
Bramantio menggebrak meja kerjanya, dia begitu sangat emosionalnya, wajahnya merah padam, dikarenakan amarah yang sudah memuncak dan meledak dalam dirinya. Ronald duduk diam terpaku di sofa.
"Biaaaadaaaaabbbb !!! Kepaaaaraaaatttt!!!!" Teriak Bramantio sekeras kerasnya.
"Hancur sudah, hancuuuurrr!! Musnaaaah kebanggaaaankuuu!!!" Bramantio mengamuk.
Dengan membabi buta, Bramantio mengamuk, melemparkan semua barang barang yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Kamu !! Kamu harus segera menemukan orang yang menghancurkan hotelku !!! Seret dan bawa dia kehadapanku!!! Aku akan meledakkan tubuhnya tepat dihadapanku !!!" Teriak Bramantio membentak Ronald.
"Hei !! Jangan membentakku !!" ujar Ronald marah.
"Persetaaan !! Ini semua karena rencana gagalmu!!! Gara gara kamu meledakkan apartemen Yanto!! Aku yakin, Yanto membalas dendam, dan dia sengaja meledakkan hotel milikku !! Karena dia tau! Hotel itu kebanggaanku ! Simbol kekuasaan dan kejayaanku!!!" Bentak Bramantio marah pada Ronald.
Bramantio sudah tak takut dengan Ronald, dia tak perduli, Ronald seorang pembunuh berbahaya, karena syock, marah, dia pun kalap. Dia menyalahkan Ronald.
Ronald diam dan masih duduk di sofa, wajahnya tampak geram, dia menahan amarahnya pada Bramantio.
"Kenapa abang menyalahkan aku?" Bentak Ronald.
"Ya, karena memang ini kesalahanmu!! Kalo aja kamu gak meledakkan apartemen Yanto ! Tentunya hotel Hera ku masih berdiri dengan megahnya!!" Tegas Bramantio meluapkan amarahnya.
"Dan kalo saja kamu berhasil membunuh Yanto, dia gak akan bisa menyerang balik !!" Hardik Bramantio marah.
Ronald terdiam, dia benar benar tersinggung pada Bramantio yang menyalahkan dirinya. Namun, dia berusaha untuk tenang, dia menahan amarahnya.
"Aku akan memburu Yanto, dan juga Gavlin !! Akan ku cari, siapa diantara mereka berdua yang meledakkan hotelmu!!" Bentak Ronald.
"Gak usah banyak bacot!! Lakukan aja tugasmu kali ini dengan benar!! Jangan buat kesalahan yang sama!!" Hardik Bramantio.
"Bagusnya kamu gak lagi tidur di dalam kamar hotelku!! Kalo kamu ada di dalam hotel!! Tubuhmu udah hancur berkeping keping!!" Bentak Bramantio marah pada Ronald.
Ronald terdiam, ya, dia beruntung, karena dia tidak sedang berada di dalam kamar hotel, sehingga dirinya selamat dari ledakan hotel tersebut.
"Apalagi?!!! Cepat kerahkan anak buahmu!! Lacak, dan cari keberadaan Yanto atau Gavlin!!" Bentak Bramantio penuh amarah pada Ronald.
Ronald diam dan tak menjawab, dengan wajah menahan geram dan marah, Ronald pun beranjak dari tempat duduknya.
Ronald lalu bergegas keluar dari dalam ruang kerja Bramantio, Bramantio melemparkan vas bunga yang ada di atas meja tamu.
Bramantio kembali mengamuk, membabi buta, melampiaskan emosi amarahnya di dalam ruang kerjanya.
---
Mobil Patroli Polisi dan Mobil Ambulance serta Mobil Pemadam kebakaran tampak ada di sekitar gedung hotel Hera milik Bramantio.
Petugas Pemadam kebakaran memadamkan sisa sisa api yang membakar gedung hotel Hera yang meledak. Petugas tim penjinak bom dan kepolisian lainnya sibuk menyelidiki sebab meledaknya hotel.
Sementara, Para Petugas Medis sibuk menyelamatkan korban korban reruntuhan gedung hotel Hera. Karena ledakan dahsyat yang terjadi, ratusan tamu hotel tewas.
Gatot dan Teguh yang juga ada di lokasi kejadian tampak sedang mengamati puing puing dan sisa reruntuhan bangunan hotel Hera.
"Kejayaan dan kesuksesan Bramantio benar benar berakhir sepertinya." Ujar Gatot tersenyum sinis.
Gatot tahu, bahwa Patung Lilin Dewi Hera yang ada di Lobby Hotel dan meledak adalah simbol kejayaan Bramantio.
"Aku yakin, ini udah di rencanakan lama dan sangat rapi, gak ada sedikitpun jejak yang tertinggal." Ungkap Gatot.
"Sepertinya begitu, Komandan." Ujar Teguh.
