
Peter menemui Herman di ruang kerjanya, saat ini sudah berkumpul rekan rekan lainnya di dalam ruang kerja Herman , ada Prawira, dan Jack Hutabarat.
"Dody memberikan denah lokasi persembunyian Gatot, dia berhasil melacak mobil Richard !" tegas Peter, memberi laporan pada Herman.
"Sekarang, dimana Dody?" tanya Herman, dengan wajah serius.
"Dody membawa pasukannya ke lokasi persembunyian Gatot, dia akan menyerang lokasi itu, sambil menunggu kita datang!!" ujar Peter, menjelaskan dengan wajah serius.
"Baik, kita ke sana sekarang!! Kali ini, Gatot jangan sampai lolos !" tegas Herman, dengan serius.
"Ya." Jawab Prawira dan Jack bersamaan.
"Jangan lupa, bawa pasukan juga untuk membantu Dody di sana, siapa tau, Richard sudah siapkan pasukannya untuk melawan pasukan Dody!" jelas Herman.
"Siap !" ujar Peter.
Lantas, mereka semua segera pergi keluar dari dalam ruang kerja Herman, untuk mendatangi lokasi persembunyian Gatot, sesuai dengan denah alamat lokasi yang diberikan Dody pada Peter.
---
Sementara itu, di Villa, Dody pun menembakkan pistolnya ke arah Gavlin, dia mencoba bertahan, dan menyerang Gavlin. Gavlin yang berdiri di depan teras Villa melihat ke arah Dody yang bersembunyi di belakang mobilnya. Wajah Gavlin pun semakin marah.
"Kepaaaraaat !! Keluaaar Kamuu!!" teriak Gavlin sekeras kerasnya, penuh amarah membara di jiwanya.
Gavlin lantas menembakkan senapan mesinnya ke mobil, dimana saat ini Dody bersembunyi. Mengetahui mobil ditembaki Gavlin, Dody pun segera menghindar.
Dody melompat dan berguling guling di tanah menghindari tembakan peluru dari senapan mesin Gavlin, saat Dody sudah menghindar, mobilnya pun meledak, karena ditembaki Gavlin.
Dody kaget, melihat mobilnya meledak, Dia pun segera berdiri dan lari, Gavlin melihat Dody lari, dia pun lantas segera mengejar Dody yang mencoba melarikan diri.
"Jangan lari pengecuutt !!" teriak Gavlin.
Gavlin lantas berlari mengejar Dody, Gatot dan Richard keluar dari dalam Villa, mereka melihat, di luar, para pasukan Dody sudah semuanya mati terkapar di bunuh Gavlin dengan senapan mesinnya.
Gatot lantas melihat Gavlin yang berlari mengejar Dody, Maya pun juga ikut keluar dari dalam Villa, dia lantas berdiri di samping Ayahnya.
Maya kaget melihat banyaknya orang yang mati bergelimpangan di tanah.
"Kita kejar Gavlin !" ujar Gatot pada Richard.
"Ayo." ujar Richard.
"Kamu diam di sini, May." ujar Gatot.
"Iya, Yah." ujar Maya, dengan wajah tegang dan masih panik, sambil memegang pistol ditangannya.
Lantas, Gatot dan Richard segera berlari mengejar Gavlin, Di kejauhan, Gavlin masih terus berlari mengejar Dody.
Dody terus berlari menghindar dari kejaran Gavlin, dia lantas melompati pagar besi yang ada di pekarangan tanah kosong, melihat Dody melompati pagar, Gavlin pun semakin geram dan marah.
Gavlin lantas juga naik dan melompati pagar besi tersebut, kemudian, dia segera mengejar Dody lagi.
Jauh di belakang, Richard dan Gatot berlari hendak menyusul Gavlin yang sudah jauh mengejar Dody.
Dody akhirnya terpojok di suatu tempat, dia tak bisa lari kemana mana lagi, karena tempat itu buntu, hanya sebuah tanah kosong yang tertutup rapat dengan tembok beton di sekelilingnya.
"Mau kemana kamu, setaan?!!" bentak Gavlin.
Dody geram mendengar suara teriakan Gavlin dari kejauhan, Dody sangat marah, dia menembakkan pistolnya ke arah suara Gavlin yang berteriak.
"Persetan denganmu!!" bentak Dody marah.
"Kamu datang hanya menyerahkan nyawamu saja, setan!!" teriak Gavlin marah.
__ADS_1
Dody pun geram dan marah mendengar perkataan Gavlin, dia tampak mulai takut, karena nyawanya terancam.
