VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Lupakan Aku, Hilangkan Segala Kenangan Tentangku


__ADS_3

Indri terlihat tidak focus dengan acara pameran desainernya, kedua matanya terus menyusuri setiap sudut ruang, dia mencari cari sosok Gavlin, namun, Gavlin tak terlihat dalam ruangan tersebut.


Dengan wajah sedihnya karena Gavlin tak menemuinya dengan sosok aslinya, Indri hendak berjalan untuk mencari dan mengejar Gavlin yang di duganya sudah keluar dan pergi dari ruang pameran tersebut.


"Kamu mau kemana, In? Acaranya belum selesai, kenapa mau kamu tinggal pergi, ada apa?!" ujar Rifai, Pria bertubuh kekar yang selalu menemani Indri bertanya pada Indri.


"Gavlin, Fai. Dia tadi datang ke sini." ujar Indri menatap sedih wajah Rifai yang memegang tangannya.


"Gavlin yang pernah kamu ceritain padaku? Dia ada dan datang ke sini?!" tanya Rifai, menatap tajam wajah Indri.


"Iya. Dia datang, tapi dia menemuiku dengan menyamar menjadi orang lain. Aku bingung dan heran, kenapa dia harus menyamar untuk bertemu aku?!" ujar Indri sedih.


"Sudah lama sekali aku menanti kedatangan Gavlin, aku rindu dia, aku gak pernah mau berfikir Gavlin sudah mati, aku yakin dia masih hidup, karena itu aku masih menunggunya sampai sekarang!" ujar Indri menegaskan pada Rifai.


"Aku baru percaya kalo Gavlin sudah mati jika aku langsung melihat mayatnya. Tapi, nuraniku mengatakan dia masih hidup, dan ternyata benar, dia masih hidup dan datang menemuiku." tegas Indri.


"Gavlin menepati janjinya, dia mencariku, lalu berhasil menemukanku, tapi, yang aku gak habis pikir, mengapa Gavlin harus menyamar untuk ketemu aku, ada apa dengan Gavlin, Fai?" ujar Indri , lirih dan getir bertanya pada Rifai.


"Entahlah, mungkin ada sesuatu hal yang membuat Gavlin terpaksa menemui kamu dengan menyamar." ujar Rifai, menatap wajah sedih Indri yang berdiri di hadapannya itu.


"Sudahlah, In. Jangan kamu pikirkan dulu soal Gavlin, sekarang, kamu harus focus dengan acaramu ini, nanti, setelah selesai, kamu bisa memikirkan soal Gavlin lagi." ucap Rifai, memberi nasehat pada Indri yang tampak bersedih hati itu.


"Ya, Fai." ujar Indri, mengangguk pada Rifai.


Lalu Indri berdiri diam, dia lantas melihat amplop surat yang ada ditangannya, dia penasaran dengan isi surat dari Gavlin tersebut, namun, tak mungkin dia membacanya sekarang, karena acaranya masih berlangsung.


Indri lantas menarik nafasnya dalam dalam, dia menenangkan dirinya agar tak bersedih hati mengingat Gavlin. Amplop surat dimasukkannya ke dalam tas kecilnya.


Kemudian, Indri berjalan dengan di temani Rifai, teman Prianya, untuk bergabung dengan para tamu tamu yang sedang melihat pakaian pakaian yang di buat Indri dan sedang di pajang itu.


---


Di dalam sebuah ruangan, di rumah pemberian Aamauri, terlihat Gavlin sudah selesai merakit bom, Malik menatapnya serius.


"Dari mana kamu bisa membuat bom, Vlin? Aku baru tau, kalo kamu sangat ahli membuat bom itu." ujar Malik , menatap tajam wajah Gavlin .


"Aku belajar dari ketua Mafia di negaraku, pak Wicak namanya, beliau menjadi Bapak angkatku, Beliau lah yang mengajarkan aku membuat bom serta melatihku ilmu bela diri yang dia kuasai." ujar Gavlin menjelaskan pada Malik.


"Oh, begitu. Pantas aku baru tau, soalnya, selama kamu menjadi anggota gank mafia 'Seira Costa'dulu, setau aku, kamu gak bisa merakit bom." ujar Malik, menatap tajam wajah Gavlin.


"Ya. Kamu benar, Lik." ujar Gavlin.


"Ajarkan aku juga cara merakit bom, Vlin." ujar Malik, menatap serius wajah Gavlin.


"Buat apa?" tanya Gavlin, menatap heran wajah Malik yang berdiri dihadapannya.


"Ya, aku ingin bisa aja membuat bom seperti kamu, setidaknya, aku bisa tau, bagaimana cara mengaktifkan bom itu dan mematikannya, agar tak meledak." ujar Malik, memberi tahu alasannya pada Gavlin.


"Kalo cuma mau tau tentang itu, sini, aku ajari dan kasih tau caranya." ujar Gavlin.

__ADS_1


"Yang benar, Vlin?" tanya Malik, menatap wajah Gavlin dengan serius.


"Iya, Aku serius.Sini aku kasih tau." ujar Gavlin, menatap serius wajah Malik yang berdiri dihadapannya itu.


