VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Semakin Panik


__ADS_3

Samuel masih terdiam, lidahnya kelu, tak bisa berkata kata, dia syock, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca dan dia ketahui.


"Kamu kenapa, Sam?" tanya Andre, dengan wajah serius.


"Ah, nggak, aku hanya kaget dan sedikit syock saja." ujar Samuel, tersadar dari syocknya.


"Gak nyangka kan? Orang yang di sanjung puja dan dibela banyak orang ternyata diam diam menyimpan kejahatan yang besar?!" ujar Andre, tersenyum sinis.


"Ya, aku gak nyangka." ujar Samuel.


"Aku pun awalnya kaget, gak nyangka, tapi setelah aku pelajari dan telusuri lagi dari semua alur yang ada, awal mula kejahatan dilakukan, dan siapa saja yang terlibat, aku jadi paham, ini konspirasi besar, yang sudah berpuluhan tahun berjalan tanpa ada yang bisa membongkarnya." ungkap Andre, dengan wajahnya yang serius.


"Kita harus hati hati, Ndre. Berkas ini harus di simpan di tempat yang sangat rahasia, jangan sampai orang tau. Kalo berkas ini sampe kedengaran ke luar, apa lagi media tau, bisa kacau semuanya!" jelas Samuel.


"Ya. Aku paham, karena memang, ternyata yang kita hadapi bukan hanya Herman, Jack dan Peter saja, tapi, ada banyak lagi di belakang mereka, dan jika kita mengungkap kejahatan Herman, otomatis, orang orang yang dibelakangnya akan ke bawa bawa, karena mereka terlibat langsung!" jelas Andre.


"Ya. Aku akan menyimpan berkas ini baik baik. Dan kita, harus diam diam menyelidikinya lebih dalam lagi, kita harus mencari bukti bukti keterlibatan nama nama yang ada di berkas ini sebelum kita menangkap satu persatu diantara mereka." jelas Samuel.


"Ya. Aku akan bertindak menyelidiki secara senyap, tidak diketahui siapapun." ucap Andre, bersungguh sungguh.


"Lantas, dari mana kamu mendapatkan berkas ini? Data data di dalam berkas ini semua lengkap, hanya tinggal menyertakan satu bukti fisik, habislah semua orang yang namanya ada diberkas ini!" tegas Samuel.


"Anak buahku, Edo yang memberikannya padaku, katanya, dia mendapatkan berkas itu dari temannya." ujar Andre memberi penjelasan.


"Siapa temannya?" tanya Samuel, ingin tahu.


"Dia bekerja di kantor ke presidenan saat ini, dia anaknya pak Syamsul Bahri, tokoh politik dari Partai Keadilan rakyat yang meninggal akibat serangan jantung 10 tahun lalu." tegas Andre, menjelaskan.


"Pak Syamsul? Ya, aku ingat, orangnya tegas dan tak pandang bulu, dia juga jujur." ujar Samuel.


"Menurut Edo, anaknya pak Syamsul dendam, karena dia menduga, kematian Bapaknya bukan karena serangan jantung, tapi karena di bunuh, dan dia diam diam menyelidikinya, sehingga menemukan bukti bukti itu semua." jelas Andre.


"Wah, hebat juga anak itu. Tapi, dia sudah membahayakan nyawanya jika ceroboh dan tidak hati hati. Dia berada di sarang ular, kalo dia gak bisa jaga diri, dia akan mati terbunuh terkena bisa ular para pelaku konspirasi kejahatan itu." tegas Andre.


"Ya, aku juga sudah ingatkan Edo, agar menyuruh temannya itu hati hati, dan aku juga menyuruh Edo untuk melindunginya." ujar Andre.


Samuel lantas diam sesaat, Andre menatap wajah Samuel yang terdiam, Samuel tampak sedang memikirkan sesuatu hal.


"Ada apa Sam?" tanya Andre, dengan wajah heran dan penasarannya.


"Aku pikir, sebaiknya anak almarhum pak Syamsul ketemu kita Ndre, ada banyak yang ingin kutanyakan lagi padanya, dan itu ada hubungannya dengan berkas berkas ini!" jelas Samuel sambil menunjukkan map berisi berkas kejahatan Komplotan Herman.


