
Untuk mengetahui awal mula yang sebenarnya mengapa Sutoyo bisa di bawa kerumah sakit, kita akan mundur ke belakang, saat dimana terjadinya ledakan bom di bangunan hancur milik Wijaya.
Flashback, kilas balik.
Saat terjadi ledakan yang membunuh Citra, anaknya Sutoyo dan juga petugas kepolisian yang menemani Sutoyo membawa Gatot ke lokasi bangunan runtuh milik Wijaya.
Tubuh Sutoyo terkapar di lantai bangunan runtuh, dengan kondisi luka parah di seluruh tubuhnya, dan mengalami luka bakar juga akibat terkena percikan ledakan bom.
Atas laporan dari salah seorang warga yang mendengar suara ledakan dan melihat adanya kebakaran di bangunan runtuh milik Wijaya, Petugas Penyidik Kepolisian pun bergerak datang ke lokasi kejadian.
Selain Penyidik kepolisian, datang juga petugas medis dengan mobil ambulancenya dan juga tim forensik.
Mereka semua bekerja mencari sebab terjadinya ledakan di dalam bangunan tersebut. Saat Petugas Penyidik Kepolisian mencari bukti bukti di sekitar area, dia menemukan tubuh Sutoyo tergeletak di lantai dengan kondisi yang sangat parah.
"Heeei!! Ada korban di sini!!" teriak petugas penyidik.
Petugas Medis bergegas menghampiri penyidik kepolisian yang berteriak memberi tahu, sementara, tim forensik sedang mengambili sisa sisa daging milik Citra dan petugas polisi yang hancur karena meledak terkena bom.
Petugas Medis segera memeriksa kondisi Sutoyo, tampak seluruh tubuh dan wajah Sutoyo berdarah dan luka parah dan terbakar.
Tiba tiba, jari tangan kanan Sutoyo bergerak pelan dan lambat, Penyidik kepolisian yang berdiri di samping tubuh Sutoyo dan petugas medis melihat, jari tangan Sutoyo bergerak pelan.
"Jarinya bergerak, dia masih hidup!!" ujar Penyidik Kepolisian.
Petugas Medis memeriksa denyut nadi Sutoyo, setelah mereka masih merasakan denyut nadi Sutoyo, dan juga melihat jari tangan Sutoyo bergerak sedikit dan pelan. Petugas Medis langsung mengangkat tubuh Sutoyo.
Petugas medis meletakkan tubuh Sutoyo diatas tandu, lalu, segera membawanya ke dalam ambulance. Penyidik kepolisian lalu berjalan mendekati tim forensik.
"Kalian menemukan bukti apa?" tanya Penyidik kepolisian.
"Serpihan daging dari tubuh korban, kami akan mencari tau, milik siapa serpihan daging manusia ini." jelas tim forensik.
---
Singkatnya, setelah di temukan bukti, bahwa serpihan daging manusia yang ditemukan di lokasi kejadian adalah milik Citra, anaknya Sutoyo, kepala kepolisian pemerintahan pusat yang menjadi korban, serta potongan daging lainnya milik petugas polisi, Tim Forensik melaporkan hasil penemuan mereka ke bagian penyidik kepolisian.
Atas informasi yang di dapat, kabar Sutoyo terluka parah pun sampai ke telinga Herman, yang saat ini menjabat sebagai mentri kehakiman.
Herman lantas memanggil rekan rekannya, yang dulu bekerja sama membantu Sutoyo dalam menutupi kasus Sanusi, orang tua Gavlin, atau Yanto kecil.
Berkumpullah Pejabat pejabat penting dan tertinggi di ruangan rapat kementrian kehakiman, diantara yang hadir, ada wakil dewan perwakilan rakyat, ada juga, dua orang Jendral, yang satu menjabat sebagai Kapolda dan satunya menjabat sebagai kepala Intelijen,dan serta jaksa agung.
Mereka mereka ini dulunya, belum menjabat di posisi mereka masing masing seperti sekarang. Mentri kehakiman, yang bernama Herman, dulunya, sebagai Hakim, yang memutuskan perkara sidang Sanusi, orang tua Gavlin, sebagai bersalah dan menjebloskannya ke penjara.
Anggota dewan, yang bernama Prawira, saat belasan tahun lalu, masih menjadi Jaksa penuntut, yang menuntut Sanusi hukuman mati.
Dua jendral yang saat ini menjabat sebagai Kapolda dan Kepala Intelijen bernama Peter schemikel dan Dody Muliadi dulunya, masih menjadi anak buah Sutoyo dan jabatannya di bawah Gatot.
