VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Gavlin Mengancam Andre


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang,


Flash back berakhir.


Andre menghela nafasnya, dia memandangi berkas berkas yang ada di atas meja.


"Aku akan memenuhi keinginanmu, Guh. Akan aku lanjutkan usahamu dan Gatot untuk mengungkap kasus kasus lama ini, dan menangkap Herman serta komplotannya." Gumam Andre.


"Teguh, Kamu Perwira Polisi yang tangguh, kamu tewas, mengorbankan dirimu saat memburu penjahat, aku kagum padamu, sekaligus bangga." ucap Andre, tersenyum sedih.


Andre mengingat kematian Teguh yang tragis, terbunuh oleh penjahat yang dia buru saat itu. Lalu, Andre menarik nafasnya dalam dalam.


Dia mengenang kembali, saat Gatot meninggal dunia, dari anak buahnya, Andre mendapatkan kabar tentang kematian Gatot yang di duga di bunuh Jafar, dan sampai saat ini sosok Jafar tidak ditemukan juga.


Dengan kematian Gatot yang tragis, Andre, yang waktu itu menjabat sebagai Letnan satu, diangkat oleh Richard menjadi Kapten, atau Ajun komisaris polisi, setara dengan jabatan Gatot.


Dan oleh Richard, Andre pun diminta untuk pindah ke divisi Gatot , melanjutkan kasus kasus yang selama ini di jalani Gatot.


Dari situlah Andre semakin mengetahui, kejahatan kejahatan Herman dan komplotannya, dan dari catatan catatan Gatot yang dia temukan, terungkap juga kejahatan dan kelicikan Richard, yang memanfaatkan Gatot demi menjadi kapolri. Untuk itulah Andre sangat marah pada Richard. Dia melakukan semua itu demi Teguh, yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.


"Teguh, Gatot. Kalian jangan khawatir, aku akan melanjutkan perjuangan kalian selama ini, kalian gak akan mati sia sia, aku akan membalas, dan menangkap Herman serta komplotannya." ujar Andre, dengan wajah serius.


Andre bertekat untuk mengungkap kasus kasus kejahatan Herman dan komplotannya, dia tahu bagaimana jahat dan piciknya Herman serta komplotannya, dan sebagai Polisi, dia tak bisa membiarkan perbuatan jahat Herman dan komplotannya.


Andre lantas menutup berkas berkasnya, lalu, dia merapikannya, Andre kemudian berdiri, dia lantas berjalan sambil membawa map map berisi kasus kasus kejahatan Herman dan komplotannya.


Andre masuk ke dalam kamar, dia lantas berjongkok, kemudian, dia mengangkat karpet yang menutupi lantai, terlihat seperti pintu rahasia kecil berbentuk kotak di lantai kamarnya, dia lalu meletakkan dan menyimpan map map ke dalam kotak rahasia, lalu, Andre menutupnya kembali, dan meletakkan karpet diatasnya, Andre kemudian beranjak pergi keluar dari ruang kamar tersebut, menuju kamar tidurnya untuk istirahat dan tidur.


---


Malam hari, suasana hening dan sepi, Gavlin dengan memakai pakaian serba hitam menyelinap masuk ke dalam rumah Herman. Gavlin kembali mendatangi rumah Herman.


Gavlin berniat membunuh Herman, Gavlin lantas menyelinap di dalam rumah Herman , di tangannya, dia memegang pisau belati.


Suasana dalam rumah hening, Gavlin cepat masuk ke dalam kamar tidur utama Herman , dengan berjalan mengendap endap dia mendekati tempat tidur. Di dalam kamar gelap, karena lampu kamar tak menyala.


Gavlin terdiam berdiri disamping ranjang, karena Herman tak ada di dalam kamarnya.


"Siaaal, bedebah itu masih gak ada dirumahnya !" Ujar Gavlin geram dan marah.


"Kemana dia bersembunyi?!" ujarnya berfikir.


Lantas, Gavlin pun bergegas jalan keluar dari dalam kamar Herman , wajahnya tampak kesal menahan amarahnya. Gavlin lantas keluar dari dalam rumah Herman.


---


Sementara itu, Herman berada di dalam kamar VIP sebuah Hotel mewah , Herman sedang bicara serius di telepon.


