VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kau tak mengenalku, Aku mengenalmu


__ADS_3

Malam telah tiba, Gavlin masih sabar menunggu kedatangan Moses di villanya. Beberapa menit kemudian, datang sebuah mobil masuk ke halaman villa. Lampu depan mobil menyorot kedepan, sinarnya menyilaukan pandangan Gavlin yang bersembunyi di belakang gudang dan sedang mengintip.


Pandangan mata Gavlin terganggu, dia tak melihat jelas, siapa saat ini yang datang.


Beberapa saat kemudian, keluar seorang pemuda, yang bergegas berjalan, lalu membukakan pintu belakang mobil.


Tak lama kemudian, keluarlah Moses bersama seorang wanita muda yang cantik dan seksi. Pemuda lalu menutup pintu mobil. Moses pun lantas berjalan sambil berangkulan mesra dengan wanita muda dan seksi.


"Kemana mereka ? Kenapa gak berjaga di depan sini?!" Ujar Moses.


Moses marah pada kedua anak buahnya, yang dia tugasi berjaga jaga di depan villanya. Kedua anak buahnya tak ada di tempatnya.


Mata Gavlin menatap tajam pada Moses, dia pun menyeringai geram, melihat Moses, amarah Gavlin pun kembali muncul dalam dirinya.


Namun, dia tak mau gegabah dan buru buru, dia membiarkan Moses masuk lebih dulu ke dalam villanya bersama wanita muda yang dirangkulnya.


Gavlin sedikit kesal pada wanita muda tersebut, sebab, baginya, kehadiran wanita muda tersebut akan menghalangi aksinya membalas dendam pada Moses.


Gavlin tahu, jika dia menyerang Moses, maka wanita muda itu akan berteriak histeris.


Gavlin pun diam, dia tengah berfikir, mencari cara untuk membungkam wanita muda tersebut, agar tak menghalangi aksinya nanti.


Moses sambil merangkul mesra wanita muda berjalan dan masuk ke dalam Villa.


Saat dia masuk, Moses dan wanita muda kaget, karena, didalam Villa, tepat di depan pintu masuk, terbaring mayat salah seorang anak buah Moses yang di tugasinya berjaga jaga.


Wanita muda cantik dan seksi terperanjat kaget dan menjerit ketakutan, seketika, dia melepaskan tangan Moses yang merangkul tubuhnya.


Wanita muda itu pun lari ketakutan, Moses kesal, karena wanita muda itu lari terbirit birit berteriak teriak ketakutan.


"Heeei!! Mau kemana kamu?!!" Teriak Moses pada wanita muda.


Wanita muda tersebut terus berlari ketakutan, dia tak menghiraukan panggilan Moses.


"Kejar dia!! bawa kesini!!" Bentak Moses pada Pemuda yang menjadi supir dan membukakan pintu mobilnya tadi.


"Baik, Bos!" ujar Sang Pemuda.


Pemuda itu pun langsung berlari, mengejar wanita muda yang lari ketakutan. Melihat wanita muda lari ketakutan, Gavlin tersenyum puas, dia senang, karena wanita muda sudah tak ada lagi.


Dan artinya, dia akan bebas berbuat sesuka hatinya pada Moses, tanpa melukai wanita muda tersebut.


"Siaaal!! Siapa yang membunuh anak buahku!!" Bentak Moses marah.


Moses marah, karena melihat anak buahnya mati terbunuh, Moses berjalan masuk ke dalam villa, di langkahinya mayat anak buahnya.


Lagi lagi Moses di buat kaget, saat dia melihat, satu lagi anak buahnya mati, terduduk di sofa tamu. Moses geram, dia sangat marah sekali.


"Bedebaaaah!! Setaaan alaaas!!" Teriak Moses mengamuk marah.


Dia sangat marah, karena dua anak buah yang ditugasinya berjaga diluar villa mati terbunuh. Moses semakin kaget, saat melihat, potongan kepala Yadi tergeletak di atas meja.


Seketika, Moses terdiam, matanya terbuka lebar dan melotot, dia syock melihat Yadi mati dengan kondisi kepala yang di penggal, dan kepalanya ada di atas meja.


Menyadari bahwa villanya tidak aman, karena anak buahnya mati terbunuh, dengan cepat, Moses berbalik dan berlari keluar dari dalam villa.


Dengan wajah takut dan panik, Moses lari keluar, saat dia keluar dari pintu masuk, muncul Gavlin di hadapannya. Moses pun terhenyak kaget.


"Sss...siapa...kamu?!!" Bentak Moses marah dan takut.


