VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Sidang Tersangka Pertama di Gelar


__ADS_3

Sejam kemudian, Prawira pun mulai tersadar dari pingsannya, dia lantas kaget, saat mengetahui, dirinya di ikat dan tergantung dalam sebuah pabrik usang. Prawira pun meronta ronta.


Beberapa saat kemudian, Fahmi masuk ke dalam pabrik tersebut, dia lantas berjalan menghampiri Prawira yang dalam posisi tergantung.


Fahmi lantas berdiri tepat di hadapan Prawira, dia menengadahkan kepalanya, melihat Prawira yang tergantung.


Prawira melihat Fahmi, mata dan alisnya bergerak, menandakan, kalau Prawira sangat marah pada Fahmi, yang diam diam menyerangnya dan membiusnya hingga pingsan.


Fahmi yang berdiri dihadapan Prawira yang tergantung hanya tersenyum sinis memandangi wajah Prawira.


Dengan sikap tenang dan dinginnya, lalu, Fahmi pun melepaskan kancing kemejanya, di lepaskannya baju kemeja dan dibuangnya di lantai.


Lalu, dia pun bertelanjang dada, kemudian, dengan sikap dingin, dia menarik kuat kiri dan kanan dari kulit tubuhnya. Seketika, kulit badan pun robek.


Lalu, Fahmi melepaskan dan membuangnya ke lantai, ternyata, tubuh gemuk dan gempal fahmi karena dia memakai kulit tubuh buatan


Gavlin yang seorang seniman besar , mudah merubah bentuk tubuhnya dengan semua peralatan yang dia miliki.


Mata Prawira terbelalak lebar menyaksikan semua itu, belum sempat hilang rasa kagetnya, Prawira melihat, Fahmi melepaskan rambut wig di kepalanya, lalu, dia melepaskan kumis tipis dan kaca mata tebal kutu bukunya.


Lantas, Gavlin menarik wajahnya, dia melepaskan wajah palsu, yang ternyata topeng berbentuk wajah pemuda berpipi tembam dan gemuk.


Mata Prawira semakin terbuka lebar melihat sosok yang berdiri di bawah, dihadapannya, Prawira sangat mengenali sosok tersebut.


Ya, dia adalah Gavlin.


Gavlin sengaja menyamar untuk bisa menculik Prawira dan membalaskan dendamnya. Dengan menyamar sebagai pemuda bertubuh gemuk dan gempal, dia berpura pura menjadi wartawan yang mewawancarai Prawira.


Bodohnya Prawira, karena dengan mudahnya, dia terpedaya dengan omongan Gavlin, hingga dia pun di culik Gavlin. Prawira sangat geram mengetahui, bahwa yang menculiknya adalah Gavlin, anaknya Sanusi.


"Kamu sekarang di dalam ruang sidangku, Prawira." ujar Gavlin, dengan tenang dan sikap dinginnya.


"Aku Gavlin, yang bertindak sebagai Jaksa penuntut juga Hakim, akan memulai persidangan ini, mengadili kamu, sebagai tersangka kasus 18 tahun lalu!" tegas Gavlin, dengan sikap dinginnya.


Prawira tampak terdiam mendengar perkataan Gavlin, dia mulai menyadari, jika dirinya di culik, agar Gavlin bisa membalas dendam.


Gavlin lantas berjalan ke sebuah tiang kayu kokoh, dia lantas melepaskan rantai yang melilit dan mengikat pada tiang. Kemudian, dia pun lantas menurunkan tubuh Prawira yang tergantung.


Tubuh Prawira pun terhempas di lantai, kedua kakinya yang terikat lakban, langsung menjejak di lantai.


Gavlin lantas meletakkan rantai yang ada di tangannya, kemudian, dia berjalan menghampiri Prawira yang berdiri masih dalam kondisi terikat dan menggantung, namun kakinya masih bisa menginjak lantai.


Gavlin berdiri tepat dihadapan Prawira, dia menatap tajam wajah Prawira, mata Prawira melotot melihat wajah Gavlin, Gavlin pun tersenyum sinis.


Dengan kuat, Gavlin menarik lakban dan melepaskannya dari mulut Prawira, Prawira meringis kesakitan, lalu, dia meludahi Gavlin.


"Anaaak Seeetaaan !!" teriak Prawira penuh amarah.


Prawira pun langsung melampiaskan kemarahannya, saat lakban terlepas dari mulutnya, dengan sikap dingin, Gavlin menghapus air ludah Prawira yang menempel di wajahnya.


Dengan tenang, dia mengusap tangannya yang ada air ludah ke wajah Prawira, dia mengembalikan ludah Prawira.


