VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menemukan Bukti yang terkubur lama


__ADS_3

Gavlin terus memandangi rumahnya yang terbakar, wajahnya tampak tersenyum sinis, di hapusnya air matanya.


Lalu, Gavlin mengambil ponsel milik Bramantio yang disimpannya dalam kantong celananya. Lalu, di bukanya layar ponsel yang tak memakai pasword itu.


Gavlin membuka menu riwayat panggilan terakhir, lalu, dia menemukan nama Peter di menu riwayat panggilan telepon.


Gavlin lantas menekan nomor telepon milik Peter tersebut, lalu, dia pun menghubungi Peter, wajahnya tampak menahan geram dan marah.


"Hallo, Bram, dimana kamu? Kami udah lama menunggumu!!" ujar Peter, dari seberang telepon.


"Kalo kalian mau bertemu Bramantio, datang ke kampung Rawas, dia ada di sana!" ujar Gavlin, dengan wajah geramnya, di telepon.


Lantas, Gavlin pun mematikan ponsel tersebut, agar tak bisa di hubungi balik Peter. Lalu, dia pun masuk ke dalam mobilnya.


Sesaat kemudian, Mobil pun meluncur pergi meninggalkan lokasi tersebut, wajah Gavlin tampak masih menahan geram dan marahnya, sambil terus menyetir mobilnya.


---


Pintu ruang kerja Herman terbuka, lalu, Peter masuk dengan wajah kesal dan marahnya, Herman heran melihat Peter yang tiba tiba datang, dan seperti sedang marah.


"Kamu kenapa?" tanya Herman heran.


"Biadab, Biadaaab !!" bentak Peter, marah marah.


"Hei ! Siapa yang kamu maksud Biadab?!" tanya Herman, jengkel.


"Si Gavlin !! Dia menghubungi dengan memakai hape Bramantio!! Aku yakin, Bram saat ini ditahannya!!" Ujar Peter dengan geram dan marah.


"Dia bilang, kalo kita mau ketemu Bram, datang ke perkampungan Rawas!!" tegas Peter, dengan wajah penuh amarah.


"Kampung Rawas?! Bukannya lokasi itu udah rata dengan tanah karena pembunuhan massal, dan semua rumah penduduk habis terbakar?!" ujar Herman, heran.


"Entahlah ! Aku juga gak tau, apa maksudnya, membawa Bram ke lokasi itu, dan menyuruh kita datang kesana!!" tegas Peter kesal dan marah.


Herman diam dan berfikir sesaat, Peter tampak gelisah, dia sangat marah pada Gavlin karena telah menangkap Bramantio.


"Sebaiknya, hubungi yang lainnya, ajak mereka untuk ikut ke kampung Rawas !" ujar Herman, dengan wajah serius.


"Bawa pasukan kalian buat berjaga jaga dan melindungi kita selama di lokasi sana ! Aku yakin, Gavlin sedang menunggu kita disana, dan mau menjebak kita!!" tegas Herman.


"Jangan sampai kita dengan mudahnya masuk perangkap Gavlin! Kita harus bisa meringkusnya!!" ujar Herman, dengan wajahnya yang serius.


"Baik, aku akan kabari yang lainnya!" tegas Peter.


"Ya." Angguk Herman.


Peter lantas mengambil ponselnya, untuk menghubungi rekan rekan konspirasinya yang lain, agar berkumpul di kantor Herman, dan pergi bersama sama ke perkampungan Rawas.


---


Sementara itu, mobil Gavlin masuk ke halaman rumah Sutoyo, yang sudah kosong dan porak poranda serta hancur.


Gavlin segera turun dan keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia bergegas jalan dan masuk ke dalam rumah Sutoyo.


Dia tahu, rumah Sutoyo yang sudah kosong melompong tanpa penghuni itu, tak ada yang menjaganya, apalagi Gavlin yakin, bahwa Peter dan komplotannya pasti sedang menuju ke perkampungan Rawas menemui Bramantio.


Gavlin yakin, mereka pasti mengira, bahwa dia ada di kampung Rawas menunggu, padahal, Gavlin memang sudah merencanakan semuanya.


Dia sengaja mengabarkan pada Peter, agar Peter dan komplotannya mengetahui, jika Bramantio sudah mati di bakar, dan dia pun akan mudah menyelinap kerumah Sutoyo yang tak ada penjaganya.


