VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kilas Balik


__ADS_3

Malik mulai bercerita tentang kejadian yang dialaminya saat membawa Binsar naik pesawat.


Flash back / Kilas balik .


Saat itu, Malik membawa keluar Binsar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah pesawat yang sudah menunggunya.


Sang Pilot yang berdiri di dekat pesawat melihat kedatangan Malik bersama Binsar, Dia tak mengenali Gavlin, dan mengira jika Malik adalah Gavlin.


Saat Malik berjalan mendekatinya, sang Pilot mengangguk memberi hormat, lalu, Dia segera berjalan naik ke dalam pesawat dan di ikuti Malik yang menarik tangan Binsar yang di borgol kedua tangannya. Sementara itu, Sosok Pria mengintai dan mengawasi tak jauh dari pesawat yang parkir itu.


Sosok Pria yang ternyata Pablo, orang suruhannya pak Wicaksono untuk mengawasi Gavlin melihat Malik naik pesawat bersama Binsar dengan cepat berlari menuju ke pesawat, dan lalu, Dia juga naik ke pesawat dengan menyelinap tanpa diketahui siapapun kehadirannya.


Pilot duduk di depan pesawat, bersiap untuk menyalakan mesin dan memberangkatkan pesawat. Malik mendorong tubuh Binsar duduk di salah satu kursi yang ada dalam pesawat.



Binsar terduduk di kursi, Malik meletakkan tas berisi bom rakitan buatan Gavlin, di dalam tas berisi bom, ada seutas tali dan pisau, Malik meletakkan tas berisi bom di lantai pesawat, tepat di kaki Binsar.


Binsar diam tak melawan, karena kedua tangannya di borgol, Dia meletakkan kedua tangannya yang di borgol ke atas pahanya, Binsar kaget dan takut melihat ada bom di dalam tas yang di bawa Malik.


"Mau apa kamu dengan bom itu?!" tanya Binsar dengan wajah takut dan khawatirnya.


"Buat meledakkan dirimu!" Jawab Malik dengan sikap dinginnya.


Malik menjawab tanpa melihat wajah Binsar yang terlihat ketakutan karena ada bom rakitan di dalam tas yang tergeletak di lantai, tepat di bawah kakinya.


Malik cepat mengambil tali dari dalam tasnya, lalu, Dia bergegas mengikat tubuh Binsar dengan tali tersebut.


Saat Malik sedang serius mengikat tali ke tubuh Binsar, tiba tiba saja Binsar bergerak dan tangannya yang terborgol melingkar di leher Malik, dengan sekuat tenaganya Binsar mencekik leher Malik.


Mendapat perlakuan yang secara tiba tiba itu Malik kaget, dia berusaha meronta, namun, lehernya yang tercekik dengan borgol yang melingkar di kedua tangan Binsar begitu kuat, Malik kepayahan dan susah bernafas, Wajah Malik memerah , berusaha melawan dan meronta serta berusaha untuk bisa bernafas.


"Kamu kira mudah membunuhku keparat!! Kamu yang akan mati di pesawat ini !!" Bentak Binsar penuh amarah.


Binsar terus mencekik leher Malik, kedua tangannya yang terborgol melingkar kuat di leher Malik, Malik semakin sulit bernafas, tangannya berusaha kuat melepaskan tangan Binsar di lehernya, namun, karena Dia sulit bernafas, kekuatan tenaganya berkurang , Malik tak mampu melepaskan tangan Binsar yang mencekik lehernya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Malik pun lantas terkulai lemas dan pingsan , melihat Malik pingsan ditangannya, Binsar cepat mengangkat kedua tangannya yang melingkar mencekik leher Malik.



Seketika, saat dilepaskan Binsar, tubuh Malik terjatuh kelantai dan pingsan, Binsar lalu cepat melepaskan tali yang melingkar, mengikat tubuhnya, Binsar sulit melepaskan tali di tubuhnya, Dia melihat pisau di dalam tas, Binsar pun membungkukkan tubuhnya, kedua tangannya berusaha mengambil pisau dari dalam tas.


Dengan susah payah, akhirnya Binsar bisa mengambil pisau tersebut, lalu, Dia berusaha memotong tali dengan pisau yang di pegangnya.


Sesaat kemudian, tali yang mengikat tubuhnya pun lantas terlepas, Binsar lalu cepat berdiri dari kursinya, Dia menendang tubuh Malik yang tergeletak pingsan di lantai.


"Mampus kamu!! Mau macam macam sama Aku!!" Bentak Binsar, penuh amarah menatap tajam wajah Malik yang pingsan di lantai pesawat.


Binsar lantas mengangkat tubuh Malik dan mendudukkannya di kursi, tempat dia duduk tadi, kini, Malik yang duduk di kursi dengan kondisi pingsan, menggantikan Binsar.


Binsar melihat bom rakitan yang ada di dalam tas tersebut, untuk sesaat dia berfikir, melihat ke bom dan lalu melihat ke Malik yang terduduk pingsan di kursi.


"Hmm...Kamu mau memakaikan bom itu kepadaku, sekarang, kamu yang akan kupakaikan bom tersebut, biar hancur berantakan tubuhmu!!" Tegas Binsar, dengan geram dan penuh amarah menatap Malik yang pingsan duduk di kursi.


Sang Pilot yang berada di dalam kabin pesawat tak mengetahui kejadian tersebut, karena dia bersiap hendak menjalankan pesawatnya, saat Pilot hendak mengoperasi pesawatnya dan bersiap berangkat, tiba tiba saja Pablo menodongkan pisau ke leher pilot.


