VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Rahasia Yang Terkuak


__ADS_3

Maya lantas berdiri dari lantai ruang rahasia, dia memberanikan dirinya untuk mencoba mendekati patung patung berwujud sosok mayat manusia.


Maya bergidik ngeri menatap mayat yang menjadi patung, wajahnya sangat menyeramkan buat Maya. Maya pun lantas segera berlari keluar dari dalam ruang rahasia tersebut.


Maya tampak sangat resah dan gelisah, wajahnya terlihat pucat, dia seperti sangat ketakutan dan cemas sekali.


Maya pun lantas menghentikan pekerjaannya membersihkan ruangan, dia lantas berjalan ke arah ruang tengah, lalu duduk di sofa.


Maya duduk dengan gelisah, dia memegangi jemari tangannya dengan wajah cemas dan takutnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Maya resah.


"Mengapa kamu menyimpan mayat mayat yang dijadikan patung itu, Vlin? Apa maksud dan tujuanmu?!" Gumam Maya, resah dan sedih.


Dia sedih mengetahui Gavlin menyimpan mayat mayat di sebuah ruang rahasia, dia tak menyangka sama sekali, bahwa Gavlin, seorang psikopat yang sangat parah ternyata.


Maya pun berada dalam kebingungan dan kebimbangan yang sangat besar, dia tak tahu harus mengambil sikap yang bagaimana setelah menemukan mayat mayat yang dijadikan patung lilin.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Maya berfikir.


"Apa aku harus bilang ke Ayahku?" ujarnya lagi.


"Ah, tapi, kalo Ayahku tau, dia pasti marah besar pada Gavlin, dan aku gak mau, mereka musuhan hanya karena aku memberi tahu rahasia Gavlin ini." ujar Maya, dengan wajahnya yang bingung dan cemas.


"Apa hubungan kamu dengan Yanto, Vlin?" ujar Maya bertanya tanya.


"Melihat patung patung lilin yang biasa di buat Yanto, ada di ruang rahasia rumahmu, dan menghilangnya Yanto, apakah semua ada hubungannya denganmu, Vlin? Apa kamu membunuh Yanto, lalu mengambil patung patungnya?" ujar Maya dengan wajah sedihnya.


"Tapi, jika patung patung itu milik Yanto, artinya Yanto membunuhi orang orang lalu menjadikannya patung lilin, jika benar begitu, apakah Yanto kerjasama denganmu Vlin? Apa kalian saling kenal?" ujar Maya, bicara pada dirinya sendiri.


Maya tampak dalam posisi yang bingung dan dilema, dia resah dan sangat cemas, sekaligus takut melihat kenyataan di depan matanya.


Sosok Pria yang di pujanya, yang sangat di cintainya selama ini, ternyata benar benar psikopat sejati, yang hobby nya menyimpan mayat mayat korban pembunuhannya. Maya benar benar dalam kebingungan, dia diam dan bersedih.


Gatot pulang, dia masuk ke dalam ruang tengah dan menghampiri Maya yang duduk diam di sofa dengan wajah sedih dan tercenung.


"Kamu kenapa, May?" tegur Gatot.


Maya tersadar dan tersentak kaget mendengar suara Gatot yang menyapanya. Maya lantas menoleh pada Ayahnya yang berdiri di depannya dengan wajah keheranan melihat dirinya.


"Ah, Ayah...Nggak...Maya gak kenapa kenapa." ujar Maya, dengan gugup, dan mencoba tenang.


Maya berusaha menyembunyikan kecemasan dan ketakutan serta kebingungannya di depan Ayahnya, namun, Ayahnya curiga, Gatot terus menatap lekat wajah Maya.


"Wajahmu pucat begitu, dan kamu keliatan bingung dan kayak ketakutan gitu, Ayah tau, karena dari tadi kamu meremas jari jemarimu, itu tandanya kamu gelisah atau cemas." ujar Gatot, menjelaskan.


Maya diam, dia tak menjawab perkataan Ayahnya, ada keraguan di dalam dirinya, dia bimbang, antara memberi tahu Ayahnya atas apa yang baru saja dia lihat di ruang rahasia, atau tetap diam, dan menyembunyikan rahasia tersebut.


"Ada apa? Bilang sama Ayah." ujar Gatot, menatap tajam wajah bingung Maya.


"I...itu...itu...Yah...!" ujar Maya gugup.

__ADS_1


"Itu apa? Ngomong yang jelas sama Ayah, biar Ayah paham." ujar Gatot, dengan wajah serius menatap wajah Maya yang bingung.


