VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menjadi Target Buruan yang ke Dua


__ADS_3

Malam harinya, Richard menemui Mulyono di sebuah gedung perkantoran, Mulyono dan Richard bertemu muka, saling berhadapan, mereka berada di lantai paling atas gedung perkantoran tersebut.


"Bagaimana kabarmu, Richard?" tanya Mulyono.


"Kabar baik, Pak." jawab Richard ramah.


"Apa yang mau Bapak bahas dengan saya di sini? Mengapa kita harus berada di lantai paling atas gedung ?" tanya Richard heran.


Dia menatap tajam wajah Mulyono, dia menangkap, raut wajah Mulyono ada kegundahan, dan seperti merasa canggung di hadapan Richard.


"Aku mau membahas soal kasus 18 tahun yang lalu itu." ujar Mulyono.


"Untuk apa di bahas lagi? Bukankah Bapak sudah bilang, bahwa kasus itu sudah selesai dan di tutup, karena kadaluwarsa?" ujar Richard.


"Aku mau buat pengakuan padamu." ucap Mulyono getir. Merasa bersalah.


"Pengakuan?" Tanya Richard, dengan wajahnya yang heran.


"Ya." Jawab Mulyono.


"Sebenarnya, Kasus itu belum kadaluwarsa, masih ada tenggang waktu 3 minggu lagi dari sekarang." ujar Mulyono.


"Apa ?!" Richard terhenyak kaget.


"Ya, Maafkan aku, Herman merubah dan memalsukan tanggal kejadian kasus tersebut, dia membuat, agar kasus tersebut sudah kadaluwarsa." jelas Mulyono.


Richard terdiam, dia tampak geram menatap wajah Mulyono yang membuat pengakuan di depannya. Penjelasan Mulyono membuat Richard kaget dan marah.


"Dan kamu tau, tapi membiarkan Herman begitu saja merubah rubah data kasus tersebut?!" Hardik Richard, mulai marah.


"Maafkan Aku, aku terpaksa melakukannya, karena saat itu, aku di bawah tekanan Herman." jelas Mulyono.


"Herman dan komplotannya menculik anakku serta istrinya, dia mengancamku, akan membunuh anakku, jika aku gak menuruti semua kemauannya!" jelas Mulyono.


"Dengan terpaksa, aku menanda tangani pernyataan tertulis yang di buat Herman, untuk memperkuat apa yang sudah di ubah Herman pada kasus tersebut." ungkap Mulyono, dengan penuh penyesalan.


"Keparaaat kamu Mulyono !!" bentak Richard.


Richard pun memukul keras wajah Mulyono, dia menumpahkan amarahnya, tampak Richard sangat kecewa dan marah pada Mulyono.


Mulyono yang di pukul Richard, hanya diam berdiri ditempatnya, di hadapan Richard. Wajah Richard tampak memerah karena marah.


"Kamu egois Mulyono !! Kamu mementingkan dirimu sendiri!!" bentak Richard marah.


"Kamu gak mikir? Kalo perbuatan tercelamu itu udah menyakiti hati seorang anak yang berusaha mengungkap kasus pembunuhan bapaknya?!" Bentak Richard, meluapkan amarahnya.


"Karena perbuatanmu itu, yang berbohong padaku, Aku sudah membuat anak Sanusi marah besar!! Dan kamu mau tau akibatnya Mul?!! Gavlin, anak Sanusi pasti akan bertindak sendiri, sebab dia kecewa dengan hukum di negara ini!!" Teriak Richard membentak Mulyono penuh amarah.


"Maafkan aku." Ujar Mulyono getir.


Hanya kata 'Maaf' yang bisa di ucapkan Mulyono pada Richard, Richard semakin geram dan marah pada Mulyono.


"Kalo kamu bukan keluarga Istriku, sudah ku habisi kamu !! Kamu sudah mengkhianati kepercayaanku selama ini!!" bentak Richard.


"Mulai saat ini, kita gak ada hubungan apapun juga!!" bentak Richard, penuh amarah.


Richard lantas pergi meninggalkan Mulyono, Mulyono hanya tertunduk dan diam, dia masih berdiri ditempatnya.


Richard sudah pergi menjauh dari pandangan Mulyono, Mulyono tampak sangat menyesal, atas perbuatannya pada Richard.


Dia sadar, bahwa dia sudah mengecewakan Richard, dan dia juga sudah berkhianat, dengan menuruti permintaan Herman.


Richard masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman gedung perkantoran kosong tersebut, sesaat kemudian, mobil Richard pun berjalan, dan pergi meninggalkan gedung perkantoran.

__ADS_1


---


Gatot sedang rebah rebahan di sofa, Maya datang menghampirinya, lalu, Maya duduk di samping Ayahnya.


"Ayah ngantuk tuh, sana tidur." ujar Maya.


"Sebentar lagi, Ayah masih nunggu pak Richard datang." ujar Gatot.


"Memang pak Richard kemana, Yah?" tanya Maya.


"Lagi nemui Pak Mentri, ada urusan penting." ujar Gatot.