Dan yang terakhir, Jaksa Agung, dulunya menjabat sebagai Asisten jaksa penuntut. Bernama Jack Hutabarat.
Semua mereka naik jabatan, karena konspirasi, membantu Sutoyo, bekerjasama menggelapkan serta mempermainkan dan memutar balikkan hukum, untuk menjerat Sanusi, demi membantu Bramantio, dan mendapatkan uang serta jabatan.
Karena Pengaruh Bramantio dulu sangat besar dipemerintahan, mereka sangat patuh pada Bramantio, karena itu, mereka membantu Bramantio, dan membebaskan Jafar dari segala macam tuduhan.
"Potongan sisa daging manusia yang ditemukan di lokasi ledakan, itu milik Citra, anaknya Sutoyo." ujar Herman, memberi tahu pada rekan rekan konspirasinya.
"Kita harus cari tau, mengapa Sutoyo ke lokasi bangunan yang sudah runtuh milik mendiang Wijaya, apa yang dilakukannya disana." Lanjut Herman, dengan wajah seriusnya.
"Kalo, di lokasi, anak Pak Sutoyo menjadi korban, saya rasa, saya tau, mengapa Pak Sutoyo datang ke lokasi itu bersama petugas polisi yang juga meledak." ujar Peter.
"Apa itu?" Tanya Jack Hutabarat.
"Sepertinya anak Pak Sutoyo di culik, dan dia datang kelokasi itu, untuk menyelamatkan anaknya, tapi dia ternyata di jebak, anaknya mati terkena bom, dan pak Sutoyo juga luka parah." jelas Peter, membuat kesimpulan.
"Ada benarnya yang dibilang Peter, Karena, menurut laporan, dilokasi itu, ditemukan darah Gatot. Komandan polisi dari divisi kriminal dan pembunuhan." tegas Prawira.
"Gatot?!!" ujar Dody Mulyadi kaget.
"Iya." ujar Prawira.
__ADS_1
"Kalo gitu, kita harus datangi Gatot, kita tanya dia, apa sebabnya dia di lokasi itu bersama Pak Sutoyo." ujar Herman.
"Saya rasa, ini ada hubungannya dengan kasus belasan tahun yang lalu, pak Mentri!" ujar Peter, pada Herman, mentri kehakiman.
"Kasus lima belas tahun lalu?" ujar Herman.
"Ya, Masih ingat dengan kasus Sanusi? Dan pembakaran rumah Sanusi?" tanya Peter.
Mereka yang hadir mengangguk, mereka masih ingat dengan kasus belasan tahun lalu itu.
"Sepertinya, Gatot masih menyelidiki kasus itu, dan targetnya pak Sutoyo, bisa aja, Gatot sengaja menculik anak pak Sutoyo, agar memaksa Pak Sutoyo mengakui perbuatannya dulu." ungkap Peter dengan serius.
"Karena Pak Sutoyo menolak, Gatot meledakkan bangunan." lanjut Peter menjelaskan.
"Apa mungkin, Gatot yang melakukan itu?" ujar Prawira.
"Ya, mungkin aja, Kamu kan tau, Gatot yang dulu begitu bernafsu mengejar kita semua. Karena dia curiga, kalo kita berkerja sama memutar balik fakta kasus." tegas Peter.
"Dari pada menduga duga, dan kita belum tau kebenarannya, sebaiknya, kita temui Gatot, dan bertanya langsung ke dia." ujar Dody Mulyadi.
"Ya, setuju." Jawab Prawira, Peter, Herman, dan juga Jack Hutabarat.
---
Di hari lainnya, Herman dan rekan rekannya berkumpul kembali di ruang rapat kementrian kehakiman.
"Saya dapat laporan dari anggota saya, pelaku sebenarnya bukan Gatot." ujar Dody Mulyadi, yang menjabat sebagai Kepala Intelijen.
"Lantas, siapa pelakunya?" tanya Herman, Mentri kehakiman.
"Dari data yang di telusuri anggota saya, sebelumnya, Sutoyo sudah mendapat ancaman dari Gavlin." lanjut Dody, menjelaskan.
"Gavlin? Siapa itu?" tanya Herman.
"Kamu gak tau? Dia saat ini dijadikan Sutoyo sebagai buronan utama kepolisian, karena dia yang meledakkan gedung kantor kepolisian pusat!" tegas Dody Mulyadi, dengan serius.
"Oh, ya, aku tau kasus itu." jawab Herman.
