VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Masuk Perangkap


__ADS_3

Teguh mengendarai mobilnya di jalan raya, dari kaca spion dalam mobilnya, dia melihat ke arah belakang mobilnya, terlihat mobil Gunadi tengah mengikutinya dari belakang.


Teguh tahu, kalau dia sedang di ikuti Gunadi. Teguh pun semakin yakin, bahwa memang Gunadi dan Rasid sengaja diperintahkan Sutoyo untuk memata matai dia dan Gatot.


Dari dalam mobilnya, Teguh tersenyum sinis, dia melirik dari kaca spion dalam mobilnya, di belakang, tidak jauh dari posisi mobilnya yang berjalan, mobil Gunadi terus mengikutinya.


Teguh mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, sambil terus menyetir, dia pun menghubungi Gavlin.


"Yan ! Kita tunda ketemuannya ya, aku di ikuti Gunadi, kalo aku datang juga, dia pasti tau, dimana kamu sembunyi selama ini!" ujar Teguh, dari teleponnya.


"Nanti aku kabari lagi, Yan!" lanjutnya, di telepon.


Lalu, Teguh menutup teleponnya, lalu, dia terus menyetir mobilnya. Mobil teguh melaju cepat di jalanan, Mobil Gunadi masih mengikutinya di belakang.


Teguh tersenyum sinis di dalam mobilnya, tiba tiba, dia membanting stir, berbelok ke arah kiri, di pertigaan jalan.


Gunadi dari dalam mobil kaget melihat Teguh tiba tiba berbelok, dan dia tak menyangka, jika Teguh akan berbelok, mobilnya sudah berjalan lurus, dia ke bablasan.


"Ah, Siaal !!" Ujar Gunadi, kesal, sambil memukul stir mobilnya.


Gunadi pun melanjutkan perjalanannya, wajahnya tampak kesal, dengan cepat, Gunadi pun berputar balik, di putaran yang ada di jalanan itu.


Lalu, dengan kecepatan tinggi, Gunadi pun mengejar Teguh kembali.


Di dalam mobilnya, Teguh tampak tertawa senang, karena dia berhasil menghindar dari Gunadi.


Di mobilnya, Gunadi semakin kesal dan marah, karena dia sudah benar benar kehilangan jejak mobil Teguh.


"Sialan teguh!! Kayaknya dia tau, kalo aku ngikuti dia !!" Ujarnya geram.


Dia pun lantas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ngebut, melampiaskan kekesalannya pada Teguh.


Teguh menepikan mobilnya di pinggir jalan, karena ponselnya berbunyi. Teguh mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.


"Hallo, Pak!" ujar Teguh, menjawab telepon.


"Kamu kerumahku sekarang, ajak Gavlin juga, ada yang mau ku bahas sama kalian berdua!" ujar Gatot, dari seberang telepon.


"Baik, Pak!" Jawab Teguh.


Telepon lantas dimatikan Gatot, Teguh pun lalu menghubungi Gavlin.


"Hallo, Yan ! Kamu bisa ke rumah Pak Gatot sekarang juga? Dia mau ketemu sama kita berdua, ada yang mau dia bahas katanya!" jelas Teguh, di telepon, dengan wajah serius.


"Baik, Bang Bro ! Aku meluncur sekarang!" Jawab Gavlin, dari seberang telepon.


"Ok, kita ketemu di rumah pak Gatot!" Tegas Teguh, di telepon.


Lantas, dia pun segera menutup teleponnya, ponsel disimpannya kembali ke dalam kantong celananya. Lantas , dia pun melanjutkan perjalanannya kembali.


Gunadi masuk ke dalam ruang kerjanya, Rasid tampak sedang duduk bersantai di kursi meja kerjanya. Tak ada yang dikerjakan Rasid, setiap hari dia hanya duduk duduk santai saja diruangannya.


"Kurang ajar si Teguh!!" Ujar Gunadi marah.


Dia menghempaskan tubuhnya, duduk di kursi meja kerjanya, disamping Rasid. Rasid tampak heran, melihat wajah Gunadi kesal.


"Kenapa? Kamu habis ribut sama si Teguh?" Tanya Rasid, penasaran.


"Bukan ! Aku tadi sengaja ngikuti Teguh, karena aku dengar, dia bicara ditelpon, dan janjian mau ketemu sama si Gavlin!" jelas Gunadi.


"Aku ikuti Teguh, biar aku tau, dimana si Gavlin selama ini bersembunyi!" tegas Gunadi kesal, menjelaskan.


