VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Bunuh Diri Menebus Dosa


__ADS_3

   Sumantri mengetuk pintu rumahnya, ditangannya dia membawa bungkusan plastik.


"Bu...buka pintunya buu..." Ujarnya memanggil istrinya sambil terus mengetuk pintu rumah.


Suasana malam hening, udara cukup dingin, beberapa saat kemudian terdengar suara kunci dan pintu rumah terbuka, Lastri berdiri didepan pintu rumah.


"Kok tumben, Bapak pulang kerja sampe larut malam begini ?" Ujar Lastri pada Sumantri.


"Iya bu, tadi lumayan dapat rejeki bu, bapak dapat tambahan nyuci 3 mobil malam ini." Ujar Sumantri.


"Lumayan upahnya bisa menambah penghasilan bapak." Ujar Sumantri sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya, Lastri menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Lastri melihat ditangan suaminya menenteng bungkusan plastik, dia lalu mendekati Sumantri.


"Bapak bawa apa ?" Tanya Lastri melirik pada bungkusan plastik yang ada ditangan Sumantri.


"Oh, ini, bapak beliin martabak buat ibu sama Shasy." Ujar Sumantri tersenyum.


Sumantri memberikan bungkusan plastik yang dipegangnya ke Lastri, yang lantas mengambilnya.


Tidak lupa juga Sumantri memberikan uang yang didapatnya pada Lastri yang menerimanya dengan senang hati.


"Udah tengah malam begini pak, sayang bapak beli gak kemakan." Ujar Lastri.


"Gak apa, buat sarapan kamu dan Shasy besok pagi." Ujar Sumantri tersenyum.


Lastri lantas menerima bungkusan plastik berisi martabak yang diserahkan Sumantri.


Lastri melihat di dalam plastik ada sekotak besar berisi martabak manis, di dalam plastik ada juga gulungan tali tambang.


"Loh, kok ada tali tambang juga pak? Buat apa bapak beli?" Tanya Lastri heran.


Lastri menunjukkan gulungan tali tambang di dalam plastik pada Sumantri.


"Kan Ibu bilang tali jemuran rusak, jadi bapak sengaja beli tali tambang buat benerin tali jemuran yang rusak." Ujar Sumantri pada Lastri yang mengangguk mengerti.


Lastri lalu meletakkan kotak berisi martabak di atas meja makan kecil dan sederhana.


Lalu, Lastri meletakkan plastik yang berisi tali tambang di pinggir meja makan.


Sumantri mengambil plastik berisi tali tambang dan membawanya, Sumantri masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Lastri berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya, dia tidak menunggu suaminya.


Karena dia fikir, suaminya akan bersih bersih dulu dikamar mandi sebelum beranjak tidur.


   Sementara itu, diatas ranjangnya, Maya gelisah tidak bisa tidur, berkali kali dia membalikkan tubuhnya diatas kasur.


Wajahnya terlihat berfikir keras, dia masih kepikiran dengan photo orang yang di lihatnya tadi.


Maya mendekap dan memeluk guling erat erat,dia membalikkan tubuhnya ke samping kiri, tak tenang.


Lalu kembali dia membalikkan tubuhnya ke sisi kanan,dia tiba tiba bangun dan duduk diatas kasur, memegang kepalanya, meremas rambutnya.


"Aduuuh...Kenapa aku jadi penasaran begini sih?!" Ujarnya dengan wajah kesal.


Maya kesal, karena dia tidak bisa mengingat dimana dan kapan dia pernah melihat orang yang persis di photo.


Maya terdiam, dia tercenung, mencoba mengingat ingat kembali kejadian saat jatuhnya Guntur dan menimpa patung di Hotel Hera.


Kilatan bayangan muncul dalam ingatan Maya, dimana saat dia menyaksikan tubuh Guntur jatuh dari atas atap gedung hotel.


Dalam ingatan itu jelas terlihat wajah Guntur yang sudah mati di lantai.


