
Ronald dan Moses tiba di Markas besar Moses. Mereka berdua masuk ke dalam ruang kantor Moses.
Ronald menghempaskan tubuhnya, duduk di sofa, dia lantas menatap tajam wajah Moses yang sedang membakar rokok cerutu kubanya diasbak, yang ada di atas meja tamu.
"Mana photo gadis itu?" Tanya Ronald dengan wajah serius pada Moses.
"Gadis mana?" Tanya Moses sambil menghisap cerutunya.
"Pacar si Gavlin !! Pura pura bego lagi!!" bentak Ronald marah.
"Oh, bilang yang jelas dong!" Jawab Moses santai.
Dengan memegang rokok cerutunya, Moses berjalan ke arah lemari buffet yang ada di dalam kantornya itu. Lalu, diambilnya kamera digital yang tersimpan di dalam lemari buffet tersebut.
Setelah menutup pintu kaca lemari, Moses membawa kamera digitalnya. Dia berikan kamera itu pada Ronald, Moses lalu duduk di sofa, sambil terus menikmati cerutunya.
Ronald cepat menyalakan kamera digital Moses, lalu, dia pun melihat photo photo hasil jepretan Moses dan anak buahnya. Ronald melihat, ada banyak photo berisi Gavlin dan rumahnya yang baru saja mereka datangi tapi kosong.
Saat Ronald melihat photo Gavlin bersama Maya, sedang berdiri di trotoar jalan sambil berpegangan tangan, dia menghentikan melihat photo lainnya. Mata Ronald tertuju pada Photo Gavlin dan Maya, dia menegaskan pandangan matanya pada wajah Maya.
Lalu, Ronald mencari photo lainnya di dalam kamera digital milik Moses, dia pun menemukan photo Maya sendirian, yang berhasil di jepret anak buah Moses, saat mengintai dan mengawasi Gavlin serta Maya.
Ronald mengamati wajah Maya di photo tersebut, Ronald tersenyum dan tersungging licik memandang photo Maya.
"Cantik, seksi, menggairahkan. Hanya dengan melihat photo wajahnya saja nafsuku naik, langsung pengen niduri gadis ini!" Ujar Ronald.
Dia pun tertawa dengan sangat menjijikkan, wajahnya terlihat bernafsu pada photo Maya.
"Siapa maksudmu?" Tanya Moses heran.
"Ini, pacarnya si anak cecunguk sialan itu! Wajahnya benar benar mengundang nafsu !" Ujar Ronald menyeringai licik.
"Kamu tau, dimana rumah gadis ini? Atau, apa dia bekerja?" Tanya Ronald dengan wajah serius.
"Mau apa kamu dengan gadis itu?" Tanya Moses.
"Aku mau tau, dan aku cuma mau bermain main sedikit saja dengan gadis ini, aku tau, dengan sentuhan dikit saja di tubuhnya, gadis ini pasti akan jatuh kepelukanku, dan dia pasti akan melayaniku!" Ujar Ronald tertawa menjijikkan penuh nafsu.
"Kamu jangan macam macam dengan gadis itu, Nald !" Tegas Moses.
"Kenapa rupanya?!" Tanya Ronald heran.
"Kalo kamu macam macam sama dia, Kamu bisa dapat masalah besar!" Tegas Moses lagi dengan wajahnya yang serius.
"Perduli setan dengan masalah!!" Hardik Ronald kesal.
"Nald ! Aku peringatkan sama kamu, jangan libatkan gadis itu dengan masalahmu sama si Gavlin !! Cukup Gavlin saja, jangan bawa bawa gadis itu!!" Ujar Moses memberi peringatan pada Ronald.
"Aaagghh !! Aku gak perduli !! Gak ada urusan !! Pokoknya aku harus mendapatkan gadis itu !!" Bentak Ronald berteriak keras di depan Moses.
"Dia itu anaknya, Gatot ! Komandan Polisi yang saat ini mengusut kasus pembunuhan anaknya Bramantio dan juga kasus peledakan hotel serta apartemen itu!!" Bentak Moses mengingatkan.
Mendengar itu, Ronald pun terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia menyeringai licik, ditatapnya wajah Moses yang tampak cemas. Moses cemas, Ronald bertindak di luar batas mencelakakan Maya. Dan akan mengakibatkan kemarahan Gatot, seorang Komandan Polisi yang selama ini dia kenal tegas dan tak kenal kompromi dalam menumpas kejahatan.