"Baik. Besok kita ketemu di restoran tempat biasa, jangan lupa ajak juga Jack, Jack juga harus tau rencanamu ini." ujar Herman, bicara ditelepon.


"Oke, akan ku hubungi Jack, sampai ketemu besok." ujar Peter, dari seberang telepon.

__ADS_1


Lantas , Herman menutup teleponnya, lalu , dia meletakkan teleponnya di atas meja kecil yang ada di samping ranjang.


Herman lantas duduk diatas kasur dan bersandar, dia menyalakan televisi, lalu, menonton film di salah satu chanel televisi luar negeri.


---


Di dalam mobilnya, Gavlin sedang berfikir keras, dia masih memikirkan Herman, yang tak dia temukan dirumahnya, Dia kesal, karena gagal membunuh Herman.


"Apa aku beralih ke Jack atau Peter? Mungkin kalo aku menemui salah seorang diantara Jack dan Peter, aku bisa tau, dimana Herman bersembunyi." ujarnya, bicara pada dirinya sendiri.


Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, dia lantas menyalakan mesin mobilnya, lalu, sesaat kemudian, Gavlin pun lantas menjalankan mobilnya, dia pergi meninggalkan rumah Herman yang sepi dan kosong, tak ada siapa siapa.


---


Keesokan harinya, Andre baru saja datang ke kantornya, dia meletakkan tas kerjanya, lalu, dia pun lantas duduk di kursi meja kerjanya.


Andre mengambil berkas berkas kasus dari dalam tas kerjanya. Berkas berkas itu hanya copyan saja, karena yang aslinya, sengaja di simpan Andre ditempat yang aman, di dalam rumahnya.


Edo datang dan menghampiri Andre yang baru saja mau membuka map berisi berkas kasus diatas meja.


"Lapor, Pak." ujar Edo, memberi hormat.


"Ya, ada apa?" tanya Andre, santai.


"Saya mendapat info dari ahli forensik, mereka sudah menemukan pelaku yang membunuh Richard." ujar Edo, memberi laporan pada Andre.


"Siapa pelakunya?" tanya Andre, dengan serius dan penasaran.


"Gavlin pelakunya, Pak. Sidik jarinya ditemukan di timah timah yang menempel di tubuh Richard!" tegas Edo.


"Ya, Pak. Dan banyak sekali jejak jejak sidik jari Gavlin tertinggal di rumah Herman yang ditemukan tim ahli forensik." jelas Edo lagi.


"Ternyata Gavlin yang membunuh Richard , lalu dia sengaja meletakkan mayat Richard diteras rumah Herman , agar Herman dituduh sebagai pelakunya." ujar Andre.


"Pintar, tapi ceroboh." ujar Andre, tersenyum sinis.


"Kalo menurut saya, Gavlin gak ceroboh Pak. Sepertinya dia sengaja meninggalkan jejaknya, mungkin agar kita tau kalo dia pelakunya." ujar Edo.


"Karena selama ini, yang saya tau, Gavlin lihai, dia gak pernah ceroboh, dan gak pernah meninggalkan sidik jarinya di lokasi kejadian, baru kali ini saja dia terlihat seperti ceroboh." jelas Edo, dengan serius dan bersungguh sungguh.


"Iya, sepertinya begitu, Gavlin sengaja meninggalkan sidik jarinya, mungkin sebagai peringatan pada kita sebagai polisi yang juga memburunya sebagai buronan utama kepolisian, kalo dia selalu ada disekitar kita." ujar Andre, mengambil kesimpulannya sendiri.


"Ya, sepertinya begitu, Pak." ujar Edo.


"Ya, sudah, kamu kerahkan tim untuk segera memburu Gavlin, tangkap dia, dan jangan sampai lolos." ujar Andre dengan wajahnya yang serius memberi perintah.


"Baik, Pak." jawab Edo, mengangguk hormat pada Andre.


"Satu hal lagi, kalian harus menangkap Gavlin hidup hidup, jangan menembak dia, kalian boleh menembak jika dalam kondisi terjepit, dan tak bisa apa apa lagi selain menembak. Gavlin harus di tangkap dalam keadaan hidup." ujar Andre menegaskan.


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan." ujar Edo.

__ADS_1


"Kalo gitu, saya permisi, Pak." ujar Edo.


"Ya, silahkan." jawab Andre.


