
Andre berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir gedung kantor kepolisian.
Andre membuka pintu lalu masuk ke dalam mobilnya dan memakai sabuk pengamannya.
Telepon Andre berbunyi, suara nada pesan masuk, Andre mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, dia melihat layar ponsel. Andre lantas membuka kotak pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Pesan dari Gavlin, yang menjelaskan tentang lokasi pertemuan mereka di lokasi bangunan reruntuhan milik Wijaya, lengkap dengan alamatnya.
Andre menghela nafasnya setelah membaca pesan yang di kirim Gavlin kepadanya, dia lantas menghubungi nomor telepon milik Chandra yang saat ini sedang di gunakan Gavlin untuk berkomunikasi dengan Andre.
"Hallo, Vlin. Aku butuh waktu, tolong di undur dua jam dari sekarang, karena aku harus bertemu Samuel dulu untuk mengambil berkas bukti yang kamu minta." ujar Andre, dengan wajah seriusnya, di telepon.
"Baik, aku kasih waktu dua jam dari sekarang, aku tunggu !" ujar Gavlin, dari seberang telepon.
"Ingat, Ndre ! Jangan coba coba menipuku, jika kamu datang gak bawa bukti itu, Chandra ku bunuh!" tegas Gavlin, mengancam dari seberang telepon.
"Baik, aku pasti akan membawa berkas bukti itu!" tegas Andre, ditelepon.
Telepon lantas di tutup oleh Gavlin, Andre kesal, dia memukul stir mobilnya.
"Sial !! Gavlin mengancamku!!" ujarnya geram dan marah.
Andre lantas menyimpan ponselnya ke dalam kantong bajunya, lalu, dia menyalakan mesin mobilnya, sesaat kemudian, mobil Andre pun berjalan, pergi meninggalkan gedung kantor kepolisian.
---
Gavlin menyimpan ponsel Chandra kedalam kantong celananya, dia lantas berdiri tepat di depan Chandra yang duduk di bongkahan batu besar dengan kondisi tubuh terikat tali.
"Maaf, aku terpaksa berbuat ini padamu, ini semua kulakukan, agar aku mendapatkan bukti bukti itu!" tegas Gavlin, menatap wajah Chandra.
"Mau kamu apakan bukti bukti itu?!" tanya Chandra, menatap kesal wajah Gavlin.
"Aku mau liat langsung bukti bukti itu, apa benar semua yang dikatakan Herman !" ujar Gavlin serius.
"Mengapa kamu gak percaya dengan Herman? Dia sudah jelas jelas mengungkap sepak terjang kejahatan inside, dan semua yang dikatakannya benar, sebab, aku memiliki buktinya!!" ujar Chandra.
"Karena itu aku ingin melihatnya sendiri, aku gak bisa percaya dengan perkataan siapapun, sebelum aku memastikan dan melihatnya sendiri!!" tegas Gavlin, menatap tajam wajah kesal Chandra.
"Bukan hanya kamu saja korban kebiadaban organisasi Inside, Yanto, aku juga korban mereka!!" tegas Chandra, menatap tajam wajah Gavlin.
Gavlin diam, dia menatap lekat wajah Chandra yang terlihat serius menatap wajahnya.
"Papahku di bunuh Inside, karena Papahku juga berusaha membongkar kejahatan Inside, sama seperti yang dilakukan Bapakmu!! Papahku juga dibunuh Inside!" tegas Chandra.
"Apa kamu ada bukti atas pernyataanmu ini?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Chandra yang terlihat serius itu.
"Aku punya bukti rekaman rencana kejahatan mereka untuk menjebak bapakmu dan Papahku, lalu membunuh mereka berdua." tegas Chandra.
"Maaf Chan, aku gak bisa percaya omonganmu saat ini , aku harus melihat berkas bukti dan rekaman kejahatan organisasi Inside lebih dulu!" tegas Gavlin.
"Jika bukti dan rekaman itu sama seperti yang di ungkap Herman dan juga kamu, aku akan percaya dan melepaskanmu, tapi, jika tidak, maaf, aku terpaksa harus menyingkirkanmu!" ujar Gavlin, menegaskan.
"Mengapa kamu menyingkirkanku? Aku juga ingin membalas dendam untuk Papahku, sama sepertimu!! Aku bukan musuhmu, Yanto!!" tegas Chandra, dengan wajahnya yang serius menatap Gavlin.
"Jangan sebut nama itu lagi ! Itu masa laluku, sekarang, aku Gavlin!" tegas Gavlin.
__ADS_1
"Aku akan menyingkirkanmu, karena kamu telah menghabiskan waktuku untuk percaya dengan segala omonganmu!" tegas Gavlin.