"Eh, Kayaknya si Teguh tau, kalo aku ikuti, dia tiba tiba belok ke arah lain, aku gak nyangka dia belok, terus, aku kebablasan! Dia lolos!!" Ujar Gunadi geram dan marah.


"Susah susah amat, kalo mau tau dimana Gavlin, tinggal tangkap aja Teguh, bawa ke tempat sepi, ancam dia ! Minta agar dia kasih tau lokasi si Gavlin!" Ujar Rasid cuek.


"Kalo Teguh tetap tutup mulut, tinggal bungkam aja dia!" Jelas Rasid, dengan santai dan cueknya.


"Gak bisa gitu, kalo aku main cara yang kayak kamu bilang, Gatot pasti curiga !" Tegas Gunadi.


"Serahkan semuanya padaku, biar aku yang urus Teguh, kamu ikuti aja aku!" tegas Rasid, dengan wajah serius.


"Ok." Jawab Gunadi.


Rasid, tersenyum sinis, ada sesuatu yang sedang bermain main di benaknya saat ini, Gunadi diam, dia tampak menahan amarahnya pada Teguh.


---


Mobil Teguh masuk ke pekarangan halaman rumah Gatot, dia lantas segera keluar dari dalam mobilnya.


Dengan langkah cepat, dia pun segera masuk ke dalam rumah Gatot. Di ruang tamunya, Gatot sudah menunggunya.


Gatot berdiri dan menghampiri Teguh yang masuk ke dalam rumahnya.


"Masuk, Guh ! Duduk sini." ujar Gatot.

__ADS_1


"Iya, Pak ." Ujar Teguh.


Lantas Teguh berjalan dan duduk di sofa ruang tamu, Gatot juga ikut duduk di sofa, yang ada di hadapan Teguh.


"Gavlin mana?" tanya Gatot.


"Mungkin lagi di jalan, Pak." ujar Teguh.


"Oh, Ku kira kamu lagi sama Gavlin tadi." Ujar Gatot.


"Rencananya memang tadinya saya mau ketemu Gavlin, mau bahas dan kasih tau, lokasi persembunyian Bram dan Jafar, tapi saya tunda!" tegas Teguh, menjelaskan.


"Kenapa?" Tanya Gatot heran.


"Saya di ikuti Gunadi, Pak. Kayaknya dia mau tau, tempat persembunyian Gavlin, atau Yanto!" Jelas Teguh.


"Karena tau, saya di ikuti, saya pun menghindar dari Gunadi, dan saya berhasil lolos dari kejarannya." Ujar Teguh, menjelaskan dengan serius.


"Kampret si Gunadi ! Dia benar benar kecoa busuk!! Kacung Sutoyo!! Kita harus berhati hati sama Gunadi dan Rasid!!" Tegas Gatot geram.


"Iya, Pak. " Ujar Teguh.


Terdengar suara ketukan di pintu, Gatot dan Teguh melihat, Gavlin berdiri di depan pintu rumah Gatot.


"Masuk sini, Vlin." Ujar Gatot, ramah.


Gavlin pun lantas masuk ke dalam ruang tamu rumah Gatot, dia bersalaman dengan Gatot.


"Duduk, Vlin." Ujar Gatot.


"Terima kasih, Om." Jawab Gavlin.


Gavlin lantas duduk, di sofa, disamping Teguh.


"Kata bang Teguh, ada yang mau Om bahas?" Tanya Gavlin.


"Iya, soal Bram, Jafar, dan juga Sutoyo!" tegas Gatot dengan wajah serius.


"Aku hanya ingin, kita bertiga menyusun strategi buat menjebak dan menangkap Bram, Jafar dan juga Sutoyo!" Jelas Gatot.


"Mereka itu orang orang licik, jangan sampe kita lengah, dan mereka bisa membalikkan keadaan dan memutar balik fakta, lalu menjebak kita!" Ujar Gatot, dengan wajah serius.


"Saya mengatakan ini, agar kamu, Vlin. Gak masuk perangkap Sutoyo nanti, saat kamu mau balas dendam padanya!" Ungkap Gatot, dengan serius.


"Iya, Om." ujar Gavlin, mengangguk paham.


Wajah Gavlin tampak serius mendengarkan semua penjelasan dari Gatot, begitu juga dengan Teguh. Mereka benar benar menyimak setiap penjelasan Gatot yang disampaikan pada mereka berdua.


