VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Tanda Lahir


__ADS_3

     Gatot membuka pintu depan mobilnya, lalu menoleh pada Teguh yang masih berdiri di depannya.


"Kamu ikut saya." Ujar Gatot pada Teguh.


Gatot masuk kedalam mobilnya, dia menyimpan kertas berkas kasus kecelakaan di dalam dashboard mobil.


Lalu menyalakan mesin mobil, Teguh masuk dan duduk di jok depan samping Gatot yang menyetir mobil.


"Kita mau kemana ?" Tanya Teguh.


"Ke tekape, Saya mau cek lokasi kejadian kecelakaan itu." Ujar Gatot sambil menyetir menjalankan mobilnya.


Teguh diam, mereka berdua lantas segera pergi meninggalkan gedung kantor kepolisian.


   Orang orang yang melayat, hadir di pemakaman Linda, sanak family, Keluarga besar Wijaya hadir mengantarkan Linda ke pembaringannya yang terakhir.


Diantara mereka, ada juga Maya yang mengikuti proses pemakaman Linda.


Wijaya dengan wajah sedih menaburkan kembang diatas pusara anaknya, lalu menyiramnya dengan air dari botol yang dipegangnya.


Maya menghapus air matanya yang mengalir deras di pipinya. Menangisi kematian Linda.


Sementara itu, tidak jauh dari lokasi pemakaman Linda, Gavlin mengintip dari balik pohon besar.


Gavlin memandangi mereka yang hadir ditengah tengah makam Linda.


Mata Gavlin awas, mengamati gerak gerik semua yang hadir di pemakaman.


Satu persatu wajah wajah orang yang berdiri di sekitar makam Linda dia amati.


Gavlin melihat gerak gerik dan ekspresi sedih masing masing orang yang hadir.


Sanak saudara Wijaya mengajak Wijaya pergi meninggalkan makam Linda.


Wijaya tanpa menolak mengikuti sanak saudaranya, mereka pergi meninggalkan makam Linda.


Kemudian, satu persatu para pelayat yang hadir meninggalkan makam Linda.


Saat melihat orang orang pergi meninggalkan makam, mata Gavlin melihat ke sosok Pria.


Pria itu memakai topi hitam dan kaca mata hitam, berpakaian serba hitam, berdiri di depan mobilnya.


Posisinya berada di atas bukit, tidak jauh dari lokasi pemakaman, Gavlin mengamati Pria yang mengawasi dari kejauhan itu.


Gavlin berfikir sesaat, kemudian, dia segera melangkahkan kakinya, pergi dari tempat persembunyiannya.


Gavlin mau mendekati Pria yang sedang mengawasi dari kejauhan, dia ingin tahu, siapa Pria itu.


Dan apa tujuannya ada di lokasi pemakaman Linda sambil mengawasi.


Gavlin berlari cepat kearah pria yang berdiri dikejauhan yang masih terus mengawasi makam Linda.


Maya tinggal sendirian, dia berdiri di depan makam Linda, menatap batu nisan sahabatnya itu.


Terukir nama Linda pada batu nisan, "Linda Kusumawati ningrum binti Wijaya Kertosuryo- Lahir,11 Januari 1995 - wafat 20 Oktober 2021".


Maya memandangi makam Linda.


"Terima kasih atas persahabatan yang selama ini kamu berikan padaku Lin." Ujar Maya.


"Bahagialah disana, aku akan tetap mengenang dan menyayangimu." Ujar Maya.


Dia membelai lembut batu nisan Linda, seakan sedang membelai rambut Linda, sahabatnya.


Lalu Maya berbalik dan melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan makam Linda.


Gavlin berlari menaiki tanah yang berbukit bukit, Maya yang berjalan keluar dari lokasi pemakaman, menoleh mencari cari Gavlin.


Dia tahu Gavlin tadi bersembunyi di balik pohon, hadir di pemakaman.


Karena saat Maya datang ke lokasi pemakaman, dia bertemu dengan Gavlin.


Gavlin menolak ajakan Maya untuk ikut dengannya melihat proses pemakaman Linda.


Gavlin tidak mau berada di dekat pemakaman, karena tak ingin membuat keributan jika Wijaya, papah Linda melihat kehadiran dia di pemakaman anaknya.