Gavlin diam, dia tersenyum sinis menatap tajam wajah Moses yang tampak mulai takut.


Moses takut, karena dia melihat, wajah Gavlin tersenyum menyeringai sadis.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke sini?" Hardik moses.


"Kamu yang membunuh anak buahku?!!" Bentak Moses marah.


Gavlin masih diam dan tenang, berdiri di hadapan Moses, melihat Gavlin diam dan tak bicara, Moses semakin marah.


"Kepaaraaat !!" bentak Moses berteriak.


Moses pun lantas menyerang Gavlin, dia mau menghajar Gavlin. Gavlin berusaha menghindari pukulan Moses. Perkelahian pun terjadi antara merèka berdua.


Gavlin mundur sambil terus menghindari pukulan Moses, dia menggiring Moses ke halaman villa.


Setelah mereka berada di halaman, Gavlin pun lantas memberi perlawanan, kali ini, Gavlin yang menyerang Moses. Moses pun terjajar, dia kewalahan menghadapi Gavlin.


Dengan hanya satu pukulan dan satu tendangan saja, Moses pun tersungkur, jatuh ke tanah. Dengan cepat Gavlin mendekati Moses.


Gavlin menginjak injak tubuh Moses, lalu dia menendang wajah Moses. Moses tampak lemah, kesakitan, dan tak berdaya.


Moses pun rebah di tanah, dia kalah. Gavlin lantas berjongkok di depannya, di tariknya rambut Moses, dan diangkatnya kepala Moses.


Moses meringis kesakitan, menahan rasa sakit akibat rambutnya di tarik Gavlin.


"Apa kabar Moses? Lama aku nungguin kamu datang!" ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


"Mau apa kamu?!!" Bentak Moses, di sisa sisa tenaganya yang sudah habis terkuras.


Walau pun kalah, dan sudah tak berdaya, Moses tetap berani melawan dan membentak Gavlin.


"Aku malaikat mautmu Moses, aku datang, untuk mengambil nyawamu!" Tegas Gavlin menyeringai jahat.


Mendengar perkataan Gavlin, spontan wajah Moses pucat pasi, dia pun ketakutan. Apalagi dia melihat, di tangannya, Gavlin memegang pisau belati yang tajam. Moses pun ngeri dan ketakutan.


"Apa salahku? Aku gak kenal kamu! Apa masalahmu denganku?!!" Ujar Moses dengan wajah takutnya.


"Kamu gak kenal aku Moses, tapi aku kenal kamu !" Hardik Gavlin mulai marah.


"Aku datang membuat perhitungan denganmu!!" bentak Gavlin.


"Apa masalahmu?" tanya Moses dengan wajah penuh ketakutan.


"Kamu telah melukai Ayah dari wanita yang aku cintai, dan dengan kejinya, kamu membuangnya begitu saja, bagai seonggok sampah!" Bentak Gavlin marah.


"A...aku...gak ngerti...maksudmu." ujar Moses tergagap gagap.


Moses meringis kesakitan, akibat rambutnya terus ditarik kuat Gavlin.


"Kamu menikam Gatot!! Komandan Polisi !!" Bentak Gavlin penuh amarah.


Mendengar nama Gatot di sebut Gavlin, Moses pun tahu, bahwa Gavlin datang menemuinya karena Gatot.


"Bu...bukan...aku yang menikam Gatot!!" Ujar Moses, mencoba menjelaskan.


"Udah begini, kamu gak mau mengaku Moses?!!" Bentak Gavlin marah.


"Tolong, lepaskan dulu, akan aku jelaskan semuanya." ujar Moses.


"Bukan aku yang menikamnya, tapi temanku, temanku yang menikam Gatot!" Ujar Moses.


Moses berusaha meyakinkan Gavlin, agar percaya dengan perkataannya. Mendengar perkataan Moses, Gavlin pun melepaskan tangannya yang menarik rambut Moses.


Moses meringis kesakitan, dia pun berusaha bangun, namun, Gavlin menahannya.


"Mau kemana kamu?!! Duduk saja ditanah!" Hardik Gavlin marah.

__ADS_1


Mau tak mau, karena dia takut sama Gavlin, dia pun duduk di tanah. Gavlin lalu berdiri di hadapan Moses yang terduduk lemas di tanah.


"Siapa temanmu itu?!" Bentak Gavlin.


"Waktu itu, Gatot datang ke markasku, dia bertanya padaku, soal kasus penyerangan anaknya, aku berkelit, gak mengaku, kalo aku yang menyuruh untuk menculik anaknya." ujar Moses menjelaskan.