Maya menghela nafasnya, wajahnya masih menunjukkan rasa penasarannya.


"Aku yakin, selain di hotel Hera, aku pernah melihat orang yang sama, tapi dimana ?! Huuuuu...!!" Maya kesal.


Lalu dia merebahkan tubuhnya kembali di kasur,memiringkan tubuhnya, memeluk guling erat erat.


Maya memejamkan matanya, mencoba mengabaikan semua yang ada dalam pikirannya agar dia bisa tidur.


Saat mata Maya sudah terpejam tidur, beberapa saat kemudian, tiba tiba dia membuka matanya dan terbelalak lebar.


Raut wajahnya seperti menunjukkan bahwa dia menemukan sesuatu. Tatapan matanya menatap jauh ke depan.


"Aku ingat ! Iya, aku pernah liat wajah yang mirip dengan photo itu di lokasi pameran patung Lilin !" Ujar Maya bicara sendiri.


Raut wajahnya terlihat berbinar, dia senang karena akhirnya dia bisa mengingat kapan dan dimana dia pernah melihat wajah patung lilin yang persis dengan Guntur.


"Akhirnyaa...!" Gumam Maya, dia lalu bangun dan duduk kembali diatas kasurnya, berfikir.


"Tapi...apa mungkin bisa...Yanto bikin patung lilin yang sama persis dengan wajah orang asli ?!" Ujarnya berfikir.


Maya mengira ngira, ada rasa penasaran diwajahnya, dia ingin mengetahui lebih jauh lagi.


Maya mikir, bagaimana cara Yanto bisa membentuk patung lilin dan secara bersamaan mirip dengan orang asli.


Apakah Yanto pernah melihat orang tersebut sebelumnya ? 


Maya berfikir keras.


Maya menarik nafasnya, lalu menjatuhkan tubuhnya kebelakang, rebah terlentang di atas kasur, tatapan matanya menatap ke atas, memandang pada atap kamarnya. 


   Lastri terbangun dari tidurnya, dia menoleh ke samping tempat tidur, tidak ada Sumantri diatas kasur.


Lastri kemudian bangun dan duduk diatas kasur. Matanya melirik ke jam dinding yang ada di dalam kamar.


"Kok bapak belum tidur ? Ngapain dia? Apa malam malam dia masang tali buat jemuran, biar bisa ku pake jemur pakaian pagi pagi?" Gumamnya berfikir.


Lastri menghela nafas, menggeser pantatnya kepinggir tempat tidur, dia beranjak dari tempat tidur, berdiri dan melangkah keluar kamar untuk menemui suaminya.


Lastri berjalan diruangan yang gelap karena lampu dimatikan, tidak ada Sumantri diruangan itu.


Lastri melangkah menuju dapur, dia membuka pintu dapur rumah, berjalan keluar.


Melangkah menuju halaman belakang, tempat biasa dia menjemur pakaian, di halaman belakang rumahnya.


"Paaak...kenapa gak tidur..." Ujar Lastri mengira Sumantri ada diluar, dihalaman belakang rumah.


Namun, Lastri tidak menemukan Sumantri di halaman belakang rumahnya.


Lastri melihat, jemurannya masih dalam keadaan yang sama, dengan kondisi talinya terputus.


Sumantri belum mengganti dan memperbaikinya, Lastri menarik nafasnya.


"Kemana si bapak ? Kok gak ada aku cari dimana mana ?!" Ujarnya pada dirinya sendiri.


Dia bingung karena tidak bisa menemukan suaminya. Lastri berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah.


Lalu dia mengunci pintu belakang rumah, untuk kemudiam melangkah menyusuri dapur.


Lastri melihat pintu kamar mandi tertutup rapat, biasanya pintu kamar mandi terbuka jika tidak ada orang di dalam kamar mandi.


Lastri berfikir, dia melangkahkan kaki mendekati kamar mandi, tangannya mendorong pintu kamar mandi, pintu tetap tertutup karena terkunci dari dalam.