Pandangan mata Maya melihat ke segala arah, lalu matanya tertuju pada Gavlin yang sedang berlari menaiki tanah berbukit.


Dia juga melihat sosok Pria berdiri diatas bukit, Maya berfikir, siapa yang sedang di kejar Gavlin itu? Maya lalu segera berlari mengejar Gavlin.


Sosok Pria yang memakai topi dan kaca mata hitam melihat Gavlin yang naik mendekat kearahnya.


Dengan cepat Pria itu lari dan masuk kedalam mobilnya, Gavlin cepat naik untuk mengejarnya.


"Heeei !! Jangan lari, berhenti !!" Teriak Gavlin marah.


Sosok Pria sudah menjalankan mobilnya, dengan cepat menyetir mobil lalu meninggalkan Gavlin yang berdiri kesal memandangi mobil yang menjauh.


"Siaaall...Aaaaaggghhh !!" Teriak Gavlin.


Gavlin menumpahkan kekesalannya karena tak berhasil meringkus Pria yang mengawasi pemakaman Linda.


Maya mendekatinya dengan terengah engah, mengatur nafasnya, dia menatap wajah Gavlin yang kesal.


"Orang itu siapa Vlin ?!" Tanya Maya masih mengatur nafasnya yang terengah engah habis berlari dan menaiki tanah yang berbukit di sekitar lokasi pemakaman.


"Aku gak tau, penasaran aja, aku liat orang itu dari tadi terus melihat ke arah makam Linda, kayak mengawasi, sikapnya buat aku curiga." Ujar Gavlin.


"Mengawasi ?!" Ujar Maya heran.


"Iya, aku kejar dan mau menangkapnya, agar tau apa maksud dan tujuannya mengawasi pemakaman Linda. Tapi gagal, dia kabur." Ujar Gavlin.


Gavlin terlihat sangat marah, wajahnya terlihat kecewa dan kesal karena gagal mengejar.


"Siapa orang itu ya, mau apa dia? Apa ada hubungannya dengan Linda, dengan kematiannya?" Ujar Maya berfikir.


"Aku yakin pasti ada hubungannya May." Ujar Gavlin.


"Hanya ada 2 hal, orang itu cukup mengenal Linda, ingin melihat Linda di makamkan, atau orang yang membunuh Linda." Ujar Gavlin.


"Dia sengaja datang buat memastikan, bahwa Linda benar benar sudah meninggal dan di makamkan." Ujar Gavlin menatap wajah Maya.


"Ngeri juga ya, kalo benar Linda sengaja di bunuh." Ujar Maya bergidik ngeri.


"Kamu kenapa bisa tau aku disini?" Tanya Gavlin pada Maya.


"Pas mau pulang, aku liat kamu lari manjat tanah berbukit, aku juga liat sekilas orang itu tadi, ya udah, aku langsung lari ngejar kamu." Ujar Maya.


Dia sudah tidak terlihat terengah engah lagi, nafasnya sudah normal, seperti sediakala.


"Sekarang, kamu mau pulang?" Tanya Gavlin.


"Iya. naik Taksi." Ujar Maya tersenyum.


"Aku antar kamu pulang." Ujar Gavlin menatap wajah Maya, Maya mengangguk tersenyum.


Mereka berdua lantas melangkahkan kakinya, pergi dari lokasi tersebut.


   Gatot, dengan wajah seriusnya sedang meneliti lokasi kejadian kecelakaan mobil Linda dengan mobil Truck.


Dia menoleh pada Teguh yang sedang berdiri di dekat tiang lampu lalu lintas.


"Dari cctv yang kamu liat, dimana mobil truck itu menunggu dan mengawasi sebelum mobil korban Linda datang?" Tanya Gatot pada Teguh.


"Di sana Pak !" Ujar Teguh, menunjuk kiri jalan.


Gatot segera melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah jalan yang ditunjuk Teguh.

__ADS_1


Sampainya dia di jalan tempat dimana mobil truck menunggu mengawasi, sebelum datangnya mobil Linda, dia melihat lihat sekitarnya.


Mata Gatot menatap ke aspal, ada bekas jejak ban besar dari sebuah mobil di aspal.


Gatot lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya terus mengawasi sekitarnya.