"Anak Sanusi?!" Ujar Jack Hutabarat kaget.
Herman, Peter, dan juga Prawira sama kagetnya seperti Jack Hutabarat, saat mendengar penjelasan Dody Mulyadi.
"Bukannya anak Sanusi mati terbakar di dalam rumahnya dulu?" ujar Prawira.
"Kita semua berfikir begitu, ternyata, menurut info yang didapat anggota intelku, Gatot dulu menyelamatkan anaknya Sanusi." ujar Dody.
"Dia yang membawa anaknya Sanusi ke panti asuhan dan di adopsi orang." lanjut Dody, menjelaskan.
"Bedebah Gatot, bikin repot kita aja, kalo dia gak nolong anaknya Sanusi, kita gak akan mendapatkan masalah seperti sekarang!" ujar Herman kesal.
"Aku yakin, anak Sanusi mau membalas dendam sekarang, sepertinya, dia yang menculik dan meledakkan anaknya Sutoyo!" tegas Peter.
Prawira, Jack dan Dody mengangguk setuju dengan yang disampaikan Peter, Herman terlihat menahan marahnya.
"Gara gara Sutoyo terluka, kita pasti terbawa bawa masalah ini!" lanjut Herman geram.
"Ya, sudah, kamu Peter, kerahkan anggotamu buat menjaga Sutoyo dirumah sakit, kamu juga Dody, bantu Peter, suruh anggotamu sebagai intel berjaga dirumah sakit." Tegas Herman.
"Jangan sampe, anaknya Sanusi datang kerumah sakit dan membunuh Sutoyo, biar bagaimana pun, Sutoyo harus sadar, kita harus tau, kejadian yang sebenarnya dari Sutoyo, agar kita bisa bertindak cepat menangani masalah ini semua!" tegas Herman.
"Dan kalian, Prawira dan Jack, sesekali temui Sutoyo di rumah sakit, kalau dia sudah sadar dari komanya, coba tanyain dia, apa yang terjadi padanya di bangunan milik Wijaya itu!" Tandas Herman, dengan wajah serius.
Mereka semua pun mengangguk, mengiyakan, mereka mematuhi perintah Herman, sebab, Herman lah yang berposisi paling tinggi diantara mereka semua.
Karena itulah, Sutoyo mendapat penjagaan ketat dari pihak kepolisian, sebab, Herman dan rekan rekannya tidak ingin Sutoyo di bunuh oleh anaknya Sanusi yang mau membalas dendam.
---
Saat itu, Peter dan Dody, serta Prawira menemui Gatot, dan bertanya pada Gatot, tentang kejadian di bangunan runtuh milik almarhum Wijaya.
Dengan apa adanya, dan sesuai apa yang dia ketahui, Gatot pun menjelaskan semua yang dia ketahui dari awal mula hingga akhir. Namun, Gatot tidak bilang, kalau dia di selamatkan Gavlin.
__ADS_1
Gatot berbohong, dia bilang, dia melarikan diri dari Sutoyo dan dia tak tahu, siapa yang meledakkan bangunan runtuh milik Wijaya.
Seperti yang juga dibilang Gatot pada Maya, dia menyampaikan , kalau Sutoyo menyiksa dirinya, bukan mendapatkan perhatian dan empati, Gatot malah mendapatkan ancaman dari Peter, Dody dan juga Prawira.
---
Kembali ke masa sekarang.
Richard sedang menemui Gatot di dalam kamar ruang ICU.
"Kamu tau, Gavlin, anaknya almarhum Sanusi berada saat ini?" tanya Richard pada Gatot.
"Dia ada dirumahku, bersembunyi disana, karena, tempat yang aman dia rasa rumahku, sebab, gak mungkin polisi mencarinya dirumahku." jelas Gatot.
"Baiklah, tolong bilang anakmu, suruh Gavlin ketemu aku, nanti aku kasih tempat pertemuannya." ujar Richard.
"Kamu gak mau nangkap Gavlin, kan?" tanya Gatot, cemas.
"Nggak, dia balas dendam, bukan urusanku, mau dia bunuh semua musuhnya, bukan urusanku juga. Urusanku hanya satu, menangkap Sutoyo, herman, Peter, Dody, dan juga Jack Hutabarat, sebagai pelaku pelaku kejahatan belasan tahun lalu!" tegas Richard.
"Sepertinya, kamu dendam dengan mereka?" ujar Gatot.