__ADS_1


"Paaak...kamu di dalam? Paaak..." Ujar Lastri memanggil suaminya dari depan pintu kamar mandi.


Tidak terdengar suara jawaban dari dalam kamar mandi. Lastri mengetuk pintu kamar mandi lagi.


"Paaakk...kamu ngapain di dalam? Paaak...!" Ujarnya dengan sedikit keras.


Lastri terus mengetuk pintu kamar mandi, tidak juga ada jawaban dari dalam kamar mandi.


Wajah Lastri menjadi berubah khawatir, kecemasan mulai menyelimuti dirinya. Dia memukul mukul pintu kamar mandi dengan sedikit lebih keras dari sebelumnya.


"Paaak...kamu kenapa ?! Buka pintunya Paaak, bukaaa !!" Ujarnya dengan suara sedikit keras.


Wajahnya semakin cemas, dia khawatir terjadi sesuatu yang tidak pernah diinginkannya pada suaminya di dalam kamar mandi.


Lastri dengan panik terus memukul pintu sekeras kerasnya dengan tangannya.


"Paaakkk...buka pintunya Paaakk...tooongg...! Kamu jangan bikin aku khawatir paaak, tolooong buka pintunyaaa !!" Ujar Lastri.


Wajahnya terlihat begitu khawatir, karena tak terdengar juga suara Sumantri dari dalam kamar mandi.


Lastri mencoba mendorong pintu dengan tubuhnya, dia melakukan beberapa kali.


Tapi pintu tetap tidak terbuka, Lastri dengan wajah panik dan cemas menendang pintu kamar mandi sekuat tenaganya.


Berkali kali dia menendang pintu kamar mandi, dia tak perduli pintu kamar mandi rusak karena dia menendang dan mendobrak paksa.


Di pikirannya saat itu, bagaimana caranya agar pintu kamar mandi terbuka dan dia bisa melihat kondisi suaminya.


Lastri menendang terus pintu kamar mandi sekuat kuatnya, dia mengerahkan seluruh tenaganya.


Lastri berusaha mendobrak paksa pintu, akhirnya tendangan Lastri berhasil.


Pintu kamar mandi terbuka dan rusak akibat ditendang kuat Lastri, dengan cepat Lastri masuk ke dalam kamar mandi.


Saat dia di dalam kamar mandi, dia terdiam dan berdiri ditempatnya, matanya menengadah keatas atap kamar mandi.


Raut wajahnya menunjukkan rasa kaget yang besar, dia syock, sedih melihat ke atas, pada atap kamar mandi.


Lastri melihat Sumantri dengan kondisi leher terlilit tali tambang dan tubuhnya tergantung, wajah Sumantri pucat dan kaku.


Sumantri mati bunuh diri di dalam kamar mandi rumahnya, Tubuh Lastri gemetar, kakinya lemas.


Lastri tak sanggup berdiri lebih lama lagi, tubuhnya jatuh dan terduduk di lantai kamar mandi, menangis histeris.


"Bapaaaaakkkk !! Tidddaaaaakkkk!!" Teriak Lastri sekeras kerasnya.


Suara teriakannya memecahkan keheningan malam, tangisan terdengar begitu memilukan,


Lastri menangis histeris melihat suaminya tergantung.


Lastri tak menyangka suaminya nekat bunuh diri.


Lastri terus meraung raung kesetanan, menangis sekeras kerasnya.


"Kenapa kamu nekat melakukan ini paaak !! Kenapa ?!!" Teriak Lastri histeris.


"Masalah apa yang sedang kamu alami, hingga kamu bunuh diri?!" Teriaknya menangis keras, meratapi kematian suaminya.


Shasy, anak gadis kecilnya terbangun karena mendengar suara teriakan ibunya yang sangat keras.


Dengan berjalan sambil mengucek ucek mata ngantuknya, Shasy mendekati ibunya.


