
Di malam harinya, Richard dan istrinya sudah terlelap tidur di dalam kamarnya dengan memakai selimut di tubuhnya.
Sementara di luar rumah, ada 2 Petugas Polisi yang berdiri dan berjaga di teras depan rumah Richard. Mereka sengaja ditugaskan Andre, atas permintaan Richard, untuk menjaga rumah dan melindungi istrinya di rumah.
Di dalam rumah, ada 2 Petugas Polisi yang juga berjaga, mereka ada di ruang tengah rumah Richard, karena, ruang tengah dekat dengan kamar tidur utama yang di tempati Richard dan istrinya.
Asisten rumah tangga keluar dari dalam kamarnya, dia berjalan menuju ke dapur rumahnya, karena dia merasa haus, dan terbangun, karena ingin minum.
Saat Asisten rumah tangga masuk ke dapur, dia langsung menjerit berteriak histeris dengan wajah yang ketakutan.
"Aaaaaarrrgggggghhh!! Tiiiidddaaaakkk!!" teriak Asisten rumah tangga ketakutan.
Di atas pintu kamar mandi dapur, tergantung boneka pria dengan berlumuran darah. Asisten rumah tangga teriak karena kaget melihat bonek yang tergantung itu.
Dengan cepat kedua polisi yang berada di ruang tengah berlari ke arah dapur dan menghampiri asisten rumah tangga yang teriak ketakutan.
"Kenapa Bik?" tanya Petugas jaga 1 pada Asisten rumah tangga.
"I...ituuu...!" ujar Asisten rumah tangga.
Dengan wajah takutnya, dia menunjuk ke arah boneka yang tergantung di depan kamar mandi dapur. Kedua Petugas Polisi yang berjaga kaget melihat boneka yang berlumuran darah.
"Siaaal !! Ada yang diam diam menyelinap ke dalam rumah!" Gumam Petugas jaga 1 kesal.
"Kita berpencar, susuri semua ruangan, jangan sampai, orang itu masih ada di dalam rumah ini." ujar Petugas jaga 2 sambil berbisik.
"Ya." Angguk petugas jaga 1.
"Sebaiknya Bibik kembali ke kamar, dan jangan keluar kamar !" tegas Petugas 2.
"Iya." Angguk Asisten rumah tangga menurut.
Dia pun lantas pergi dari dapur dan tak jadi minum, karena kaget dan ketakutan, rasa hausnya hilang seketika. Dia pun berlari cepat dan masuk ke dalam kamarnya, pintu kamar pun dia kunci, agar tak ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya.
Kedua Petugas Polisi yang berjaga di dalam rumah Richard mulai berpencar, untuk mencari orang yang meletakkan boneka berlumuran darah di depan kamar mandi dapur.
Sementara, di dalam kamar, Richard tersentak bangun karena mendengar suara teriakan Asisten rumah tangganya yang sangat keras.
Karena suasana malam hening dan sepi, suara teriakan kencang Asisten rumah tangga terdengar bukan saja sampai ke kamar Richard, tapi juga sampai keluar jalanan depan rumah Richard.
Di luar rumah, dua polisi yang berjaga saling pandang, salah satu petugas memakai Handy Talky atau HT.
"Bagaimana di dalam?" tanya Polisi 3 di HT nya.
"Sementara aman, masih mencari." jawab Petugas jaga 2 dari dalam rumah yang suaranya terdengar di HT milik Polisi 3.
Lantas, kedua polisi yang berjaga di teras rumah kembali bersiap siaga dan berjaga jaga di teras rumah.
Mata mereka tajam menatap dan menyusuri seluruh area teras dan halaman rumah Richard, mereka mencari cari dan berjaga jaga, kalau kalau, orang yang menyelinap lari keluar dan mereka melihatnya.
Di dalam kamarnya, Richard turun dari atas ranjangnya, dia lalu mengambil pistol dari bawah bantalnya. Pistol selalu berada didekatnya, sejak mendapatkan ancaman dan teror dari Gavlin, Richard tak lepas dari pistolnya, dia selalu tak lupa membawa pistolnya kemanapun juga.
Istri Richard juga terbangun, dia melihat suaminya yang memegang pistol dan hendak keluar.
"Sebaiknya kamu tetap diam di sini, Pah." ujar Istri Richard, takut.
__ADS_1
"Gak apa apa. Aku harus keluar, siapa tau aja, Gavlin masuk ke dalam rumah." ujar Richard.
"Kamu tenang aja, dan tetap diam di sini. Aku akan baik baik aja, aku kan punya pistol ini, kalo ada Gavlin, akan ku tembak dia!" ujar Richard dengan wajahnya yang serius.