Malik seakan tak percaya Gavlin mau memberi tahu dia bagaimana cara mengaktifkan dan mematikan bom rakitan yang di buat Gavlin itu. Malik terlihat sangat senang sekali.


Gavlin lantas memberi tahu pada Malik, bagaimana bom rakitan itu bisa aktif, Gavlin menunjukkan sebuah remote kecil ditangannya, sebagai control pengaktif bom.


Dan Gavlin juga memberi tahu Malik, bagaimana menghentikan dan mematikan bom tersebut jika tak mempunyai remote controlnya.


Gavlin menunjuk tiga jaringan kabel yang melingkar lingkar di dalam bom, dan menunjuk kabel kabel mana saja yang harus di potong.


Malik tampak sangat serius mendengar dan memperhatikan setiap penjelasan Gavlin tentang bom yang dibuatnya itu.


"Gimana? Sebenarnya gampang kan?" ujar Gavlin, tersenyum senang menatap wajah Malik yang masih mengamati bom rakitan yang di buat Gavlin.


"Ya, gampang karena udah tau. Coba kalo sama sekali gak tau dan gak paham tentang bom, bisa bisa langsung meledak bom nya sebelum bisa dihentikan." ujar Malik, menatap serius wajah Gavlin.


"Sekarang kan kamu udah tau, kebanyakan bom, semuanya bersumber dari kabel kabelnya, jadi, jika suatu saat kamu mendapatkan bom, kamu dengan mudah bisa menjinakkannya, karena sudah tau caranya." ujar Gavlin, menjelaskan pada Malik.


"Iya, Vlin." Angguk Malik, tersenyum senang menatap wajah Gavlin.


Gavlin lalu, menyimpan bom rakitannya itu ke dalam sebuah tas koper, setelahnya, Gavlin menutup dan mengunci koper tersebut. Malik melihat koper berisi bom rakitan yang ada di atas meja itu.


"Apa kamu akan membawa bawa bom itu kemana pun kamu pergi, Vlin?" tanya Malik, menatap tajam wajah Gavlin.


"Nggak, Lik. Akan aku simpan dulu, nanti, setelah Binsar berhasil aku tangkap dan di bawa kemarkas gank kita, baru aku keluarkan bom ini." ujar Gavlin serius.


"Oh, begitu." ujar Malik, mengangguk mengerti dan paham.


Malik lantas berdiri diam, dia melirik pada koper yang berisi bom rakitan, terlihat raut wajah Malik tengah memikirkan sesuatu hal, seperti sedang merencanakan sesuatu yang penting.


Gavlin cuek, dia tak memperhatikan Malik, Gavlin lantas membawa koper berisi bom ke kamarnya. Malik masih diam saja memikirkan sesuatu hal.


Di kamar, Gavlin segera menyimpan koper berisi bom rakitannya di dalam lemari pakaian, lalu, dia mengunci pintu lemari pakaian dan menyimpan kuncinya di dalam kantong celananya.


---


Malam harinya, di kamar hotel tempat Indri menginap, di hotel yang sama tempat Gavlin menginap juga sebelumnya, terlihat Indri duduk di tepi ranjangnya, dia sendirian di dalam kamar, tak ada Rifai menemaninya, sebab, Rifai tidur di kamar hotelnya sendiri, yang berada di samping kamar Indri.


Di tangannya, Indri masih memegangi amplop surat dari Gavlin, Dia terlihat mengamati amplop tersebut. Raut wajahnya terlihat sedikit ragu untuk membuka amplop tersebut.


"Vlin, apa yang kamu sampaikan dalam suratmu ini?" Gumam Indri, lirih.


"Mengapa kamu gak langsung bicara saja padaku, Vlin? Mengapa harus mengirim surat padaku , lalu kamu pergi menghilang?!" Ujar Indri, menangis sedih.


Indri tak kuasa menahan kerinduan dan kesedihannya pada Gavlin, dia pun lantas menangis, menumpahkan segala perasaan sedihnya.


Indri merasa menyesal, karena saat Gavlin menemuinya dengan menyamar, dia tak bisa mengenali sosok Gavlin yang menyamar, dan tak bisa menandai suara Gavlin.

__ADS_1


Walau dia sempat kaget saat melihat sorot mata Gavlin dan berfikir bahwa orang yang berpenampilan gemuk adalah Gavlin, tapi dia malah mengingkari hati kecilnya.


"Maafkan Aku, Vlin. Aku gak bisa mengenalimu, walau aku tau sorot mata itu milikmu, tapi, aku mengingkarinya, aku menyesalinya." ujar Indri menangis sedih.


Indri lalu menghela nafasnya, berusaha menenangkan dirinya dan agar tak terus menangis sedih, dia lantas menghapus air matanya yang telah membasahi wajah cantiknya itu.


Perlahan lahan, dengan tangannya, Indri menyobek pinggiran amplop surat dari Gavlin, Indri ingin mengetahui isi surat yang diberikan Gavlin kepadanya.