"Ibu kenapa...?" Tanya Shasy dengan wajah polos.


Lastri cepat menutup wajahnya dengan mendekap erat Shasy ketubuhnya, agar anaknya tidak melihat bapaknya yang tergantung dalam kamar mandi.


Lastri terus menangis , dia memeluk erat anaknya yang bingung.


"Ibu kenapa nangis?!" Tanya Shasy dengan wajah polosnya.


Shasy tidak mengerti apa yang terjadi, Lastri semakin menjadi menangis keras mendekap erat anaknya, memeluk anaknya.


Wajahnya begitu sedih, hatinya perih mengetahui suaminya bunuh diri.


Teriakan keras dan suara tangisan Lastri mengusik ketenangan para tetangga yang sedang terlelap tidur.


Warga yang terbangun karena terganggu teriakan Lastri lalu keluar dari rumah masing masing,


Para warga, ramai ramai mendatangi rumah Lastri karena mendengar teriakan dan tangisan Lastri yang keras mengguncang malam yang sepi.


Shasy melirik ke arah pintu depan rumah karena mendengar suara gedoran keras pintu.


Shasy melepaskan tubuhnya dari pelukan ibunya, Shasy melangkah ke arah ruang tamu rumah.


Sementara Lastri tetap menangis terduduk dilantai depan kamar mandi.


Pintu rumah terbuka, para warga yang datang beramai ramai melihat Shasy yang membuka pintu rumahnya.


"Kenapa ibu Shasy ?" Tanya seorang Ibu dengan suara lembut pada Shasy yang cuma menggelengkan kepalanya tidak tahu. 


Para warga yang datang mendengar, Lastri menangis meratap dengan terus menyebut dan memanggil suaminya.


Para warga saling pandang, mereka lalu dengan cepat menerobos masuk ke dalam rumah Lastri.


Shasy hanya diam bengong melihat warga ramai masuk ke dalam rumahnya.


Ruang dapur rumah Lastri dipenuhi para warga yang datang lebih dari 10 orang masuk ke dalam rumah.


Mereka melihat Lastri yang terduduk di lantai menangis sedih.


Seorang pria mendekati Lastri.


"Ibu kenapa ? Apa yang terjadi ?" Tanya pria pada Lastri.


"Su...sua...miku...di...diaa..." Ujar Lastri terisak isak menangis, tak sanggup bicara karena kesedihan yang dirasakannya begitu besar.


"Kenapa dengan pak Sumantri ?" Tanya pria itu lagi pada Lastri.


Lastri tak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah kamar mandi dengan jari telunjuknya.


Dengan cepat pria beranjak dan melangkah ke kamar mandi yang di tunjuk Lastri.


Di depan pintu kamar mandi, saat Pria itu mau masuk ke dalam kamar mandi, dia tersentak kaget.


Pria itu syock melihat Sumantri dalam posisi tergantung di dalam kamar mandi.


"Astagaaa...Pak Sumantrii !!" Teriaknya karena syock melihat kenyataan itu.


"Cepat bantuin saya !!" Ujar Pria pada para warga.


Beberapa warga pria segera mendekatinya, melihat mayat Sumantri tergantung di dalam kamar mandi.


Begitu melihat Sumantri tergantung, mereka serentak kaget, tak menyangka mereka melihat Sumantri bunuh diri.


"Tahan, jangan diturunkan dulu, sebaiknya segera lapor polisi, biar polisi yang menanganinya." Ujar Seorang ibu.

__ADS_1


Para warga akhirnya mengurungkan niat untuk menurunkan Sumantri yang tergantung.


Mereka terdiam memandang Lastri yang masih terus menangis dengan sedihnya.


Shasy melangkah mendekati Lastri, memeluk ibunya, Lastri memeluk erat tubuh anaknya itu, menangis pilu dalam dekapan pelukan anaknya.


   Di kegelapan malam yang dingin dan sunyi, melintas sosok bayangan berpakaian hitam.