Lalu, di pinggir jalanan dekat dengan jejak ban yang dia temukan, Gatot melihat puntung rokok tergeletak di dekat rerumputan dan pecahan batu batuan.


Gatot segera melangkahkan kakinya, mendekati, dia berjongkok.


Teguh yang melihat Gatot berjongkok dan memakai sarung tangan khususnya segera berlari mendekati.


Gatot melihat ada sekitar 8 puntung rokok tergeletak disekitarnya, dia mengambil kantong plastik kecil khusus menyimpan barang bukti dari kantong celananya.


Dengan jari tangannya yang memakai sarung tangan, Gatot mengambil satu puntung rokok.


Gatot mengamatinya, lalu memasukkan puntung rokok kedalam kantong plastik khusus.


Setelah semua puntung rokok di ambil dan di simpannya dalam kantong plastik khusus, Gatot berdiri, dia menoleh pada Teguh yang berdiri di sampingnya.


"Selidiki, temukan, sidik jari siapa yang ada di puntung rokok ini." Ujar Gatot.


Gatot menyerahkan puntung puntung rokok yang ada dalam plastik khusus, Teguh segera mengambilnya dari tangan Gatot.


Lalu Teguh segera menyimpan barang bukti itu di dalam kantong celananya.


Gatot lalu segera melangkahkan kakinya, meninggalkan lokasi kejadian, masuk kedalam mobilnya.


Teguh cepat berlari lari mengikutinya, lalu Teguh masuk kedalam mobil.


Mereka berdua lalu pergi dari lokasi kejadian kecelakaan yang memakan korban, dengan berujung pada kematian Linda.


   Di dalam mobil, Sosok Pria yang mengawasi pemakaman Linda melepaskan topi yang dipakainya di kepala.


Dia meletakkannya di atas jok depan, disampingnya, dia lalu membuka kaca mata hitamnya, menyimpan kaca mata hitamnya di dalam dashboard mobil.


Pria yang ternyata Mike itu terlihat  menyeringai puas melihat Linda sudah di makamkan.


"Akhirnya aku bisa benar benar lega, Linda sudah di kubur." Ujarnya sinis.


"Mampus kamu Lin, kalo kamu mau jadi istriku, kamu gak bakal mati." Ujarnya tertawa senang sambil terus menyetir mobilnya dijalan raya.


   Sementara itu, Gatot sedang memasang Headset bluetooth wireless ditelinganya, sambil terus menyetir mobilnya dia menelpon Maya.


Teguh duduk diam di jok depan, disamping Gatot yang menyetir mobil.


"Kamu dimana ? Ayah mau bicara denganmu, tunggu Ayah dirumah ya?" Ujar Gatot bicara ditelepon dengan Maya.


Teguh diam mendengarkan, Gatot terus menyetir mobilnya, mobilnya melaju menyusuri jalan raya yang sedikit ramai.


   Taksi berhenti di pinggir jalan depan rumah Maya, di dalam taksi, Maya dan Gavlin duduk di jok belakang mobil taksi.


Saat Maya mau membayar ongkos taksi, Gavlin sudah duluan menyodorkan tangannya, memberikan uang pada supir taksi.


Dia membayar ongkos taksi, Supir mengambil uang dari tangan Gavlin.


"Terima kasih pak." Ujar Supir. Gavlin mengangguk tersenyum pada Supir.


Maya lalu memasukkan uangnya kembali kedalam dompet, lalu menyimpan dompetnya di dalam tas.


Gavlin dan Maya keluar dari dalam taksi, lalu mobil taksi pergi meninggalkan mereka berdua yang melangkah masuk ke halaman rumah Maya.


Maya dan Gavlin masuk ke dalam rumah, Gavlin memandangi isi ruang tamu rumah Maya.


"Duduk Vlin, aku ambil air buatmu." Ujar Maya.


Gavlin mengangguk tersenyum, Maya segera pergi masuk kedalam rumahnya, Gavlin lantas duduk di sebuah sofa yang ada diruang tamu, diam menunggu Maya.


   Mobil Gatot berhenti di depan gedung kantor kepolisian, dia menoleh pada Teguh yang duduk di jok depan, disampingnya.