"Baik, Nanti aku minta Edo untuk mengajak temannya bertemu kita." ujar Andre.


"Siapa nama anak itu?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Ah, aku lupa menanyakan namanya sama Edo." ujar Andre.


"Ya, sudah, gak apa apa." ujar Samuel.


"Kalo dia mau ketemu kita, bawa dia ke rumah aman, rumah yang biasa kita buat untuk melindungi saksi saksi penting." ucap Samuel.


"Baiklah." ujar Andre, mengangguk setuju.


"Aku pikir, untuk bisa menyeret para petinggi dan pejabat pejabat itu, kita harus meringkus Herman lebih dulu, Ndre, dari Herman nanti akan terungkap konspirasi besar mereka." jelas Samuel.


"Artinya kita targetkan yang utama, untuk menjerat dan menyeret Herman dulu, baru yang lainnya?!" ujar Andre, menatap wajah Samuel, dia ingin memastikan lagi apa yang dikatakan Samuel tadi.


"Ya. Tapi kita tetap membutuhkan satu buah bukti fisik dari keterlibatan para petinggi dan pejabat pejabat negara hingga ke orang nomor satu di negara ini!" tegas Samuel.


"Baiklah, berarti kuncinya ada pada anaknya almarhum pak Syamsul, aku yakin, dia banyak tau tentang semua hal ini, tapi, karena belum ada orang yang bisa dia percaya, dia menyimpannya sendiri, seperti masih menunggu waktu yang tepat untuk membongkar konspirasi tersebut." jelas Andre.


"Ya, dan mudah mudahan, dia baik baik saja dan tetap aman, juga, tindakan dan perbuatannya tidak diketahui para petinggi negara itu!" tegas Samuel dengan wajahnya yang serius.


"Ya. Mudah mudahan saja. Jika dia mau bergabung dan bekerjasama dengan kita, dia akan aku lindungi." jelas Andre.


"Baik. Kita tunggu saja keputusan dia nanti, mau ketemu kita atau tidak, semua tergantung anak buahmu." ujar Samuel.


"Ya, aku akan bilang ke Edo, agar dia berusaha meyakinkan temannya itu untuk percaya dengan kita berdua dan mau bicara sama kita." jelas Andre.


"Ya."Angguk Samuel, setuju.


"Ya. Silahkan." ujar Samuel.


Andre lantas berdiri dari duduknya di sofa, Samuel juga ikut berdiri, lalu mereka berdua berjalan ke arah pintu ruang kantor.


Samuel membuka pintu yang dia kunci tadi, lantas, mereka berdua saling berjabatan tangan. Lalu, Andre pun keluar dari dalam ruang kantor Samuel, Samuel lantas menutup pintu ruang kantornya.


Samuel mengambil map berisi berkas berkas kasus kejahatan konspirasi komplotan Herman , dia lantas duduk di kursi meja kerjanya.


Samuel membuka map yang ada ditangannya, kembali Samuel membaca isi tulisan yang ada dalam berkas berkas tersebut.


"Ini benar benar gila, semua datanya lengkap, dari awal mula, sekitar 18 tahun lebih yang lalu." ucap Samuel, sambil membaca berkas ditangannya.


"Ini benar benar kasus besar, aku harus hati hati mengungkapnya." ujar Samuel, dengan wajahnya yang serius.


Dia lantas melanjutkan membaca dan mempelajari berkas berkas yang dia dapatkan dari Andre. Wajahnya tampak tegang dan serius membaca semua laporan berkas berkas tersebut.


---


Di dalam kantor Peter, terlihat Jack, Herman dan juga Peter sudah berkumpul, wajah wajah mereka bertiga terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan agar terbebas dari incaran si Gavlin, anak setan itu?!" ujar Herman, dengan wajah geram dan marahnya.


"Ya, tindakan si Gavlin sudah sangat meresahkan, kita harus membalasnya, kita gak bisa hanya berdiam diri saja!" ujar Jack, dengan wajahnya yang serius.