"Oh." jawab Maya, mengangguk paham.


Tak berapa lama, datang Richard berjalan mendekati Gatot dan Maya, Richard lantas menghempaskan tubuhnya di sofa.


Maya dan Gatot melihat wajah Richard seperti habis marah besar, Maya pun tak ingin mengganggunya, dia lantas berdiri, dan pergi meninggalkan Ayahnya dan Pak Richard.


Maya masuk ke dalam kamarnya, Gatot menatap lekat wajah Richard yang tampak kesal dan marah itu.


"Ada apa?" tanya Gatot, heran.


"Keparat Mulyono !" Ujar Richard, geram dan marah.


"Loh, kenapa memangnya?" tanya Gatot, heran.


"Dia berkhianat !! Dia mengaku, ternyata dia bekerjasama dengan si Herman, merubah data data kasus 18 tahun lalu, sehingga data kasus tersebut menjadi kadaluwarsa, padahal tenggang waktunya masih tersisa 3 minggu lagi kata si Mulyono!!" Ujar Richard, marah.


"Apa ku bilang, Ada yang ganjil dari sikap Mulyono, makanya aku curiga!" tegas Gatot.


"Lantas, apa yang harus kita lakukan?" tanya Gatot.


"Kita harus bisa mendapatkan data asli kasus tersebut, jangan sampai di lenyapkan Herman!!" tegas Richard.


"Oke!" Jawab Gatot, setuju.


"Kita harus memberi tau Gavlin tentang ini, dia juga wajib tau!!" tegas Richard.


"Aku gak tau kemana dia, sejak dia marah karena tau kasus bapaknya sudah kadaluwarsa, dia pergi dan belum pulang sampe sekarang!" jelas Gatot.


"Gawat ! Jangan jangan Gavlin sudah bertindak sendiri, dia mau membalas dendam sama Herman dan komplotannya!" ujar Richard.


"Kita harus mencegahnya, jangan sampai Gavlin membunuh Herman dan komplotannya, Herman harus di adili, dia harus di penjara, untuk menebus semua kejahatannya di masa lalu!!" tegas Richard.


"Bagaimana caranya kita menghentikan Gavlin? Kita gak tau dimana dia, dan dia juga gak punya hape, kita gak bisa menghubungi atau melacak keberadaannya!" jelas Gatot.


"Dan yang jelas, jika Gavlin benar benar sudah bergerak dan bertindak, dia gak akan bisa di hentikan!! Dia gak akan berhenti, sebelum targetnya berhasil di bunuhnya!!" jelas Gatot, dengan wajah serius.


"Lantas, harus bagaimana kita? Apa kita harus menyusun langkah langkah untuk mencari data asli kasus 18 tahun lalu, tanpa melibatkan Gavlin?" ujar Richard, dengan wajahnya yang serius.


"Ya, mau gimana lagi, kita kan harus cepat bertindak, waktu terus berjalan, dan 3 minggu itu bukan waktu yang lama!" tegas Gatot.


"Ya, kamu benar, baiklah, mulai besok, kita bergerak untuk menyelidiki dan mencari data asli kasus 18 tahun itu, kita datangi rumah dan kantor Herman, kita geledah seluruh ruangannya!" tegas Richard.


"Aku yakin, Richard pasti masih belum memusnahkan data aslinya, dia pasti menyimpannya di suatu tempat!" ujar Richard.


"Ya." Jawab Gatot.


Mereka berdua pun merencanakan untuk mencari dan mengambil data asli tentang kasus pembunuhan 18 tahun yang lalu, karena, hanya dengan data asli sajalah mereka bisa meminta persidangan ulang, dan memanggil Herman serta komplotannya sebagai tersangka dan terdakwa.


---


Keesokan harinya, tampak di ruang kerja Jack Hutabarat di kantor Kejaksaan agung sangat sibuk, para pekerja datang dan masuk dengan membawa perabotan perabotan baru ke dalam ruang kerja Jack Hutabarat.

__ADS_1


Jack baru saja pindah tempat ruang kerja, dia sekarang mempunyai ruang kerja yang lebih luas, setelah sebelumnya, dia merenovasi ruang kerjanya, agar terlihat semakin megah dan bagus serta luas.


Para pekerja selesai meletakkan dan menata semua perabotan perabotan baru di dalam ruang kerja Jack tersebut.


Setelah kepergian para pekerja, Jack pun berdiri di tengah tengah ruang kerjanya yang terlihat bagus dan megah itu.


Dia tampak tersenyum senang, dia puas dengan hasil kerja para pekerja yang sudah merenovasi ruang kerjanya hingga menjadi megah dan bagus.


"Sekarang, ruang kerjaku gak kalah megahnya dengan ruang kerja Herman." ujar Jack Hutabarat, tertawa bangga.


Dia lantas berjalan ke meja kerjanya, lalu, di hempaskannya tubuhnya di kursi kerjanya. Lalu, dari meja kerjanya, dia memandangi seluruh isi ruangannya tersebut.