"Kamu nanti cepat kabari saya begitu hasilnya sudah keluar dan ditemukan siapa pemilik sidik jari yang ada di puntung rokok tadi." Ujar Gatot.


Dia lantas membuka pintu mobil, keluar dari dalam mobil, lalu berdiri diluar, samping mobil.


Gatot segera pergi meninggalkan Teguh yang memandangi kepergiannya.


Lalu Teguh berbalik, melangkahkan kakinya dengan cepat, masuk ke dalam gedung kantor kepolisian.


   Maya datang mendekati Gavlin yang sedang duduk diam di sofa menunggunya.


"Di minum Vlin." Ujar Maya sambil meletakkan botol berisi air bening dingin yang diambilnya dari dalam kulkas.


Maya memberikan gelas yang sudah terisi air, Gavlin mengambil gelas dari tangan Maya dengan tersenyum.


Lalu dia meminum air yang ada didalam gelas sampai habis. Maya duduk di sofa, samping sofa tempat duduk Gavlin.


"Aku masih penasaran dengan orang tadi." Ujar Gavlin.


"Siapa dia ya Vlin ?" Ujar Maya, dia jadi ikut memikirkan sosok Pria yang juga tadi dia sempat lihat saat dikejar Gavlin.


"Entahlah, aku harus cari tau, firasatku kuat, pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan kematian Linda." Ujar Gavlin sambil menghela nafasnya.


Gavlin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menoleh pada Maya yang duduk disampingnya.


"Linda pernah bilang padaku, mengajakku untuk lari, pergi meninggalkan papahnya, keluar negri dengan membawa semua harta yang dia punya." Ujar Gavlin.


"Ohya?!" Ujar Maya, matanya terbelalak menatap wajah Gavlin, dia sedikit kaget mendengarnya.


"Linda juga bilang, aku gak usah kerja, karena uangnya cukup untuk menghidupi kami berdua." Ujar Gavlin.


"Lantas ?" Tanya maya.


"Aku tersinggung, marah dan kesal padanya, karena meremehkan aku, menganggapku gak mampu untuk mendapatkan pekerjaan." Ujar Gavlin menghela nafasnya.


"Terus ?" Tanya Maya menatap lekat wajah Gavlin.


"Aku menolaknya, aku gak mau dituduh memanfaatkan Linda dan menjadi pecundang yang bisanya cuma menghabiskan harta Linda." Ujarnya.


Maya menarik nafasnya mendengar itu, dia terlihat lega mengetahui Gavlin menolak tawaran Linda.


Jauh dalam hatinya, dia tak ingin Gavlin pergi jauh darinya, entah apa yang dirasakan Maya.


Selalu saja ada getaran getaran aneh yang dia rasakan, jika sedang berada di dekat Gavlin.


Dia tak mampu menepis dan membuang perasaan yang semakin hari semakin kuat.


Seperti ada kedekatan yang sudah lama terjalin antara dirinya dan Gavlin, tapi dia tak tahu apa itu.


Terdengar suara air mendidih berbunyi dari dapur, memecahkan keheningan sesaat, karena Maya dan Gavlin saling diam sejenak. Maya tersadar, dia cepat berdiri.


"Bentar ya Vlin, aku lupa, lagi rebus air buat bikin kopi untukmu !" Ujar Maya nyengir.


Dia lalu dengan cepat berlari ke dapur, Gavlin memandangi kepergian Maya dengan wajah melongo.


Maya cepat mematikan kompornya, menurunkan ceret yang berisi air panas.


Dia lalu menuangkan air panas yang baru dimasaknya ke dalam gelas yang sudah ada bubuk kopi dan sedikit gula didalam gelas.


Maya membuat kopi panas untuk Gavlin, agar Gavlin bisa lebih lama dirumahnya.


Maya ingin berlama lama dengan Gavlin saat ini, dia ingin menemani Gavlin yang terlihat sedang gundah dan sedih karena kematian Linda.


Saat ini, dia ingin ada disamping Gavlin, tak ingin Gavlin cepat pergi darinya.


Gatot masuk kedalam rumahnya, dia kaget melihat Gavlin ada diruang tamu rumahnya sedang duduk.


Gavlin yang juga kaget langsung berdiri begitu melihat kedatangan Gatot.

