VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Peter Akan Mengeksekusi Chandra


__ADS_3

Gavlin masih terus mengikuti mobil Peter yang menculik Chandra, dan Peter tidak menyadari, jika saat ini Gavlin sedang mengikutinya.


"Mau kamu bawa kemana Chandra, Peter?" gumam Gavlin, geram sambil menyetir mobilnya.


Mobil Peter melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya, Gavlin terus mengejar mobil Peter, dia melihat mobil Peter berbelok ke kanan jalan, Gavlin lantas cepat mengikutinya, dia juga membelokkan mobilnya ke arah kanan jalan yang di lalui mobil Peter.


---


Di ruang kerjanya, Masto yang sedang bersama Edo terlihat sedang menerima telepon dari Mardi, wajah Masto terlihat tegang menerima telepon dari Mardi. Edo berdiri disampingnya, dia terlihat serius mendengarkan pembicaraan Masto dan Mardi melalui telepon genggamnya.


"Baik, aku akan ke sana sore ini. Terima kasih." ujar Masto, bicara di teleponnya.


Lalu, dia segera mematikan telepon dan menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya. Edo menatap wajah tegang Masto yang berdiri disampingnya.


"Apa katanya?" tanya Edo, dengan wajah serius menatap Masto.


"Mardi bilang, pak Samsudin mau ketemu aku." ujar Masto, dengan wajah tegang dan cemasnya.


"Ketemu di kantor Samsudin?" tanya Edo, ingin tahu.


"Bukan, tapi digedung residene jalan boulevard." jelas Masto.


"Ngapain ketemu disana? Gedung itu kan kosong? Baru selesai dibangun dan belum diresmikan?!" ujar Edo curiga.


"Aku juga gak tau, kenapa Pak Samsudin mau ketemu aku disana." ujar Masto.


"Firasatku gak baik, To. Pasti Samsudin merencanakan hal yang buruk padamu, karena kamu sudah menolak tawarannya." jelas Edo, serius.


"Ya, aku juga berfikir seperti itu, kalo gak merencanakan sesuatu, buat apa dia minta ketemuan di gedung kosong? Di lantai paling atas pula tadi kata si Mardi." ujar Masto, cemas.


"Sebaiknya kamu abaikan saja, To. Jangan datang ke sana." ujar Edo, mencoba mencegah Masto.


"Nggak Do. Aku gak kan mundur selangkahpun, aku tetap akan datang ke sana." ujar Masto, dengan wajah serius.


"Tapi, itu bisa membahayakan nyawamu!" tegas Edo.


"Aku siap menghadapi segala resikonya, Do. Akan ku hadapi , sekalipun nyawaku terancam." jelas Masto.


Edo terdiam, dia menatap lekat wajah tegang dan serius Masto, Edo lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dia menepuk bahu Masto.


"Aku ikut denganmu." ujar Edo.


"Jangan Do. Biar aku sendiri saja yang ke sana." ujar Masto.


"Kalo terjadi hal yang buruk padaku di sana, segera ambil tindakan." jelas Masto, serius.


"Tapi, To, aku gak bisa diam saja dan membiarkan kamu pergi masuk perangkap Samsudin dan Mardi!" jelas Edo.


"Setidaknya, biar aku membantumu. Kita rekan kerja, bersahabat, aku gak bisa membiarkan nyawamu terancam!" tegas Edo, menatap serius wajah Masto.


"Nggak apa apa, Do. Aku bisa jaga diriku sendiri. Aku akan berhati hati di sana." jelas Masto, mencoba menenangkan diri Edo yang cemas dan resah pada dirinya.


"Baiklah, semoga kamu baik baik saja, jika terjadi sesuatu hal, cepat kabari aku, biar aku datang bersama tim ke sana!" tegas Edo.

__ADS_1


"Ya, Do. Pasti ku kabari." jelas Masto.


"Oh, ya, tolong rahasiakan hal ini pada pak Andre, jangan sampai beliau tau, kalo aku bertemu dengan Samsudin." jelas Masto.


"Ya. Akan aku rahasiakan hal ini." ujar Edo.


"Baiklah, aku pergi sekarang, Do. Aku mau bersiap siap menemui Samsudin sore ini." ujar Masto.


"Ya, hati hati, jangan lengah, To." ujar Edo, mengingatkan Masto.


"Ya, Do. Pasti." jawab Masto, tersenyum.


Masto lantas segera pergi keluar dari dalam ruang kerjanya, Edo menghela nafasnya dengan berat, ada rasa cemas dan khawatir dalam diri Edo saat ini, dia sangat khawatir dengan keselamatan nyawa Masto, dia tahu, Samsudin pasti berniat mau membungkam Masto, karena dia telah berani menolak tawaran Samsudin yang menjabat sebagai Menkopolkam itu.


