VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Penyerahan Bukti bukti Baru


__ADS_3

Jack mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dijalan raya, di sampingnya duduk Herman dengan wajah pucat dan masih mencekam ketakutan.


"Darimana kamu tau, kalo di belakang rumah ada mobil ini?" tanya Herman, melirik Jack yang menyetir mobilnya.


"Peter yang bilang, dia memang sengaja menyiapkan mobil ini dibelakang rumah, katanya untuk jaga jaga, kalo Gavlin datang menyerang, kita bisa gunakan mobil ini buat melarikan diri." ujar Jack, memberi penjelasan.


"Kamu nyimpan kunci mobil ini?" tanya Herman lagi.


"Nggak, kunci udah ada di dalam mobil, mobil udah stand by, tinggal pakai saja." jawab Jack, sambil menyetir mobilnya.


"Untunglah Peter berfikir cerdas, kalo tidak, kita pasti sudah mati di bunuh Gavlin." ujar Herman.


"Kalo liat Gavlin melemparkan granat, dia memang ingin kita mati di dalam rumah itu." jelas Jack.


"Menurutku tidak, Gavlin itu psikopat, dia gak akan langsung membunuh kita begitu saja dengan meledakkan kita di rumah itu, dia pasti mau menangkap kita satu persatu, lalu, dia bakal menyiksa kita, karena, dengan menyiksa kita sebelum mati, itu kepuasan tersendiri buat si Gavlin!" tegas Herman , menjelaskan.


"Darimana kamu tau dan bisa berfikir begitu?" tanya Jack, menoleh pada Herman yang duduk di sampingnya.


"Aku pelajari semua korban yang di bunuh Gavlin, korban korbannya selalu mengalami penyiksaan yang berbeda beda sebelum di bunuh. Ada juga yang mati karena gak tahan mendapatkan penyiksaan yang keji." ujar Herman, dengan wajah serius.


"Lagi pula, kalo dia memang mau langsung membunuh kita, saat di restoran, bisa saja Gavlin meledakkan restoran itu dan membuat kita langsung mati ditempat terkena ledakan!" ujar Herman, menjelaskan.


"Tapi karakter Gavlin bukan begitu, dan karakter psikopat seperti Gavlin tidak begitu!! Mereka lebih puas jika bermain main dengan korbannya terlebih dulu, dengan cara menyiksanya dengan keji, baru dibunuhnya, itu kepuasan buat psikopat!!" tegas Herman.


"Iya juga. Benar katamu." ujar Jack, mengangguk setuju pada pendapat Herman.


"Dimana Peter?" tanya Herman.


"Aku gak tau, dia belum menghubungiku sejak tadi pagi." jelas Jack.


"Kita harus memberi tahu Peter, agar dia berhati hati, aku yakin, Setelah gagal menangkap kita, Gavlin pasti mengincar Peter!" tegas Herman.


"Coba saja kamu hubungi dia." ujar Jack.


"Ya." Angguk Herman.


Herman lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, dia lalu menghubungi Peter. Beberapa saat dia menunggu, namun, telepon Peter tak juga di angkat. Herman kesal, dia menutup dan menyimpan ponselnya kedalam kantong celananya lagi.


"Telponnya gak di angkat, nada sibuk terus." ujar Herman kesal.


"Kemana Peter? Apa jangan jangan, Gavlin sudah menangkapnya?" ujar Jack, dengan wajah penuh rasa khawatir.


"Entahlah, sebaiknya kita temui Peter di kantornya, Peter harus tau, kalo Gavlin menemukan rumah persembunyian kita, dan menyerang kita." jelas Herman.


"Ok. Kita ke kantor Peter sekarang." ujar Jack.


"Ya." Angguk Herman.


Jack lantas menambah kecepatan mobilnya, dia mengendarai mobilnya menuju kantor kepolisian, dimana Peter bertugas sebagai Kapolda.


---


Mobil Peter berbelok, tiba tiba dia menginjak rem mobil, mobil berhenti tepat di depan pintu pagar rumah persembunyian.


Wajah Peter syock, dia kaget, melihat rumah persembunyian sudah hancur berantakan dan terbakar. Peter lantas cepat keluar dari dalam mobilnya, dia lalu berjalan ke halaman rumah.


Peter semakin kaget, saat melihat, puluhan anak buahnya yang ditugasi nya berjaga dirumah tewas terkapar di tanah.


