VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Musuh Besar


__ADS_3

Gavlin saat ini sedang bertemu dengan Teguh di suatu tempat, Gavlin memberikan ponsel milik Masayu pada Teguh.


"Tolong lacak nomor Jafar, bang , Bro! Nomornya ada di daftar riwayat panggilan ponsel itu!" tegas Gavlin, dengan wajah serius.


"Dan kayaknya, di kontak telepon, ada juga nama Bramantio, juga Sutoyo, aku ingin, abang melacak keberadaan mereka." lanjut Gavlin, menjelaskan dengan wajah serius.


"Ok, Yan. Aku akan melacak nomor nomor mereka, dan kalo aku udah temukan lokasi mereka, akan ku kabari kamu!" Jelas Teguh, dengan wajah serius.


Di sebuah sudut, di balik tembok, tampak Gunadi tengah menguping, tanpa disadari Teguh, Gunadi sudah mengikuti Teguh diam diam sejak dia pergi dari kantor tadi.


Gunadi sengaja mengikuti Teguh, karena saat di kantor, dia mendengar, Teguh bicara di telepon dengan Gavlin, dan janjian untuk ketemu.


Gunadi mengikuti Teguh, agar dia mendapatkan informasi jelas, apa saja yang akan di sampaikan Teguh pada Gavlin.


Gunadi tampak tersenyum sinis, saat mengetahui, bahwa Gavlin tengah menyerahkan ponsel milik Masayu yang di ambilnya di kamar hotel, saat membunuh Masayu.


"Kalo udah di lacak, balikin ponsel itu padaku bang Bro. Aku butuh, buat neror jafar, Bram dan juga Sutoyo!" tegas Gavlin serius.


"Ok, Yan!" Ujar Teguh, mengangguk.


Gunadi tersenyum sinis kembali, dia terus menguping pembicaraan Teguh dan Gavlin di tempat itu.


Tiba tiba, tanpa di sadarinya, teleponnya berbunyi, Gunadi pun tampak gugup, dia cepat mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.


Gavlin dan Teguh kaget, karena mendengar suara bunyi telepon dari arah persembunyian Gunadi. Menyadari keberadaannya diketahui Gavlin dan Teguh, Gunadi pun cepat berlari sambil mematikan ponselnya.


"Ada yang ngikuti kamu ke sini, bang Bro!" tegas Gavlin geram.


"Sepertinya iya. Ayo kejar, Yan!" Ujar Teguh marah.


Teguh dan Gavlin pun lantas lari, mereka berdua segera mengejar Gunadi, yang mengikuti Teguh. Gunadi terus berlari kencang dan menjauh.


"Heeei !!! Jangan lari kamuu!!" teriak Gavlin kencang, sambil terus berlari mengejar.


Gunadi tak perduli, karena takut ketangkap dan ketahuan, dia pun lari sekencang kencangnya ke arah mobilnya yang dia sembunyikan tidak jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.


Gavlin dan Teguh terus berlari mengejar Gunadi, jarak antara mereka berdua dan Gunadi agak jauh, karena Gunadi tadi sudah berlari lebih dulu dari mereka berdua.


Gavlin dan Teguh melihat Gunadi masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat, Gunadi menyalakan mesin mobil, lalu, dia pun segera mengendarai mobilnya.


Mobil Gunadi lalu meluncur pergi dari tempat tersebut, Gavlin dan Teguh menghentikan pengejaran mereka.


"Siaaal !! Dia lolos !!" ujar Gavlin marah.


Teguh pun geram dan marah, dia memandangi kepergian mobil Gunadi yang makin menjauh dan menghilang.


"Kira kira, siapa dia, bang Bro?!" tanya Gavlin, geram dan penasaran.


"Aku gak tau juga, Yan! Nomor plat mobilnya gak keliatan, tapi, kayaknya, mobil itu gak asing, aku kayak pernah liat, tapi gak tau dimana dan kapan." ujar Teguh, dengan wajahnya yang serius.