Pandangan matanya lalu tertuju pada sebuah kotak besar dan tinggi yang berada di sudut ruangan, dia pun heran, melihat kotak besar yang masih tertutup rapat dan belum di buka oleh para pekerja.


"Kotak apaan itu? Kenapa mereka tadi gak sekalian merapikannya dan membuka bungkusannya itu?" ujar Jack berfikir.


Dia lantas berdiri dari duduknya, dengan wajah heran, dia pun kemudian berjalan mendekati kotak besar yang ada di sudut ruang kerjanya itu.


Setelah mendekat, Jack berdiri tepat di depan kotak tinggi dan besar itu, kotak itu sama tingginya dengan dirinya.


"Kira kira, apa isinya? Perasaan, aku gak memesan perabotan sebesar ini." Gumam Jack, berfikir keras dengan wajah keheranan.


Jack lantas berbalik badan, lalu dia berjalan ke meja kerjanya, diambilnya pisau cutter dari laci meja kerjanya, lantas, dia kembali mendekati kotak tinggi dan besar tersebut.


Dengan pisau cutter ditangannya, dia mulai membuka dan membongkar bungkus kotak besar dan tinggi itu, dengan susah payah, dia membuka dan melepaskan bungkusan kotak tersebut.


Beberapa menit kemudian, kotak itu pun sudah terbuka, dan di dalamnya ada sebuah patung yang terbuat dari lilin.


"Patung Lilin? Dari siapa ini? Aku gak pernah memesan patung buat di taruh di ruang kerjaku ini." ujarnya, bingung dan heran.


Jack lantas melepaskan semua bungkusan kotak, setelah patung lilin tak lagi terbungkus kotak, Jack pun bisa dengan jelas melihat patung lilin tersebut.


Patung lilin itu berdiri di hadapannya, ukurannya sama persis dengan tinggi badan Jack Hutabarat, lalu, Jack melihat ke wajah patung.


Wajah patung itu masih tertutup dan terbungkus oleh kain yang mengikat dari leher hingga kepala patung.


Jack pun lantas semakin penasaran, dia ingin tahu, bagaimana rupa patung lilin tersebut.


Jack lantas melepaskan ikatan kain yang menutupi wajah patung lilin, lalu membuang kain penutup ke lantai.


Di perhatikannya dengan seksama wajah patung lilin yang berdiri dihadapannya itu.


Patung Lilin itu tampak menyeramkan di lihat Jack, karena, patung tak memiliki kedua mata, patung lilin itu buta, tanpa mata, dan mulutnya juga tertutup rapat dan di jahit.


Perlahan lahan, karena rasa penasarannya, Jack memegangi wajah patung lilin, tiba tiba saja, saat tangannya menyentuh wajah patung lilin, lilin terlepas dan jatuh ke lantai.


Lilin lilin terkelupas dari wajah sang patung, Jack kaget dan semakin heran. Dengan rasa penasarannya, karena sudah terlanjur dilihatnya lilin lilin mengelupas dari wajah patung, dia pun mengelupas dan melepaskan semua lilin dari wajah patung.


Setelah semua lilin terkelupas dari wajah sang patung, Jack terdiam berdiri kaku di tempatnya, matanya terbelalak lebar, tubuhnya gemetaran, wajahnya pucat pasi.


"Praa...wiii...raaa !" ujarnya, dengan gemetar ketakutan.


Ternyata patung lilin itu adalah sosok Prawira yang sudah mati, dan mayat Parwira di jadikan patung lilin oleh Gavlin, lalu, Gavlin mengantarkan patung Prawira pada Jack Hutabarat, sebagai hadiah dan peringatan pada Jack.


Jack melihat secarik kertas yang menempel di dada patung berwujud sosok Prawira, lantas, di ambilnya kertas itu, dan di bacanya tulisan yang ada dalam kertas tersebut.


"Kamu menjadi tersangka ke duaku dalam persidanganku yang berikutnya, Jack!"


Begitu bunyi tulisan yang di baca Jack, Jack pun limbung dan sempoyongan, dia terjajar mundur kebelakang seperti orang yang tengah merasakan pusing.


Jack terhenyak kaget, dia lantas gemetar ketakutan, dia pun tahu, bahwa yang mengirimkan patung mayat Prawira dan menuliskan pesan padanya adalah perbuatan Gavlin, anaknya Sanusi.


Ya, Gavlin menargetkan Prawira dan Jack Hutabarat terlebih dahulu, sebab, keduanya tak di jaga ketat oleh pasukan kepolisian, tidak seperti Herman dan Peter, yang selalu di jaga dan di lindungi anggota kepolisian.

__ADS_1


Prawira yang hanya ketua dewan parlemen, tidak pernah meminta penjagaan khusus, apalagi Jack, sebagai Jaksa Agung, dia tak pernah di jaga oleh petugas keamanan, karena dia merasa, selama ini dirinya aman. Tak ada yang berani mengusiknya sebagai Pemimpin tertinggi sebagai Jaksa Agung negara.


__ADS_2