Lalu, Gavlin pun berjalan ke meja yang ada di dekat Prawira terikat, kemudian, di ambilnya sebuah besi panjang yang ujungnya runcing.


Lantas, dia mendekati alat pemanggangan yang sudah menyala dengan apinya. Dengan tenang, Gavlin meletakkan besi panjang ke alat pemanggang, dia pun lantas membakar besi panjang tersebut.


"Aku akan mulai mengadilimu, Prawira!" tegas Gavlin, sambil memanggang besi panjang ditangannya.


Prawira yang melihat Gavlin sedang memanggang besi panjang menjadi takut, dia khawatir dengan nyawanya.

__ADS_1


Setelah di rasa Gavlin cukup, dan ujung besi sudah menjadi bara panas karena terbakar, Gavlin pun mendekati Prawira.


"Mengapa kamu, menjebak Bapakku, lalu menuduhnya sebagai pembunuh dan pemerkosa, kemudian menjatuhkan hukuman mati ?!" tegas Gavlin, mulai bertanya.


"Aku hanya ikuti perintah aja dulu, percayalah! Aku dipaksa Herman!!" ujar Prawira ketakutan.


"Kamu tau kesalahanmu?" tanya Gavlin dengan sikap dinginnya menatap wajah Prawira yang ketakutan.


"Karena kamu melakukan kejahatan besar, kamu memutar balik fakta, merubah bukti bukti, melenyapkannya, hanya demi uang dan jabatan!!" tegas Gavlin, menahan geram dan marahnya.


"Tidak !! Bukan begitu!! Dulu, aku di paksa, aku di ancam!!" ujar Prawira, dengan wajah tegang penuh ketakutan.


"Kamu menutup mata dan menutup kedua telingamu, kamu gak mau mendengar semua penjelasan bapakku dulu!!" bentak Gavlin marah.


Gavlin tampak sangat marah dan dendam pada Prawira, atas perbuatannya dulu pada Bapaknya.


"Bagiku semua sudah jelas! Kamu bersalah!! Dan harus mendapatkan hukumanmu!!" tegas Gavlin.


Lantas, Gavlin pun mengarahkan besi panjang yang ujungnya sangat panas dan telah menjadi bara api. Di letakkannya ujung besi ke mulut Prawira.


Prawira pun tampak meronta ronta kesakitan, Gavlin tak perduli, dia terus membakar mulut Prawira dengan ujung besi panas di tangannya.


Mulut Prawira pun terbakar, kulit kulit bibirnya langsung melepuh, bibirnya lalu terkatup , tertutup rapat.


Prawira tampak mau membuka mulutnya yang sudah melepuh dan di bakar, namun, dia sangat kesakitan, mulutnya tak bisa terbuka, karena sudah menyatu akibat kulitnya terbakar dan menyatu.


Setelah Gavlin membakar dan menutup mulut Prawira dengan bara api dari ujung besi ditangannya, lalu, dia menusukkan ujung besi panas ke telinga Prawira.


Ujung besi yang sangat panas itu pun masuk, menembus telinga Prawira, dari kanan hingga ke telinga kirinya.


Gavlin dengan kejam menembus kedua telinga Prawira, akibat dia dulu menutup rapat rapat telinganya, dan tak mau mendengarkan penjelasan Bapaknya yang berusaha membela diri.


Gavlin tahu, Prawira sebagai Jaksa Penuntut dulu terus membantah omongan Bapaknya di persidangan, sebab, Gavlin hadir dalam persidangan Bapaknya bersama Gatot.


Gavlin belum puas dengan apa yang sudah dia lakukan, diambilnya sebuah pisau diatas meja, pisau itu ujungnya sangat tajam.


Kali ini, Gavlin tidak membakar lagi, dia menggunakan pisau sekarang.


Prawira tampak megap megap, dia ternyata masih hidup, walau nafasnya mulai tersengal sengal.


Begitu sakitnya yang dirasakan Prawira, sebab, besi panjang menembus kedua telinganya.


Gavlin mendekati Prawira, lalu, diangkatnya pisau tajam ditangannya.


Kemudian, dengan pisau tersebut, Gavlin pun mencongkel kedua mata Prawira, karena menurutnya, Prawira tak mau menggunakan kedua matanya, untuk melihat kebenaran dari kasus bapaknya di masa lalu.


Prawira pun kejang kejang meronta ronta sangat kesakitan, karena kedua matanya di congkel dan dikeluarkan dengan paksa oleh Gavlin.


Sesaat kemudian, Prawira pun terkulai lemas, dia sudah tak berdaya, tak ada detak jantungnya lagi, nafasnya sudah berhenti, Prawira pun akhirnya mati, dalam keadaan di siksa dengan sadis oleh Gavlin.