Gavlin menyusup kerumah Sutoyo, untuk mencari barang bukti kasus Bapaknya dulu, dia sangat yakin, Sutoyo menyembunyikan semua barang bukti di dalam rumahnya.


Di dalam rumah Sutoyo, Gavlin mulai beraksi, dia membongkar seluruh laci dan lemari yang ada di ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang tengah.


Gavlin bertekat, akan menemukan bukti bukti yang disembunyikan Sutoyo, dengan bukti bukti itu, dia akan bisa menjerat dan menangkap Herman dan komplotannya yang telah menjebak bapaknya dulu.


Seluruh ruangan dan properti di dalam rumah Sutoyo tak luput di periksa Gavlin, dia membongkar semua perabotan, di segala sudut ruangan, Gavlin juga mencari cari.


Dia meraba raba dan menekan nekan dinding ruangan, mencari cari, apakah ada ruangan rahasia di dalam rumah Sutoyo.


Setelah tak menemukan barang bukti yang di carinya, Gavlin pun berpindah tempat keruangan lain, dan mulai mencari kembali.


---


Mobil mobil dari unit kepolisian, tim anti teror, dan mobil dari unit penyidik serta para polisi militer, mobil unit badan intelijen di datangkan Peter dan Dody Mulyadi ke lokasi perkampungan Rawas.


Pasukan pasukan itu pun mulai mencari posisi untuk bersiap siaga dan berjaga jaga.

__ADS_1


Lima mobil datang dan berhenti di belakang mobil mobil unit kepolisian.


Lalu, dari mobil masing masing, keluarlah Herman, Peter, Dody Mulyadi, Prawira serta Jack Hutabarat.


Mereka berjalan saling mendekat, lalu berdiri sejajar, memandangi rumah yang masih menyisakan pembakaran.


Seorang Polisi Militer berlari menghampiri Herman dan komplotannya.


"Lapor ! Di temukan mayat terbakar di dalam rumah itu!" tegas Polisi Militer, memberi laporan.


"Mayat dibakar?!" Ujar Herman kaget.


"Iya, Pak!" Jawab Polisi Militer.


"Bagaimana situasi sekitarnya?!" tanya Herman, dengan wajah serius.


"Aman, Pak. Tidak ada tanda tanda orang yang menyusup atau pun mengintai, semua area sudah di survei oleh pasukan!" tegas Polisi Militer, memberi laporan.


"Baiklah." ujar Herman.


Dia lantas menoleh pada Peter, Dody, Jack dan juga Prawira, mereka saling berpandangan, wajah mereka menunjukkan tanda tanya besar, menebak nebak mayat siapa didalam rumah.


Dengan cepat, Herman pun berjalan ke arah rumah yang terbakar itu, Peter dan lainnya segera mengikuti Herman, mereka berlima pun lantas segera masuk ke dalam rumah tersebut.


Para Pasukan Polisi ada yang mengikuti mereka, untuk memberi perlindungan pada Herman dan komplotannya di dalam rumah yang sudah habis terbakar itu.


Herman dan komplotannya masuk ke dalam rumah, lantas mereka terhenyak kaget melihat mayat yang gosong hangus terbakar dengan posisi menggantung tangan terikat rantai.


Tangan itu sudah menjadi tulang belulang, dan menyisakan daging kulit yang sudah terbakar hangus.


Dody mendekati mayat yang terbakar itu, dia perhatikan wajah mayat yang menggantung.


"Ini Bram!! Bramantio !!" ujar Dody, syock.


Herman pun terhenyak kaget, begitu juga dengan Peter, Jack dan Prawira. Mereka seakan tak percaya dengan kematian Bramantio.


"Bedebaaah !! Biadaaaab!! Si Gavlin sepertinya membakar Bram hidup hidup di sini!!" bentak Herman penuh amarah yang membara.


Herman sangat marah, dia tak menerima kematian Bramantio, walau pun sebelumnya dia kesal karena menunggu lama Bramantio yang tak kunjung datang, namun, melihat kondisi Bramantio yang hangus terbakar, darahnya pun naik, amarahnya memuncak, biar bagaimana pun Bramantio adalah sahabat sejatinya selama bertahun tahun ini, dan dia tak bisa menerima kematian Bramantio yang sangat tragis itu.


