang sepadan buatnya. Dia sangat mengecilkan kemampuan bela diri Andre.


Di belakang, Masto terlihat wajahnya khawatir, dia cemas jika Andre sampai kalah duel dengan Muhtadin nantinya. Karena dia tahu, sudah bertahun tahun lamanya Andre tidak pernah bertarung lagi.


Andre tahu, dia bisa menilai gerak dan membaca sikap Muhtadin yang meremehkan dirinya, Andre tak perduli, dia tetap bersiap siaga dengan posisi kuda kudanya.


"Bersiaplah untuk kematianmu!!" teriak Muhtadin dengan geram.


Lantas, tiba tiba saja, Muhtadin melompat dan menyerang Andre yang telah bersiap siaga, mendapat serangan Muhtadin yang melompat menerjangnya, dengan cepat Andre memutar tubuhnya, menghindar dari tendangan Muhtadin.


Lalu, dengan satu gerakan cepat, Andre pun menyerang balik Muhtadin, dia menendang Muhtadin, Muhtadin menghindar, lalu, Andre pun menyerang Muhtadin bertubi tubi dengan pukulan pukulannya.


Tampak perkelahian antara keduanya sengit terjadi, Masto yang berdiri diam memperhatikan dengan serius, wajah Masto terlihat tegang, dan dia bersiap siap, jika Andre kalah duel, maka dia akan turun menggantikan Andre untuk melawan Muhtadin.


Namun, ternyata Andre bukanlah lawan yang mudah buat Muhtadin, Muhtadin yang awalnya meremehkan kemampuan bela diri Andre kini harus mengakui kehebatannya.


Bibir Muhtadin mengeluarkan darah segar, akibat di hantam tinju keras Andre, dia lantas menghapus darah yang keluar di bibirnya, dan dia meludah lalu tersenyum sinis menatap Andre yang berdiri dengan sikap tenang penuh waspadanya.


"Ternyata kamu hebat juga!" Ujar Muhtadin tersenyum sinis menatap tajam wajah Andre yang berdiri diam saja di hadapannya.


"Ini baru awal, jangan senang dulu, aku pasti akan mengalahkanmu!!" Ujar Muhtadin sinis.


"Aku, Muhtadin, juara lima kali dalam turnamen bela diri, akan menjatuhkan dan menghabisimu!!" Hardik Muhtadin dengan geram.


Muhtadin terlihat menyombongkan dirinya dan bangga akan keberhasilannya menjadi juara dalam turnamen bela diri, Andre yang berdiri dihadapannya hanya tersenyum kecil menyikapi omong besar Muhtadin.


"Jangan banyak omong, ayo, serang aku lagi!" bentak Andre, menatap tajam wajah Muhtadin.


Muhtadin menyeringai marah, dia menatap tajam wajah Andre, lalu, Muhtadin pun lantas kembali menyerang Andre, pukulan pukulan dan tendangan Muhtadin dengan mudah di tangkis Andre, lantas, Andre membalas memukul, dia pun habis habisan menyerang Muhtadin.


Gerakan kedua tangan dan kaki Andre sangat cepat sekali, membuat Muhtadin gugup dan kewalahan menangkis serangan pukulan dan tendangan Andre.


Akhirnya, satu pukulan dan tendangan keras dari kaki Andre membuat Muhtadin terjatuh kelantai, saat Muhtadin berusaha untuk bangun dan berdiri kembali, Andre dengan cepat mendekatinya, Andre menendang kepala Muhtadin, lalu dia menginjak injak tubuh Muhtadin.


Lalu, Andre pun mengangkat tubuh Muhtadin yang sudah lemas tak berdaya, dengan memegang leher Muhtadin, beberapa kali Andre menghantamkan tinjunya ke wajah Muhtadin hingga babak belur dan bengap serta lebam dan mengeluarkan darah dari pelipisnya.


Andre benar benar marah, dia melampiaskan amarahnya dengan terus menghantami wajah Muhtadin yang sudah lemah dan lemas tak berdaya dengan tinjunya.

__ADS_1


Masto yang melihat Andre kalap menjadi khawatir, dia takut Andre malah akan membunuh Muhtadin yang sudah tak berdaya dalam cengkramannya saat ini.