Maya pun lantas berdiri dari duduknya di sofa, dia menatap lekat wajah Ayahnya yang melihatnya heran.


"Ikut aku, Yah." ajak Maya.


Akhirnya Maya memutuskan untuk memberitahukan pada Ayahnya, sebab, Ayahnya terus bertanya dan menaruh curiga padanya, Dia tak bisa berbohong dan menyembunyikan kecemasannya di depan Ayahnya, sebab, Ayahnya tahu dan bisa membaca air muka Maya.


Maya lantas bergegas jalan menuju ruang rahasia, Gatot dengan keheranan mengikuti Maya.


Maya berhenti di depan lemari, Gatot berdiri disampingnya.


"Kamu mau apa?" tanya Gatot heran.


Gatot heran, karena Maya malah mengajaknya ke lemari dan lalu diam berdiri di depan lemari, Maya diam, dia tak menjawab pertanyaan Ayahnya.


Maya lantas menekan boneka kayu yang menempel di dinding lemari, lalu, lemari pun bergerak dan bergeser. Gatot kaget, melihat lemari didepannya bergeser.


Maya lalu berjalan ke arah pintu rahasia yang ada di samping lemari, Gatot dengan wajah heran mengikutinya. Gatot kaget melihat pintu rahasia.


"Pintu rahasia? Tempat apa ini, May? Kenapa kamu bisa tau, apa Gavlin yang memberitahu kamu?" tanya Gatot dengan wajah keheranan menatap pintu rahasia.


"Nggak, Aku temukan sendiri, Yah. Pas aku mau ambil boneka kayu yang ada di dinding lemari, tiba tiba aja lemari ini bergeser, terus aku liat pintu rahasia ini." jelas Maya, dengan wajah cemasnya.


Gatot diam berdiri di depan pintu rahasia bersama Maya, Maya lantas membuka pintu rahasia yang tak terkunci itu, setelah pintu terbuka, Maya pun masuk ke dalam, Gatot dengan terheran heran ikut masuk ke dalam ruangan.


Pintu pun tertutup setelah Maya dan Ayahnya masuk ke dalam ruangan, lalu Maya menyalakan lampu ruangan, dia sudah tahu tempat untuk menyalakan lampu ruangan. Seketika ruangan menjadi terang benderang karena lampu menyala.


Maya diam, dia tak menanggapi perkataan Ayahnya yang mengagumi hasil buah karya Gavlin membangun rumahnya di bawah tanah.


Maya berjalan menuju kedalam ruangan rahasia, Gatot pun lantas mengikutinya. Lalu, Maya menghentikan langkahnya, dia berdiri tepat di depan patung lilin.


Gatot terhenyak kaget saat dia berhenti melangkah dan berdiri disamping Maya, Gatot melihat mayat seseorang telah menjadi patung. Kepala dan wajahnya masih berwujud manusia, begitu juga tangan dan kakinya, hanya bagian badannya saja yang sudah dilumuri dan terbalut lilin lilin.


"Astaaagaaa !! Apa apaan ini?!!" ujar Gatot, tersentak kaget.


Gatot benar benar sangat kaget, dia tak menyangka, jika di dalam ruang rahasia ada mayat yang sudah dijadikan patung lilin.


"Ini yang membuatku cemas dan takut, Yah." ujar Maya dengan wajah sedihnya.


"Apa patung patung ini milik Gavin?" tanya Gatot heran.


"Entahlah, Yah. Aku belum tau, ini punya Gavlin, atau punya Yanto, si seniman pembuat patung liin. Aku berfikir, ini patung milik Yanto yang di curi Gavlin." ujar Maya, menjelaskan.


Gatot terdiam, dia lantas mendekati sebuah patung yang ada di depannya, diperhatikan wajah patung yang berwujud sosok seseorang, Gatot memegang kulit patung.


"Ini manusia, May!!" ujar Gatot kaget.


"Iya, Yah. Udah jadi mayat!" tegas Maya.


"Gilaaa Gavliiin!!" bentak Gatot marah.

__ADS_1


"Ayah jangan emosi dulu, belum tentu ini perbuatan Gavlin, bisa aja ini perbuatan Yanto, Yanto membunuh orang orang ini, lalu dijadikannya patung, setelah itu , Yanto menghilang." ujar Maya.