"Dasaaar IIbbbliiisss !! Berani beraninya dia membakar hidup hidup Bram!!" Ujar Jack Hutabarat marah.


"Tunggu dulu, bukankah ini rumah si Sanusi dulu? yang di bakar habis Bram dan anak buahnya?!" ujar Dody.


Herman dan lainnya pun terdiam, mereka mencoba mengingat ingat kejadian belasan tahun yang lalu, saat rumah Sanusi di bakar Bramantio dan orang orang suruhannya, yaitu para warga kampung Rawas.


"Ya, aku ingat!! Di kampung Rawas ini dulu Sanusi dan anaknya tinggal! Dan di kampung ini juga kita menangkap Sanusi dan menuduhnya sebagai pembunuh dan pemerkosa!! Tegas Jack.


"Ya, Benar. Aku ingat sekarang!" ujar peter.


"Seeetaaaannn !! Berarti anak Sanusi sengaja membawa Bram ke kampung ini, dan membakar Bram, seolah dia mengulang pembakaran yang dilakukan Bram dulu!" tegas Herman, geram dan marah.


"Sepertinya begitu!" ujar Dody Mulyadi, dengan wajah yang serius.


"Kerahkan semua pasukan !! Cari sampai dapat si Gavlin !! Tembak mati dia !!" ujar Herman, memberi perintah.


"Siap ! Akan ku kerahkan anggotaku!!" ujar Peter.


"Aku juga!!" ujar Dody Mulyadi.


"Kita juga harus bersiap siap menghadapi Richard, Aku yakin, Richard sedang mempersiapkan diri, untuk mengejar dan menangkap kita !!" tegas Herman.


"Serahkan Richard padaku, biar aku yang mengurusnya!!" ujar Peter pada Herman.


"Kamu yakin, bisa menghadapi Richard seorang diri?!" tanya Herman.


"Aku yakin !" tegas Peter.


Herman menatap tajam wajah Peter yang tampak serius dan bersungguh sungguh itu, Herman pun jadi yakin dengan apa yang dikatakan Peter.


"Baiklah ! Tapi, biar bagaimana pun, kamu harus di kawal ! Prawira ! Kamu dampingi Peter, untuk menghadapi Richard !" tegas Herman.


"Siap !" jawab Prawira.


"Dan kamu Dody ! Tugasmu, memburu Gatot ! Cari sampai dapat! Dimana persembunyian Gatot!!" ujar Herman memberi perintah.


"Baik !" ujar Dody Mulyadi.

__ADS_1


"Dan Aku, Aku akan memperisapkan data data untuk melawan bukti bukti Richard! Akan ku patahkan dan mentahkan semua buktinya!" tegas Herman.


"Dan mulai besok, aku akan menemui semua jaksa dan hakim, agar mereka menuruti perintahku, dan melawan Richard !!" ujar Herman, dengan serius.


"Richard akan kesulitan, karena, gak akan ada satu pun jaksa atau pun hakim yang mendukung dia nantinya!! Dengan begitu, kita akan bebas selama lamanya!!" ujar Herman, dengan wajah yang senang.


"Encer juga otakmu, Herman!" ujar Jack Hutabarat tertawa.


"Kalo soal siasat dan strategi, Herman jagonya !" Puji Prawira.


Mereka pun lantas tertawa tawa di depan mayat Bramantio yang sudah hangus terbakar itu.


"Hei, sudah cukup, tertawanya! Kita malah ketawa ketawa di depan mayat Bram! Bukannya prihatin!" ujar dody mengingatkan.


"Oh, iya. Lupa." ujar Jack Hutabarat.


"Lantas, mau kita apakan mayat Bramantio ini?" tanya Peter.


"Bawa ke lab, kasih ke tim forensik yang pro ke kita, agar tim forensik mencari bukti kematian Bramantio! Siapa tau aja, ditemukan jejak Gavlin di sekitar tubuh Bramantio!" tegas Herman.


"Baik, aku juga akan memanggil tim forensik, untuk menyelidiki tempat ini segera !" ujar Peter.


"Ya." ujar Herman.


Lalu Herman pun pergi keluar dari dalam rumah yang sudah hangus terbakar, meninggalkan mayat Bramantio.


Peter dan yang lainnya juga keluar mengikuti Herman, sebelum mereka masuk ke dalam mobilnya masing masing, mereka berkumpul di tengah halaman rumah.