"Apa ada yang melihatmu pergi pas dikantormu, bang?" tanya Gavlin serius.


"Hanya pak Gatot ! Dia tau, aku mau nemui kamu, karena aku bilang ke dia!" Ungkap Teguh serius.


"Apa dia Om Gatot?!" tanya Gavlin, curiga.


"Gak mungkin, Yan! Kalo pak Gatot, ngapain juga dia sembunyi, dan ngapain juga dia harus nguping pembicaraan kita, dia pasti udah langsung nemui kita !" Ujar Teguh serius.


"Lagian, kalo liat dari larinya, dia bukan pak Gatot, badannya juga beda !" Lanjut Teguh menjelaskan.


"Lantas, siapa dia, ya?" ujar Gavlin penasaran.


"Selama ini, gak ada yang tau kan, kalo abang kerjasama denganku?" tanya Gavlin, dengan wajah serius.


"Iya, Yan ! Yang tau, ya cuma pak Gatot, dan Maya aja. Rekan kerjaku di kantor gak ada yang tau!" Ujar Teguh.


"Tapi, tunggu dulu, Yan!" Ujar Teguh, dengan wajah serius.

__ADS_1


Tiba tiba saja Teguh teringat akan sesuatu hal, dia pun tampak geram dan marah.


"Jangan jangan, orang tadi itu, Gunadi atau Rasid !" Tegas Teguh, geram.


"Gunadi? Rasid?! Siapa lagi mereka itu, bang Bro?!" Tanya Gavlin, heran.


"Mereka berdua Anggota kepolisian dari tim anti teror, Sutoyo sengaja menugaskan mereka berdua ke tim aku dan Pak Gatot, Sutoyo bilang, mereka berdua ditugaskan membantu penyelidikan kasus kami!" Jelas Teguh.


"Sutoyo beralasan, karena sampe saat ini, kami belum menangkap pelaku pembunuhan warga kampung rawas, Jauhari, Samsul, Wijaya dan Joko Sambodo!" Lanjut Teguh, menjelaskan dengan serius.


"Sutoyo !! Jadi dia benar benar otak di belakang semua tindakan Bram dan komplotannya!!" Ujar Gavlin, geram menahan amarahnya.


"Pak Gatot gak percaya sama Gunadi dan Rasid itu, karena dia curiga, Sutoyo sengaja menempatkan mereka di tim kami, agar bisa memata matai kami" jelas Teguh serius.


"Dan kayaknya, Sutoyo menyuruh Gunadi dan Rasid untuk melenyapkan barang bukti yang akan kami temukan dan mengarah pada Bram serta komplotannya!" Tegas Teguh menjelaskan.


"Biadaaab Sutoyo !! Dia mau menghalangi misi balas dendamku ternyata!!" Bentak Gavlin, penuh amarah dalam jiwanya.


"Sebaiknya, mulai saat ini, kamu lebih hati hati bang Bro ! Jangan bicara apapun di kantor, apalagi kalo ada Gunadi dan Rasid itu!" Ujar Gavlin, geram.


"Iya, Yan! Pak Gatot juga udah ingatkan aku!" ujar Teguh.


"Aku gak tau, kalo diam diam, entah Gunadi atau Rasid mengikutiku sampai ke sini!" Ujar Teguh geram.


"Karena Sutoyo udah turun tangan dan mulai ikut campur, aku pikir, langkah dan pergerakan kamu dan Om Gatot akan makin sulit nangkap Bram dan komplotannya !" jelas Gavlin serius.


"Satu satunya jalan, harus menghancurkan Sutoyo terlebih dulu, baru kalian bisa aman bertindak !" lanjut Gavlin, menjelaskan dengan tegas.


"Sulit, Yan! Sutoyo kepala kepolisian, dia akan berlindung di balik jabatan dan kekuasaannya, dan pastinya, dia akan di jaga ketat oleh pihak kepolisian yang menjadi anak buahnya!" Tegas Teguh, menjelaskan.


