
Gavlin tampak sedang mengendarai motor sportnya, wajahnya tampak garang dan marah, dia benar benar berniat mencari Moses dan anak buahnya yang telah melukai dan membuang Gatot.
Jika Gavlin sudah marah memuncak, tak ada yang bisa mencegahnya, siapapun yang menghalangi niat dan tujuannya, dia pasti akan menghajarnya.
Telepon Gavlin berdering, getaran nada ponsel di kantong celana membuat Gavlin menepikan motornya.
Setelah dia menepikan motornya di pinggir jalan, Dia pun lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celana. Lalu, dia segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya, bang, Bro ! Aku lagi dijalan, udah beberapa hari aku mencari, tapi aku belum juga menemukan batang hidung Moses." ujar Gavlin, bicara di teleponnya.
"Aku udah menemukan lokasi anak buah Moses yang terekam di kamera cctv rumah sakit." ujar Teguh, bicara dari seberang telepon.
"Dimana? Kirim lokasinya padaku, Bang! Biar kudatangi dia sekarang juga!" ujar Gavlin dengan wajah geramnya di telepon.
"Aku akan mengirimnya lewat pesan ke hapemu." tegas Teguh, dari seberang telepon.
"Ya." ujar Gavlin di telepon.
Lalu, Gavlin menutup teleponnya, dia menunggu, Teguh mengirimkan lokasi tempat anak buah Moses berada saat ini.
Sesaat kemudian, telepon ditangan Gavlin berbunyi, satu pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat, Gavlin membuka layar ponselnya. Lalu, dia melihat isi pesan yang di kirimkan Teguh.
Gavlin membaca pesan Teguh yang berisi alamat tempat persembunyian anak buah Moses. Wajah Gavlin pun menyeringai jahat, dia tampak geram.
"Habis kamu sekarang!" Gumam Gavlin dengan geramnya.
Gavlin mematikan ponselnya, lalu, dimasukkannya ponsel kedalam kantong celananya. Gavlin kemudian bersiap siap.
Sesaat kemudian, Gavlin pun menjalankan motornya, motor Gavlin melaju kencang di jalan raya, dia menuju ketempat persembunyian anak buah Moses.
---
Di sebuah tempat rental komputer dan internet, tampak Yadi, anak buah Moses sedang asyik bermain game di komputer.
Wajahnya tampak serius, memainkan game action yang seru.
Dia tak menyadari, jika saat ini, Gavlin sudah berdiri di belakangnya, dengan sikap dingin dan wajah yang kaku dan tenang, Gavlin berdiri diam melihat Yadi bermain game.
Gavlin dengan mudah menemukan tempat persembunyian Yadi, dengan berbekal titik lokasi alamat yang diberikan Teguh sebagai Polisi, dan hanya bertanya pada seseorang tentang Yadi, dia pun berhasil menemukan Yadi.
Dengan petunjuk alamat, serta petunjuk orang yang mengenali wajah Yadi di photo dalam ponsel Gavlin, dia tahu, jika saat ini, Yadi sedang bermain game, di sebuah rental komputer dan internet.
Dari informasi seseorang yang dia temui di luar tadi, dia mendapat petunjuk, bahwa Yadi sudah lama menjadi pelanggan di rental tersebut.
Yadi tampak kecewa dan kesal, karena dia gagal menyelesaikan misi gamenya, Yadi pun memukul meja, melampiaskan kekesalannya.
"Tanggung, pukul aja sekalian layar monitornya!" tegas Gavlin dengan sikap dinginnya pada Yadi.
Mendengar perkataan Gavlin, dengan kesal dan marah, Yadi pun menoleh kebelakang, dia hendak marah pada Gavlin, karena mengganggu konsentrasinya bermain game.
"Sial! Ganggu aku aja!!" Ujar Yadi.
Saat dia berdiri dan menoleh ke belakang, dia kaget, karena melihat Gavlin berdiri di hadapannya, tersenyum menyeringai jahat.
"Siapa kamu?!!" Bentak Yadi menantang Gavlin.
"Aku? Aku manusia biasa, yang di buat seseorang menjadi iblis." ujar Gavlin dengan sikap tenangnya.
__ADS_1
Yadi kaget mendengar jawaban Gavlin, Yadi pun marah pada Gavlin, sebab, dia mengira, Gavlin sedang mempermainkan dirinya.