Edo berdiri diam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, wajahnya terlihat tegang, lalu, Edo pun bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya.


---


Mobil Peter yang di stir supir pribadinya berbelok dan masuk ke gedung tua yang tak terawat, Gavlin yang mengikutinya di belakang, tak jauh dari mobil Peter melihat ke sekeliling lokasi itu, dia tersenyum sinis.


Gavlin melihat mobil Peter masuk ke dalam gedung tua yang tak terawat itu, Gavlin lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di samping gedung tua tersebut.


Gavlin bergegas turun dan mengambil dua pistol dari dalam bagasi mobilnya, lalu dengan cepat, dia berjalan masuk ke dalam gedung tua tersebut.


Peter mendorong tubuh Chandra sambil menodongkan pistolnya pada Chandra, Chandra melihat ke sekitar lokasi, dia tahu, bahwa dirinya di bawa ke tempat itu untuk di bunuh. Chandra pun terlihat pasrah.


Chandra berjalan dan masuk ke dalam gudang tua tak terawat dengan di ikuti Peter yang berjalan dibelakangnya sambil menodongkan pistol, sementara sang Supir duduk diam menunggu di dalam mobilnya.


Gavlin secara perlahan lahan dan mengendap endap berjalan mendekati mobil Peter, lalu, dengan gerak cepat, Gavlin membuka pintu depan mobil, lalu, pisau belati melesat dan menyayat ke leher sang Supir.


Dengan wajah geram, Gavlin lantas beranjak pergi meninggalkan mayat sang Supir yang terkapar di dalam mobil, dia berjalan menuju ke dalam gedung tua tak terawat itu.


Perlahan lahan, Gavlin melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tua yang pintunya terbuka, karena tak di tutup Peter tadi saat dia membawa masuk Chandra.


Di dalam ruang gedung tua tak terawat dan sangat kotor itu, Chandra berdiri berhadapan dengan Peter yang mengarahkan pistolnya kepada Chandra.


"Disini, aku akan mengeksekusimu Chandra! Karena kamu lancang, berani membongkar rahasia organisàsi Inside!" ujar Peter geram sambil mengarahkan pistol ditangannya ke kepala Chandra.


"Kamu salah satu anjing Inside, kamu binatang peliharaanmya Binsar !" ujar Chandra tersenyum sinis pada Peter.


"Diam kamu!! Sudah mau mati, masih juga sombong kamu!!" bentak Peter marah.


"Gak ada yang menyelamatkanmu, nyawamu ada ditanganku sekarang Chandra!" tegas Peter geram dan marah.


"Ini akibatnya kamu berani mencampuri urusan organisasi Inside dan membuat banyak anggota Inside di tangkap! Kamu harus menanggung akibat perbuatanmu!!" bentak Peter marah.


"Aku gak takut dengan ancaman kalian, silahkan saja bunuh aku, toh, semua rahasia kejahatan organisasi kalian sudah ditangan pihak kepolisian dan kejaksaan, sebentar lagi, satu persatu kalian akan didatangi dan ditangkap polisi dan kejaksaan, tunggu saja!!" tegas Chandra, tersenyum sinis.


Chandra tak gentar dengan ancaman Peter, sekalipun nyawanya terancam dan pistol mengarah ke kepalanya. Chandra malah menantang dan melawan Peter,


"Keparat kamu!! Terimalah kematianmu sekarang juga !!" ujar Peter, geram dan marah.


"Silahkan, tembak saja aku, bunuh aku." ujar Chandra tersenyum sinis, menatap wajah Peter yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Peter semakin marah mendengar perkataan Chandra yang terkesan mengejek dan meremehkan dirinya itu, dia lantas mengarahkan pistolnya tepat ke kepala Chandra, Peter bersiap siap hendak melepaskan tembakan pada Chandra.


Namun, tiba tiba, terdengar suara letusan senjata, dan peluru melesat menghantam perut Peter yang berdiri dihadapan Chandra.


Peter kaget, pistol terlepas dari tangannya, dia lantas memegangi perutnya yang terkena tembakan peluru, Peter melihat ke arah datangnya peluru dan suara tembakan, Chandra pun tersentak kaget, dia tak menyangka, Peter ditembak, dan pelakunya tak terlihat.


Peter meringis kesakitan, dia memegangi perutnya yang berdarah karena terkena tembakan, Peter berusaha mengambil pistolnya yang tergeletak di lantai.


