VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menemukan Sosok Tubuh di Rawa


__ADS_3

Maya terus menangis, meratapi Gavlin yang tertembak lalu menghilang ke bawa arus sungai, Gatot tak tega melihat Maya menangis, dia mendekati Maya, dan memeluk Maya.


"Sudah, jangan menangis, berdoa aja, semoga Gavlin masih hidup di luar sana." ujar Gatot, dengan lembut penuh kasih sayang.


"Bagaimana kalo Gavlin sudah mati, Yah?" ujar Maya menangis sedih dalam pelukan Gatot.


"Gavlin belum ditemukan sampai saat ini, jadi kita gak bisa mengambil kesimpulan May. Kalo Gavlin sudah mati, setidaknya mayatnya harus ditemukan untuk memastikan kematiannya." jelas Gatot serius.


Gatot lantas melepaskan pelukannya dari tubuh Maya, dia menatap lembut wajah Maya, di hapusnya air mata Maya yang mengalir di pipinya.


"Kamu tenang aja ya, Besok Ayah dan tim akan melanjutkan pencarian Gavlin, nanti kalo ketemu, Ayah kabari kamu." ujar Gatot, dengan serius.


"Iya, Yah." jawab Maya.


Maya pun lantas menghapus air matanya, lalu, dia menarik nafasnya dalam dalam, dia berusaha menenangkan dirinya, agar tak terus resah dan cemas dengan keberadaan Gavlin yang saat ini menghilang.


---


Jack dan Peter menemui Herman dì lokasi persembunyian Herman, wajah mereka berdua tampak tegang dan khawatir.


"Ada apa?" tanya Herman heran.


"Gawat ! Ini Gawat !! Bisa berantakan semuanya!!" ujar Peter, gelisah dan cemas.


"Gawat kenapa?!" hardik Herman heran.


"Gatot dan timnya berhasil meringkus si Jafar ! Dia sekarang ada ditahanan kantor polisi tempat Gatot bertugas !!" jelas Peter.


"Siaal !!" ujar Herman marah.


"Bisa runyam urusannya kalo Jafar sampe buka mulut!" ujar Jack pada Herman.


Herman terdiam, untuk sesaat, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, Peter tampak gelisah dan cemas. Dia takut, Jafar mengoceh dan menceritakan semua urutan kejadian dulu.


"Jika si Gatot memaksa Jafar buka mulut, habislah kita !" ujar Jack.


"Kalian tenang dulu, biarkan aku berfikir, Jafar gak mungkin berani ngoceh, lagi pula, kalo dia ngoceh, kan gak ada buktinya!" jelas Herman.


"Iya juga, benar yang dikatakan Herman." ujar Peter.


"Pet, kamu ada anak buah yang bisa dipercaya?" tanya Herman dengan wajah serius.


"Pasti ada, kenapa rupanya?" tanya Peter.


"Kamu suruh anak buahmu menyusup ke dalam kantor Gatot, menyamar !" ujar Herman serius.


"Terus, apa yang dilakukannya?" tanya Peter.


"Suruh anak buahmu temui Jafar di penjaranya, lalu, bunuh Jafar!" tegas Herman.


"Gila ! Bunuh Jafar di tahanan kantor polisi sama saja bunuh diri!!" tegas Peter.


"Itu bukan solusi , aku gak setuju!" lanjut Peter menolak rencana Herman.


"Loh, kenapa? Kalo Jafar mati, kita kan jadi aman, Jafar gak bisa ngoceh!" jelas Herman, dengan wajahnya yang serius.


"Iya, tapi, kalo kita bunuh Jafar ditahanan kepolisian, Gatot pasti tau, itu perbuatan kita yang sengaja membungkam Jafar!" tegas Peter.


"Terus, gimana caranya mencegah Jafar agar nggak ngoceh dan membongkar rahasia kita semua?!" ujar Herman, dengan wajah kesalnya.


"Masih ada cara lain." ujar Jack.