"Apa yang menyebabkan hotel ini meledak?" Tanya Gatot.
"Menurut saksi yang selamat, awalnya, Patung Dewi Hera yang ada di lobby meledak, Pak!" Ujar Teguh menjelaskan.
__ADS_1
"Patung raksasa itu?" Ujar Gatot.
"Iya." Angguk Teguh.
Gatot diam untuk sesaat, Teguh perhatikan wajah Gatot, dia tahu, Gatot sedang memikirkan sesuatu. Teguh ingin tahu, apa yang sedang di pikirkan Gatot.
"Apa, Komandan menemukan hal yang ganjil?" Tanya Teguh penasaran.
"Saya sedang mikir, kalo kamu bilang, bom meledak dari patung raksasa, itu artinya, ada bom yang sudah tertanam di dalam patung lilin itu!" Tegas Gatot.
Teguh terdiam, dia tahu, apa yang dikatakan Gatot benar, sebab, selama ini, Teguh tahu, jika Yanto memang menanam bom di dalam tubuh patung lilin Dewi Hera.
"Kamu minta tim khusus untuk mendeteksi bom di sisa sisa puing patung raksasa itu!" ujar Gatot memberi perintah pada Teguh.
"Siap, Komandan!" Tegas Teguh.
Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot sendirian. Gatot tersenyum sinis.
"Sepertinya sedang ada yang bermain main ledak ledakkan, kemarin, gedung apartemen meledak hebat, sekarang, gedung hotel Bramantio yang meledak dahsyat! Benar benar kejutan!" Ujar Gatot tertawa sinis.
Gatot lantas melangkahkan kakinya, dia berjalan keluar halaman gedung hotel yang sudah hancur dan berantakan.
"Apa pemilik hotel ini sudah datang?" Tanya Gatot pada seorang petugas kepolisian yang berdiri dan berjaga jaga di halaman hotel.
"Belum, Komandan!" Jawab Petugas Kepolisian.
"Oke." Ujar Gatot.
Dia lantas pergi meninggalkan Petugas Kepolisian yang lantas melanjutkan tugasnya berjaga jaga.
Di depan mobilnya, saat Gatot hendak membuka pintu mobilnya, dia berfikir sejenak.
"Tunggu dulu, Maya bilang, Yanto, seniman pembuat patung lilin tinggal di apartemen yang meledak tempo hari, dan Yanto menghilang." Ujarnya, bicara sendiri.
"Gak lama kejadian itu, dan menghilangnya Yanto, hotel Bramantio meledak juga." Lanjutnya berfikir.
Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia lantas membuka pintu depan mobilnya. Gatot pun masuk ke dalam mobilnya.
Dia duduk di jok depan, belakang stir mobil, Gatot memakai sabuk pengamannya.
"Di hotel, berdiri patung raksasa Dewi Hera, dan, patung itu katanya, di buat dari lilin semuanya." Ujar Gatot berbicara sendiri di dalam mobilnya.
"Setauku, di kota ini, hanya ada satu orang saja yang mampu membuat patung dari lilin, ya, dan itu Yanto, seniman pembuat patung lilin!" Tegasnya.
"Kayaknya aku harus cari tau, apakah memang benar, Yanto yang membuat patung lilin di hotel itu?" Ujarnya lagi.
"Sepertinya aku harus menemui Bramantio! Biarpun dia menghindar dari pertanyaanku, aku harus mendapatkan jawabannya! Agar aku bisa mengaitkan kasus ledakan apartemen dan hotel tersebut.
Gatot kembali menarik nafasnya dalam dalam, dia lantas menyalakan mesin mobilnya, dan bersiap siap hendak pergi.
"Yanto...Bramantio...Gavlin... Ada hubungan apa diantara mereka? Yanto dan Gavlin, apakah mereka berdua saling kenal, dan bekerjasama membalas dendam pada Bramantio?" Bathin Gatot bicara.
Gatot benar benar mencurigai Gavlin sebagai Pelaku, namun, karena dia tak punya bukti kuat, yang membuktikan, jika benar Gavlin pelakunya, Gatot pun pasrah. Dia tak bisa seenaknya menangkap Gavlin.
Gatot bertekat, untuk mencari bukti bukti kuat lainnya, dia akan memperdalam kasus tersebut.
Gatot lantas menjalankan mobilnya, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, pergi meninggalkan reruntuhan bangunan hotel milik Bramantio.
---
Di dalam rumahnya, Gavlin sedang menerima telepon dari Teguh yang masih berada di gedung hotel Bramantio.
"Mengapa kamu semakin gegabah dan gak sabaran, Yan?" Ujar Teguh dari seberang telepon.
__ADS_1
"Karena aku gak bisa berlama lama lagi!" Tegas Gavlin di telepon.