Chandra melihat pistol Peter di lantai, dia lantas mendekati pistol, dan dia menendang jauh pistol itu, Chandra menyingkirkan pistol, agar Peter tak bisa menggunakannya lagi.


Peter geram menatap wajah Chandra yang berdiri dihadapannya dengan tersenyum sinis, dengan susah payah, Peter hendak berjalan mendekati Chandra sambil tetap memegangi perutnya yang berdarah.


Tiba tiba, terdengar kembali suara tembakan, dan kali ini peluru menghantam kaki Peter, Peter seketika tersungkur jatuh ke lantai, kakinya berdarah, Chandra semakin kaget, dia heran, siapa yang telah menembak Peter.


"Bedebaaaah !! Siapa kamuuu!!! Keluar kamuuu!! Jangan bersembunyi darikuuu!!" teriak Peter, geram dan marah.


Peter meringis kesakitan memegangi kaki dan perutnya yang terkena tembakan, dia berusaha berdiri, dengan susah payah, Peter berdiri.


Gavlin datang, dia keluar dari tempat persembunyiannya, Gavlin berjalan santai menghampiri Peter yang terlihat susah payah berdiri, Gavlin menembak satu kaki Peter lagi, sehingga Peter kembali terjatuh ke lantai, dengan posisi bersimpuh dengan kedua lutut kakinya di lantai gudang tua tak terawat. Chandra kaget saat melihat Gavlin yang berjalan mendekati Peter.


"Gavlin?!!" ujar Chandra kaget.


Chandra sama sekali tak menyangka, jika Gavlin lah yang menembak Peter dan telah menyelamatkan nyawanya.


"Pergilah, Chan. Biar Peter aku yang urus." ujar Gavlin pada Chandra.


"Tapi, kenapa kamu bisa tau aku di sini? Apa kamu sengaja melacakku?" tanya Chandra curiga pada Gavlin.


"Nggak, aku tadi sengaja datang mau menemui kamu di kantormu, aku mau minta berkas bukti kasus pembunuhan orang tuaku yang kamu bilang saat itu." ujar Gavlin.


"Gak sengaja, aku liat si Peter ini datang mendekatimu, lalu, dia membawamu pergi, aku liat, Peter menodongkan pistol padamu." lanjut Gavlin, menjelaskan.


"Aku tau, Peter menculikmu dan mau membunuhmu, karena itu diam diam aku ikuti kamu sampai ke sini." tegas Gavlin menjelaskan.


"Biadab kamu Gavlin!!" bentak Peter yang bersimpuh di lantai dengan kondisi kedua kaki dan perutnya terluka parah.


"Akhirnya kita berhadapan juga Peter, sudah lama aku mengincarmu, dan sekarang, aku bisa bertemu kamu!" ujar Gavlin tersenyum sinis.


"Disini, aku akan menuntaskan misiku, aku akan menghabisimu!!" tegas Gavlin geram.


Peter tampak geram dan menahan marahnya, namun, dia tak kuasa melawan Gavlin, karena dirinya terluka, Chandra mendekati Gavlin.


"Jangan bunuh dia, lebih baik, bawa ke kantor polisi agar di penjara." jelas Chandra.


"Aku gak percaya dengan kepolisian, maaf Chandra, orang seperti Peter ini, sejam saja di tahan, dia pasti sudah keluar lagi, karena ada yang membantunya di kepolisian, kamu pasti tau, anggota organisasi Inside menyebar dimana mana!" tegas Gavlin, dengan wajah seriusnya menjelaskan.


"Tapi, kalo kamu membunuhnya, kamu disalahkan nanti!" tegas Chandra.


"Aku gak takut, bukankah aku selama ini sudah menjadi buronan utama pihak kepolisian dan kejaksaan? Gak ada lagi yang perlu aku takuti, aku siap menanggung segala akibat dari perbuatanku!" tegas Gavlin serius.


Chandra pun lantas terdiam, dia tak bisa memaksa dan melarang Gavlin yang berniat mau membunuh Peter di gudang tua tak terawat itu, Chandra melirik pada Peter, Peter meringis menahan sakitnya, wajahnya mulai memucat, karena dia banyak mengeluarkan darah, akibat ke dua kaki dan perutnya ditembak Gavlin.


"Pergilah, Chandra, kamu gak kan mau melihat, bagaimana aku membantai Peter di sini bukan?" ujar Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.

__ADS_1


Chandra diam, dia lalu berjalan pergi meninggalkan Gavlin yang berdiri dihadapan Peter sambil mengarahkan pistolnya pada Peter. Chandra keluar dari dalam gedung tua tak terawat itu.


__ADS_2