"Kurang ajar!! Berani beraninya bercanda denganku!!" Bentak Yadi marah.
Saat Yadi hendak memukul Gavlin, dengan gerak refleks yang cepat, Gavlin mencengkram leher Yadi kuat kuat. Yadi pun merasa kesakitan, karena lehernya di cekik kuat Gavlin.
"Ss...sii...aa...pa...kamu?!" Tanya Yadi dengan tersengal sengal.
Dia susah bicara dan bernafas, karena Gavlin mencekik lehernya dengan sekuat tenaga, dia melihat, mata Gavlin terbuka lebar, wajahnya tampak geram dan marah.
"Dimana bosmu, Moses?!" Hardik Gavlin.
Yadi kaget, karena Gavlin bertanya tentang Moses, dia pun menjadi takut pada Gavlin. Sementara, orang orang yang ada di dalam rental, mulai menyingkir satu persatu, karena mereka takut, melihat Gavlin yang wajahnya mengerikan karena marah.
Hanya tinggal Gavlin dan Yadi saja di dalam rental tersebut, mata Gavlin tajam menatap wajah pucat Yadi.
"Kamu dan Moses udah melukai Gatot, dan membuangnya di halaman rumah sakit! Dan aku datang, untuk menuntut balas!!" Bentak Gavlin marah.
Mengetahui kedatangan Gavlin karena Gatot, Yadi semakin ketakutan, tubuhnya bergetar, dia yang tadinya dengan gagah berani menghardik dan mau memukul Gavlin, kini, nyalinya ciut, dia gemetar ketakutan, dengan wajah yang pucat pasi.
"A...aku...hanya...nurut...perintah...bosku!" ujar Yadi tergagap gagap karena di cekik.
"Katakan padaku!! Dimana Moses saat ini!!!" Bentak Gavlin, berteriak marah pada Yadi.
"Bb...baik...a...aku...akan...kasih tau...ta...pi...tolong...lepaskan...dulu...tanganmu!" ujar Yadi tergagap gagap dan tersengal sengal.
Dengan geram, Gavlin pun lantas melepaskan cengkraman tangannya, dia melempar tubuh Yadi, hingga terjajar kebelakang mengenai meja komputer.
Yadi tampak memegangi lehernya yang sakit, dia meringis kesakitan, Yadi berusaha mengatur nafasnya kembali. Gavlin marah, tak sabar menunggu Yadi mengatakan tempat Moses berada saat ini.
"Ayo katakan padaku!!" Bentak Gavlin.
"Jangan pukul aku, aku akan katakan!" ujar Yadi ketakutan.
"Moses saat ini ada di cipanas, di Villa koboi, Villa itu hanya satu satunya di sana! Dia bersembunyi di markasnya di sana." ujar Yadi dengan wajah takutnya.
Mendengar penjelasan Yadi, Gavlin pun tersenyum menyeringai jahat, dengan sikap dingin dan tenangnya, dia menepuk nepuk pelan pipi Yadi. Yadi heran melihat sikap Gavlin terhadapnya.
Tiba tiba saja, tangan Gavlin mencengkram rambut Yadi, Yadi pun meringis kesakitan, tanpa menunggu lama, Gavlin langsung menyeret Yadi, dengan menarik kuat rambut Yadi.
Mau tak mau, karena merasa sakit, dan rambutnya di tarik paksa Gavlin, Yadi pun mengikuti Gavlin. Dia terjajar jajar berjalan di tarik Gavlin.
Gavlin dan Yadi lantas keluar dari dalam rental komputer dan internet, lalu, Gavlin menatap tajam wajah Yadi.
"Dimana mobilmu?!" Bentak Gavlin.
"Ii...itu...di pojok sana...aku pakai pick up kesini." ujar Yadi dengan wajah takutnya.
Gavlin melihat ke arah yang di tunjuk Yadi, lantas, dia segera menarik rambut Yadi lagi, dan membawanya ke mobil pick up yang di tunjuk Yadi.
Saat di dekat mobil pick up, Gavlin mengenali mobil tersebut, karena sama persis dengan yang dia lihat, dalam rekaman cctv rumah sakit.
Ya, mobil itu dipakai membuang Gatot. Gavlin pun menyeringai jahat, dia menatap tajam wajah Yadi yang meringis kesakitan dan takut.
"Dengan mobil ini, kamu dan Moses membuang Gatot!" Hardik Gavlin.