Melihat korbannya sudah mati tergantung didepannya dalam kondisi yang sangat mengerikan, Gavlin pun tersenyum puas menatap wajah Prawira yang penuh darah segar yang keluar dari kedua matanya yang di congkel paksa Gavlin.


Gavlin dengan sikap dinginnya mengambil ke dua bola mata Prawira yang terjatuh di lantai saat dia mencongkelnya.


Lalu, dimasukkannya ke dua bola mata Prawira ke dalam gelas besar berisi air alokohol diatas meja. Kemudian, Gavlin berbalik badan.


Dengan sikap dingin dan tenang, dia pun lantas pergi meninggalkan Prawira, tampak dari raut wajahnya, Gavlin tengah merencanakan sesuatu hal pada tubuh Prawira yang sudah menjadi mayat itu.


Gavlin lantas keluar dari dalam pabrik, di tinggalkannya mayat Prawira di dalam Pabrik gula tak terawat itu.

__ADS_1


---


Ponsel Richard berbunyi, segera diambilnya ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, di lihatnya nama si penelpon.


"Dari siapa?" tanya Gatot, dengan wajah cemas.


"Mensesneg Mulyono." ujar Richard, memberi tahu Gatot.


"Mau apa Beliau telpon?" tanya Gatot heran.


Richard menggelengkan kepalanya, karena dia sendiri tak tahu, mengapa Mulyono, Mensesneg tiba tiba menelponnya.


Richard lantas segera menerima panggilan telepon Mulyono, sementara, Gatot berdiri di samping Richard, dia mau mendengar, apa yang akan di bicarakan Richard dengan Mulyono melalui telepon.


"Ya, Pak Mentri, ada apa?" Jawab Richard, di telepon.


"Bisa ketemu Aku malam nanti, Chard? Ada yang mau aku sampaikan padamu, dan ini sangat penting sekali!" tegas Mulyono dari seberang telepon.


"Baiklah, dimana kita ketemu?" tanya Richard, ditelepon.


"Nanti ku kirim alamatnya." ujar Mulyono, dari seberang telepon.


"Baiklah, Aku tunggu!" Jawab Richard, di telepon.


Lalu, Telepon pun di tutup Mulyono dari seberang, Richard lantas memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


"Pak Mulyono minta ketemuan dengan saya malam nanti." ujar Richard.


"Ada apa ya?" tanya Gatot, bertanya tanya heran.


"Entahlah, dia bilang sangat penting sekali, dan kedengarannya, suaranya kayak lagi cemas." ujar Richard.


"Apa ada hal genting yang terjadi sama pak Mulyono?" ujar Gatot, menebak nebak.


"Mungkin saja." ujar Richard.


Tiba tiba ponsel Richard berbunyi, dengan cepat, dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya. Lalu, di bukanya layar ponsel.


Ada satu pesan yang masuk, Richard langsung membuka dan membaca pesan yang di kirim dari nomor Mulyono.


Setelah selesai membaca pesan dari Mulyono, Ponsel di simpan kembali ke dalam kantong celananya.


"Pak Mulyono udah kirim lokasi pertemuannya." jelas Richard.


Ya." Angguk Gatot, mengerti dan paham.


"Aku ragu, Chard." ujar Gatot.


"Kenapa ragu?" tanya Richard.


"Entahlah, ini semua mendadak, tiba tiba aja, gak ada angin, gak ada hujan, Pak Mentri telpon kamu, lalu mengajakmu ketemuan, malam malam lagi." tegas Gatot, menjelaskan.


"Aku khawatir, ini semua jebakan!" tegas Gatot.


"Gak mungkin ! Pak Mulyono itu ada di pihak kita, dan gak mungkin dia berkhianat !" tegas Richard, penuh keyakinan.


Gatot pun terdiam, dia tak membantah perkataan Richard, Richard lantas pergi meninggalkan Gatot, Richard masuk ke dalam kamar, untuk bersiap siap pergi bertemu Mulyono.


Gatot berdiri diam di tempatnya, dia tampak masih resah, dari raut wajahnya tampak sekali, bahwa Gatot sangat mencemaskan keselamatan nyawa Richard.

__ADS_1


Firasatnya sebagai Polisi yang sudah sangat berpengalaman, ini hal yang aneh, dia merasa janggal dengan Mulyono yang tiba tiba menghubungi Richard.


Padahal selama ini dia tahu, tak pernah sekalipun pak Mentri menggunakan ponsel pribadinya untuk menghubungi Richard. Jika mereka bertemu, pastilah Richard yang lebih dulu menghubunginya.


__ADS_2