"Biaaadddaaaabb !! Ini pasti ulah Gavlin!!" ujar Peter, geram dan marah.


Peter lantas mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dia pun lalu menghubungi Herman.

__ADS_1


"Hallo? Dimana kalian?" tanya Peter, di teleponnya.


"Kami di jalan, baru aja mau ke kantormu! Kamu dimana sekarang?!" ujar Herman, bertanya, dari seberang telepon.


"Aku dirumah persembunyian, rumah ini hancur lebur, dan semua anggotaku mati di sini!" ujar Peter, dengan wajah yang menahan amarahnya.


"Ya, Gavlin datang menyerang kami, dia pasti yang meledakkan rumah itu karena mungkin marah, sebab, gak berhasil menangkap kami!" ujar Herman, dari seberang telepon.


"Kalian melarikan diri dengan menggunakan mobil yang ku simpan dibelakang rumah?!" tanya Peter, ditelepon.


"Iya." jawab Herman, dari seberang telepon.


"Ok, bagus! Kalo gitu, kita ketemuan sekarang! Temui aku di kantorku, sekarang aku akan meluncur kesana!" ujar Peter, dengan wajah serius ditelepon.


"Ya." jawab Herman, dari seberang telepon.


Peter lantas mematikan ponselnya, setelah menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, dia bergegas jalan dan masuk ke dalam mobilnya.


Peter lalu pergi meninggalkan rumah persembunyian yang sudah hancur lebur dan terbakar.


Jack yang menyetir mobilnya menoleh pada Herman yang baru saja selesai bicara dengan Peter di telepon.


"Apa kata Peter?" tanya Jack, sambil menyetir mobilnya.


"Peter tadi ke rumah itu, dia udah tau, kalo rumah hancur dibuat Gavlin." ujar Herman.


"Terus, apa lagi yang dia bilang?" tanya Jack, ingin tahu.


"Peter mau ketemu kita di kantornya, dia sekarang menuju ke kantornya." ujar Peter.


"Baguslah !" ujar Jack, sambil tetap menyetir mobilnya.


---


"Bedebaaah!! Berikutnya kalian gak akan lolos dariku !! Akan ku cincang cincang tubuh kalian satu persatu, lalu, potongan tubuh kalian akan ku buang ke jalan jalan kota !!" ujar Gavlin, dengan wajah penuh amarah dan dendam membara.


Gavlin lantas menancapkan pisau ke photo Peter, dia sangat geram sekali pada musuh musuhnya, Gavlin lantas bergegas pergi keluar dari dalam kamar sempit dan gelap tersebut.


---


Mobil Jack tiba di halaman parkir kantor polisi tempat Peter bertugas, Herman hendak membuka pintu mobil, namun Jack mencegahnya.


"Jangan keluar, kita tunggu sampai Peter datang, lalu, kita sama sama masuk ke dalam kantornya." ujar Jack.


"Ngapain kita nunggu di sini? Sebaiknya kita tunggu saja di dalam kantornya langsung." ujar Herman.


"Jangan, kita di sini saja. Sambil mengawasi dari dalam mobil, siapa tau aja si Gavlin datang ke sini dan sudah menunggu Peter." ujar Jack.


Herman terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia mengangguk, mengiyakan perkataan Jack.


"Benar juga. Kalo memang Gavlin mengintai Peter, kita aman di sini." ujar Herman.


"Ya, begitu maksudku, jangan sampai kita bertiga langsung disergap Gavlin secara bersamaan!" jelas Jack.


"Baiklah, kita tunggu Peter di sini." ujar Herman.


Herman akhirnya menurut dengan perkataan Jack, mereka berdua pun lantas menunggu Peter di dalam mobil.


---


Samuel keluar dari ruang rapat, dia baru saja selesai menjalani rapat bersama tim jaksanya yang akan dia libatkan dalam persidangan kasus Herman dan komplotannya nanti.

__ADS_1


Samuel berjalan santai dan tenang menuju ke ruang kantornya, di depan ruang kantornya, Andre sudah duduk di sebuah bangku tunggu yang ada di samping ruang kantor Samuel di gedung kejaksaan agung.


Andre duduk diam sambil memegang map berisi berkas berkas bukti bukti kejahatan baru kelompok Herman, dia berniat akan memberikan berkas bukti bukti baru kepada Samuel.


Samuel berjalan, dia melihat Andre yang duduk diam di bangku, Samuel tersenyum senang mengetahui Andre sudah datang dan sedang menunggunya.