"Cara apa, dan bagaimana?!" tanya Herman kesal.


"Jafar pastinya akan menjalani proses persidangan, dan dia pasti di pindahkan ke penjara khusus para narapidana kelas kakap!" jelas Jack serius.


"Terus?" tanya Herman.


"Kalo Jafar sudah di pindahkan ke tahanan khusus, baru kita beraksi!" jelas Jack.

__ADS_1


"Maksudmu, bunuh Jafar?" ujar Herman bertanya.


"Iya." ujar Jack serius.


"Dengan cara apa?" tanya Peter, ingin tahu.


"Kita suap salah satu jawara di dalam penjara untuk membunuh Jafar !" tegas Jack.


"Apa gak beresiko ketahuan?" tanya Peter, ragu dan khawatir.


"Gak bakalan ketauan! Kita juga akan kerjasama dengan para petugas keamanan penjara sama sipir penjara !" jelas Jack.


"Nanti dibuat seperti terjadi perkelahian antar sesama narapidana, dan para penjaga keamanan serta sipir karena sudah kita suap, akan membiarkan perkelahian Jafar dan salah seorang jawara ditahanan itu!" lanjut Jack menjelaskan.


"Kalo Jafar mati, pasti matinya akibat perkelahian sesama narapidana, dan gak ada yang tau kalo itu semua rencana kita, gimana?" ujar Jack, serius.


"Aku ragu, lebih baik kita pakai cara seperti dulu." ujar Peter.


"Cara yang mana?" tanya Herman serius.


"Cara yang sama, saat dulu kita bunuh Sanusi, dengan meracuninya dan membuatnya seolah bunuh diri di dalam sel tahanan." jelas Peter.


"Ah, kalo kita melakukan hal yang sama seperti dulu, Gatot pasti langsung tau, itu perbuatan kita! Karena caranya sama kayak Sanusi dulu!" jelas Jack, tak setuju dengan rencana Peter.


"Aku sependapat dengan Jack, itu lebih beresiko, menurutku, ide Jack lebih aman kita lakukan." ujar Herman.


"Ya, sudah, kalo mau pakai caranya Jack, aku gak masalah, yang penting Jafar gak ngoceh dan bongkar rahasia kita didepan persidangan dan di depan Gatot juga Richard !" tegas Peter.


"Ok, karena semuanya sepakat, akan aku jalani segera rencana kita ini, akan ku pilih jawara di rumah tahanan yang mau melakukan permainan kotor kita." ujar Jack, dengan serius.


"Ya." jawab Herman dan Peter.


"Kalo gitu, aku pergi dulu." ujar Jack.


Herman mengangguk, mengiyakan, lantas, Jack pun segera pergi meninggalkan Herman dan Peter.


"Gimana kondisimu?" tanya Peter.


"Baguslah, dengan begitu, kamu bisa bergerak dengan bebas lagi." ujar Peter.


"Iya " Jawab Herman.


---


Hari ini, hari yang penuh kebahagiaan pada diri Richard, dengan tertangkapnya Jafar, pelaku pembunuhan 18 tahun lebih yang lalu, dan juga sebagai tersangka pembunuhan berantai yang baru baru ini terjadi, Richard pun mendapatkan penghargaan, karena berhasil menangkap Jafar hidup hidup.


Bukan hanya penghargaan saja yang didapat Richard, namun, seperti yang dia rencanakan dan impikan, Dia pun diangkat sebagai Kepala Kepolisian tertinggi menggantikan Sutoyo.


Menjadi Kapolri hal yang didambakan Richard, atas semua jerih payah dan rencana liciknya memanfaatkan Gatot serta Gavlin, dia pun berhasil mendapatkan posisi sebagai Kapolri.


Gatot terlihat sinis melihat Richard yang tertawa bangga sambil memegang piagam penghargaan ditangannya, para wartawan dan wartawati yang hadir dalam proses pemberian penghargaan dan pelantikan Richard sebagai kapolri tampak memotret Richard,mereka mengabadikan moment tersebut.