"Seru juga, kalo aku sedikit bermain main dengan Gavlin, gadis itu, dan juga si Gatot, komandan polisi itu!" Tegas Ronald bersemangat.
"Nald, jangan bertindak sesuka hatimu ! Ingat ! Tujuanmu hanya Gavlin dan Yanto, hanya mereka berdua !! Jangan sampai kamu terlibat masalah dengan Gatot, hanya karena anaknya itu!!" Bentak Moses marah.
Moses berani melawan Ronald. Ronald pun menjadi marah, karena Moses mencoba menghalangi niatnya.
"Aku gak perduli !!" Teriak Ronald marah pada Moses.
Ronald marah, karena Moses berani membentak dirinya, Ronald mendekati Moses, dia menatap tajam wajah Moses.
"Ingat, di sini, aku yang jadi Bosnya!! Kamu hanya ikuti dan turuti semua perintahku !! Jangan sekali sekali bertindak seperti penasehatku!! Jangan juga kamu coba coba menghalangi niatku!!" Bentak Ronald marah pada Moses.
"Sekali aku berniat untuk melakukan sesuatu, maka, aku gak bakalan mundur sejengkal pun! Aku akan melakukannya! Dan gak akan ada orang yang bisa melarang dan menghalangiku!!" Hardik Ronald.
"Akan ku pastikan, siapapun yang menghalangi langkahku, akan ku bunuh, gak perduli siapapun orangnya, termasuk kamu Moses!!" Bentak Ronald dengan marahnya pada Moses.
Moses pun terdiam, dia tak berani melawan dan membantah Ronald yang sudah marah besar itu, dia pun memilih diam dan menuruti perkataan Ronald.
__ADS_1
"Ok. Aku ikuti kemauanmu, tapi aku gak mau kebawa bawa masalahmu nantinya dengan Gatot." Ujar Moses.
"Bantuanku hanya berhubungan dengan Gavlin dan si Yanto, tidak untuk urusanmu yang lainnya!" Tegas Moses.
"Apa katamulah, terserah!!" Hardik Ronald.
Ronald lalu kembali mengamati wajah Maya yang ada di photo dalam kamera digital milik Moses tersebut. Sementara Moses tampak terdiam, ada rasa khawatir dalam dirinya, jika Ronald akan menimbulkan masalah besar padanya nanti. Namun, Moses tak bisa berbuat apapun, dia tak akan bisa menghalangi dan mencegah Ronald. Karena dia sangat mengenal sosok Ronald tersebut. Akhirnya, Moses hanya bisa diam dan pasrah saja, mengikuti semua perintah Ronald.
"Panggil anak buahmu yang waktu itu ngambil photo si Gavlin dan pacarnya ! Aku mau nanya tempat tinggal gadis itu!" Ujar Ronald.
"Anak buahku gak tau rumahnya, Nald. Kan mereka hanya ikuti Gavlin sampai kerumah Gavlin, bukan mengikuti pacarnya Gavlin!" Tegas Moses.
"Iya juga, ya." Pikir Ronald.
"Oke lah, Kalo gitu. Cepat suruh anak buahmu intai dan awasi pacar si Gavlin, cari tau rumah dan tempat kerjanya, kalo udah tau, cepat kabari aku!!" Tegas Ronald memberi perintah pada Moses.
"Ok, Nald." Jawab Moses datar.
Sebenarnya, Moses sangat berat menuruti perintah Ronald untuk mencari tahu keberadaan Maya. Karena, jika dia menurutinya, dan Ronald tahu rumah Maya, Pacar Gavlin, maka, dia akan benar benar mendapatkan masalah.
Bukan saja dirinya sendiri yang dapat masalah, namun, bisnisnya pun akan terancam dan mendapatkan masalah besar.
Jika sampai terjadi hal yang buruk pada Maya, pacar Gavlin, anaknya Gatot, maka, dapat dia pastikan, Gatot yang seorang Komandan Polisi akan menghancurkan dia dan bisnisnya.
Moses berada dalam keresahan saat ini, dia khawatir bisnisnya hancur gara gara menuruti ego Ronald, dan dia juga takut, jika menolak keinginan Ronald, nyawanya akan terancam, bisa saja Ronald malah membunuhnya nanti.