"Tapi, kamu kan yang memang menyuruh anak buahmu menyerang dan menculik anak Gatot?!" Bentak Gavlin geram.


"Iya. Tapi, aku sengaja berkelit, menghindar dari Gatot, saat Gatot marah marah dan terus memaksaku untuk mengaku, temanku datang, dia mendekati Gatot." Lanjut Moses bercerita.


"Lalu, temanku menikam Gatot berkali kali, Gatot ambruk. Aku panik saat itu." Tandasnya.


"Aku bingung, takut, melihat Gatot terkapar dan terluka parah. Aku pun berfikir, lalu ku bawa Gatot. Aku sengaja membuangnya di depan rumah sakit, agar Gatot bisa di selamatkan!" Tegas Moses memberi penjelasan.


"Aku gak mau dapat masalah jika Gatot mati, makanya, ku bawa dia ke rumah sakit, aku berbohong sama temanku, aku bilang, aku udah buang Gatot, temanku gak tau, kalo gatot sebenarnya ku buang di depan rumah sakit." Ujar Moses menjelaskan.


Gavlin pun terdiam, dia menatap tajam wajah Moses, tampak Gavlin menahan geram dan marahnya.


"Tolong, percaya padaku, aku gak menikam Gatot, justru aku menyelamatkan nyawanya!" tegas Moses.


"Siapa temanmu itu?!!" Bentak Gavlin marah.


"Ronald, dia Ronald!" Tegas Moses.


"Ronald?" Ujar Gavlin.


"Iya. Karena aku marah, dan takut polisi menangkapku, aku pergi ninggalin Ronald di markasku, dan aku bersembunyi di villaku ini, menunggu sampai kondisi tenang dan aman." ujar Moses dengan wajah yang serius.


"Ronaaaaaaallllllddd !!!" Teriak Gavlin marah.


Gavlin pun sangat marah, mengetahui, bahwa yang menikam Gatot adalah Ronald, Moses tampak takut, melihat Gavlin yang marah besar itu.


"Bedebaaah kamu Ronaaaldd!! Akan ku penggal kepalamu!!" teriak Gavlin penuh amarah.


"Tolong, ampuni aku, jangan bunuh aku." ujar Moses memohon dan memelas.


Gavlin diam, dia tak menjawab perkataan Moses. Dengan sikap dinginnya, dia pun berbalik dan pergi meninggalkan Moses.


Moses lantas berdiri, Gavlin berjalan dengan tenangnya, tiba tiba Moses berlari, dia mau menyerang Gavlin.


"Keparaaaaaatttt !!" teriak Moses berlari, hendak menyerang Gavlin.


Gavlin dengan gerak refleks yang cepat berbalik, lalu melemparkan pisau ke arah Moses yang berlari mendekatinya. Seketika, pisau menancap di dada Moses.


Moses berdiri terdiam, dia lantas memegang dadanya, yang tertancap pisau belati Gavlin, dari mulutnya keluar darah segar.


Moses tak menyangka, dia mendapat serangan mendadak dari Gavlin. Ya. Gavlin yang selalu waspada, tahu, jika Moses akan menyerangnya dari belakang.


Dia sengaja pergi, untuk memancing reaksi Moses. Moses pun tersungkur, jatuh ke tanah. Pisau masih tertancap di dadanya.


Gavlin tersenyum sinis, dia mendekati Moses yang menahan sakit dan nafasnya tersengal sengal.


Gavlin lantas berjalan masuk ke dalam gudang yang ada di samping Villa, di dalam gudang, dia mencari seutas tali. Tapi Gavlin mal.ah menemukan rantai yang sudah berkarat.


Gavlin mengambil rantai berkarat itu, lalu dibawanya keluar, Gavlin pun menggulung dan mengalungkan rantai berkarat di leher Moses.


Kemudian, Gavlin pun menyeret tubuh Moses, Moses kesakitan, karena lehernya tercekik rantai berkarat.


Gavlin membawa Moses ke mobil pick up yang dia pakai, setibanya Gavlin di depan mobil pick up, dia pun mengikat tangan dan tubuh Moses dengan rantai.


Lalu, diangkatnya Moses, lantas, dilemparkannya ke dalam bak belakang mobil pick up, Gavlin membawa Moses, karena dia mau memenuhi janjinya pada Maya.


Membawa Moses kehadapan Maya, sebelum dia eksekusi mati Moses. Sesaat kemudian, mobil pun berjalan, dan pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2