"I...iya...aku meminjam mobil ini, buat ke rental ini." ujar Yadi, dengan penuh ketakutan.
__ADS_1
Gavlin pun geram, dia lantas melepaskan tangannya dari rambut Yadi, tiba tiba, tangan Gavlin bergerak cepat, lalu, tangannya menghantam kuat tengkuk leher dan tenggorokan Yadi.
Dengan seketika, Yadi pun jatuh pingsan, Gavlin dengan cepat menangkap dan memegangi tubuh Yadi yang pingsan itu.
Gavlin sambil memegangi tubuh Yadi yang pingsan, merogoh kantong celananya, Gavlin mengambil kunci mobil dari dalam kantong celana Yadi.
Lalu, dia menggotong tubuh Yadi, dan di lemparkannya tubuh Yadi, kedalam bak belakang mobil pick up.
Kemudian, dengan cepat, Gavlin membuka pintu depan mobil, lalu masuk ke dalam mobil pick up. Lantas, dia menyalakan mesin mobil.
Mobil pun lalu berjalan, pergi dari tempat itu, dan Gavlin sengaja meninggalkan motornya di halaman parkir rental tersebut, karena dia saat ini membawa Yadi menggunakan mobil pick up.
---
Di rumah sakit, di depan kamar ruang ICU, tampak Maya duduk di bangku tunggu. Teguh datang dan menghampiri Maya.
Dengan wajah sedihnya, Maya melihat kedatangan Teguh. Teguh berdiri di depan Maya.
"Bagaimana kondisi Ayahmu, May?" Tanya Teguh dengan wajah prihatin.
"Belum ada perkembangan, Mas. Ayah masih sama kayak kemaren kemaren, koma." ujar Maya dengan wajah sedihnya.
"Kamu yang sabar ya, May. Doakan, agar Ayahmu bisa melalui semua ini, dan dia sehat kembali seperti semula." Ungkap Teguh lirih.
"Iya, Mas Teguh." Jawab Maya getir.
"Bagaimana Mas Teguh, apa orang yang melukai Ayah udah di temukan?!" Tanya Maya lirih dengan wajah sedihnya.
"Kami belum menangkapnya, May." ujar Teguh.
"Tapi, aku udah menemukan lokasi anak buah Moses yang ikut membuang Ayahmu. Dan saat ini, aku sedang mengerahkan timku, untuk menangkap anak buah Moses." Tegas Teguh menjelaskan.
"Mudah mudahan aja, dia tertangkap, Mas." ujar Maya getir.
"Ya, May." Ujar Teguh.
Maya pun lantas terdiam, Teguh melihat, Maya melamun, wajahnya tampak sangat sedih, menyimpan segala perih, luka, dan sakit di hatinya.
Teguh tahu, Maya sangat sedih sekali melihat kondisi Ayahnya, yang belum juga sadarkan diri, Teguh terenyuh, dia iba dan tak tega melihat kesedihan di wajah Maya.
"Aku harap, Gavlin membunuh Moses." ujar Maya lirih.
Tatapan mata Maya kosong, memandang jauh ke depan, Teguh diam, mendengar perkataan Maya tersebut.
Dia pun tahu, kalau saat ini, Gavlin juga sedang memburu anak buah Moses, dan dia yakin, Gavlin akan menemukan anak buah Moses dengan mudah.
---
Mobil Gavlin berhenti di pinggir jalan, lantas dia pun keluar dari dalam mobil, Gavlin berjalan ke belakang mobil. Dia naik ke atas bak belakang mobil pick up.
Gavlin berjongkok dihadapan Yadi, yang terbaring pingsan, dia menampar keras pipi Yadi, agar Yadi tersadar dari pingsannya.
Setelah berkali kali Gavlin menampar pipi Yadi, Yadi pun terbangun, lalu dia membuka matanya, dan dia melihat, Gavlin berjongkok di hadapannya.
"Bangun kamu!" Perintah Gavlin galak.
Dengan cepat, Yadi pun lantas bangun dan duduk di lantai bak mobil. Gavlin menatap tajam wajah Yadi.
__ADS_1
"Benar, di sini alamatnya?" Tanya Gavlin geram.
Yadi mengamati seluruh area itu, lalu, dia menatap wajah Gavlin, tatapan matanya penuh ketakutan pada Gavlin.