"Jangan khawatir Chandra, jika bukti itu benar adanya, kamu gak perlu takut, aku akan melepaskanmu!" tegas Gavlin.
"Vlin !! Ada sebuah dokumen yang aku simpan selama ini , dulu, Papahku berpesan, agar memberikan dokumen itu padamu, Papahku menyuruhku mencarimu, tapi, aku gak bisa menemuimu, kamu menghilang!" tegas Chandra, serius.
"Dokumen apa?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.
"Dokumen yang berisi keuangan perusahaan Bramantio, Herman dan juga Binsar. Dokumen itu aku simpan di tempat rahasia." tegas Chandra.
"Aku memang berniat ingin bertemu kamu, dan memberikan dokumen itu padamu, Papahku menyuruh untuk menyerahkan dokumen itu padamu, agar kamu bisa mengungkap kejahatan Binsar dan teman temannya yang lain!" lanjut Chandra, menjelaskan pada Gavlin.
"Tahan omonganmu itu, Chandra, tunggu sampai Andre datang membawa berkas bukti kejahatan Inside, baru aku akan meminta dokumen itu padamu!" tegas Gavlin.
Chandra diam, dia menghela nafasnya dengan berat, ada rasa kecewa pada diri Chandra, karena Gavlin tidak juga melepaskan dirinya, dan masih ngotot ingin melihat berkas bukti yang akan dibawa Andre.
Gavlin duduk di sebuah batu, yang ada didekat Chandra terikat, dia membersihkan pistolnya ditangannya dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
---
Samuel menghampiri Andre, saat Andre masuk ke dalam ruang kantornya, dia melihat wajah Andre tegang dan cemas.
"Gila, ini benar benar gila!!" ujar Andre, geram dan kesal.
"Tenang dulu, Ndre, ceritakan yang jelas , kamu tadi di telpon cuma bilang Chandra di sandera Gavlin, sebenarnya, apa yang sudah terjadi?" tanya Samuel, menatap tajam Andre yang berdiri dihadapannya.
"Gavlin meminta, agar aku membawa berkas bukti bukti kejahatan Herman dan komplotannya serta organisasi Inside!" jelas Andre, dengan wajah serius dan tegang.
"Apa maksudnya, Gavlin meminta bukti itu?" tanya Samuel, heran.
"Gila Gavlin !! Mengapa dia berbuat segila itu!" ujar Samuel geram.
"Mana mungkin aku memberikan berkas bukti kejahatan Inside begitu saja pada Gavlin karena itu , milik kejaksaan, tanpa berkas bukti itu , kita gak akan bisa menyeret Binsar dan anggota Inside lainnya ke pengadilan!!" tegas Samuel, kesal pada Gavlin.
Andre diam, Samuel juga diam, mereka berdua terlihat sedang berfikir masing masing, Andre lantas menatap lekat wajah Samuel yang masih berfikir.
"Sepertinya Gavlin ingin memastikan dan melihat langsung bukti kejahatan Inside, aku yakin, dia ingin tau tentang Bapaknya, makanya dia memaksa, agar aku menyerahkan berkas itu padanya!" jelas Andre, menegaskan pada Samuel.
Samuel yang berdiri dihadapan Andre diam, dia menatap tajam wajah serius Andre, lantas, dia menarik nafasnya.
"Lantas, setelah dia melihat bukti itu, apa yang akan dilakukannya?" ujar Samuel, bertanya pada Andre.
"Entahlah, mungkin saja dia akan bergerak dan bertindak seperti biasanya , menyerang organisasi Inside !" tegas Andre, menjelaskan dengan serius.
Samuel diam, dia berfikir kembali, Andre menatap tajam wajah Samuel yang diam berfikir itu.
"Jadi bagaimana Sam? Waktu tinggal sejam lebih lima belas menit lagi, jika aku gak datang tepat waktu, aku khawatir, Chandra dibunuh Gavlin!" ujar Andre, menegaskan pada Samuel.
"Baiklah, akan aku serahkan berkas bukti itu, tapi bukan aslinya, kita akan membuat copyan berkas berkas dan semua rekaman cctv yang diberikan Chandra." tegas Samuel serius.
"Kamu bisa bawa copyannya , dan menyerahkannya pada Gavlin!" ujar Samuel, menjelaskan.
"Baiklah, mari kita lakukan." ujar Andre.
Samuel mengangguk mengiyakan, lalu, mereka berdua bergegas ke meja kerja Samuel, untuk.membuat salinan copyan pada flash disk, untuk diberikan pada Gavlin nantinya.