Gatot terlihat benci pada Richard, dia yang susah payah menangkap Jafar, sampai sampai dia harus mengkhianati Gavlin dan mengorbankan Gavlin yang tertembak sama sekali tak mendapatkan penghargaan apapun juga.


Semuanya di ambil Richard, seolah olah, penangkapan Jafar karena ide dan dia yang melaksanakannya serta menangkap Jafar langsung.


Gatot lantas pergi keluar dari dalam ruangan, dengan membawa kekesalan dan rasa marah serta ketidak senangannya pada Richard.


---


Persidangan hari pertama kasus pembunuhan berantai Jafar pun dilaksanakan, tampak Jafar hadir di persidangan dengan di dampingi pengacaranya, sementara, di sisi lain, para Jaksa penuntut tengah menyampaikan segala macam bukti yang mereka dapatkan saat Jafar membunuh para korban korbannya.


Jafar duduk dengan tenang, dia terlihat cuek dan santai, menghadapi persidangannya, dia yakin, dirinya akan dinyatakan tak bersalah, dia yakin, kalau Herman dan komplotannya sudah menyogok hakim seperti dulu yang pernah mereka lakukan, karena itu, Jafar tak takut menghadapi tuntutan Jaksa yang meminta hukuman mati untuk kasusnya.


Tak ada Gatot dalam ruang persidangan, Gatot tidak hadir, karena dia masih sibuk mencari tubuh Gavlin yang menghilang dan belum juga ditemukan sampai saat ini.


Seluruh aliran sungai disusuri dan di cari tim penyidik kepolisian bersama Gatot, namun mereka tidak juga menemukan tubuh Gavlin, jejaknya pun tak ditemukan.


Gatot bersama tim pulang dengan membawa hasil nol, dan kekecewaan yang mendalam, karena pekerjaan mereka mencari Gavlin tidak menemukan titik terang.

__ADS_1


---


Di suatu tempat, di pinggir sungai, tampak Pria tua sedang memancing, dia merasa mata kailnya mengenai ikan yang memakan umpannya.


Pria tua itu pun senang, dengan cepat, dia menarik kailnya, di putarnya rol pancingnya, dia berharap ikan yang dipancingnya adalah ikan yang besar.


Pria tua tampak kesusahan memutar rol pancingnya karena terasa berat, dengan berdiri dan sekuat tenaga dia menarik dan menghentakkan tongkat pancingnya.


Pria tua kaget, karena dia melihat, dimata kail pancingnya hanya ada sampah sampah yang banyak saja terbungkus dalam satu jaring, dia pun lemas dan kecewa, karena gagal mendapatkan ikan.


Seorang gadis muda berjalan di pinggiran sungai, dia membawa rantang berisi makanan, gadis itu berjalan ke arah pria tua yang sedang berdiri di pinggir sungai sambil merapikan tongkat pancingnya.


Tiba tiba kaki gadis muda terpeleset, dia limbung, lalu terjatuh ke rawa rawa yang ada di sebelah kanan sungai, rantang makanan pun tumpah, Pria tua kaget melihat gadis itu yang terjatuh.


"Indriii !!" teriak Pria tua.


Dia pun lari dengan wajah cemas menghampiri gadis muda yang bernama Indri itu, tiba tiba, terdengar suara teriakan Indri.


"Aaaarrrrgggghhhb !!" Indri teriak sekeras kerasnya.


Pria tua, kita sebut saja namanya Sarono, dengan wajah khawatir bergegas menghampiri Indri, yang ternyata anak gadisnya.


"Kamu kenapa?" tanya Sarono cemas.


Dia membantu Indri berdiri, badannya penuh lumpur, wajah Indri tampak ketakutan, dia menunjuk ke suatu tempat di dalam rawa tempatnya terjatuh tadi.