Edo lantas pergi meninggalkan Andre yang masih duduk di kursi meja kerjanya, tiba tiba, telepon yang ada di meja kerjanya berbunyi.


Andre cepat mengambil gagang telepon, dia pun lantas menerima panggilan telepon.


"Dengan Kapten Andre di sini, ada yang bisa saya bantu?" ujar Andre, bertanya di telepon.


"Aku Gavlin, aku hanya mau bilang, kamu jangan ikut campur urusanku, dan jangan halangi aku membalas dendam pada Herman dan komplotannya." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"Jika kamu turut campur dan menghalangiku, serta menangkapku, aku gak akan segan segan membunuhmu." lanjut Gavlin memberi ancaman pada Andre dari seberang telepon.


"Boleh saya bertemu kamu?" ujar Andre ditelepon.


Andre tampak tenang mendengar ancaman Gavlin, dia mengalihkan pembicaraan Gavlin, dengan mengajak Gavlin bertemu dengan dirinya.


"Kita akan bertemu nanti, tunggu saja saatnya." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"Vlin, saya turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan bapak serta ibumu, dan saya juga turut prihatin dengan dirimu, saya paham, kenapa kamu membalas dendam." ujar Andre, diteleponnya.


"Gak perlu berpura pura baik padaku, Andre, turuti saja apa kataku tadi, jika kamu masih mau hidup." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"saya banyak tau tentang dirimu, dari Teguh. Kamu ingat Teguh?" ujar Andre, ditelepon.


"Hei !! Jangan sebuat nama abangku Teguh!!" bentak Gavlin dari seberang telepon.


Andre sedikit kaget, karena tiba tiba saja Gavlin menjadi marah, karena dia menyebut nama Teguh.


"Kenapa kamu marah saya sebut nama Teguh?" ujar Andre heran, ditelepon.


"Karena mengingat kematian abangku hal yang menyakitkan buatku, aku gak mau mengingatnya lagi! Dan gak ada yang boleh mengungkit namanya lagi!!" hardik Gavlin, dari seberang telepon.


"Teguh sudah seperti anak saya sendiri, Gavlin. Dia dulu anak buah dan orang kepercayaan saya, sebelum di pindah tugas ke divisi Gatot." ujar Andre, ditelepon.


Dengan sikap tenang, Andre mencoba memberi penjelasan pada Gavlin, bahwa dia sangat mengenal baik Teguh selama ini.


"Kamu tau, Vlin? Teguh lah yang meminta saya, agar melanjutkan kasus kasus kejahatan Herman, dia meminta, agar saya mengungkap kejahatan Herman dan komplotannya, jika dia atau Gatot mati terbunuh. Dan saya sekarang menjalani permintaan Teguh!" ujar Andre, dengan serius menjelaskan ditelepon.


"Sudah cukup ! Aku gak mau dengar ocehanmu!" ujar Gavlin marah dari seberang telepon.


"Ingat Andre ! Jangan halangi aku membunuh Herman dan komplotannya!" tegas Gavlin, dari seberang telepon.


Lalu, Gavlin menutup teleponnya, terdengar suara nada terputus dari telepon yang digenggam Andre. Andre lantas meletakkan gagang telepon ditempatnya semula.


"Gavlin, begitu kuatnya keinginanmu membunuh Herman dan komplotannya." ujar Andre, sambil menghela nafasnya.


"Maaf Vlin, aku gak bisa menuruti keinginanmu, jika kamu membunuh Herman tepat didepan mataku, dengan terpaksa, pasti aku akan mengambil tindakan keras padamu." ucap Andre.


"Aku harap, saat kamu membunuh Herman dan komplotannya, kita gak bertemu, dan gak saling berhadapan. Jujur, aku gak bisa berhadapan denganmu, karena permintaan Teguh dulu." ungkap Andre.

__ADS_1


Andre kembali menarik nafasnya dalam dalam, dia lalu merapikan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya. Lalu, dimasukkannya berkas ke dalam tas kerjanya. Kemudian , tas kerja disimpannya dalam laci meja kerjanya.


Andre lantas beranjak pergi keluar dari dalam ruang kerjanya, dia merasa penat berada didalam ruang kerjanya, dan ingin keluar untuk menghibur dirinya yang resah memikirkan Gavlin, yang bertekat kuat mau membalas dendam orang tuanya.


__ADS_2