Dia berdiri di atas sebuah pohon, matanya menatap jauh ke depan kearah rumah mewah milik Wijaya.


Sorot matanya tajam, mulutnya menyeringai, sosok bayangan itu mengintai dan mengawasi.


Dia sedang membaca situasi pada rumah Wijaya, merencanakan sesuatu hal dirumah Wijaya.


"Tunggu saatnya Wijaya, aku akan menerormu, sampai kamu mengakui kejahatanmu dulu." Ujarnya dengan mulut menyeringai geram.


Sosok pria berpakaian serba hitam itu membuka penutup wajahnya, ternyata sosok pria tersebut Yanto.


Yanto sengaja mengenakan pakaian serba hitam untuk mengawasi semua pergerakan dan kondisi rumah Wijaya.


Dia mempelajari dan mencari tempat yang aman buatnya menyelinap masuk ke dalam rumah Wijaya.


Yanto menutup wajahnya kembali, dia lalu melompat turun dari atas pohon.


Segera dia melangkah mendekati rumah Wijaya, menyelinap ke samping rumah.


Yanto melihat ke halaman rumah Wijaya yang sepi, matanya melihat ada beberapa cctv tergantung di sudut atas atap teras rumah mengarah ke luar rumah.


Yanto berfikir, kemudian dia bergerak melangkah ke belakang rumah Wijaya.


Dia mengintai dan melihat situasi belakang rumah, lalu dia menemukan ada cctv juga yang tergantung.


Pengamanan dirumah Wijaya sangat ketat, belum lagi Yanto melihat ada beberapa petugas keamanan yang berjaga jaga di sekitar halaman rumah Wijaya.


"Aku harus mencari celah agar bisa masuk ke dalam rumah Wijaya." Gumam Yanto berfikir.


Dia lantas melihat pada sebuah pohon besar yang tinggi, dengan cabang batangnya menempel di dekat atap genteng lantai atas rumah Wijaya.


Yanto berfikir sejenak, dia lantas segera beranjak mendekati pohon besar yang dilihatnya.


Yanto naik ke atas pohon, setelah berada dibagian paling tinggi, Yanto melihat cabang pohon yang menempel di atap genteng.


Yanto melirik ke bawah, tidak ada siapa siapa, Yanto berfikir, dia menginjak cabang pohon itu.


Lalu Yanto mengukur seberapa kuat cabang pohon itu jika dia menginjak dan berdiri diatasnya.


Setelah mengetahui cabang pohon besar itu kuat dan kokoh menopang tubuhnya, dia segera melangkah diatas cabang, naik ke atas atap genteng rumah.


Yanto merangkak diatas genteng, menyusuri genteng, mencari celah untuk dirinya bisa menyelinap masuk tanpa diketahui dan tertangkap cctv.


   Pagi itu, terlihat ramai warga warga berkerumun didepan rumah Lastri.


Petugas paramedis keluar dari dalam rumah dengan membawa mayat Sumantri, memasukkannya ke dalam mobil Ambulance.


Gatot yang mendengar kematian Sumantri dari rekan kerjanya di kepolisian segera mendatangi rumah Sumantri.


Gatot ingin melihat langsung kematian sahabat baiknya itu, Gatot ingin mengetahui kenapa Sumantri bunuh diri.


Melihat kedatangan Gatot ditempat itu, Teguh yang bertugas mengusut kasus bunuh diri segera mendekati Gatot.


"Selamat pagi komandan." Hormat Teguh pada Gatot yang mengangguk padanya.


Lalu seorang Petugas Forensik berjalan  mendekati Teguh dan Gatot.


"Bagaimana hasilnya ?" Tanya Teguh pada Petugas Forensik.


"Murni bunuh diri, tidak ditemukan sesuatu yang ganjil dan mencurigakan." Ujar Petugas Forensik pada Teguh.


"Artinya, kasus ini ditetapkan sebagai kasus bunuh diri ?" Ujar Teguh, Petugas Forensik mengangguk, Gatot terdiam.