"Tahan, jangan kamu jalankan pesawat ini, tunggu sampai aku yang menyuruhmu menjalankan pesawat ini!" tegas Pablo.


"Ingat, jangan macam macam dan coba coba bertindak yang aneh aneh, Diam saja kamu di sini, kalo gak mau aku bunuh, turuti perintahku!" Ucap Pablo serius menegaskan pada Pilot.


"I..iyaa...!" Jawab Pilot ketakutan, mengeluarkan keringat dinginnya.


Pablo lantas keluar dari kabin pesawat meninggalkan pilot sendirian, Pablo lantas menutup pintu ruang kendali pesawat itu, lalu berjalan ke arah Malik dan Binsar.


Sementara itu, Binsar mulai mengikat tubuh Malik dengan tali yang mengikat tubuhnya tadi, saat Binsar mengikat tubuh Malik, Malik sadar dari pingsannya, Dia melihat Binsar tepat berdiri di depannya tengah mengikat tubuhnya dengan tali.


Dengan gerakan cepat Malik meronta dan menendang tubuh Binsar hingga terjajar kebelakang dan jatuh , Binsar kaget karena Malik cepat sadar dari pingsannya lalu menendangnya.


Malik dengan wajah geram dan penuh amarah cepat melepaskan tali di tubuhnya dan belum di ikat Binsar, hanya baru di lingkarkan saja ketubuhnya. Malik menatap tajam wajah Binsar yang tersungkur di lantai pesawat sambil meringis kesakitan, Dia menahan sakit di perutnya yang ditendang Malik.


Malik dengan penuh amarah menyerang Binsar, Malik berjongkok dan hendak mencekik leher Binsar, namun naas, Malik tak menyadari jika saat ini Binsar sedang memegang pisau di tangan kirinya, Dengan gerakan yang cepat, Binsar langsung menghujamkan pisau ke perut Malik yang duduk di atas tubuhnya dan berusaha mencekiknya.

__ADS_1


Malik terkesiap kaget mendapatkan serangan dari Binsar secara tiba tiba, Dia seketika melihat ke perutnya yang mengeluarkan darah segar dan terluka parah.


"Mati kamuuu Keparaaat!!" Teriak Binsar, terus menghujamkan pisaunya beberapa kali ke perut Malik.


Mendapat tusukan berkali kali dari Binsar, Malik pun lantas mengeluarkan darah segar dari mulut dan perutnya, lalu, seketika Dia terkulai lemah di lantai, tubuhnya melemah tak kuasa lagi melawan Binsar, sebab perutnya penuh luka tusukan pisau.


Binsar cepat bangun dan berdiri, lalu dia menendang tubuh Malik yang terkapar di lantai pesawat, Binsar belum puas, Dia hendak memastikan bahwa Malik akan mati ditangannya saat ini juga.


Binsar pun lantas hendak menghujamkan pisaunya kembali ke dada Malik, tiba tiba saja, sebuah kaki menendang tubuhnya, Binsar terjajar ke samping dan terjatuh.


Belum sempat dia berdiri, Pablo, yang ternyata menyerang Binsar, Pablo langsung menendang tangan Binsar sehingga pisau terlepas dari tangannya.


Lalu, tanpa ampun, Pablo menendang dan menghajar Binsar habis habisan hingga Binsar terkulai lemah tak berdaya dan pingsan.


Pablo berdiri di hadapan Binsar yang tergeletak pingsan di lantai pesawat, lalu Dia melihat Malik yang terluka parah dan wajahnya memucat serta tubuhnya semakin melemah.


"Bertahanlah, Aku akan segera membawamu pergi!" Tegas Pablo, menatap tajam wajah lemah Malik.


"Ss...Sii...apa...Ka...mu...!" Ujar Malik bertanya dengan terbata bata karena lemah dan merasakan rasa sakit pada perutnya yang terluka.


"Nanti saja Aku ceritakan." Ujar Pablo.


Pablo cepat melepaskan kemeja yang dipakainya, setelah kemeja dilepas, Pablo hanya memakai kaos saja.


"Darahmu harus segera dihentikan , sebelum lebih banyak terbuang lagi." Tegas Pablo.


Malik mengangguk lemah dan diam saja, Pablo lantas dengan cepat mengikat luka di perut Malik dengan baju kemeja miliknya, Dia mengikatnya kuat, agar darah tidak mengalir keluar terus dari dalam perut Malik.


"Kamu tunggu, bertahanlah sebentar." Ujar Pablo.


Malik mengangguk lemah, menurut dengan perkataan Pablo, lalu, Pablo segera mendekati tubuh Binsar yang tergeletak pingsan di lantai.


Pablo mengangkat tubuh Binsar dan mendudukkannya di kursi, lalu, dengan cepat, Pablo mengambil bom rakitan dari dalam tas.


Pablo memakaikan bom rakitan ke tubuh Binsar, bom itu di buat seperti rompi, sehingga, tinggal di pakaikan saja ke tubuh Binsar.

__ADS_1


Setelah di pakaikan ke tubuh Binsar, Pablo cepat mengikat rompi yang ada bomnya itu, setelah selesai mengikat dan memasang bom di tubuh Binsar yang pingsan, Pablo cepat mengikat tubuh Binsar dengan tali.


Semua di lakukan Pablo dengan cepat, kemudian, Dia pun menggotong tubuh Malik, dan segera membawanya pergi keluar dari dalam pesawat, meninggalkan Binsar yang pingsan terduduk di kursi dengan tubuhnya di pasangi bom yang siap meledak kapan saja. Pablo tak lupa membawa remote untuk mengaktifkan bom tersebut nantinya.


__ADS_2