Tak ada jalan lain sepertinya buat Moses saat ini, dia harus menuruti semua keinginan Ronald tersebut.
---
Di sebuah cafe, Tampak Masayu dan Jafar sedang bertemu, mereka terlihat mesra, duduk di kursi meja makan, sambil berpegangan tangan.
Mereka berdua tidak tahu, jika saat ini, ada yang sedang mengintai dan mengawasi mereka dari luar cafe.
Di luar cafe , di pojokan sudut cafe, Gavlin sedang mengawasi Masayu dan Jafar, dia mengabadikan pertemuan Masayu dan Jafar dengan kamera digital yang ada di tangannya.
"Semakin hari, aku perhatikan Bram gak bersemangat, dia kayaknya down sejak hotelnya hancur." Ujar Masayu.
"Biarkan saja. Kalo dia mati, hartanya kan jadi milikmu, karena, cuma kamu satu satunya pewaris sah dia!" Ujar Jafar tertawa senang.
"Ah. Biar saja. Aku muak sama dia! Orangnya arogan, gila hormat! Mau menang sendiri!!" Tegas Jafar kesal.
Masayu pun terdiam, Jafar menatap lekat wajah Masayu, tatapan matanya penuh cinta pada Masayu.
"Aku gak mau lagi bahas Bram, kalo kita sedang berduaan begini, jangan bicara yang lain, cukup kita bicara tentang kita berdua aja." Tegas Jafar pada Masayu.
"Oke, Far." Ujar Masayu tersenyum.
"Kita udah selesai makan, selanjutnya, kita mau kemana?" Ujar Jafar bertanya.
"Terserah kamu, aku ikut, kemana pun kamu bawa " Ujar Masayu tersenyum mesra.
"Hehe, Ok, aku akan membawamu ke tempat indah dan istimewa, kita akan menghabiskan waktu seharian di sana!" tegas Jafar.
"Iya.Far." Jawab Masayu tersenyum senang.
Lalu, mereka berdua pun segera keluar dari dalam cafe tersebut. Gavlin yang mengintai diluar, buru buru pergi dan bersembunyi.
Gavlin bersembunyi di balik tembok cafe. Masayu dan Jafar keluar dari dalam cafe, Gavlin mengintip dari balik tembok sudut cafe tersebut.
Wajah Gavlin tampak kaget saat dia melihat sosok Jafar yang keluar dari dalam cafe bergandengan tangan dengan Masayu.
"Jafaarr?!!" Ujar Gavlin dengan geramnya.
Seketika, Gavlin hendak menghampiri Jafar, karena dia memang sudah lama mencari Jafar, orang yang sudah menjebak Bapaknya dan membunuh ibunya dulu.
Saat Gavlin hendak beranjak untuk menghampiri Jafar dan Masayu, ada tangan yang memegang bahunya, tangan itu menahan Gavlin pergi mendekati Jafar.
"Jangan gegabah, Yanto. Ingat. Ini tempat ramai, jika kamu menghajar Jafar, orang akan banyak melihatmu!" Ujar Teguh.
Ya, ternyata Teguh yang datang, tangan Teguhlah yang memegang bahu Gavlin. Gavlin berbalik dan menatap tajam wajah Teguh.
__ADS_1
"Tapi aku gak mau menyia nyiakan kesempatan bang Bro!! Mumpung aku udah ketemu si Jafar itu!! Aku harus membunuhnya !! Aku gak mau melepaskannya begitu saja!!" Ujar Gavlin menahan amarahnya.
Dia bicara sedikit pelan, agar suaranya tak ada yang mendengar. Teguh menghela nafasnya, ditatapnya wajah Gavlin yang penuh amarah itu.
"Aku tau, kamu udah lama mencari Jafar. Tapi aku mohon, Yan. Jangan sekarang, kamu bisa membalaskan dendammu sama Jafar nanti! Ditempat lain, dan bukan di sini!" Tegas Teguh.
"Lebih baik, kamu intai dan awasi Jafar, cari tau, apa saja yang dilakukan Jafar bersama Masayu, istri Bramantio itu!" Ujar Teguh serius.