"A...Ad...Ada...Mayat Pak." ujar Indri, gugup dan takut.


"Mayaaat?!! Dimana ?!" tanya Sarono kaget dan cemas.


Indri menunjuk ke sosok tubuh yang berposisi tengkurap di rawa rawa, Sarono melihat ke arah yang ditunjuk Indri.


Dia terhenyak kaget, saat melihat sosok tubuh seorang pria, lalu, dengan hati hati dan memberanikan dirinya, dia berjongkok dan mendekati sosok tubuh yang tengkurap di rawa rawa.


Dengan hati hati, Sarono mengangkat dan membalik sosok tubuh itu, lalu, direbahkannya tubuh sosok pria itu di atas tanah jalan setapak. Indri berdiri diam gemetar ketakutan.


Sarono memeriksa denyut nadi dan detak jantung Pria tersebut, dan dia juga mendekatkan wajahnya ke hidung Pria, merasakan nafas dari hidung si Pria.


Sarono melihat tubuh Pria itu terluka kena tembakan, dia pun terus memeriksa denyut nadi Sang Pria.


"Dia masih hidup!" ujar Sarono kaget.


Sarono lantas mengambil dompet sang Pria dari kantong celananya, dia melihat KTP si Pria, yang bernama Gavlin.


Ternyata, Pria yang ditemukan Indri dan Sarono adalah Gavlin, dia terbawa arus sungai dan bisa menyelamatkan dirinya, namun karena tak kuat dam tubuhnya sangat lemah dan tertembak, dia pun jatuh pingsan di rawa rawa saat dia keluar dari dalam sungai dan hendak berjalan saat itu.


"Cepat bantu Bapak, kita harus bawa dan mengobatinya!" ujar Sarono pada Indri.


"I...Iya...Pak." ujar Indri, dengan wajah yang gugup dan masih takut.


Lalu, Sarono pun berusaha mengangkat tubuh Gavlin, dia tampak kesulitan mengangkat tubuh Gavlin, Indri pun membantunya.


Lalu, dengan sekuat tenaganya, Sarono mencoba menggendong Gavlin di belakangnya, Indri membantunya dengan menahan badan Gavlin, agar bisa di gendong Sarono.


Setelah Gavlin berhasil digendongnya, Sarono pun lantas cepat membawa pergi Gavlin, Indri mengambil rantang makanannya yang terjatuh, lalu, dia pun bergegas pergi mengikuti Bapaknya yang sudah berjalan pergi membawa Gavlin.


Mereka tiba dirumahnya, rumah itu sangat sederhana sekali, bangunannya hanya terbuat dari kayu kayu dan sudah terlihat usang dan lapuk.


Sarono meletakkan tubuh Gavlin di lantai rumah kayunya, Dia lantas melihat Indri yang diam berdiri di dekatnya memperhatikan Gavlin yang pingsan.


"Cepat kamu ambilkan kain lap dan air serta Semua obat obatan Bapak." ujar Sarono pada Indri.


"Iya, Pak." jawab Indri.


Indri lantas berlari masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil obat obatan dan juga air serta kain lap untuk membersihkan diri Gavlin yang berlumpur dan terluka.


Sarono membuka kancing baju Gavlin dengan perlahan, dia melihat, banyak lubang di badan Gavlin akibat tertembak peluru.


"Banyak sekali pelurunya, kenapa kamu? Apa yang sudah terjadi denganmu, sehingga luka parah begini?" ujar Sarono menatap wajah Gavlin yang pingsan.

__ADS_1


Sarono merasa iba dan juga prihatin melihat kondisi Gavlin yang pingsan dan penuh dengan luka tembak di badannya.


Sarono merasa kasihan melihat keadaan Gavlin yang sangat lemah dan tak berdaya itu. Diperhatikannya wajah Gavlin dengan seksama. Ada rasa penasaran dihatinya, dia ingin tahu, siapa Gavlin dan mengapa sampai tertembak banyak begitu.


__ADS_2