"Siaal !! Kemana si Peter, kenapa belum datang juga sama yang lainnya!!" Ujar Dody dengan geram dan marahnya.
Dody tampak kesal dan marah, karena Peter tak juga kunjung datang ke Villa, padahal, dia sudah memberi tahukan lokasi persembunyian Gatot pada Peter.
Dody datang lebih dulu ke Villa membawa pasukannya untuk menyergap Gatot dan Richard, karena dia yakin, Peter dan teman teman lainnya akan datang membantunya.
Dody juga yakin, dengan membawa banyak pasukan menyerang Villa, dia pasti bisa menangkap Gatot, dan membantai Richard, dia tak pernah menyangka sama sekali, jika di Villa juga ada Gavlin.
Dan yang membuatnya lebih tak menduga, ternyata Gavlin punya banyak senjata, yang membuatnya bisa menyerang balik.
Gatot dan Richard pun naik ke atas pagar besi, lalu, mereka berdua segera melompati pagar, kemudian mereka kembali berlari, mengejar Gavlin.
Tiba tiba saja, sebuah granat melesat ke arah Dody yang berdiri terpojok, granat itu pun meledak, tidak jauh dari Dody berdiri.
Lalu, sebuah granat kembali melesat dan meledak, kali ini granat jatuh tepat di depan Dody. Dody pun terpental jauh dan jatuh ke tanah, karena terkena ledakan granat.
Gavlin melemparkan satu granat lagi di tangannya ke arah Dody yang terbaring di tanah dengan luka bakar, akibat terkena ledakan bom granat.
Granat yang dilempar Gavlin jatuh ketanah, tepat di samping badan Dody yang rebah di tanah, granat itu pun meledak. Kembali tubuh Dody terpental ke atas, tubuhnya pun meledak dan hancur terkena ledakan, Dody pun mati, terkapar ditanah, dengan kondisi tubuh hancur terkena ledakan bom granat.
Gavlin lantas berjalan dengan tenang dan sikap dinginnya sambil menenteng senapan mesinnya, dia mendekati tubuh Dody yang sudah mati terkapar di tanah.
Gavlin lantas berdiri tepat di depan mayat Dody, dia pun tampak marah, Gavlin meludahi mayat Dody.
Gatot dan Richard tiba di lokasi.
Mereka berdua segera mendekati Gavlin, Richard melihat wajah Dody yang terluka bakar dan mati di tanah.
"Ini Dody, kamu membunuhnya, Vlin!" ujar Richard.
"Ya, karena dia berani datang dan menyerang kita secara diam diam!!" tegas Gavlin, dengan sikap dinginnya.
"Saya yakin, Dody pasti sudah memberitahu Herman dan yang lainnya tempat ini, sebelum Dody datang ke sini membawa pasukannya menyerang kita!" tegas Richard, dengan wajah serius.
"Kita mau sembunyi kemana?" tanya Gatot.
"Ikut aku, Om. Aku tau, tempat persembunyian yang paling aman, dan gak akan bisa di lacak Herman dan komplotannya." ujar Gavlin.
"Baiklah, kami ikut denganmu!" ujar Gatot, setuju dengan Gavlin.
"Lantas, bagaimana mayat Dody ini?" tanya Gatot.
"Biarkan saja, Saya akan suruh anak buah saya untuk mengamankan mayat Dody." jelas Richard.
"Ya, Baiklah." ujar Gatot.
Lantas, mereka bertiga segera pergi meninggalkan lokasi tersebut, mereka membiarkan mayat Dody yang mati.
Maya masih berdiri di depan teras Villa, menunggu Ayahnya dan juga Gavlin serta Richard, wajahnya tampak cemas.Dia memegangi pistol ditangannya.
Di kejauhan, dia melihat, Ayahnya beserta Gavlin dan juga Richard berlari ke arahnya, wajah Maya pun sangat senang, melihat ke datangan mereka.
Gatot, Gavlin dan Richard tiba di teras Villa, lalu, Gatot segera mendekati Maya.
"Cepat kemasi barang barangmu, kita pergi, tempat ini udah gak aman!" tegas Gatot, dengan wajah serius.
"Oh, baik Yah." ujar Maya.
Lantas, Maya segera masuk ke dalam Villa, Richard dan Gatot juga masuk, kemudian, Gavlin pun ikut masuk ke dalam Villa.