Dengan wajahnya yang serius, Gatot pun menjelaskan semua strategi, siasat, dan cara untuk menangkap Sutoyo dan komplotannya.


---


Ke esokan harinya, tampak Teguh sedang duduk di kursi meja kerjanya, dia sedang mempelajari berkas kasus kematian Wijaya dan juga Joko Sambodo.


Rasid datang dan menghampiri Teguh, melihat kedatangan Rasid, Teguh lantas menutup berkas perkara kasus pembunuhan yang tengah dia selidiki bersama Gatot.


"Mau apa kamu?!" tanya Teguh, dengan wajah penuh curiga.


"Tenang aja, Guh! Aku cuma mau kasih laporan aja sama kamu soal Jafar!" jelas Rasid, santai dan cuek.


"Laporan apa?!" tanya Teguh, heran.


"Aku menemukan lokasi persembunyian Jafar lainnya, dia udah pindah dari lokasi sebelumnya!" tegas Rasid, dengan wajah serius.


"Dari mana kamu tau?" Tanya Teguh, masih belum percaya.


"Aku melacak nomor teleponnya, terakhir kali, dua jam yang lalu, teleponnya aktif, dan dia sedang ada di lokasinya yang sekarang, bertemu Bramantio!" Jelas Rasid, menegaskan.


"Bramantio? Dia sedang bersama Bram?!" Ujar Teguh, menatap tajam wajah rasid.


Teguh melihat, wajah Rasid tampak serius, dan bersungguh sungguh, akhirnya, Teguh pun percaya dengan omongan Rasid.


"Kalo kita sekarang kesana, aku yakin, Kita bisa meringkus Jafar dan Bram !" tegas Rasid dengan bersungguh sungguh.


"Ok, kita kesana!" ujar Teguh.


Teguh lantas berdiri dari duduknya di kursi meja kerjanya, dia meletakkan map berisi berkas kasus Wijaya dan Joko Sambodo di meja kerja Gatot.


Rasid sudah berjalan lebih dulu, dan dia sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.


Teguh mengambil secarik kertas dan pulpen yang ada di meja Gatot.


Dia lantas menuliskan sebuah pesan pada secarik kertas tersebut, lalu, di tempelkannya secarik kertas itu, di meja kerja Gatot.


Teguh pun lantas segera pergi keluar ruangan untuk menyusul Rasid yang sudah berjalan keluar kantor.

__ADS_1


Di luar kantor, Teguh menghampiri Rasid yang berdiri di anak tangga halaman kantor mereka.


"Ayo!" Ajak Teguh terburu buru.


Rasid mengangguk, dia pun lantas mengikuti Teguh yang berjalan tergesa gesa di depannya, wajah Rasid tersenyum sinis, ada sesuatu yang sedang dia rencanakan bersama Gunadi saat ini.


Teguh masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Rasid, dia masuk ke dalam mobilnya. Lalu, mobil Rasid pun berjalan duluan, kemudian, di belakangnya, mobil Teguh berjalan mengikuti mobil Rasid.


---


Setengah jam setelah kepergian Teguh, Gatot datang ke kantornya, dia lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya. Saat dia mau duduk, dia melihat catatan pesan di secarik kertas yang menempel pada meja kerjanya.


Dengan kernyitkan kening dan wajah heran, Gatot mengambil secarik kertas tersebut, lalu, dia pun membaca tulisan berisi pesan dari Teguh.


"Maaf, Pak. Saya pergi sama Rasid ke lokasi persembunyian Jafar sekarang, Jafar sedang bersama Bram kata Rasid . Teguh.


Begitu tulis Teguh pada secarik kertas tersebut. Gatot diam, dia tampak sedang berfikir. Gatot menyimpan catatan pesan Teguh di kantong celananya.


Gatot lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya dia mau menghubungi Teguh.


Tak ada nada panggil dari ponsel Teguh, ponselnya tak aktif, dan tak dapat di hubungi.


Gatot pun kesal, dia merasa, ada hal yang aneh, dari isi pesan Teguh yang di bacanya, Gatot pun berfikir.


"Mana mungkin Rasid dengan mudahnya ngasih tau persembunyian Jafar dan Bram, kalo dia memang tau dimana mereka!" tegas Gatot.


"Rasid itu kacung sutoyo, otomatis, dia juga komplotannya Bram dan Jafar, juga Sutoyo!" Lanjutnya, berfikir, mengambil kesimpulan.