Istri Richard pun diam, dia tak mau membantah perkataan suaminya, dia tahu, tak ada gunanya membantah, karena, suaminya akan tetap berkeras dengan segala keputusannya.
Richard bergegas keluar dari dalam kamarnya sambil memegangi pistol ditangannya. Dengan pelan pelan dia membuka pintu, lalu keluar kamar.
Setelah di luar kamar, Richard menutup pintu kamar dengan pelan, lalu, dia bergegas ke arah dapur, dimana dia tadi mendengar teriakan asisten rumah tangganya.
Richard sengaja membiarkan seluruh ruangan di dalam rumahnya gelap, dan dia tak menyalakan lampu, agar Gavlin tak bisa melihatnya dengan jelas dalam situasi keadaan gelap gulita di seluruh ruangan.
Wajah Richard tegang, ada rasa takut sebenarnya di dalam dirinya, dia takut, Gavlin benar benar masuk ke dalam rumahnya.
Dengan langkah pelan Richard berjalan menuju dapur sambil memegang erat pistol ditangannya. Dia berjalan dengan wajah tegang dan penuh rasa cemas.
Baru saja Richard masuk ke dalam dapur, dia langsung terperanjat kaget, saat melihat boneka berlumuran darah tergantung di depan pintu kamar mandi dapur.
"Aaaarrrggghh!!" teriak Richard kaget.
Wajahnya seketika pucat pasi, dia ketakutan , mengira bahwa boneka itu orang asli yang digantung dalam kondisi berlumuran darah.
Wajah Richard panik, dia semakin ketakutan, tiba tiba saja, Petugas Jaga 1 datang, dia yang mendengar suara teriakan Richard langsung datang ke dapur untuk melihat Richard.
Namun, naas baginya, dia yang ingin menolong Richard, malah di tembak Richard.
Richard yang dalam keadaan syock, panik , kaget dan ketakutan, saat mendengar langkah kaki Petugas Jaga 1 datang mendekat, dengan cepat Richard berbalik badan dan menembakkan pistolnya. Richard mengira Gavlin yang datang mendekatinya. Karena itu, dengan refleks dia menembak.
Petugas Jaga 1 terdiam, berdiri ditempatnya, dia terhenyak kaget, sambil memegangi dadanya yang tertembak oleh peluru dari pistol Richard.
Richard kaget, dia tersadar, bahwa yang dia tembak bukan Gavlin, melainkan petugas polisi yang berjaga di dalam rumahnya.
Richard pun semakin panik saja jadinya, dia semakin ketakutan, tiba tiba, dia melihat sekelebat bayangan yang berjalan ke arahnya.
Dalam kegelapan malam dan ruangan yang juga gelap tanpa diterangi lampu, Richard dengan wajah panik dan kalap menembak ke arah kelebatan bayangan.
Sambil berjalan mendekati bayangan dia terus menembak. Lalu, dia menghentikan tembakannya, saat dia melihat, sosok tubuh jatuh terkapar tepat dihadapannya, di depan ruang tengah rumahnya.
Richard kembali terhenyak, lagi lagi dia salah sasaran, dia menembak Petugas Jaga 2, yang di kiranya sosok Gavlin yang menyelinap dan bayangannya berkelebatan hendak menyerangnya.
Richard pun lantas berjongkok di hadapan mayat Petugas Jaga 2, dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, dia merasa pusing dan sakit di kepalanya.
Richard bingung, dia panik, cemas dan takut, dan dia tak tahu harus berbuat apa. Dia juga menyesal karena sudah membunuh dua petugas polisi yang sudah berjaga dan melindungi dirinya di dalam rumah.
Richard semakin panik, saat dia mendengar suara pintu depan rumahnya di buka paksa dan di dobrak.
Kedua Petugas Polisi yang berjaga di luar rumah, mendengar suara letusan senjata dari dalam rumah. Lalu, karena melalui Handy Talky mereka tak bisa menghubungi dua rekannya yang ada di dalam rumah, mereka pun khawatir dengan keselamatan rekan mereka dan juga keselamatan Richard beserta istri dan asisten rumah tangganya.
Karena pintu terkunci dari dalam, mereka pun memilih untuk mendobrak paksa pintu agar terbuka dan mereka bisa masuk.
Mendengar suara tendangan di pintu depan rumahnya, dengan wajah panik dan takutnya, Richard lantas mengambil pistol milik Penjaga 1 dan Penjaga 2. Lalu, dia berdiri dan bergegas menghampiri ke depan rumahnya.
Pintu berhasil di dobrak paksa, setelah pintu terbuka dan rusak, dengan cepat kedua polisi masuk ke dalam rumah sambil memegang pistol ditangannya.