__ADS_1


"Kamu? Udah lama datang?!" Tanya Gatot dengan menatap lekat wajah Gavlin.


"Satu jam yang lalu Om." Ujar Gavlin mengangguk tersenyum pada Gatot.


"Maya mana ?" Tanya Gatot.


"Apaan sih Yah, nanyain aku." Ujar Maya datang mendekati Gatot dan Gavlin sambil ditangannya memegang gelas berisi kopi panas.


"Kok cuma bikin satu, kopi Ayah mana?" Tanya Gatot melotot pada Maya.


"Diiih...meneketehe Ayah pulang, ntar aku buatin. Ini buat Gavlin." Ujar Maya berdiri didekat Gavlin dan Gatot.


Gatot tersenyum, dia hendak melangkah, bersamaan dengan Maya yang hendak meletakkan gelas kopi ke meja.


Gatot menyenggol tangan Maya, karena dia tidak tahu kalau Maya mau meletakkan gelas kopi di meja.


Kopi tumpah dan mengenai baju Gavlin hingga basah dan kotor karena bubuk kopi yang menempel dibajunya.


Maya terhenyak kaget, Gatot bengong, Gavlin juga sedikit kaget karena terkena tumpahan kopi.


"Ayah...gak liat liat, jadi tumpah tuh." Ujar Maya kesal pada Ayahnya yang menyenggol dia, membuat tumpah kopi yang baru dibuatnya untuk Gavlin.


"Ayah gak tau, maaf." Ujar Gatot.


"Maaf ya Vlin, kamu gak apa kan? Gak ada yang luka kan, tanganmu gak kena air panas kopi kan?" Tanya Maya khawatir pada Gavlin.


"Gak apa May." Ujar Gavlin tersenyum.


Gatot memandangi wajah anaknya yang terlihat sangat khawatir dengan Gavlin yang ketumpahan kopi.


Dia tahu, anaknya menyukai Gavlin, Gatot lalu pergi meninggalkan mereka berdua, masuk kedalam kamarnya.


Maya mencoba membersihkan pakaian Gavlin yang kotor terkena bubuk kopi panas yang tumpah.


"Buka bajumu Vlin, biar aku cuci dan keringkan sebentar pake mesin cuci." Ujar Maya.


"Gak usah May, gak apa apa kok." Ujar Gavlin tersenyum.


Gatot mendekati mereka, dia mendekati Gavlin, berdiri disampingnya.


"Pake baju ini." Ujar Gatot memberikan baju kaos miliknya, yang sengaja dia ambil dari dalam kamarnya.


"Trima kasih Om." Ujar Gavlin mengangguk tersenyum.


Dia lantas mengambil baju kaos dari tangan Gatot, meletakkan baju kaos di sandaran sofa.


Gavlin lalu membuka pakaiannya, Gatot memandangi wajahnya, Maya berbalik pergi ke dapur membawa gelas berisi kopi yang tumpah.


Maya mau membuat kopi yang baru buat Gavlin, sekaligus Ayahnya.


Gavlin sudah melepaskan kemejanya yang terkena noda tumpahan kopi.


Dia meletakkan kemejanya di atas sofa, mengambil baju kaos yang tergeletak disandaran sofa.


Saat Gavlin memakai baju kaos kebadannya, tanpa sengaja, Gatot yang dari tadi matanya memandang, mengawasi, mengamati sosok Gavlin terkesiap.


Matanya terbelalak, terbuka lebar saat melihat ada tompel, tanda lahir di bagian lengan tangan kanan Gavlin.


Gatot terdiam, dia berfikir, lalu memandangi wajah Gavlin secara tegas.


Gavlin tidak mengetahui, bahwa saat ini dia sedang diperhatiin Gatot.


Didalam hatinya Gatot berkata, "Tanda lahir itu? Bentuknya sama, apa dia Yanto?" Ujar bathinnya.


Gatot bicara dalam hatinya mengenai Gavlin. Seketika Gatot merasa ada yang ganjil dari sosok Gavlin.


Tanda lahir yang sama seperti tanda lahir Yanto, anak kecil yang dulu dia tolong dan bawa ke panti asuhan, ada di lengan kanan tangan Gavlin.


Gatot terus memandangi wajah Gavlin, dia tercenung.


Maya melangkahkan kakinya mendekati Gatot dan Gavlin.