__ADS_1
Di ruangan reruntuhan lokasi bangunan Wijaya yang terbengkalai, Chandra masih duduk diam di bongkahan batu besar dengan kondisi tubuh masih terikat.
Tidak jauh darinya, tampak Gavlin berdiri sambil melihat lihat ke arah luar bangunan tersebut, Gavlin tampak resah, dia menunggu kedatangan Andre membawa berkas bukti kejahatan organisasi Inside.
"Tinggal setengah jam lagi waktunya, Andre belum juga datang." ujar Gavlin geram.
"Sabarlah, Aku yakin , Andre pasti datang, masih ada waktu, kamu tunggu saja!" tegas Chandra.
"Ok, akan aku tunggu, jika dia gak datang, dia berarti berbohong padaku, dan maaf Chandra, aku terpaksa membunuhmu!" tegas Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.
Chandra diam tak menjawab dan tak membantah perkataan Gavlin, dia pasrah, jika memang Andre tidak datang nantinya, dan dia harus mati di bunuh Gavlin.
"Mengapa kamu harus membunuhku, Gavlin? Apa salahku? Aku bukan musuhmu, kedua orang tua kita berteman baik , dan sepertimu, aku juga sama, ingin membalas dendam , tapi cara kita berbeda dalam menjalani aksi balas dendam kedua orang tua kita!" tegas Chandra, menatap serius wajah Gavlin yang berdiri diam dihadapannya.
Gavlin diam, dia tak menjawab perkataan Chandra, Gavlin berjalan, lalu duduk di sebuah batu besar , menunggu kedatangan Andre.
---
Di ruang kantornya, Binsar sedang menyaksikan berita di televisi, Binsar terkejut kaget, saat pembaca berita membacakan berita duka cita tentang kematian Herman, mentri kehakiman , dan kematiannya diakibatkan bunuh diri meminum racun dalam sel tahanan kepolisian.
"Herman mati bunuh diri? Aku gak percaya, pasti ada yang sengaja membunuhnya!" Gumam Binsar berfikir.
"Siapa orangnya yang memberi racun pada Herman? Apakah orang yang sama, yang telah membunuh anak buahku saat siaran langsung Herman di gedung aula kepolisian?!" ujarnya berfikir keras.
"Hmmm..Sebaiknya aku menyelidiki dan mencari tau hal itu." tandasnya lagi.
Binsar lantas mematikan televisi , dia lalu beranjak jalan dan duduk di kursi kerjanya. Binsar terlihat sedang berfikir keras dan merencanakan sesuatu hal saat ini.
---
Gavlin melihat jam yang ada ditangannya, waktu menunjukkan pukul 15:05 wib saat ini, Gavlin memegang pistolnya , wajahnya terlihat geram.
"Sudah lewat lima menit dari waktu yang di janjikan, Tapi Andre gak datang juga." ujar Gavlin.
Gavlin lantas berdiri dari duduknya di bongkahan batu besar, dia lalu berjalan mendekati Chandra yang duduk terikat di sebuah bongkahan batu besar.
Chandra terlihat mulai gelisah, dia melihat Gavlin berjalan tenang mendekatinya sambil memegang pistol di tangannya.
"Apa yang mau kamu lakukan, Vlin?!" ujar Chandra, dengan wajah panik dan takutnya.
"Maaf Chan , sepertinya Andre lebih mementingkan berkas bukti itu dari pada nyawamu." ujar Gavlin, bersikap dingin menatap wajah Chandra.
"Tunggu dulu Vlin!! Kasih waktu beberapa menit lagi , jika Andre gak datang juga, kamu boleh membunuhku!!" tegas Chandra.
"Tidak ada waktu lagi Chandra! Aku sudah memberikan kelonggaran waktu satu jam pada Andre!" tegas Gavlin.
Chandra diam , dia pun pasrah, ditatapnya wajah dingin Gavlin yang berdiri dihadapannya.
"Bunuhlah aku, Vlin. Jika kamu anggap , aku telah membuang waktumu dan berbohong atas kesaksian kematian Bapakmu, tapi ingatlah satu hal, bahwa yang aku katakan, semua benar." jelas Chandra, lirih dan pasrah.
"Selamat tinggal Chandra !" ujar Gavlin.
Dengan wajah dan sikap dinginnya, Gavlin mengarahkan pistol di tangannya ke kepala Chandra , Gavlin bersiap untuk menembak, Chandra pun lantas menutup kedua matanya, dia pasrah, jika harus mati di tangan Gavlin. Orang yang selama ini dia cari dan diharapkannya bertemu dan membantunya membalas dendam.
__ADS_1