"Aku akan membantumu mencari tau, apakah Jafar selama ini suka berkomunikasi dan bertemu dengan Bramantio, atau, mereka sudah tak berhubungan, karena istri Bramantio sekarang dekat sama si Jafar itu." tegas Teguh.
Gavlin terdiam, dia tampak berfikir. Matanya melihat mobil yang di kendarai Jafar pergi dari cafe tersebut.
Gavlin melihat, Masayu duduk di jok depan, disamping Jafar yang menyetir mobil. Wajah Gavlin tampak marah melihat kepergian Jafar dan Masayu.
"Kamu kenapa bisa tau aku disini?" Tanya Gavlin heran.
"Karena aku sedang di tugaskan Gatot untuk mengawasi Jafar. Gatot tau, Jafar sudah kembali ke negara ini, dia curiga, kedatangan Jafar kembali ke negara ini, ada hubungannya denga kehancuran hotel Bramantio kemaren!" ujar Teguh menjelaskan.
"Oh." Ujar Gavlin datar.
"Pas aku mengawasi Jafar, aku tadi melihatmu, pergi menyelinap dan bersembunyi di sini, makanya aku keluar dari mobilku, dan menghampirimu!" Lanjut Teguh menjelaskan.
"Ya, udah. Aku pergi dulu." Ujar Gavlin.
"Yan. Ingat pesanku ! Jangan bertindak gegabah!!" Tegas Teguh mengingatkan.
"Iya." Jawab Gavlin datar.
Gavlin lantas pergi meninggalkan Teguh, Teguh menghela nafasnya dengan berat, dia melihat, Gavlin memakai helm dan naik ke atas motor sportnya.
Lalu, Teguh pun pergi dari tempat persembunyian Gavlin. Motor Gavlin pun kemudian berjalan, dan pergi dari cafe tersebut.
Teguh masuk ke dalam mobilnya, dia memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya. Teleponnya berbunyi. Teguh cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.
"Hallo?" Ujarnya di telepon, tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Dimana kamu?" Tanya Gatot dari seberang telepon.
"Masih di cafe, mengawasi Jafar, Komandan!" Ujar Teguh di telepon.
"Cepat balik ke kantor ! Ada tugas baru untukmu!" Ujar Gatot dengan tegas, bicara di seberang telepon.
"Siap, Komandan! Saya akan segera datang!" Ujar Teguh di telepon.
Telepon terputus, Gatot sudah mematikan telepon. Teguh menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya.
Teguh diam, dia berfikir sesaat, dia teringat dengan kata kata Gatot barusan di telepon.
"Ada tugas baru katanya? Kira kira, apa tugasnya?!" Gumam Teguh, bicara sendiri sambil berfikir.
Lalu, dia menghela nafasnya, kemudian, dia pun menjalankan mobilnya.
Mobil Teguh pun melaju pergi meninggalkan cafe tersebut.
---
Maya tampak berjalan di atas trotoar jalan, wajahnya terlihat murung, ada kerinduan dihatinya, dia rindu pada Gavlin. Sebab, dia tak bisa lagi setiap saat, sesuka hatinya datang kerumah Gavlin, menemuinya sekedar melepas rindu.
Sekarang rumah Gavlin jauh, dan dia tidak tahu alamatnya. Jika dia tahu alamat rumah Gavlin yang baru, pasti dia memaksakan diri untuk datang kerumahnya, dan menemui Gavlin.
Maya berjalan sambil melamunkan Gavlin, dia tak tahu, jika saat ini, dia sedang di ikuti seseorang.
Seseorang dengan memakai topi hitam dan masker penutup mulut dan hidung berjalan di belakang Maya. Dia terus mengikuti Maya.
Saat itu, jalanan terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja terlihat berlalu lalang.
Di jalanan, tidak jauh dari tempat Maya berjalan, tampak Gavlin tengah mengendarai motornya.
Maya dengan wajah murungnya masih terus berjalan, orang yang mengikuti Maya di belakangnya berjalan cepat, dia mau mendekati Maya.
Saat Maya mau berbelok ke jalanan lain, orang yang mengikuti Maya langsung menyergap Maya. Maya pun kaget, dia panik.
__ADS_1
Maya berontak, dia meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang tersebut.
Orang yang mengikuti Maya terus mencengkram tubuh Maya, dia menutup mulut Maya dengan tangannya, Maya terus meronta, berusaha melepaskan dirinya.