"Saya menemukan sepucuk surat yang ada dalam genggaman tangan korban." Ujar Petugas Forensik.


Petugas Forensik memberikan secarik kertas yang sudah dimasukkannya ke dalam plastik kecil untuk dijadikan barang bukti bunuh diri.


"Apa isi dalam kertas itu ?" Tanya Gatot pada Petugas Forensik.


"Isinya cuma pamit dan permintaan maaf pada istri dan anaknya, karena sudah berbohong selama ini pada istrinya." Ujar Petugas Forensik.


"Dalam surat juga tertulis pengakuan korban yang menyesal pernah berbuat dosa terlibat dalam kasus pembunuhan 18 tahun lalu." Ujar Petugas Forensik.


"Semua tertulis dalam pernyataan korban sebelum bunuh diri." Ujar Petugas Forensik.


Mendengar itu Gatot terdiam, dia berfikir dan paham, Sumantri bunuh diri untuk menebus dosa besarnya di masa lalu.


Di sisi lain ada kekecewaan pada diri Gatot, karena Sumantri memilih bunuh diri tanpa merasa kasihan bagaimana nasib istri dan anaknya yang masih kecil.


Gatot tahu, bahwa bunuh diri Sumantri ada hubungannya dengan kasus 18 tahun silam.


Gatot mengambil kesimpulan, bunuh diri adalah jalan terbaik buat Sumantri untuk menyelamatkan istri dan anaknya dari incaran Bramantio.


Bramantio akan membunuhnya jika tahu Sumantri membocorkan rahasia.


"Dimana istri korban sekarang ?" Tanya Gatot pada teguh.


"Ada dalam mobil ambulance bersama anaknya, mereka akan dibawa kerumah sakit untuk diperiksa kejiwaannya." Ujar Teguh.


"Apa istrinya mengetahui surat itu?" Tanya Gatot pada petugas forensik.


"Dia tau pak. Saat saya mengambil surat dari tangan korban." Ujar Petugas Forensik.


"Istri korban yang melihat ada secarik kertas ditangan suaminya langsung merampas dan mengambilnya dari saya." Ujar Petugas Forensik.


"Dia membaca semua pernyataan yang tertulis didalam kertas." Ujar Petugas Forensik lagi.


Gatot menarik nafasnya berat, dia tau betapa hancur hati dan perasaan istrinya Sumantri mengetahui perbuatan suaminya selama ini.


Gatot dapat merasakan, betapa perih hati istri Sumantri mengetahui suaminya bunuh diri karena perbuatan dosa masa lalunya.


Gatot membalikkan tubuhnya, matanya melihat ke arah sebuah mobil Ambulance.


Di mobil Ambulance terlihat Lastri memeluk anaknya duduk menangis.


Tatapan mata Gatot lekat, ada rasa iba di dalam dirinya. Gatot melangkahkan kakinya, meninggalkan Teguh dan Petugas Forensik yang mengikutinya.


Gatot mendekati sebuah Ambulance, didalamnya ada mayat Sumantri yang seluruh tubuhnya ditutup kain putih.


Gatot mengangkat kain putih yang menutup wajah Sumantri, dia melihat wajah pucat dan kaku Sumantri, wajah Gatot terlihat sedih.


"Kenapa kamu mengakhiri hidupmu dengan bunuh diri Mantri?" Ujar Gatot pada mayat Sumantri.


"Aku baru menyadarinya saat ke sini tadi, ternyata kita berdekatan, aku gak pernah tau, kalo rumahmu dekat dengan rumahku." Ujar Gatot.


"Kenapa kita sama sama gak tau, kalo selama ini kita dekat Tri?" Ujar Gatot menghela nafasnya dengan berat.


Gatot terlihat sedih, Kemudian, Gatot menutup wajah Sumantri kembali dengan kain, dia berdiri ditempatnya, terdiam.

__ADS_1


__ADS_2