"Gak ada yang sulit buatku, bang Bro! Kalo aku udah bertindak, gak akan ada yang bisa menghalangi dan mencegah langkahku!!" Ujar Gavlin geram dan marah.


"Aku akan mencari Sutoyo, mendatanginya, dan membantainya, tunggu aja waktunya!!" Ujar Gavlin penuh amarah.


"Ya, Yan. Aku dan Pak Gatot juga udah berencana, untuk menjebak Sutoyo dan menangkapnya ! Pak Gatot ingin mengungkap perbuatan Sutoyo yang terlibat dalam kasus pembunuhan Bapak dan ibumu dulu!" Tegas Teguh menjelaskan, dengan wajah serius.


"Ya, bang Bro!" Angguk Gavlin.


"Ok, bang Bro!" Jawab Gavlin.


Teguh pun lantas segera pergi meninggalkan Gavlin, Gavlin melihat kepergian mobil Teguh, Teguh pergi dengan membawa ponsel Masayu, Gavlin tampak berdiri geram dan marah.


"Sutoyo!! Kamu musuh besarku!!" Ujar Gavlin, geram dan marah.


Lalu, Gavlin pun segera pergi, dia lantas memakai helm dan naik ke atas motornya. Sesaat kemudian, motor Gavlin sudah melesat, pergi meninggalkan tempat tersebut.


---


Di sebuah ruangan dalam kantor kepolisian, Gunadi dengan wajah tegang menemui Rasid yang tengah duduk santai di kursi meja kerjanya.


"Dimana si Bos? Kenapa gak ada di ruangannya, aku baru aja ke ruangannya, tapi kosong!" ujar Gunadi, berbisik, dengan wajah tegangnya.


"Gak tau, dari pagi bos belum datang ke ruangannya, aku juga nungguin !" Jelas Rasid santai.


"Kamu kenapa tegang begitu?!" Tanya Rasid.


Rasid heran, melihat wajah Gunadi yang tampak tegang itu.


"Aku habis ikuti Teguh, aku mendengar semua pembicaraan Teguh dan Gavlin !" Jelas Gunadi berbisik.


Gunadi sengaja berbisik, agar tak ada yang mendengar perkataannya, Rasid kaget saat Gunadi menyebut nama Gavlin.


"Gavlin?! Bukankah dia juga target kita? Dia dan Yanto di duga kerjasama membunuhi teman teman si Bos selama ini?!" Ujar Rasid dengan serius.


"Ssssttt, jangan keras keras ngomongnya, nanti kedengaran Gatot dan Teguh, bisa berabe urusan kita!" ujar Gunadi berbisik.


"Sorry." ujar Rasid.

__ADS_1


"Aku tadi dengar, Gavlin minta, agar Teguh melacak nomor telpon Jafar, Bram, juga nomor telpon si Bos!" Jelas Gunadi serius, dengan berbisik.


"Wah, kacau kalo sampai mereka terlacak!" ujar Rasid cemas.


"Iya, makanya, aku mau ketemu si Bos ! Mau bilang, biar si Bos menon aktifkan nomor teleponnya, dan juga bilang ke Bram juga Jafar!" tegas Gunadi, menjelaskan sambil tetap berbisik.


"Ya, tunggu aja. Mungkin si Bos lagi ada urusan, atau rapat mendadak! Nanti dia juga bakal datang." ujar Rasid.


Gunadi mengangguk, mengiyakan perkataan Rasid, dia lantas menarik kursi, lalu, dia duduk di kursi meja kerjanya, di samping Rasid.


Di halaman parkir kantor kepolisian, tampak Teguh sedang menemui Gatot, yang baru saja tiba di kantornya.


"Ada apa?" tanya Gatot.


Gatot keluar dari dalam mobilnya, dia lantas berdiri di depan Teguh, yang tampak wajahnya serius itu.