Maya heran melihat Ayahnya memandangi wajah Gavlin tanpa berkedip. 


"Ayah ngapain mandangin Gavlin serius gitu?!" Tegur Maya, membuat Gatot kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Ah, nggak, gak apa apa." Ujar Gatot pura pura bersikap biasa, seperti tidak ada yang terjadi.


Gavlin yang sudah memakai baju kaos dibadannya lalu duduk di sofa, Gatot ikut duduk di sofa yang ada didepan Gavlin.


Sesekali dia melirik wajah Gavlin, ada rasa penasaran dalam diri Gatot, dia ingin tahu, sebenarnya Gavlin itu siapa?


Maya meletakkan dua gelas kopi diatas meja, mengambil kemeja Gavlin yang kotor ketumpahan kopi, membawanya ke belakang, mencucinya di mesin cuci.


"Orang tua kamu dimana ?" Tanya Gatot membuka pembicaraan pada Gavlin, memecahkan suasana hening karena mereka saling diam.


"Orang tua saya di Belanda Om." Ujar Gavlin tersenyum.


"Kenapa kamu gak tinggal dengan mereka?" Tanya Gatot.


"Nggak Om, saya lebih nyaman tinggal di Indonesia, mereka bukan orang tua kandung saya." Ujar Gavlin tersenyum memberitahu tentang dirinya.


"Kamu di adopsi?" Tanya Gatot.


"Iya Om." Ujar Gavlin mengangguk tersenyum.


"Gavlin sama denganku Yah, anak adopsi, aku di adopsi sama Ayahku tersayang." Ujar Maya yang habis mencuci pakaian Gavlin.


Maya lalu duduk di sofa samping Gavlin, dia tersenyum manja pada Gatot yang tersenyum padanya.


"Di minum kopinya Vlin, Yah." Ujar Maya menawarkan kopi yang dia buat,


Gavlin mengangguk tersenyum, Gatot hanya diam tak menjawab omongan Maya.


Gatot lalu menoleh kembali pada Gavlin, terdiam sesaat, lalu dia menarik nafasnya.


Gatot menatap lekat wajah Gavlin yang salah tingkah karena tahu Gatot sedang memandanginya.


"Kamu punya tompel?" Tanya Gatot menatap Gavlin.


Gavlin kaget, dia lantas memegangi lengan kanan tangannya.


"Iya Om." Ujar Gavlin mengangguk.


"Itu Tanda lahirmu atau tatto?" Tanya Gatot lagi. Maya heran, Ayahnya menanyakan tanda lahir Gavlin.


"Ini tanda lahir saya Om, sejak saya lahir, saya sudah ada tanda lahir ini." Ujar Gavlin sambil menunjuk pada Tanda lahir di lengan kanan tangannya.


Maya melihat lengan kanan tangan Gavlin, dia yang duduk disamping Gavlin mengangkat baju kaos Gavlin dibagian lengan.


Dia penasaran ingin tahu, Maya melihat tompel tanda lahir di lengan tangan Gavlin.


"Kok Ayah nanyain tanda lahir Gavlin, kenapa Yah?!" Tanya Maya heran menatap wajah Ayahnya yang menarik nafasnya.


"Nggak, Pas liat tompel itu saat dia pakai baju kaos tadi, tiba tiba aja Ayah ingat anak kecil yang dulu Ayah tolong. Anak itu punya tanda lahir yang sama." Ujar Gatot.


Gatot menatap lekat wajah Gavlin, Maya terdiam, Gavlin terhenyak kaget.


Gavlin berusaha bersikap tenang, agar Gatot tak mengetahui bahwa dia kaget saat Gatot mengatakan hal itu.


Gavlin diam berfikir, apakah Gatot, Ayah Maya orang yang dulu menolongnya dan adiknya?


Yang membawanya kerumah sakit, lalu mengirimnya ke panti asuhan?


Jika benar, artinya, Maya benar benar teman kecilnya.


Karena dia tahu, dulu Maya di selamatkan oleh seorang polisi. Gavlin terdiam, Maya juga diam.

__ADS_1


Gatot terus memandangi wajah Gavlin, dari tatapan mata Gatot, tergambar, bahwa dia ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang Gavlin.


__ADS_2