"Ada yang aneh, kenapa Rasid membodohi Teguh, apa tujuannya pada Teguh?!" Pikir Gatot.


Gatot lantas mengambil ponselnya kembali, lalu, dari ponselnya, dia tampak mengirimkan nomor telepon Gunadi dan juga Rasid pada salah seorang anak buahnya di kepolisian.


Setelah itu, Gatot pun menghubungi anak buahnya.


"Kamu lacak ke dua nomor yang barusan saya kasih, kabari saya, dimana lokasinya!" tegas Gatot, di telepon.


Lalu, dia pun menutup telepon, dan menyimpan ponselnya di dalam kantong celananya. Kemudian, Gatot pun bergegas pergi dari ruang kerjanya.


---


Di sebuah gudang tua yang sudah tak terpakai, Rasid dan Teguh tiba, mereka berdua lantas segera keluar dari dalam mobilnya.


"Di sini tempatnya?" tanya Teguh serius.


"Iya. Kita harus hati hati, jangan sampai ketauan Jafar dan Bram! Sebaiknya, matikan ponselmu, agar gak berbunyi pas kita menyergap Jafar dan Bram!" Ujar Rasid.


"Hapeku udah ku matikan dari tadi." Jelas Teguh.


Rasid pun lantas berjalan santai, sementara, Teguh pun mencabut pistol dari sarungnya yang terpasang di pinggangnya.


Sambil memegang pistolnya, Teguh pun berjalan mengikuti Rasid yang berjalan ke arah gudang tua tersebut.


Di depan pintu masuk, Rasid tampak berpura pura memberi aba aba, Teguh pun paham maksud aba aba Rasid. Lantas, Teguh pun menendang keras pintu gudang tua tersebut.


Setelah pintu terbuka lebar, dengan cepat, Teguh masuk ke dalam ruangan gudang tua tak terpakai tersebut sambil mengacungkan pistol di tangannya.


Namun, tak ada satu orang pun di dalam ruangan tersebut, Teguh pun heran, saat dia menoleh ke arah Rasid, dan mau bertanya, sebuah balok kayu menghantam kepalanya.


Teguh pun seketika terjerembab jatuh ke lantai, darah mengalir di kepalanya, bekas hantaman balok kayu. pistol terlepas dari tangannya, dan jatuh ke lantai.


Di hadapannya, tampak Gunadi berdiri menyeringai jahat sambil memegang balok kayu di tangannya. Rasid mendekati, dia mengambil pistol Teguh di lantai, lalu, dia pun berdiri di samping Gunadi.


"Kerja bagus!" ujar Gunadi.


"Apa aku bilang, Teguh pasti mudah di akalin, dia percaya aja sama perkataanku!" jelas Rasid, tertawa senang.


"Sekarang, mau kita apakan dia?" Tanya Gunadi.


"Apa lagi, ikat, dan sadarkan dia, terus, tanyain dimana Gavlin berada, lalu habisi dia !!" Ujar Rasid dengan licik dan jahatnya.


Gunadi pun tersenyum sinis menatap tubuh Teguh yang terkapar di lantai ruangan gudang tua.


Karena lengah, dan telah di perdaya Rasid, akhirnya Teguh pun harus menerima akibatnya. Dia menjadi korban kelicikan Rasid dan Gunadi.


Mereka berdua memang merencanakan hal itu pada Teguh, mereka akan membungkam mulut Teguh, setelah mereka mendapatkan informasi lengkap dan jelas dari Teguh.


Atas izin dan perintah langsung dari Sutoyo kepada mereka berdua untuk membungkam Teguh. Gunadi dan Rasid pun berani melakukan tipu daya mereka.


Dengan senang hatinya, mereka melaksanakan dan memenuhi perintah Sutoyo, bos mereka.


Rasid mengambil sebuah kursi, lalu, Gunadi membopong tubuh Teguh yang pingsan, dia duduki Teguh di kursi, lalu, dengan tali yang sudah dia siapkan, Gunadi pun mengikat seluruh tubuh Teguh


Teguh tampak diam tak berdaya, karena pingsan, dengan mudah, Gunadi mengikat seluruh tubuh Teguh.


Setelah selesai mengikat, Gunadi pun lantas berdiri di hadapan Teguh. Rasid datang sambil membawa sebuah ember berisi air got.

__ADS_1


Dengan cepat, Rasid menyiramkan air got dari ember yang ada ditangannya kewajah Teguh. Dia berusaha untuk menyadarkan Teguh dari pingsannya.


__ADS_2