Samuel mendekati Andre, lalu dia berdiri di hadapan Andre yang duduk dibangku tunggu.


"Sudah lama kamu nunggu di sini?" tanya Samuel, tersenyum ramah pada Andre.


"Lumayan, tapi gak apa, aku sengaja nunggu kamu, dari pada aku datang terlambat." ujar Andre, tersenyum.


Andre berdiri dihadapan Samuel, mereka bersalaman, Samuel melihat Map ditangan Andre.


"Bukannya kita janjian ketemu di cafe nanti jam 4 sore? Masih ada waktu 30 menit lagi untuk kesana." ujar Samuel, menatap wajah Andre yang berdiri dihadapannya.


"Tadinya memang begitu, cuma, aku berfikir, gak aman kalo kita bicara di cafe, khawatir, ada yang mendengar pembahasan kita. Sebab, ini penting sekali, gak boleh bocor ke umum sebelum kita benar benar menyelidikinya lebih dalam lagi." ujar Andre, serius memberi penjelasan.


"Sepertinya sangat penting sekali yang mau kamu bahas denganku, sampai harus dirahasiakan segala." ujar Samuel, tersenyum ramah.


"Ya, memang sangat penting, karena ini menyangkut nama banyak orang dan negara." tegas Andre, dengan wajah seriusnya.


"Negara?!!" Samuel tersentak kaget.


"Ya, kamu nanti akan tau sendiri." ujar Andre serius, menatap wajah Samuel yang kaget dan heran itu.


"Baiklah, kita bicara di dalam kantorku." ujar Samuel.


"Ya." Angguk Andre.


Lantas, Samuel pun berjalan dan membuka pintu ruang kantornya, lalu, dia masuk ke dalam ruang kantornya, Andre bergegas jalan masuk ke dalam ruang kantor.


Setelah mereka berdua berada didalam ruang kantor, Samuel lantas mengunci pintu, agar tak ada orang yang masuk begitu saja.


Dan agar, pembicaraan mereka berdua tak ada yang mengganggu atau mendengarkan.


Samuel lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruang kantornya, Andre mengikutinya, dia juga duduk di sofa, yang ada di hadapan Samuel.


"Sekarang, kita aman, kita bebas bicara di dalam ruanganku ini, gak kan ada orang yang mencuri dengar pembahasan kita." ujar Samuel, tersenyum.


"Baiklah." ujar Andre.


"Lantas, apa yang mau kamu bahas dan sampaikan padaku?" tanya Samuel, menatap wajah Andre yang terlihat sangat tegang dan serius.


"Lihatlah berkas di dalam map ini." ujar Andre, dengan wajah tegang dan serius.


Samuel heran melihat Andre tegang dan sangat serius itu. Dia menatap tajam wajah Andre.


"Sepertinya ada masalah serius yang berhubungan dengan map ini? Aku perhatikan kamu tegang begitu." ujar Samuel tersenyum.


Samuel masih terlihat tenang dan santai, sebab, dia belum mengetahui apa isi dari berkas berkas yang ada di dalam map yang di bawa Andre dan diserahkan padanya.


"Kamu baca saja berkas itu, kamu nanti tau, mengapa aku tegang dan serius !" tegas Andre.


"Baiklah, aku coba liat ya." ujar Samuel tersenyum.


Samuel lantas mengambil map yang tergeletak di atas meja, Andre duduk diam di sofa, dia memperhatikan dengan seksama wajah Samuel yang memegang map dan membukanya.


Samuel lantas membaca berkas berkas yang ada di dalam map, dia membuka lembaran halaman pertama, di lembaran halaman pertama tertulis tentang awal kejahatan Bramantio dan komplotannya, lalu, ada juga pembahasan tentang Herman dan yang lainnya.


Samuel dengan wajah serius terus membaca berkas berkas yang ada ditangannya, raut wajahnya tiba tiba berubah, Andre menangkap, air muka Samuel menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa saat membaca satu lembar halaman pada berkas tersebut.

__ADS_1


Samuel terdiam, matanya terbelalak lebar, dia kaget saat membaca daftar nama nama yang menjadi tersangka kejahatan pencucian uang/ money laundry, jual beli jabatan, bisnis fiktif, penghilangan nyawa seseorang dengan sengaja, korupsi, dan kejahatan kejahatan lainnya.


__ADS_2