"Saya berhasil melacak nomor telepon Jafar dan juga Bram!" tegas Teguh, menjelaskan.


"Darimana kamu dapat nomor telpon mereka berdua?!" tanya Gatot, heran.


"Dari Hape milik Masayu, Yanto yang memberikannya ke Saya, Pak!" jelas Teguh.


"Yanto minta, agar saya melacak nomor telpon Jafar, rencananya, Yanto mau memburu Jafar, juga Bram!" Tegas teguh, menjelaskan.


"Hape Masayu diambilnya di kamar hotel, pas dia membunuh Masayu?" tanya Gatot serius.


"Iya, Pak." Angguk Teguh.


"Kamu cek semua riwayat panggilan telpon dan juga isi pesan di Hape Masayu, cari tau, sama siapa aja Masayu selama ini berkomunikasi!" tegas Gatot.


"Cari tau juga, apakah dalam isi pesan pesan di hape Masayu, ada membahas tentang kasus pembunuhan Bapak dan Ibu Yanto dulu!" lanjut Gatot, menegaskan.


"Baik, Pak." Ujar Teguh.


"Oh,ya, Pak. Apa saya boleh kasih tau Yanto, lokasi Jafar dan Bram sekarang?" tanya Teguh serius.


"Terserah kamu, kalo menurutmu baik, ya kasih tau aja!" Jelas Gatot.


"Baik, Pak." Angguk Teguh hormat.


Gatot lantas pergi meninggalkan Teguh, namun, Teguh berlari mengejar dan mencegahnya. Teguh berhenti di depan Gatot, mencegah langkah Gatot.


"Ada apa lagi?" tanya Gatot heran.


"Pas saya ketemu Gavlin, ada yang ikuti saya ternyata Pak. Dia ketauan, tapi, dia berhasil lolos!" Jelas Teguh.


"Kamu tau orangnya?!" tanya Gatot serius.


"Ga tau, Pak. Saya gak sempat liat wajahnya, karena dia langsung lari kencang, pas kami kejar, dia udah kabur dengan mobilnya!" Jelas Teguh.


"Saya juga gak bisa liat nomor plat mobilnya, tapi, kalo mobilnya, saya kayak pernah liat, Pak." lanjut Teguh, memberi penjelasan.


"Saya curiga, kayaknya, yang ikuti saya Gunadi atau Rasid. Saya gak bisa pastiin sih, tapi, mobil itu mirip dengan mobil Gunadi!" tegas Teguh menjelaskan.


Gatot pun diam, untuk sesaat dia berfikir, lalu kemudian, dia pun menghela nafasnya, lantas, Gatot menatap tajam wajah Teguh.


"Kamu harus lebih hati hati lagi, Jangan sampai rahasia kita bocor! Dan jangan sekali kali, bahas kasus yang kita selidiki di hadapan Gunadi dan Rasid!" Tegas Gatot.


"Mereka berdua cuma kecoa suruhan Sutoyo, memata matai kita, dan berusaha melenyapkan barang bukti! Karena, dari dulu mereka udah sering melenyapkan barang bukti kasus!" Tegas Gatot geram.


"Liat aja, kalo aku udah temukan bukti kuat buat menjerat Sutoyo , Akan kujebloskan dia ke penjara!!" tegas Gatot, penuh amarah membara.


"Iya, Pak." Ujar Teguh.


"Ya, sudah, kita ke dalam kantor, ingat! Jangan bahas soal barang bukti apapun kalo di dalam kantor, kantor bukan tempat aman membahas kasus kasus yang kita selidiki !" tegas Gatot.


"Mulai sekarang, kita akan bahas semua kasus yang kita selidiki di tempat lain, atau kita ketemu di rumah saya, agar Gunadi dan Rasid, gak bisa menguping!" Tegas Gatot serius.

__ADS_1


"Baik, Pak." ujar Teguh.


Lalu, Gatot dan Teguh pun bersama sama jalan masuk ke dalam kantor mereka.


__ADS_2