Masto pun lantas cepat berlari mendekati Andre yang berdiri mencengkram leher Muhtadin dan memukulinya, Masto menahan tangan Andre, menghentikan Andre, agar tidak lagi memukuli Muhtadin yang sudah tak berdaya ditangannya.


"Sudah, cukup, hentikan Pak !!" ujar Masto.


Andre tak perduli dengan perkataan Masto, dia terus menghajar Muhtadin, memukuli wajah Muhtadin hingga berdarah darah. Masto dengan sekuat tenaganya memegang dan menahan tangan Andre.


"Hentikan, Pak! Bapak bisa membunuhnya, sudah cukup!!" bentak Masto, sambil memegang kuat tangan Andre.


Andre lantas menghentikan pukulannya, karena tangannya di pegang kuat Masto dan mencegahnya untuk membabi buta menghajar Muhtadin, Andre menatap wajah Masto yang berdiri disampingnya sambil memegangi kuat tangannya.


"Aku kalap! Orang ini pantas di bantai karena kesombongannya!!" ujar Andre geram.


"Sudah, Pak. Sudah, dia sudah mendapatkan hukuman atas kesombongannya sama Bapak!" tegas Masto, menyadarkan Andre yang masih geram dan marah.


Andre lantas mendorong tubuh Muhtadin dan melepaskan cengkraman tangannya di leher Muhtadin.


Muhtadin pun terlempar dan jatuh ke lantai, dia sudah lemas dan tak berdaya, Muhtadin sudah tak mampu melawan, seluruh wajahnya penuh dengan luka luka dan berdarah darah, kedua matanya bengkak hebat, Andre geram menatap Muhtadin yang terbaring lemah di lantai.


"Baru juara turnamen saja sombong! Aku ini pelatih, guru bela diri dari semua anggota anggota polisi di akademi, sebelum kamu memenangi turnamen, sepuluh tahun aku menjadi juara tetap, sebelum mengundurkan diri dari ajang turnamen!!" bentak Andre marah pada Muhtadin.


Muhtadin yang lemas tak berdaya di lantai melirik Andre, dia tak menyangka, jika ternyata Andre seorang guru ilmu bela diri di akademi kepolisian dan sang jawara bertahun tahun.


"Dia gak tau siapa Bapak dulunya, makanya meremehkan dan mengecilkan kemampuan ilmu bela diri Bapak." ujar Masto.


"Memang, sudah lama aku gak bertarung, saat dia menantangku, ini kesempatan buatku sedikit menggerakkan otot ototku dan berolah raga." ujar Andre sinis.


"Sekali kali, jangan pernah kamu meremehkan siapapun! Bagaimana pun lawanmu, kamu gak bisa begitu saja mengecilkan dan merendahkannya!!" tegas Andre.


"Ini akibat kesombonganmu yang menantang dan meremehkanku!! Sudah bagus, gak ku patahkan seluruh tulang tulangmu, hingga cacat seumur hidup!!" hardik Andre, dengan geram dan penuh amarah.


"Borgol dan bawa dia !!" ujar Andre pada Masto.


"Baik, Pak." ujar Masto, mengangguk hormat.


Lalu, dengan cepat Masto pun mengambil borgol dari pinggangnya, lalu, dia memborgol kedua tangan Muhtadin.


Andre lantas mengambil borgol miliknya yang terjatuh kelantai karena diserang Muhtadin tadi, lalu dia menyimpan borgol di pinggangnya.


Kemudian, Masto mengangkat tubuh Muhtadin dan membuatnya berdiri, Muhtadin pun lantas berdiri sambil di pegangi Masto, dia tampak sangat lemah sekali dan sudah tak bertenaga.


Kedua matanya menutup karena bengkak yang hebat akibat di tinju Andre, sehingga dia tak bisa melihat jelas wajah Andre yang berdiri di hadapannya dan juga Masto yang berdiri disampingnya sambil memeganginya.


Andre lantas pergi dari ruang koridor itu, Masto pun mengikutinya dia juga pergi dengan membawa Muhtadin yang kedua tangannya di borgol, dengan lemas dan lemah Muhtadin mengikuti langkah Masto yang memeganginya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2