Gavlin masuk ke dalam kamarnya, dia merapikan senjata senjatanya di dalam tas ransel besar dan panjang, lalu, di bawanya semua senjata senjatanya yang sudah berada dalam tas ransel. Gavlin pun segera keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Gatot, Richard dan Maya berdiri di depan pintu masuk Villa, mereka menunggu Gavlin, Gavlin lantas datang dan menghampiri mereka sambil memanggul tas ransel besar dan panjang berisi senjata senjatanya.
"Sudah siap semuanya?" tanya Gavlin.
Gatot, Richard dan Maya mengangguk.
"Ikut aku!" ujar Gavlin.
Gavlin lantas segera keluar dari dalam Villa, Gatot dan Maya serta Richard pun lantas segera keluar dari dalam Villa, mereka mengikuti Gavlin.
Gavlin berjalan ke garasi mobil yang ada di samping Villa, lalu, dia membuka pintu bagasi mobil, kemudian, dia letakkan tas ransel besar dan panjangnya di dalam bagasi, lalu, ditutupnya pintu bagasi.
Richard, Gatot dan Maya berdiri di samping mobil, mereka menunggu Gavlin.
"Ayo masuk, cepat!" ujar Gavlin.
"Saya pake mobil sendiri saja." ujar Richard.
"Jangan !! Mobil anda sudah di pasangi alat pelacak! Tinggalkan saja mobil itu di sini! Kita pergi pake mobilku!!" tegas Gavlin, dengan wajah serius.
"Baiklah." Jawab Richard, menuruti perkataan Gavlin.
Gatot lantas masuk ke dalam mobil, dia duduk di jok belakang bersama Richard, sementara Maya masuk dan duduk di jok depan, di samping Gavlin yang menyetir mobilnya.
Sesaat kemudian, mobil Gavlin pun berjalan keluar dari dalam garasi mobil, mobil lantas meluncur di halaman Villa, untuk kemudian segera melaju ke jalanan.
Mereka berempat pun akhirnya pergi meninggalkan Villa yang sudah tak aman untuk digunakan sebagai tempat persembunyian.
Gavlin membawa Gatot, Maya dan Richard, kesebuah tempat, tempat yang dianggap aman oleh Gavlin, dan hanya Gavlin saja yang tahu, dimana tempat itu berada.
Di dalam mobil, Gatot dan Richard hanya diam, wajah mereka tampak tegang, karena mereka tak menyangka, Dody datang bawa pasukan dan menyerang mereka.
Mereka berdua sama sama sadar, jika saja tidak ada Gavlin di Villa, mungkin saja Dody dan pasukannya sudah berhasil meringkus mereka berdua, dan juga, mungkin saja, mereka berdua mati terbunuh, karena Pasukan Dody datang tiba tiba lalu menembaki Villa.
Gavlin menyetir mobilnya dengan sikap tenang dan santai, sementara, Maya yang duduk di sampingnya, sesekali melirik Gavlin, wajah Maya tampak lega, karena dia melihat, Gavlin baik baik saja dan tidak terluka.
Sejam kemudian, setelah kepergian Gavlin dan yang lainnya, masuk mobil mobil ke halaman Villa.
Lalu, dari beberapa mobil, keluar para pasukan dari kepolisian , para pasukan polisi langsung bersiap siaga di sekitar lokasi.
Herman, Peter, Prawira dan Jack lalu keluar dari dalam mobil mereka masing masing, mereka tampak heran, karena sekitar Villa berantakan.
"Bedeeeebaaaah !! Mereka pasti lolos!!" teriak Herman marah.
Dia marah, karena dia melihat, begitu banyaknya pasukan Dody yang bergelimpangan mati di tanah.
"Keparaaat!! Mereka membantai pasukan Dody!!" ujar Jack geram.
"Lantas, dimana Dody?!" tanya Prawira.
Peter tampak sedang menelpon Dody, tapi, teleponnya tak aktif, Peter pun kesal.
"Sial ! Telpon Dody gak aktif!" ujar Peter kesal.
"Jangan jangan, Dody melarikan diri, karena pasukannya mati terbunuh?" ujar Prawira.
"Tugaskan anak buahmu Peter! Cari Dody!" tegas Herman.
"Baik!" ujar Peter.
Peter lalu mendatangi salah satu anak buahnya, anggota kepolisian, untuk ditugaskan mencari Dody di sekitar Villa, anak buah Peter pun mengangguk paham.
Lantas, anak buah Peter segera pergi untuk mencari Dody, dan Peter pun kembali menghampiri Herman, Jack dan Prawira.
__ADS_1
Wajah mereka tampak geram dan marah melihat kenyataan, pasukan mereka banyak yang mati.