"Sebenarnya patung itu mau kuledakkan untuk yang terakhir, saat aku memenggal kepala Bramantio!! Karena Bram meledakkan Penthouseku, gak ada pilihan lain, selain membalasnya!!" Tegas Gavlin di telepon.
"Iya, tapi aksimu itu, bisa dengan mudah tercium oleh kepolisian, antara apartemen yang meledak, dan hotel Bramantio yang juga meledak, sangat berdekatan waktunya." ujar Teguh dari seberang telepon.
"Dan, Gatot jadi menaruh curiga, dia sepertinya mengaitkan, bahwa kedua gedung yang meledak saling berhubungan, aku tau, Gatot curiga!" Tegas Teguh dari seberang telepon.
"Curiga sama siapa? Aku?!" ujar Gavlin di telepon.
"Ya, siapa lagi kalo bukan kamu yang di kenalnya sebagai Yanto kecil dulu?" Jawab Teguh dari seberang telepon.
"Dan aku yakin, Gatot pasti sedang mencari tau pada Bramantio, tentang patung lilin raksasa, dia pasti ingin tau dari Bram, kenapa patung itu ada di hotel Bramantio!" Tegas Teguh dari seberang telepon.
"Sebaiknya, kamu tunda dulu aksimu yang lain, Yan! Biarkan dulu suasana dingin." Ujar Teguh, dari seberang telepon.
"Ya." Jawab Gavlin datar, diteleponnya.
Tiba tiba, terdengar suara ketukan di pintu rumahnya, Gavlin yang sedang bertelpon kaget, dia menoleh ke arah pintu rumahnya.
"Bang, Bro! Udah dulu, ya. Kayaknya, ada yang datang kerumahku." Ujar Gavlin, berbisik di telepon.
Gavlin lantas segera mematikan teleponnya, dia menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya. Lalu, dia berjalan ke arah ruang depan rumahnya.
Dari balik horden jendela rumahnya, Gavlin mengintip, dia mencoba untuk melihat keluar, tak ada orang yang bisa di lihatnya di luar. Gavlin kernyitkan keningnya, dia heran.
"Kok, gak ada?" Gumamnya.
Gavlin diam sesaat, lantas, dia pun langsung membuka pintu rumah, wajah Gavlin penasaran, dia ingin tahu, siapa yang mengetuk pintu rumahnya.
Dengan sikap waspada dan berjaga jaga, jika ada orang yang tiba tiba menyerangnya, Gavlin membuka pintu.
Pintu rumah terbuka, dia langsung keluar rumahnya. Saat dia berada di luar, di depan pintu teras, dia tak melihat siapapun.
"Gavlin?!" Ujar Maya.
Gavlin kaget dan segera menoleh, muncul Maya dari arah samping rumahnya. Maya tersenyum senang mendekati Gavlin.
"Maya? Kamu yang tadi mengetuk pintu rumahku berkali kali?!" Ujar Gavlin bertanya.
"Iya, Vlin, karena gak kamu bukain juga pintunya, aku coba ke samping rumahmu, siapa tau, kamu lagi sibuk di dalam, jadi gak dengar ketukan aku." Ujar Maya tersenyum.
"Oh." Ujar Gavlin.
Saat Maya dan Gavlin hendak duduk di kursi yang ada di teras rumah Gavlin, mereka melihat, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk pagar rumah Gavlin.
Gavlin dan Maya saling pandang, Maya kernyitkan keningnya, dia seperti mengenal mobil tersebut.
"Kayak mobil Ayahku?" Ujar Maya pada Gavlin.
Belum sempat Gavlin berkata kata, benar saja yang di katakan Maya, Gatot keluar dari dalam mobilnya.
Dengan wajah tegang, Gatot berjalan ke arah Gavlin dan Maya.
Gavlin menatap tajam wajah Gatot yang berjalan mendekatinya, Maya melirik Gavlin, dia tahu, Ayahnya datang karena pasti ingin bertanya pada Gavlin seputar kasus yang di tanganinya.
"Biar aku yang hadapi, Ayahku, Vlin." Bisik Maya.
"Jangan, May. Biar saja. Ini urusanku dan Ayahmu." Ujar Gavlin berbisik dan tersenyum pada Maya.
Maya pun menghela nafasnya dengan berat, dia menuruti Gavlin, Dengan wajah tegang dan menahan emosi marahnya, Gatot menghampiri Gavlin.
Gatot berdiri di depan Gavlin, Gavlin dengan tersenyum, dengan tenang berdiri di hadapan Gatot, mereka berdua saling bertatapan mata.
__ADS_1
Tatapan mata Gatot tampak menunjukkan amarah, sementara, Gavlin, tatapan matanya dingin. namun sikap Gavlin terlihat santai, dia cuek dan tenang menghadapi Gatot.
Maya tampak gelisah berdiri disamping Gavlin, dia takut, Ayahnya memukul Gavlin, dan mereka berkelahi. Wajah Maya tampak menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan pada Gavlin.