Sesaat kemudian, amplop surat sudah tersobek dan terbuka lebar, perlahan lahan, dengan tangan yang gemetar kecil, Indri mengambil lembaran kertas surat dari dalam amplop yang sudah di sobeknya.


Indri kemudian membuka lipatan kertas surat , lalu dia memegang erat lembar kertas surat, dan mulai membaca tulisan tangan Gavlin dalam kertas surat tersebut.


"Hai, In. Apa kabarmu? Aku senang melihatmu sehat sehat saja, dan semakin cantik." Indri membaca tulisan Gavlin pada suratnya.


"In, aku sangat bahagia melihatmu telah berhasil mewujudkan cita citamu selama ini menjadi desainer hebat dan terkenal. Dan kamu sangat sukses sekarang , aku bangga padamu, In." Tulis Gavlin dalam suratnya yang di baca Indri saat ini.


"In. Aku datang kerumahmu untuk bertemu kamu, tapi yang ku temukan cuma sepucuk suratmu saja. Dan dari suratmu aku tau, kalo kamu dan Bapakmu pergi ke luar negeri, tepatnya ke Prancis." ujar Gavlin dalam tulisannya di surat.


"Kebetulan, Aku ada kerjaan sedikit di kota Paris ini, masih berhubungan dengan balas dendamku , karena belum selesai hanya tinggal memburu satu orang saja." ungkap Gavlin dalam suratnya.


"Tanpa sengaja, aku melihatmu saat keluar dari lift lobby hotel, aku langsung mengenali dirimu, In. Karena wangi parfum kamu, aku gak pernah melupakan aroma wangi parfum kamu yang sangat aku sukai, karena jenis parfum yang kamu pakai hanya ada di negara kita, dan gak akan ada wanita di negara ini yang memakai parfum seperti milikmu itu. Terima kasih, ya. Kerena kamu sampai saat ini tetap memakai parfum yang aku sukai dan senangi." ungkap Gavlin dalam isi suratnya.


Indri tersenyum getir membaca tulisan Gavlin tersebut, dia senang, Gavlin masih ingat dengan aroma parfumnya.


"Sampai kapanpun, demi kamu Vlin, aku akan tetap memakai parfum yang sama." Gumam Indri, sambil meneteskan air matanya.


Indri lantas melihat ke lembar kertas surat yang di pegangnya, Dia lalu melanjutkan kembali membaca surat dari Gavlin itu.


"In. Aku berharap, jika kita bertemu, aku bisa mengungkapkan segala perasaan cintaku padamu, dan seperti janjiku dulu, aku akan datang menemui kamu untuk melamar kamu menjadi istriku." tulis Gavlin dalam suratnya.


"Namun, keinginan dan semua harapan aku untuk menikahimu seketika sirna, hancur dan lenyap serta musnah. Karena ternyata, kamu sudah punya Pria laìn yang aku liat di hotel selalu bersamamu dan mendampingi kemana pun kamu pergi." ungkap Gavlin dalam suratnya.


"In. Aku gak marah, walau aku sempat sedikit kecewa, tapi, aku mencoba untuk menerima kenyataan, memang, aku yang salah, terlalu lama menghilang darimu, sehingga kamu mungkin menganggapku telah mati." ungkap Gavlin, dalam suratnya.


"Nggak Vlin, kamu salah paham, kamu salah paham." ucap Indri menangis.


Tangan Indri gemetaran memegang lembar kertas surat Gavlin tersebut. Dia menangis sedih membaca tulisan Gavlin.


"In, Aku bahagia, melihat kamu bersama Pria itu, aku liat, dia Cocok untukmu, dan sepertinya, dia Pria yang baik serta bertanggung jawab menjaga dan melindungimu." tulis Gavlin dalam suratnya.


"In, berbahagialah bersama Pria pilihanmu itu, setelah kamu membaca surat ini, kita gak akan pernah bertemu lagi, karena aku aku akan menghilang selamanya dari dunia ini." ujar Gavlin dalam suratnya.


"Lupakanlah aku, hilangkan segala kenangan tentangku, jalani hidupmu bersama Pria itu dan berbahagialah bersamanya, In." ungkap Gavlin dalam tulisannya di surat.


"Selamat tinggal, In. Aku mencintaimu selamanya, dan Aku pamit padamu, dariku Gavlin." ungkap Gavlin, mengakhiri tulisannya.


"Tidaakkk....Tidaaak Vliiin...Kamu udah salah paham, kamu salah pahaam...!!" ujar Indri, menangis sejadi jadinya.


"Jangan pergi Vlin, jangan pergiii!! Kembalilah, temui aku !! Aku sudah menunggumu terlalu lamaa!! Mengapa kamu pergi dan gak menemuiku, kenapa Vliiin!!" Ujar Indri, berteriak dalam tangisnya.

__ADS_1


Suara tangis Indri bergema di dalam kamarnya, karena hanya dia sendiri yang ada di dalam kamarnya tersebut.


Indri terus saja menangis sejadi jadinya di dalam kamarnya, dia menangisi Gavlin yang sudah salah paham kepada dirinya.


__ADS_2