"Bisa di bilang begitu, aku cuma gak bisa berdiam diri , melihat, orang yang gak bersalah dituduh, difitnah, dijebloskan ke penjara, lalu di bunuh, demi uang dan kekuasaan semata!" ujar Richard geram dan marah.
"Dulu aku gak punya kekuatan untuk melawan, aku masih anak bawang, sehingga aku gak bisa membantumu menangkap Herman dan komplotannya." tegas Richard.
"Tapi sekarang, setelah aku mendengar tentang aksi balas dendam anak Sanusi, aku diam diam dan secara senyap membuka kasus lama itu lagi, dan mencari serta menyelidiki kembali kasus lama itu!" ujar Richard.
"Dan aku yakin, kali ini, Sutoyo, Herman dan komplotannya akan masuk penjara!" tegas Richard, dengan wajah serius.
"Iya, mudah mudahan aja, Kita harus berhati hati, ini sangat berbahaya, yang kita hadapi orang orang kuat. Mereka licik dan licin, pasti sulit menangkap mereka, jika tanpa bukti kuat!" tegas Gatot.
"Ya, aku tau itu." ujar Richard.
Wajahnya terlihat serius, dia bertekat, akan mengungkap kejahatan, Sutoyo, Herman dan konco konconya, yang selama ini, sudah merusak nama baik kepolisian dan pemerintah, dengan permainan busuk mereka, yang selalu mempermainkan hukum sesuka hati mereka.
---
Di dalam rumahnya, Maya menjelaskan pada Gavlin, tentang semua yang dijelaskan Ayahnya saat di rumah sakit, wajah Gavlin pun tampak tegang, dia terlihat sangat marah sekali.
"Aku paham sekarang, mengapa banyak polisi berjaga dirumah sakit, mereka semua teman teman Sutoyo, yang dulu membantu Bramantio, menjebak Bapakku sebagai pelaku kejahatan!" ujar Gavlin, geram dan marah.
"Iya,Vlin. Ayahku juga mendapat ancaman dari mereka." jelas Maya.
"Ayahmu di ancam? Kalo gitu, nyawa Ayahmu dalam bahaya, kalo dia terus di rumah sakit, May. Aku harus menyelamatkan Ayahmu, " ujar Gavlin , cemas.
Gavlin hendak berdiri, namun, Maya menahan langkahnya, Maya memegang tangan Gavlin.
"Jangan, Vlin. Kamu gak usah ke rumah sakit!" ujar Maya.
"Tapi, Ayahmu harus keluar dari rumah sakit, May. Kalo gak, bisa aja, orang membunuhnya!" tegas gavlin, dengan wajah cemas.
"Ayahku baik baik aja, Vlin, dia aman, karena di jaga ketat sama petugas kepolisian." tegas Maya.
"Maksudmu?" tanya Gavlin, heran dan tak mengerti.
"Ya, Vlin, Pak Richard, Wakil Kepala Kepolisian Pemerintah Pusat, yang menugaskan anggota polisi untuk menjaga Ayahku." ujar Maya.
"Pak Richard juga musuh Sutoyo dan komplotannya, kata Ayahku, Beliau mau menangkap Sutoyo dan komplotannya, karena beliau tau, permainan jahat mereka!" tegas Maya.
Gavlin pun lantas terdiam mendengar perkataan Maya. Maya tersenyum menatap wajah Gavlin, yang tampak masih menyimpan kecemasannya pada Gatot.
"Vlin, Ayahku bilang, Pak Richard mau ketemu kamu, ada yang mau dibahasnya sama kamu." ujar Maya.
"Aku gak mau nemui dia! Nanti, dia malah menjebakku, dan menangkapku !" tegas Gavlin.
"Nggak Vlin, percayalah, Pak Richard gak akan menangkapmu, Ayahku menjamin itu semua! Dia cuma mau ketemu, karena ada yang mau dibahasnya sama kamu, itu aja." tegas Maya, meyakinkan Gavlin.
"Liat nanti aja, May. Aku lagi mikir, gimana pun, mau Ayahmu dijaga ketat, tetap, rumah sakit bukan tempat yang aman, siapapun bisa datang membunuhnya dengan menyamar!" tegas Gavlin.
"Pokoknya, aku harus keluarkan Ayahmu dari rumah sakit itu! Agar dia aman!" ujar Gavlin, dengan wajahnya yang serius.
__ADS_1
Maya pun diam, dia tak menjawab, dia tahu, sekali Gavlin bertekat, dia tak akan bisa di cegah. Maya pun membiarkan Gavlin yang mau membawa Ayahnya keluar dari rumah sakit.