"Kalian tenang, kita tunggu kabar dari anak buahku yang sedang melacak dan mencari tau keberadaan si Gavlin, begitu anak buahku menemukan tempat persembunyian Gavlin, langsung kita serang dia beramai ramai!" ujar Peter.


"Aku gak yakin, Gavlin itu gak mudah di taklukin !" ujar Jack.


"Kenapa kamu jadi pesimis?" tanya Herman, heran dan sedikit kesal pada Jack.


"Gavlin itu psikopat, dan dia cerdas, dia pasti sudah memperhitungkan segala resiko dari apa yang sudah dia lakukan! Kalo pun kita menemukan tempat persembunyian dia, aku yakin, Gavlin bisa lolos !!" jelas Jack.


"Gak mungkin, kalo aku bawa ratusan pasukan untuk mengepung lokasi dia nanti!" tegas Peter, dengan penuh keyakinan.


"Aku pikir, sudah saatnya kita minta bantuan sama teman teman lainnya, agar mereka bisa menolong kita." ujar Jack.


Diantara Herman dan Peter, Jack yang terlihat sangat takut terhadap Gavlin, dia khawatir, Gavlin tidak bisa mereka ringkus, dan malah mereka yang mati ditangan Gavlin.


"Hei, apa kamu lupa perjanjian kita dulu saat kita berhasil menjalankan misi kita?" ujar Herman.


"Setelah kita mendapatkan semua bagian dan jabatan kita masing masing di pemerintahan, kita sepakat, untuk tutup mulut, dan tidak berhubungan lagi dengan semua anggota kita dulu yang terlibat! Dan kalo pun harus bertemu dengan mereka, kita wajib bersikap wajar !" tegas Herman, mengingatkan Jack.


"Ya, Jack. Kita gak boleh mengungkap kelompok kita, sebaiknya, jangan melibatkan mereka, dalam masalah Gavlin ini, biar mereka tetap tenang menjalani kehidupan dan jabatan mereka, terutama Beliau!" tegas Peter, dengan wajah serius menjelaskan pada Jack.


Jack paham, bahwa yang dimaksud dengan 'Beliau' oleh Peter adalah Bapak Presiden mereka saat ini.


"Dan ingat, urusan Gavlin gak ada hubungannya dengan anggota kita lainnya!" tegas Herman.


"Kalian yang lupa menurutku!! Kalian bilang, Gak ada hubungannya dengan Gavlin? Aku pastikan ada! Coba kalian ingat ingat, mudah mudahan kalian ingat dengan apa yang aku maksud." ujar Jack.


"Sudah, lebih baik kamu diam Jack, jangan bahas masalah puluhan tahun lalu, aku gak mau mengingatnya lagi!!" ujar Herman marah.


"Hei !! Aku berkata itu, agar pikiran kalian terbuka !! Sejauh apapun kita tutupi, kalo Gavlin mengetahui semuanya, maka semua anggota kita akan di bantai Gavlin, bukan hanya kita bertiga saja ! Cam kan kata kataku!" tegas Jack, dengan wajah seriusnya.


"Dan karena itu aku bilang, sudah saatnya anggota lain tau masalah kita ini, agar mereka bersiap siap dan waspada juga !!" tegas Jack, mulai marah.


"Sudah cukup Jack, sekarang, kita pikirkan saja diri kita sendiri, jangan kamu pikirin anggota lainnya, biar saja mereka !" ujar Herman, menegaskan pada Jack.


"Ya, Jack, Sebaiknya kamu turuti apa kata Herman." ujar Peter.


"Terserah kalian saja." ujar Jack.


Lantas, Jack pun diam, dia tak mau lagi bicara sepatah kata pun, Jack memilih diam, karena, tak ada yang mau mendengarkan perkataannya.


Jack kesal dan marah, dia juga khawatir, ada juga ketakutan dalam dirinya, dia takut, Gavlin datang tiba tiba menyerang mereka lagi, lalu membunuh mereka satu persatu.

__ADS_1


Peter dan Herman diam, mereka sedang berfikir keras, mencari jalan keluar dari semua masalah yang mereka hadapi saat ini.


__ADS_2