"Gavlin tau perbuatan Yanto, mungkin aja Gavlin mencuri patung ini semua buat dia jadikan bukti dan menunjukkannya ke Ayah nantinya, jika waktunya tepat!" jelas Maya, mengambil kesimpulan sendiri.


Gatot diam, dia berfikir keras, lalu, dia mengambil ponselnya, di bukanya layar ponsel dan melihat galery photo di ponselnya.


Gatot memilih milih photo photo yang tersimpan di galery photo ponselnya. Lalu, dia menemukan apa yang dia cari.


Satu persatu wajah patung patung itu di lihatnya, lalu dia melihat pada photo di ponselnya, Gatot sedang menyamakan wajah mayat yang menjadi patung dengan photo yang ada di ponselnya.


Maya hanya diam melihat apa yang sedang dilakukan Ayahnya, wajah Gatot tampak serius memperhatikan wajah patung patung dan photo yang ada di ponselnya.


"Ini mayat mayat dari para warga kampung Rawas May!!" ujar Gatot, tersentak kaget.


"Maksud Ayah?!" ujar Maya kaget dan heran.


"Mayat mayat warga warga kampung rawas tiba tiba saja menghilang dari kamar jenazah setelah beberapa hari dari kejadian pembantaian dan pembakaran rumah rumah warga kampung rawas." jelas Gatot.


"Ayah juga baru tau, setelah 3 minggu mayat mayat itu menghilang dari kamar jenazah, petugas Forensik yang bilang pada Ayah." Ujar Gatot, menjelaskan dengan wajah serius.


"Ayah sempat menduga, kalo Gavlin yang sudah mencurinya, Ayah curiga Gavlin di bantu Teguh buat mencuri mayat mayat ini, makanya Ayah sempat dulu curiga sama Gavlin." jelas Gatot serius.


"Tapi, setelah Ayah geledah rumah lama Gavlin, dan juga rumah barunya yang sengaja dia ledakkan, Ayah gak menemukan bukti bukti keberadaan mayat mayat warga kampung rawas!" tegas Gatot menjelaskan.


"Ternyata Gavlin selama ini menyembunyikannya di dalam ruang rahasia ini, yang ada di bawah ruang bawah tanah rumah Gavlin!" ujar Gatot dengan wajah seriusnya.


"Terus, apa yang akan Ayah lakukan sama Gavlin dan juga mayat mayat yang dijadikan patung ini?" tanya Maya penasaran.


"Urusan dengan Gavlin nanti aja Ayah bicara dengannya langsung!" tegas Gatot.


"Ayah harus melaporkan penemuan mayat mayat ini, agar mayat mayat ini di ambil dan di bawa kembali dari sini." jelas Gatot, dengan wajahnya yang serius.


"Tapi Yah, Maya masih bingung, Gavlin kan gak bisa buat patung lilin? Apa mungkin, dia kerja sama dengan Yanto selama ini untuk membalas dendam?" tanya Maya, dengan wajah cemas dan penasarannya.


"Mungkin saja." ujar Gatot.


"Kerja bagus May. Kamu tanpa sengaja sudah menemukan mayat mayat yang menghilang dari kamar jenazah!" tegas Gatot.


"Sejak mayat mayat para warga kampung rawas menghilang dari kamar jenazah, Ayah dan tim forensik gak bisa melakukan autopsi, untuk mencari bukti bukti kematian mereka semua." ujar Gatot, dengan wajah seriusnya.


"Ayah harus kembali ke kantor, dan membawa tim penyidik serta petugas medis dan tim forensik ke sini lagi." jelas Gatot.


"I...Iya...Yah." Jawab Maya, gugup.


Gatot pun bergegas keluar dari dalam ruang rahasia sambil memegangi ponsel ditangannya. Maya pun lantas berbalik badan, dia takut sendirian di dalam ruangan rahasia itu, Maya pun bergegas keluar.


Sebelum keluar, dimatikannya lampu ruang rahasia, lalu, Maya membuka pintu rahasia dan segera keluar dari dalam ruang rahasia.


Maya pun keluar dari dalam ruang rahasia, pintu rahasia kemudian di tutupnya, setelah pintu rahasia tertutup rapat, secara otomatis lemari pun lantas bergerak dan bergeser. Lemari lantas menutupi pintu rahasia, dan posisi lemari menjadi semula lagi.


Maya menarik nafasnya dalam dalam, dia mencoba menenangkan dirinya, lalu, dengan langkah cepat, dia pun segera berjalan menuju kamarnya. Wajahnya masih terlihat cemas dan sangat takut sekali.

__ADS_1


__ADS_2