"Sepertinya Gavlin gak datang ke sini, sampai detik ini, kita aman aman aja." ujar Herman.


"Ya, apa mungkin, dia sedang memperisapkan rencananya untuk menyerang kita?" ujar Prawira, dengan wajah seriusnya.


"Bisa jadi begitu, makanya, kita harus tetap waspada, jangan sampai lengah!" Tegas Dody.


Peter, Jack, Prawira dan Herman pun mengangguk, mereka setuju dengan apa yang di katakan Dody. Mereka memang harus waspada, jika tak mau menjadi korban pembunuhan Gavlin berikutnya.


Lalu, mereka pun membubarkan diri, mereka masuk ke dalam mobilnya masing masing, lalu, mereka berlima segera pergi, meninggalkan lokasi perkampungan Rawas.


Sementara itu, pasukan kepolisian yang ditugaskan, tetap diam ditempat mereka dan tetap berjaga jaga di lokasi tersebut, sambil menunggu kedatangan tim forensik kelokasi untuk menyelidiki kematian Bramantio yang di bakar hidup hidup.


Sementara itu, di rumah Sutoyo yang sepi dan kosong melompong serta berantakan, Gavlin masih terus mencari barang bukti yang disembunyikan Sutoyo.


Tanpa kenal putus asa, Gavlin terus mencari dan berusaha untuk menemukan barang bukti tersebut.


Gavlin lantas masuk ke dalam sebuah kamar kecil, kamar itu seperti terlihat sebagai ruang kerja Sutoyo. Gavlin pun lantas masuk ke dalam kamar tersebut.


Dengan cepat, dia bergerak mencari cari, Gavlin membongkar semua benda benda dan perabotan yang ada di dalam kamar tersebut.


Dia tetap mencari dengan wajah tegang dan serius.


Gavlin diam sesaat untuk beristirahat, dia tampak lelah, karena tidak juga menemukan barang bukti di rumah Sutoyo.


Gavlin lantas berjalan mau ke buffet kecil yang ada di sudut kamar, namun, saat dia menginjak lantai yang tertutup karpet, lantai itu seperti lentur kebawah.


Gavlin pun berhenti melangkahkan kakinya, lalu, dengan sepatunya, dia mengetuk ketuk lantai yang beralaskan karpet, suara ketukan sepatunya berbeda, dengan suara kayu di sisi lainnya.


Gavlin pun tampak curiga, lalu, dia mengambil pisau belatinya yang terselip di pinggangnya, kemudian, dengan pisau belatinya, dia pun menyobek karpet yang menutupi lantai.


Karpet pun sobek, di dalamnya, Gavlin melihat lantai kayu. dan yang membuat Gavlin tercengang, di bawah karpet, dalam lantai kayu itu, seperti pintu kecil berbentuk kotak yang tergembok.


Gavlin pun mencari cari sesuatu, dia tak menemukan barang yang di carinya, lalu, dia bergegas ke dapur rumah Sutoyo. Pisau belati disarungkannya di pinggang.


Di dapur, Gavlin menggeledah laci laci dan lemari dapur, lalu, dia menemukan sebuah martil berukuran besar. Dia pun membawa martil tersebut.


Gavlin kembali ke kamar dengan membawa martil besar di tangannya, dia lantas berjongkok, lalu, di pukulkannya martil besar ditangannya pada gembok yang mengunci kotak kayu diantai tersebut.


Beberapa saat kemudian, gembok itu pun hancur dan terlepas. Lalu, Gavlin meletakkan martil besar di lantai, kemudian, dengan cepat dia menarik dan membuka kotak tersebut.


Di dalamnya, ada kaset kaset rekaman cctv, dan juga beberapa flash disk, serta barang bukti lainnya.


"Akhirnya, ketemu juga !" Gumam Gavlin, tersenyum senang.


Lalu, dia segera mengambil semua barang bukti yang tersimpan di dalam kotak dalam lantai kayu kamar, ada juga dua pistol didalamnya.


Gavlin mengambil semuanya, dengan taplak meja yang ada di dalam kamar, dia membungkus semua barang bukti tersebut.


Setelah beres, dengan cepat, Gavlin pun segera pergi keluar dari dalam kamar, dengan membawa barang bukti tersebut.

__ADS_1


__ADS_2