Mereka bergegas lari masuk ke dalam ruangan, dimana arah suara letusan senjata terdengar. Saat mereka berlari, mereka berpapasan dengan Richard yang juga sedang bergegas jalan ke depan rumah.
__ADS_1
Kedua Polisi kaget dan langsung mengarahkan pistol ditangan mereka pada Richard, Richard juga dengan cepat mengarahkan kedua pistol ditangannya pada ke dua Petugas Polisi. Mereka semua terdiam dan saling menatap satu sama lainnya.
Sadar bahwa ternyata diantara mereka bukan musuh, lalu, kedua petugas polisi menurunkan tangannya yang memegang pistol, begitu juga dengan Richard.
"Bagaimana keadaan Bapak? Baik baik aja?" tanya Polisi 4.
"Ya." Angguk Richard dengan wajah datar dan kakunya.
Dia berdiri diam ditempatnya, sikapnya kaku menghadapi kedua petugas polisi.
"Dimana rekan kami, Pak?" tanya Polisi 3.
Richard diam, dia hanya menunjuk ke arah ruang tengah rumahnya saja tanpa bicara. Wajahnya kaku dan sikapnya dingin.
Kedua Petugas Polisi bergegas berlari ke arah ruang tengah yang di tunjuk Richard. Richard yang wajahnya masih tegang, dengan sikap dingin berbalik badan dan berjalan lemas ke arah ruang tengah, menghampiri kedua polisi.
Kedua Polisi terperanjat kaget, saat mereka berdua melihat, Petugas Jaga 1 dan Petugas Jaga 2 tergeletak berlumur darah, dan sudah mati.
Mereka saling pandang, tak menyangka, kalau ke dua rekannya di tembak, mereka heran, siapa yang sudah membunuh kedua rekan mereka.
"Maafkan saya. Saya salah sasaran." ujar Richard.
Richard berdiri tepat di belakang kedua petugas polisi, mendengar perkataan Richard, kedua polisi cepat berbalik badan dan berdiri di hadapan Richard.
Kembali mereka terhenyak kaget, karena melihat Richard yang menodongkan dua pistol di kedua tangannya ke arah mereka berdua.
"Pak. Apa yang terjadi?" tanya Polisi 3.
Richard diam, dia tak menjawab pertanyaan polisi 3, wajahnya tampak tegang dan masih syock. Lalu, Richard pun menembakkan pistolnya ke arah kedua petugas polisi.
Peluru peluru melesat keluar dari pistol, menghantam dada kedua petugas Polisi. Darah menyembur keluar dari dada mereka berdua, lalu, mereka berdua terkapar jatuh di lantai, mereka pun mati meregang nyawa, ditangan Richard.
"Maafkan saya, saya harus membunuh kalian, agar kalian tak menjadi saksi, atas apa yang sudah saya lakukan kepada dua rekan kalian." Gumam Richard dengan wajah tegang dan syoknya.
Terdengar suara tepuk tangan bergema memecahkan keheningan malam dan di dalam ruangan rumah Richard.
Richard pun kaget, dia lantas mulai panik, kedua matanya mencari cari ke arah suara tepuk tangan yang terdengar keras dan bergema di ruangan.
"Bagus Richard...Bagus. Aku sudah merekam semua perbuatanmu menembak mati para polisi itu." ujar Gavlin.
Richard geram, saat mengetahui bahwa Gavlin yang bertepuk tangan dan bicara kepadanya.
"Gak usah mencariku Richard, aku bicara melalui pengeras suara, dan aku mengawasimu dari cctv yang ku pasang." ujar Gavlin.
"Kuraaang aaajaaar !" ujar Richard geram dan marah.
"Lihatlah di pojok kananmu Richard, dekati buffet itu. Ada cctv di atas bufet ku pasang." jelas Gavlin bicara melalui pengeras suaranya.
Richard semakin geram, dia bergegas mendekati buffet, dan memang benar, dia melihat, ada cctv yang terpajang di atas bufet.
Dan Gavlin, dengan jelas mengawasi dan melihat Richard menembak para polisi melalui cctv yang sengaja di pasangnya dalam rumah Richard.
Richard terdiam, wajahnya semakin panik, jantungnya berdebar debar, dia pun mulai berkeringat dingin dan pucat pasi, Richard mengalami ketakutan, karena kembali Gavlin menerornya.
__ADS_1
Richard bingung, bagai main petak umpet, dia tak bisa menemukan Gavlin, dia tak tahu, Gavlin bersembunyi dimana saat ini, apakah di dalam rumahnya, atau di luar rumahnya, Richard bingung dan takut sekali pada Gavlin.